KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 50 KLIEN BARU


__ADS_3

Setelah mentransfer ke rekening Cyntia, Tomi memilih pulang ke rumah orang tuanya. Dia sudah capek. Baik badan maupun pikirannya.


Baru saja sampai di kamarnya, Laras sudah mengiriminya pesan. Apalagi kalau bukan menanyakan kapan orang tua Tomi akan datang ke rumahnya.


Padahal berkali-kali Tomi sudah mengatakan kalau secepatnya setelah urusannya selesai. Meski Tomi tak pernah mengatakan urusan apa.


Yang pasti Tomi butuh banyak uang untuk membawa kedua orang tuanya ke rumah Laras.


Laras malah menelpon Tomi. Dan itu membuat Tomi semakin kesal. Dia berfikir kalau Laras tak ada pengertiannya sama sekali.


Padahal Laras melakukan itu karena dipaksa oleh Rasyid. Rasyid berharap Tomi segera melamar Laras dan Tomi bisa membantu ekonominya. Syukur-syukur membawa Rasyid dan anak-anaknya tinggal di apartemen.


Tomi yang kesal akhirnya memblokir sementara nomor hape Laras. Dia hanya ingin beristirahat tanpa diganggu Laras.


Kalau harus mematikan hapenya sendiri, jelas tidak mungkin. Karena Tomi juga sedang menunggu calling dari Cyntia.


"Yah. Tomi malah memblokir nomorku," ucap Laras pada Rasyid.


"Hah? Kok bisa? Kurang ajar sekali itu anak!" Rasyid mulai naik emosinya.


"Ayah sih, minta Laras menanyakan itu terus. Tominya jadi marah, kan?" Laras kesal sekali pada Rasyid.


"Kok kamu menyalahkan Ayah?" bentak Rasyid.


Laras tak berani menjawab pertanyaan Rasyid. Dia lebih memilih masuk ke kamarnya dan tidur.


Selepas maghrib, Tomi baru mendapatkan panggilan dari Cyntia.


Tomi langsung merapikan diri. Dia menyempatkan makan dulu sebelum menemui klien barunya dan bisa jadi bakal bertempur semalaman.


"Kamu mau kemana, Tom?" tanya Lastri.


"Ada urusan kerjaan, Bu," jawab Tomi sambil menyendok makanan. Hari ini ibunya masak lumayan banyak dan enak-enak. Katanya, sekali-kali mumpung ada rejeki.


Adik-adik Tomi pun makan dengan lahap. Itu yang membuat Tomi lebih bersemangat lagi menekuni pekerjaan barunya yang lebih menjanjikan.


"Memangnya kerja sebagai dept collector juga harus lembur?" Hardi ikut bertanya.


"Enggak, Pak. Tomi cari kerja sampingan. Kalau mengandalkan jadi dept collector, bagaimana nanti Tomi memberi makan istri kalau sudah menikah?" jawab Tomi yang membuat Lastri bangga.


"Kerja saja baru jalan, sudah mikir kawin. Mending kamu tabung dulu uangnya buat beli kendaraan dan rumah," sahut Hardi.


Lastri hanya melirik. Dia ingat saat muda dulu, Hardi pun melamarnya sesaat setelah mendapatkan pekerjaan.


"Kamu serius sama Laras, Tom?" tanya Lastri.

__ADS_1


"Serius, Bu. Kalau enggak serius ngapain Tomi mikir segera melamarnya?"


Lastri manggut-manggut. Lalu menyendokan lauk lagi ke piring Tomi. Dia sangat senang kalau anak-anaknya menghabiskan masakannya.


"Udah, Bu. Nanti kekenyangan. Buat adik-adik aja," tolak Tomi. Lalu dia memberikan lauknya pada adiknya.


"Terus kapan kamu mau melamarnya?" tanya Lastri lagi sebelum Tomi pamit.


"Tomi kumpulin uang dulu, Bu. Buat melamar kan pasti butuh banyak biaya," jawab Tomi, lalu pamit pada kedua orang tua dan adik-adiknya.


Lastri trenyuh mendengar penuturan Tomi. Tak disangkanya, anak yang dia anggap brengsek ternyata memiliki rasa tanggung jawab yang besar.


Tomi melajukan motornya ke alamat yang diberikan oleh Cyntia. Dia akan menemui klien barunya yang katanya bernama Maya.


Melihat dari alamat yang diberikan oleh Cyntia, kelihatannya rumah Maya ada di komplek perumahan elit.


Tomi pernah ke sana untuk menagih. Jadi masih ingat jalanannya.


Sampai di alamat Maya, Tomi memarkirkan motornya di depan pintu pagar yang tinggi. Tak ada penjaga seperti rumah-rumah orang kaya pada umumnya.


Tomi mencari bel, karena tak mungkin kalau dia menggedor-gedor pintu pagarnya.


Tak lama, munculah seorang wanita setengah baya dengan penampilan seadanya. Dia menatap Tomi tanpa membukakan pintu gerbang.


"Selamat malam. Apa benar ini rumah ibu Maya?" tanya Tomi dengan sopan.


"Saya temannya. Bisa ketemu dengan bu Maya?" tanya Tomi dengan sopan.


"Sebentar ya. Saya tanyakan dulu." Dia masuk ke dalam. Dan tak lama, kembali lagi. Lalu membukakan pintu gerbang untuk Tomi.


"Silakan masuk. Bu Maya ada di ruang tamu. Lewat depan sana." Wanita itu menunjuk ke pintu masuk.


Tomi mengangguk, lalu berjalan ke arah pintu masuk bagian depan. Sementara wanita itu masuk melalui pintu samping.


Sebuah rumah yang megah dan mewah. Tomi sampai kagum melihatnya. Dia sempat berkhayal seandainya bisa memiliki rumah semewah ini.


Ah, Tomi menepisnya. Baginya yang penting sekarang ini bisa membahagiakan keluarganya dan melamar Laras.


"Selamat malam," ucap Tomi dengan sopan.


Maya dengan pakaian tak terlalu mencolok tapi terkesan mewah, duduk dengan anggun di sofa besar.


"Malam. Kamu Tomi?" tanya Maya. Dia bisa mengenali karena sudah melihat foto Tomi yang diberikan Cyntia temannya.


"Iya, Tante," jawab Tomi sambil menundukan sedikit kepalanya.

__ADS_1


"Jangan panggil Tante. Panggil namaku saja. Biar lebih akrab," sahut Maya. Dia risi dengan panggilan itu. Apalagi dari seorang berondong.


"Tapi..." Tomi pun risi kalau hanya memanggil nama saja. Melihat umur Maya yang jauh lebih tua. Meski Maya masih terlihat sangat cantik dan menarik.


"Duduklah."


Tomi mendekat dan duduk di sebelah Maya.


"Jangan sungkan. Kita bisa berteman kan?" tanya Maya.


Tomi mengangguk sambil menebarkan senyum yang diajarkan Cyntia.


"Makanya, panggil namaku saja. Oke."


Tomi kembali mengangguk. Terserah deh, yang penting aku akan menjalankan tugasku dan mendapatkan uangmu, batin Tomi.


"Mbok...!" Teriak Maya.


Wanita setengah baya tadi segera menghampiri. Dia menatap ke arah Tomi sekilas.


"Iya, Nyonya," sahutnya.


"Buatkan minum untuk Tomi. Kamu mau minum apa, Tom?" tanya Maya.


"Mm. Kopi hitam saja," jawab Tomi.


"Kopi hitam, Mbok. Sama makanannya sekalian. Aku juga mau white coffe."


Wanita itu mengangguk, lalu masuk lagi ke dalam.


"Dia mbok Solihah. Pembantu di rumah ini," ucap Maya.


Tomi mengangguk. Lalu setelah itu, Maya mengajak Tomi berbincang-bincang sampai minumannya diantarkan oleh Solihah.


"Makasih, Mbok. Kamu boleh kembali ke dalam. Ingat, jangan ke sini kalau aku enggak manggil!" ucap Maya.


"Iya, Nyah." Solihah mengangguk, lalu kembali masuk ke dalam.


Dia masuk ke kamarnya. Senang sekali kalau enggak ada tugas lain. Dia akan menelpon Rasyid, pujaan hatinya.


Maya banyak bertanya pada Tomi. Tentang pekerjaannya, keluarganya, bahkan tentang pacarnya.


Tomi sampai heran, kok dia dipanggil malah diinterview. Ditanya ini itu. Tapi Tomi menurut saja. Yang penting baginya adalah bayaran. Karena nantinya dia harus membagi dua bayarannya.


Mengingat itu, membuat Tomi sedikit kesal pada Cyntia. Bagaimana tidak, dia yang bekerja, Cyntia ikut menikmati separuh dari hasilnya.

__ADS_1


"Tom. Kamu tau kenapa aku memanggilmu ke sini?" tanya Maya.


"Kamu membutuhkanku?" tanya Tomi. Entah butuh untuk apa, Tomi pun belum paham. Sampai akhirnya Maya membawa Tomi masuk ke sebuah kamar yang sangat mewah. Lebih mewah dari kamar di apartemen Sylfie.


__ADS_2