
"Mau kemana nih, kita?" tanya Tomi pada Ike.
"Kalau kamu enggak bawa mobil, cari tempat yang deket aja, deh," jawab Ike.
"Ya udah. Bagaimana kalau di seberang sana. Ada cafe yang tempatnya nyaman," sahut Tomi.
Ike pun mengangguk. Bagi Ike, yang penting dia bisa refreshing.
Seperti halnya Tomi, Ike pun suntuk seharian di dalam kamar rumah sakit.
Berjalan kaki bersama Ike, membuat Tomi sejenak melupakan Laras. Apalagi Ike teman yang menyenangkan diajak ngobrol.
Ike yang sekarang beda dengan yang dulu. Jaman masih SMA. Saat orang tua Ike masih sukses usahanya.
Ike dulu selalu pilih-pilih teman. Apalagi teman cowok. Enggak sembarangan dia memilihnya. Tomi tak pernah masuk targetnya.
Sekarang juga Ike mau dekat dengan Tomi, karena dia mengira Tomi sudah sukses. Meskipun Ike tahu kalau Tomi tidak pernah kuliah.
Di dalam cafe, Tomi memperlakukan Ike layaknya seorang kekasih. Dan hal itu membuat Ike semakin mengagumi Tomi.
Status Tomi yang belum menikah, membuat Ike yakin kalau dia bisa memiliki Tomi. Minimal Tomi bisa menghiburnya setelah dia dikecewakan mantan pacarnya.
Mantan pacar yang berhasil menguras harta orang tuanya. Dan membuat papanya bolak-balik dirawat karena tekanan darah tinggi.
Ike yang merasa bersalah pada kedua orang tuanya, memilih berhenti kuliah dan bekerja. Selain tak ada biaya juga untuk terus melanjutkan kuliahnya.
Tomi dan Ike ngobrol sampai hampir tengah malam. Tomi benar-benar mengabaikan Laras.
Seperti biasa, Tomi selalu bisa membuat alasan yang membuat Laras percaya.
"Udah malam, Ke. Kamu mau kembali ke rumah sakit, atau gimana?" tanya Tomi.
"Aku mau pulang ke rumah aja, Tom. Di rumah sakit kan udah ada mama dan tanteku," jawab Ike.
"Ya udah. Kalau begitu, aku antar. Pesan taksi online aja. Nanti aku yang bayar," ucap Tomi.
Tomi tahu kalau gaji Ike sebagai pramuniaga di toko sepatu, tak seberapa. Belum lagi, Ike harus menghidupi kedua orang tuanya.
Ike menurut. Dia memesan taksi online lewat aplikasi di ponselnya.
Tomi pun mengantar Ike sampai ke rumahnya.
Di jalan, Ike mengatakan kalau sekarang rumahnya sudah pindah. Bukan lagi di komplek perumahan elite, tapi rumah kecil di perkampungan.
__ADS_1
Ike bilang, mamanya terpaksa menjual rumah mewah mereka dan membeli rumah kecil di perkampungan.
Sisa uang penjualan rumah, tadinya disimpan untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi kenyataannya, habis untuk biaya pengobatan papanya.
"Ya namanya kehidupan, seperti roda. Kadang kita ada di atas. Kadang juga harus di bawah. Nikmati dan jalani saja. Tak perlu disesali ataupun ditangisi. Toh, tangisan tak akan bisa mengembalikan semuanya," ucap Tomi dengan bijak.
Seolah dia orang yang sudah fasih dalam kehidupan. Padahal hidupnya aja masih porak poranda. Belum ada pijakan yang tepat.
Tomi masih mengandalkan job dari Cyntia. Dan masih setia menjalani dunia esek-esek.
Tapi tak ada orang yang tahu, selain pelanggannya dan orang-orang yang dekat dengan Cyntia.
Cyntia juga sangat menjaga privacy anak buahnya. Dia selalu mengatakan pada orang lain sebagai pengusaha online. Tomi dan beberapa anak buahnya adalah bawahannya.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan ucapan Cyntia. Dia memang lebih sering mencari pelanggan lewat media online. Kecuali beberapa pelanggan tetapnya.
"Iya, Tom. Makasih ya, kamu udah banyak memberi motivasi buat aku," ucap Ike.
Cup.
Dengan berani Ike mengecup pipi Tomi. Tomi menatap wajah Ike yang menunduk malu.
Lalu Tomi meraih tangan Ike. Dan menggenggamnya erat.
Sampai di rumah Ike, mereka turun.
"Kamu mampir dulu kan, Tom?" tanya Ike. Dan Ike sangat berharap Tomi mau mampir meski hanya sebentar.
"Boleh, deh. Tapi aku enggak bisa lama-lama, ya? Aku kan mesti kembali ke kantor," jawab Tomi.
Padahal Tomi mau kembali ke rumah sakit. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Laras sendirian.
Ike mengangguk. Lalu mengajak Tomi masuk ke rumah kecil orang tuanya.
Sebenarnya tak terlalu kecil juga. Cukup luas untuk ditinggali bertiga.
Hanpit seukuran dengan rumah kontrakan orang tua Tomi.
"Ini rumah kami sekarang, Tom. Kecil. Tapi cukup nyaman. Lingkungan di sini juga menyenangkan. Aku betah tinggal di daerah sini," ucap Ike.
Tomi mengangguk, lalu duduk di sofa yang tak terlalu besar. Tapi jauh lebih bagus dari sofa butut di rumah Laras.
"Mau aku buatkan minum?" tanya Ike.
__ADS_1
"Enggaklah, Ke. Aku sudah terlalu banyak minum tadi. Nanti malah beser," tolak Tomi.
Ike pun sama, selain sudah banyak minum, Ike juga sudah kenyang makan.Tomi membebaskannya memilih makanan yang disukai Ike.
Selera Ike yang mantan anak orang kaya, tak main-main. Tomi mesti merogoh koceknya dalam-dalam.
Sangat berbeda dengan Laras yang sering komplain kalau diajak makan di restauran mewah.
Tapi Tomi yang sudah terlanjur mengatakan Ike bebas memilih, pantang menarik lagi ucapannya.
Ike duduk satu sofa dengan Tomi. Karena ukuran sofa yang tak terlalu besar, membuat duduk mereka berhimpitan.
Entah apa yang dimaui Ike, Tomi tak mau mendahului. Tomi hanya menunggu.
Dan rupanya Ike termasuk wanita yang agresif. Dia memulainya terlebih dahulu.
Sebagai lelaki normal, tentu saja Tomi tak menolak. Dia nikmati setiap cumbuan Ike, lalu membalasnya.
Mulai dari serangan-serangan kecil, hingga akhirnya Ike melepas satu persatu pakaiannya.
Di ruang tamu yang tak terlalu luas. Di atas sofa yang tak terlalu besar. Mereka lepaskan hasrat yang semakin membuncah.
Ike yang ternyata sudah pernah kebobolan, mampu mengimbangi permainan Tomi yang sudah profesional.
Sepertinya Ike sudah banyak pengalaman. Entah hanya dengan mantan pacarnya, atau dengan banyak lelaki. Tomi tak mempedulikannya.
Bagi Tomi, yang penting saat ini dia bisa menuntaskan hasratnya. Apalagi tubuh seksi dan dua gunung kembar Ike, mampu menghipnotisnya.
Tomi benar-benar terbenam wajahnya di antara dua gunung itu. Hangat, kenyal dan memabukan.
Ike membiarkan Tomi mengeksplor semua area tubuhnya. Ike pun menyusuri setiap inchi tubuh Tomi tanpa terlewati sedikitpun.
Tomi yang niat awalnya hanya mampir sebentar, akhirnya terkapar di atas kasur kamar Ike.
Ya, Ike mangajak Tomi pindah ke kamarnya setelah pelepasannya yang pertama.
Dua kali pelepasan, membuat Tomi terkapar. Begitu juga Ike. Dia lunglay di atas tubuh Tomi.
Dua insan yang tak saling mencintai, hanya sekedar suka sama suka, melewati malam panas tanpa sehelai benangpun.
Tomi tak lagi peduli lagi pada Laras yang pasti menunggunya datang. Tomi berpikir ada perawat yang akan membantu Laras.
Demikian juga Ike, dia tak mempedulikan lagi papanya yang sedang terkapar di ranjang rumah sakit. Toh, ada mama dan tantenya yang menunggui malam ini.
__ADS_1