
"Siapa dia?" tanya Ricko pada Ratih yang masih sama-sama menahan amarah pada Rasyid.
"Dia... Dia bapak temennya Sinta di sekolah," jawab Ratih.
"Kenapa dia bisa sampai ada di sini?" tanya Ricko lagi.
Ratih kebingungan menjawabnya. Kalau dia ngomong apa adanya, Ricko pasti akan cemburu.
"Tadi kita ketemu di sekolahan, pas jemput. Terus kami sempet kenalan. Udah gitu aja." Ratih menghela nafasnya.
Ricko masih menyimak penjelasan Ratih dengan serius. Masalahnya, tadi dia menghantam Rasyid sampai berdarah. Jangan sampai masalah ini berlanjut sampai ke pihak yang berwajib.
Bisa-bisa terbongkar skandal perselingkuhannya dengan Ratih.
"Tadi dia ke sini katanya mau pinjam buku catatan milik Sinta. Tapi kan Sintanya tidur di rumah mbak Tari," lanjut Ratih.
Ricko manggut-manggut mendengar penjelasan Ratih yang cukup masuk akal.
"Lain kali, kalau dia ke sini lagi, jangan bukakan pintu," ucap Ricko dengan khawatir.
Apalagi tadi dia sempat melihat Rasyid sedang memaksa Ratih bercumbu.
Sebenarnya Ricko bisa saja melaporkan Rasyid pada polisi dengan tuduhan pelecehan ataupun percobaan pemerkosaan.
Tapi jelas saja, Ricko lebih mementingkan nama baiknya.
"Iya, Mas. Jadi enggak kita keluar? Katanya mas Ricko mau beliin aku tas." Ratih berusaha mengalihkan pembicaraan.
Karena bagaimanapun, kedatangan Rasyid tadi juga atas ijinnya setelah mereka chating.
Ratih sudah terlanjur mengiyakan saat Rasyid ingin main ke rumahnya. Dan tiba-tiba Ricko menelponnya kalau malam ini akan datang ke rumahnya.
"Jadi dong. Ayo. Kamu sudah siap, kan?" Ricko segera beranjak dari duduknya.
"Aku ambil tasku dulu." Ratih mengambil tasnya di kamar. Lalu menyusul Ricko yang sudah menunggunya di mobil.
"Kemana kita?" tanya Ricko sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Ke mall aja, Mas. Di sana lebih banyak pilihan," jawab Ratih.
Sebenarnya dia sendiri tak tahu merk tas yang bagus. Selama ini tas yang dipakainya, asal modelnya dia suka, ya dibelinya.
Makanya dia maunya ke mall saja. Kalau di butik, tak terlalu banyak pilihan. Itu menurut Ratih.
__ADS_1
"Oke." Ricko pun melajukan mobilnya ke mall terdekat saja. Biar tak kelamaan macet di jalan. Dan tentunya mall yang bukan tempat istrinya membuka butik.
Sementara Rasyid, pulang ke rumahnya. Sepanjang perjalanan, tangannya memegangi hidungnya yang masih terasa sakit meski tak lagi mengeluarkan darah.
"Ayah, kenapa?" tanya Niken yang sedang duduk melamun di kursi samping rumah.
"Enggak apa-apa," jawab Rasyid. Dia langsung masuk dan melihat dirinya di depan cermin.
Hidungnya memerah dan sakit sekali saat dipegang. Bagian kepalanya juga memar. Pelipisnya kebiruan.
Awas kamu Ricko! Aku tak akan menyerah. Aku harus mendapatkan Ratih!
"Niken! Buatkan kopi!" seru Rasyid.
Kopi yang dibuatkan Ratih tadi, belum sempat diminumnya.
"Iya, Yah!" sahut Niken dengan kesal. Ada Ayu, kenapa dia yang disuruh?
Niken melongok ke kamar Ayu. Ternyata yang dicari sudah tertidur dengan boneka-bonekanya.
Dasar pemalas! Jam segini udah tidur. Mana mainannya enggak diberesin. Jangan sampai nanti ayah nyuruh aku buat membereskan. Aku buang semua, nanti. Gumam Ayu dalam hati.
"Lama amat sih kopinya?" teriak Rasyid lagi dari ruang tamu.
"Iya, Yah! Rebus air dulu." Niken buru-buru mengambil panci kecil. Lalu mengisinya dengan air kran. Karena galon mereka pecah dan Rasyid belum membelinya lagi.
"Kamu udah ketemu si Tanto?" tanya Rasyid.
"Belum. Tadi Niken ke counter, kan? Dianya malah enggak masuk kerja. Nyebelin. Katanya hari ini bisa jadi," sahut Niken makin kesal.
"Besok coba pulang sekolah, ke sana lagi. Siapa tau orangnya udah masuk. Ayah enggak punya nomornya, sih," ucap Rasyid.
"Ayah coba minta nomornya Tanto ke om Willy. Dia pasti punya nomor anak buahnya," ucap Niken.
"Iya, juga. Eh, tapi jangan. Entar ketahuan sama si Willy kalau kita service-nya enggak lewat dia. Bisa dipecat itu si Tantonya. Kan kasihan juga, udah nolongin malah dipecat," sahut Rasyid.
Tumben-tumbenan dia memikirkan nasib orang lain. Biasanya masa bodo, yang penting dia untung.
Niken berdecak kesal, lalu pergi meninggalkan Rasyid. Dia akan tidur saja. Sebelum nanti disuruh-suruh lagi. Soalnya di rumah tak ada siapa pun kecuali dia.
Rasyid mencoba menghubungi Ratih. Tapi hape Ratih tidak aktif.
Ratih yang memiliki dua hape, sengaja menonaktifkan hape satunya. Yang Rasyid menyimpan nomornya, biar tak mengganggu.
__ADS_1
Enggak aktif, lagi. Ratih! Aku harus mendapatkan kamu! Jadilah istriku! Ibu buat anak-anakku! Ingin rasanya Rasyid meneriakan kalimat-kalimat itu. Tapi semua hanya ditahannya dalam hati.
Sementara Ratih sudah tak peduli lagi pada Rasyid. Dia sedang asik belanja dengan pacar barunya. Pacar yang baru dikenalnya beberapa hari.
Dan yang pasti jauh lebih tajir dari Rasyid yang kere. Meskipun Ratih merasakan ada sesuatu yang beda dari seorang Rasyid.
Ricko jauh lebih kaya, lebih gagah, lebih ganteng. Tapi Ricko masih memiliki istri. Itu yang membuat Ratih harus ekstra waspada.
Jangan sampai ketahuan istrinya dan dia akan dicap sebagai pelakor. Ratih tak pernah bermaksud merebut suami orang. Ricko saja yang selalu mendekatinya.
Dan yang mereka lakukan hanya atas dasar saling tertarik saja. Bukan cinta. Karena situasinya tak memungkinkan mereka untuk saling mencintai.
Selesai memilih tas yang disukai, Ratih mengajak pulang.
"Udah, itu aja?" tanya Ricko. Dia sudah siap kalau Ratih meminta lebih banyak lagi.
Ratih mengangguk. Baginya tas dengan harga mahal pilihannya, sudah lebih dari cukup.
"Kita ke apartemenku dulu, ya? Mumpung anakmu tidak di rumah. Kamu bisa menginap di sana," ajak Ricko.
"Kok nginap sih?" tanya Ratih.
Ratih belum pernah mau diajak Ricko ke apartemennya. Perkenalan mereka yang baru beberapa saat, membuat Ratih masih enggan diajak ke tempat yang lebih privacy.
"Sekali-kali enggak apa-apa, kan?" sahut Ricko.
"Bagaimana kalau istri kamu tau? Enggak enak kan?" Ratih berusaha menolak.
"Aku udah bilang kalau ada urusan kerjaan di luar kota. Jadi aman. Lagi pula, istriku enggak tau soal apartemen itu. Aku baru membelinya beberapa saat yang lalu," sahut Ricko.
Dan tanpa menunggu persetujuan Ratih, dia melajukan mobilnya ke sana. Ratih pun hanya bisa pasrah. Mau bagaimana lagi, dia sudah terlanjur menerima pemberian Ricko.
Selama diperjalanan, mereka hanya ngobrol biasa saja. Tak ada sikap Ricko yang nakal ataupun berusaha menggoda Ratih.
Tidak seperti Rasyid yang langsung merayunya saat pertama kali kenal. Itu salah satu kelebihan Rasyid yang membuat Ratih kesengsem.
Tapi dengan Ricko pun, Ratih menyukainya. Tak banyak basa basi.
Hingga sampai di unit milik Ricko, dia masih tak menampakan sikap romantis.
Benar-benar lelaki yang cool. Sedingin es batu. Batin Ratih. Lalu mengikuti langkah Ricko menuju ke dalam.
"Duduklah. Aku mau mandi dulu. Kalau kamu mau minum, ambil saja di dapur. Aku juga mau dibikinin kopi, kalau kamu enggak keberatan," ucap Ricko dan melangkah masuk ke kamarnya.
__ADS_1
Ratih hanya mengangguk. Lalu pergi ke dapur. Dapur yang bersih. Mungkin karena masih baru.
Ratih merasa nyaman seperti di rumahnya sendiri. Andai saja aku bisa memiliki apartemen ini. Ratih segera menepis pikirannya. Dia tak mau banyak berharap. Karena hubungannya dengan Ricko hanya sebatas teman dekat saja.