KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 39 JALAN PINTAS


__ADS_3

Rasyid terkapar di atas kasur Wulan. Wulan memeluk perut Rasyid yang besar dan empuk.


"Kamu puas, Bang?" tanya Wulan pelan.


"Puas sekali, Li," jawab Rasyid tanpa sadar.


Wulan terkejut mendengar panggilan Li, dan langsung mengangkat kepalanya.


"Kok, Li? Siapa Li?" tanya Wulan sambil menatap wajah Rasyid.


Rasyid pun tak kalah terkejutnya. Kenapa dia malah keceplosan?


"Maksudku Lan. Dari tadi aku membayangkan kamu seperti bunga Lili yang indah dan harum. Kamu sangat harum, Sayang," elak Rasyid.


"Abang bisa aja. Kirain Li itu nama perempuan lain," ucap Wulan. Dia kembali memeluk perut Rasyid.


Rasyid yang tadi di rumah belum sempat tidur, langsung terlelap. Wulan pun ikut terlelap sambil memeluk Rasyid.


Di rumahnya, Laras menelpon Tomi. Dia menanyakan, kapan Tomi akan mengajak kedua orang tuanya ke rumah.


"Nanti aku kabari, Ras. Kamu jangan khawatir. Aku enggak bakalan lari," jawab Tomi. Dia masih nongkrong dengan teman-temannya setelah mengembalikan kunci vila pada Yoga.


"Tapi jangan kelamaan. Ayah udah nanyain terus," ucap Laras.


"Iya, Laras. Sabar ya. Aku tutup dulu telponnya, aku lagi sama bos nih." Tomi menutup telponnya.


Adam yang duduk di sebelah Tomi, menoyor kepalanya.


"Gila kamu, Tom. Dari kemarin bohong terus. Gimana semalam? Masih ori enggak?" tanya Adam.


"Ori dong. Gila! Enak banget, Dam! Sampai nambah-nambah terus. Bikin nagih!" Tomi membayangkan kembali bagaimana pergulatannya semalam dengan Laras.


"Memangnya kamu belum pernah ngerasain sama cewek lain?" tanya Adam.


Tomi menggeleng. Selama ini dia sering ganti-ganti cewek, masih sekedar kissing dan raba-raba aja.


"Wah, harus dirayakan berarti. Bujang ketemu perawan!" sahut Adam.


"Duitku abis, Bro!" Tomi merebahkan tubuhnya di lantai pos tempat dia nongkrong.


"Enggak harus sekarang juga. Entar nunggu kamu gajian," sahut Adam.


"Iya, beres kalau itu. Sekarang gimana lagi nih, bokapnya Laras minta aku membawa orang tuaku ke rumahnya?" tanya Tomi. Otaknya sudah buntu. Minggu ini dia sudah tak ada uang sama sekali. Mengajak kedua orang tuanya pasti butuh banyak biaya.


"Ya udah, bawa aja ke sana. Repot amat," jawab Adam.


"Orang dibilangin aku udah enggak punya duit. Kamu pikir ke sana jalan kaki?" Tomi merogoh kantong celananya. Lalu mengeluarkan sisa uangnya.


"Nih!" Tomi meletakan lembaran dua puluh ribuannya di kening.

__ADS_1


"Hahaha. Kasihan amat ini bujang. Duitnya buat beli rokok aja enggak dapet satu bungkus!" Adam meninggalkan Tomi. Dia menerima telpon dari temannya.


"Tom! Kamu mau duit enggak? Buat ngelamar Laras!" teriak Adam.


Tomi langsung bangun. Siapa yang enggak mau duit? Beberapa teman nongkrong mereka pun ikut menoleh.


Adam melambaikan tangannya. Tomi bergegas mendekat.


"Apaan?"


Adam mengganti mode telponnya ke video call. Lalu mengarahkan kameranya pada Tomi.


"Eh, apaan sih?" Tomi berusaha menghindar.


"Katanya mau duit!" sahut Adam.


"Gimana, Madam? Oke, kan?" tanya Adam pada perempuan yang diajaknya video call.


"Bawa sini deh. Nanti Madam cek dulu," jawab perempuan itu.


Tomi masih belum paham arah pembicaraan Adam.


"Oke siap, Madam. Aku bawa sekarang." Adam mematikan sambungan telponnya.


Adam membawa Tomi menjauh dari teman-temannya.


"Kamu mau duit sekarang enggak?" tanya Adam pelan.


Tomi mengangguk.


"Kemana?" tanya Tomi.


"Ke rumah si madam yang tadi itu," jawab Adam.


"Mau ngapain?"


"Jadi gini, Tom. Kamu cuma di minta muasin seorang tante, orangnya cantik. Lebih cantik malah dari Laras. Setelah itu, kamu bakal dapat bayaran dari si tante itu. Jadi deh, kamu melamar Laras." Adam mengiming-imingi Tomi.


"Maksudmu, aku jadi gigolo gitu?" tanya Tomi pelan.


Adam mengangguk.


"Ogah! Enak aja. Kamu pikir aku cowok apaan?" Tomi tersinggung dengan ajakan Adam.


"Kalau enggak mau ya udah. Jangan marah-marah, Tom. Aku cuma coba kasih solusi. Paling juga main satu dua kali. Abis itu dompetmu bakalan tebal. Anggap aja kamu lagi main ama Laras," sahut Adam. Lalu meninggalkan Tomi yang masih emosi.


Tomi kembali ke tempatnya semula. Dia minta rokok pada teman nongkrongnya.


"Enggak punya duit, Tom? Minta job tuh sama Adam. Hidup jangan lurus-lurus amat. Kere kamu kalau terlalu lurus," ucap salah satu teman Tomi.

__ADS_1


Tomi menyalakan rokoknya. Dihembuskannya asap rokok perlahan.


Benar juga omongan temannya ini. Hidup terlalu lurus bikin kere. Hampir semua teman nongkrong Tomi motornya keluaran terbaru. Padahal kerja mereka tak jelas. Mereka juga bukan dari keluarga kaya.


Orang tuanya hidup terlalu lurus. Hidup mereka kere terus. Rumah masih ngontrak. Motor juga butut, yang selalu dipakainya kerja.


Untuk pengobatan adiknya tak ada biaya. Meski ada BPJS tapi letak rumah sakit yang jauh, membutuhkan biaya transportasi yang enggak sedikit.


Tiga adiknya yang lain, hampir tak terurus. Pakaian mereka lusuh. Sekolah juga cuma di SD negeri yang ecek-ecek. Untuk sekolah di tempat favorit jelas enggak mungkin.


Makan mereka pun tak pernah tercukupi gizinya, meski enggak sampai kelaparan. Sarana belajar enggak ada.


Ibunya selalu disibukan dengan pekerjaan rumah yang menumpuk. Sampai enggak pernah lagi memikirkan penampilan.


Sehari-hari hanya mengenakan daster lusuh dengan rambut yang kusam di ikat pakai karet gelang.


Bapaknya pun tak jauh beda. Kaos lusuh yang kotor kena oli selalu dipakainya. Dengan celana pendek yang juga beraroma oli bekas.


Jari tangan dengan kuku-kuku menghitam. Penampilan kusut dan kulitpun ikut kusam.


Hhh! Tomi mengacak rambutnya sendiri. Lalu berjalan mendekati Adam yang akan menstater motornya.


"Aku ikut kamu, Dam!" ucap Tomi sambil memegangi tangan Adam.


"Serius?"


Tomi mengangguk. Dia ingin merubah hidup keluarganya meski dengan jalan yang tidak benar.


Tomi juga ingin membahagiakan Laras. Apalagi sebentar lagi Laras akan menjadi istrinya.


"Ya udah. Kamu pulang dulu sana. Mandi dan ganti pakaianmu. Bau keringet gitu. Nanti aku shareloc," ucap Adam.


"Oke. Tapi bayarannya cash, kan?" tanya Tomi dengan bodohnya.


"Ya iyalah, Tomi! Kamu pikir kredit motor?" jawab Adam, lalu menstater motornya dan pergi meninggalkan Tomi.


Tomi pun berjalan ke motornya.


"Jadi, Tom?" tanya teman Tomi yang tadi dimintai rokok.


Tomi tak menjawab. Dia langsung pergi tanpa menghiraukan tatapan teman-temannya.


Sampai di rumahnya, dia melihat bapaknya sedang sibuk menambal ban di bengkel kecilnya.


Ketiga adiknya yang masih kecil-kecil bermain berlarian dengan pakaian lusuh dan ingus yang mengering di hidungnya.


Ibunya sibuk menyuapi adiknya yang cacat sejak lahir. Tomi melirik sekilas makanan yang diberikan ibunya. Hanya nasi yang dibuat bubur sangat lembek.


Tomi langsung masuk ke kamarnya. Hatinya menangis melihat kondisi keluarganya. Dia bertekad akan merubah kehidupan mereka.

__ADS_1


Bapak, Ibu, ijinkan Tomi berbuat sesuatu untuk kalian. Tomi akan lakukan apapun demi kehidupan kalian yang lebih baik.


Tomi akan cari jalan untuk mendapatkan banyak uang. Meski harus lewat jalan pintas.


__ADS_2