KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 133 KRITIS


__ADS_3

Dokter itu berlalu meninggalkan Rasyid yang masih syok.


Beni menepuk-nepuk bahu Rasyid.


"Yang sabar, Om."


Yanti tak bisa berkata apa-apa. Mulut yang biasanya nyinyir, seperti kehabisan kata-kata.


Niken dan Ayu pun cuma bisa bengong. Mereka tak begitu paham apa yang terjadi pada kakaknya. Terutama Ayu.


Tapi mereka belum berani bertanya. Apalagi Niken yakin kalau Rasyid masih marah padanya.


Yanti membuka tasnya. Dia mengambil hape Rasyid juga hape Laras.


"Ini." Yanti memberikannya pada Rasyid.


Seorang perawat keluar.


"Dengan keluarga pasien?" tanya perawat itu.


"Iya. Saya ayahnya," jawab Rasyid.


"Silakan bapak ke bagian administrasi dulu untuk memesan kamar rawat inap," ucap perawat itu.


"Apa harus rawat inap, Suster?" tanya Rasyid.


Rasyid berpikir kalau bisa dibawa pulang, kenapa mesti rawat inap? Walaupun Rasyid yakin Tomi punya uang untuk membayar biayanya.


"Kondisi pasien sangat lemah. Dia kehilangan banyak darah. Kelihatannya dia jatuh cukup keras ya, Pak?" tanya perawat itu.


Rasyid menoleh ke arah Niken penuh kebencian. Niken langsung menundukan kepalanya.


"Iya, Suster," jawab Rasyid.


"Pasien juga butuh transfusi darah. Nanti sekalian diurus di sana. Atau kalau ada keluarga yang golongan darahnya sama? Kalau bisa secepatnya ya, Pak. Pasien bisa kritis kalau terlalu lama menunggu."


Rasyid menahan nafasnya. Pikirannya makin kacau.


"Oke, Pak. Silakan pesan kamar dulu di sana. Baru setelah itu kami bisa pindahkan," lanjut perawat itu, lalu dia kembali masuk ke dalam.


"Mau saya temani, Om?" Beni menawarkan diri. Beni tak tega membiarkan Rasyid berpikir sendiri.


Yanti menyenggol lengan Beni. Memberi kode agar tak ikut campur dengan masalah Rasyid. Apalagi kalau soal biaya. Pastinya tidak sedikit.


Beni menghela nafasnya. Dia paham apa yang dimaksud Yanti.


"Aku telpon Tomi dulu. Biar dia yang urus ini semua," jawab Rasyid.


Rasyid yakin, kehamilan Laras karena perbuatan Tomi. Dan dia sekarang harus bertanggung jawab. Meskipun yang membuat Laras jatuh dan keguguran adalah Niken.


Rasyid menelpon Tomi menggunakan hape Laras. Karena dia sendiri tak menyimpan nomor Tomi.


Tomi masih ngobrol dengan Cyntia. Bahkan bukan sekedar ngobrol. Sesekali diselingi cumbuan-cumbuan.


Mereka tidak melakukannya di kamar. Karena Cyntia sendiri sedang menunggu Bowo yang akan datang menjemputnya.


"Hapemu bunyi, Sayang," ucap Cyntia di telinga Tomi. Posisinya sedang duduk di pangkuan Tomi.

__ADS_1


Tomi meraihnya. Dan melihat siapa yang menelpon.


Laras.


Tomi mengabaikannya. Dia meletakan kembali hapenya. Karena menurutnya tak terlalu penting. Apalagi baru saja mereka pergi bersama.


Tomi juga tadi berbohong pada Laras, kalau dia ada pekerjaan penting. Jadi Tomi punya alasan tidak mengangkat telpon Laras.


"Dari siapa?" tanya Cyntia.


"Laras," jawab Tomi.


"Kenapa enggak diangkat?" tanya Cyntia lagi.


"Enggak apa-apa. Tadi kan juga udah ketemu sama dia," jawab Tomi. Dia tak mau mengganggu kesenangan mucikarinya. Bagaimana pun Cyntia yang telah memberikan rejeki untuknya.


Hape Tomi kembali berdering. Cyntia melepaskan rangkulannya di leher Tomi, lalu turun dari pangkuannya.


"Angkat, Tomi. Siapa tau penting," suruh Cyntia. Tak ada perasaan apapun bagi Cyntia. Dia malah tak mau kalau hubungan Tomi dan Laras berantakan karenanya.


"Kamu aja yang angkat," ucap Tomi. Tomi lagi tidak mood bicara dengan Laras. Karena kadang yang dibicarakan Laras hal-hal sepele. Persis anak kecil yang sedang menceritakan kegiatannya sehari-hari.


"Kok aku? Nanti Laras curiga," sahut Cyntia.


"Enggak. Dia udah tau kok, kalau kamu itu bosku. Bilang aja Tomi lagi ada rapat penting!"


"Aish! Kamu itu. Pacar kok dibohongi terus." Cyntia mengangkat telpon Laras.


Cyntia mengaktifkan speakernya, biar Tomi mendengar.


"Hallo! Bisa bicara sama Tomi?"


Itu suara Rasyid. Tomi sangat hafal.


Cyntia menoleh ke arah Tomi. Tomi memberi tanda pada Cyntia untuk meneruskan sandiwaranya.


"Tomi lagi di ruang rapat. Maaf, ini siapa ya?" tanya Cyntia dengan sopan.


"Aku Rasyid. Ayahnya Laras. Tolong kasih tau ke Tomi, Laras di rumah sakit. Sekarang masih di ruang IGD. Aku minta Tomi secepatnya ke sini. Kami ada di rumah sakit Persada," ucap Rasyid.


Tomi sangat terkejut mendengarnya. Laras masuk rumah sakit? Kenapa? Bukankah tadi baik-baik saja?


"Baik, Pak. Nanti saya sampaikan," sahut Cyntia.


"Jangan nanti. Sekarang. Kondisi Laras kritis. Dia tak sadarkan diri dan butuh transfusi darah," ucap Rasyid.


"Ooh....Maaf, kalau boleh tau, Larasnya kenapa ya, Pak?" Cyntia pun ingin tahu kenapa sampai Laras kritis.


"Nanti saja aku jelasin kalau Tomi sudah sampai di sini," jawab Rasyid. Dia tak mau orang lain tahu tentang Laras.


Lalu Rasyid menutup telponnya.


"Aku segera ke sana, Madam. Laras membutuhkanku," ucap Tomi.


Baru saja Tomi selesai bicara, Bowo datang.


"Wah kebetulan. Mas, kita antar Tomi ke rumah sakit. Laras kritis," ajak Cyntia pada Bowo.

__ADS_1


"Kritis? Kenapa?" tanya Bowo.


"Enggak tau. Sebentar aku ambil tasku." Cyntia berdiri dan mengambil tasnya di kamar.


"Laras kenapa, Tom?" tanya Bowo.


"Belum tau, Om. Ayahnya baru saja menelpon," jawab Tomi.


"Ayo," ajak Cyntia.


Tanpa berpikir panjang, Bowo mengikuti Cyntia keluar. Dan mereka bertiga ke rumah sakit naik mobil Bowo.


"Bagaimana, Om?" tanya Beni.


"Kata asistennya, Tomi masih rapat. Tapi sebentar lagi pasti ke sini," jawab Rasyid. Dia mengira yang menerima telponnya adalah asisten Tomi.


Yanti menahan senyumnya. Lalu menatap Beni yang kelihatannya juga tak percaya omongan Rasyid.


Rasyid berjalan mondar mandir saja. Tak ada yang bisa dilakukannya. Karena dia tak punya cukup uang.


Beni ditarik Yanti untuk menjauh. Yanti tak mau Beni jadi pahlawan kesiangan buat Rasyid dan Laras.


Biar saja yang melakukan yang bertanggung jawab. Begitu pikir Yanti.


Perawat yang tadi keluar lagi.


"Bagaimana, Pak? Udah dapat kamarnya?" tanya perawat itu.


"Saya belum ke sana. Tunggu....suaminya dulu." Rasyid terpaksa berbohong, karena malu. Jangan sampai perawat tahu kalau Laras hamil tanpa suami.


"Tapi pasien butuh tranafusi secepatnya, Pak," sahut perawat itu.


Rasyid kebingungan. Bagaimana kalau dia dimintai uang untuk membayarnya?


"Bapak urus dulu. Soal biaya bisa belakangan," ucap perawat itu.


Rasyid bernafas lega. Kenapa enggak dari tadi ngomongnya?


Rasyid langsung mencari bagian administrasi. Dan benar saja, dengan segala alasan, Rasyid bisa menangguhkan dulu pembayaran deposit untuk Laras.


Rasyid kembali ke ruang IGD dengan membawa secarik kertas.


"Suster...!" panggil Rasyid.


Perawat itu datang. Lalu mengambil kertas yang dibawa Rasyid. Dan membawanya masuk.


Rasyid masih berdiri di pintu ruang IGD. Perasaannya sedikit lega. Laras akan ditangani lagi dan segera dipindahkan.


"Om....!" panggil Tomi.


Tomi sampai. Rasyid menoleh. Senyumnya mengembang. Yang dinanti, akhirnya datang juga.


Dan mata Rasyid bertemu dengan mata Cyntia.


"Cyntia....!" gumam Rasyid.


"Rasyid....!"

__ADS_1


__ADS_2