
"Ayo pulang, Ras," ajak Tomi.
Laras yang sudah selesai makan, mengangguk. Lalu berdiri perlahan. Menyeimbangkan tubuhnya dulu.
Tomi kembali menggandeng Laras agar tak jatuh lagi. Mata Tomi melirik ke arah Meysa. Dia sedang memperhatikan Laras yang kesulitan melangkah.
Tomi mengedipkan sebelah matanya. Memberi kode pada Meysa bahwa dia sangat tertarik padanya.
Meysa tersenyum pada Tomi sambil mengangguk.
"Ngapain lo senyum-senyum?" tanya Devi. Teman Meysa.
"Liatin tuh cewek dari kampung," jawab Meysa berbohong. Padahal dia tersenyum pada Tomi.
"Lakinya boleh juga," ucap Devi.
"Itu bukan lakinya. Tapi sepupunya."
"Kok elo tau?" tanya Devi.
"Tadi kenalan gue. Di depan toilet," jawab Meysa.
"Ebusyet....ternyata elo ke toilet cuma akal-akalan biar kenalan ama tuh cowok?"
"Ngaco! Dia yang ngikutin gue. Namanya Tomi," jawab Meysa.
"Dapet nomor telponnya dong elo?" tanya Devi.
"Yoi. Meysa gitu lho," jawab Meysa dengan bangga.
"Meysaroh. Hahaha." Devi ngakak menyebutkan nama panjang temannya yang terkesan udik.
Meysa menoyor kepala Devi.
"Awas aja buka rahasia gue!" ancam Meysa.
"Enggak. Yang penting makanan ini elo yang traktir," sahut Devi.
"Kan emang gue yang traktir tadi. Lo mau nambah? Biar body lo makin bohay?" tantang Meysa.
"Enggak lah. Entar samaan ama karung beras dong." Keduanya tertawa.
Laras sempat mendengar tawa mereka. Lalu menoleh.
Meysa hanya mengedikan bahunya ke arah Laras. Menandakan kalau dia tak peduli pada Laras yang dikenalkan Tomi sebagai sepupunya dari kampung.
"Janjian lo?" tanya Devi.
"Sama siapa?"
"Ya sama dialah. Siapa namanya? Tomi?"
Meysa mengangguk.
"Gantian ya?" pinta Devi. Dia juga rupanya tertarik dengan Tomi.
"Hah....! Lo pikir pake sandal jepit? Pake gantian segala," sahut Meysa.
"Jangan bilang sandal jepit dong. Jadi kepingin menjepit gue. Hahaha." Devi ngakak.
Beberapa orang memperhatikan dua gadis yang terlihat sangat bahagia itu.
"Dasar otak lo mesum!" sungut Meysa.
"Kayak elo enggak!"
"Dikit!" sahut Meysa.
"Dikit apa banyak, sama aja. Sama-sama mesum!" Lalu keduanya kembali tertawa.
Tomi mengantar Laras sampai ke rumahnya. Niken sudah pulang dari sekolah. Dia menatap tak suka pada Tomi yang serangkul Laras.
"Hallo, Niken," sapa Tomi.
__ADS_1
Niken mendengus kesal, lalu masuk ke dalam rumah.
"Emang songong tuh anak. Enggak ada sopan-sopannya sama calon kakak ipar," ucap Laras.
"Sstt....enggak boleh gitu ah," sahut Tomi.
Sampai di pintu samping, Tomi berpamitan.
"Salam aja buat ayah kamu, ya? Maaf, aku enggak bisa lama-lama. Udah ditunggu," ucap Tomi. Lalu mengecup kening Laras dengan lembut.
Niken kembali melihatnya. Dia mengerucutkan bibirnya. Tomi mengerling nakal pada Niken. Lalu segera pergi.
"Dari mana, Kak?" tanya Niken penuh rasa cemburu.
"Dari mall. Ini beli baju, sepatu ama tas. Keren kan, aku?" Laras memperlihatkan pakaian yang dikenakannya.
"Enggak! Norak tau!" Niken berlari masuk ke kamarnya dan membanting pintunya dengan kencang.
Duer!
Rasyid yang sedang tidur di lantai depan kamarnya, terbangun.
"Siapa itu?" tanya Rasyid.
Nafasnya memburu. Dia pikir rumahnya roboh.
"Niken, Yah!" jawab Laras.
"Niken....!" teriak Rasyid.
"Iya, Yah!" Niken buru-buru keluar kamar.
"Mampus lu!" ucap Laras tanpa suara.
"Ngapain kamu banting-banting pintu? Kamu mau bikin rumah ini ambruk?" Rasyid masih saja berteriak.
"Enggak sengaja, Yah." Niken menundukan wajahnya.
Plak!
Sebuah tamparan mampir ke pipi Niken. Niken langsung memegangi pipinya. Sementara Rasyid, dengan santainya berjalan ke ruang tamu.
"Jahat kamu, Kak!" seru Niken lalu kembali masuk ke kamar. Tapi tidak pakai membanting pintu.
Satu tamparan dari Rasyid, cukup membuatnya kapok.
"Jahat? Emang aku ngapain kamu?" tanya Laras.
"Ngadu-ngadu!" jawab Niken.
"Lah, siapa yang ngadu? Kan ayah nanya. Ya aku jawab dong?" sahut Laras.
"Mestinya kamu enggak usah jawab. Sakit tau!" Niken masih memegangi pipinya.
"Siapa suruh banting-banting pintu? Udah tau ayah lagi tidur." Laras tak mau disalahkan.
"Ah, dasar jahat kamu!" Niken mendorong tubuh Laras.
Laras yang belum melepas sepatunya, terjatuh.
Gubrak!
"Auwh!" teriak Laras. Kepalanya membentur tembok.
Rasyid yang melihat kejadian itu, kembali naik darah.
Dia mendatangi Niken, lalu menarik kerah seragam yang masih dipakai Niken.
"Kamu mau jadi jagoan di sini anak haram?" ucap Rasyid sambil mencengkeram kerah baju Niken.
Niken terkesiap mendengar sebutan anak haram. Siapa yang anak haram?
"Maaf, Yah. Enggak sengaja." Niken berusaha melepaskan cengkeraman Rasyid.
__ADS_1
"Enggak sengaja? Tuh, lihat Laras kebentur tembok. Dasar anak sialan!" Rasyid kembali memaki Niken.
Lalu menghempaskan tubuh Niken ke atas tempat tidur dengan keras.
Niken hanya bisa menangis. Bukan hanya karena punggungnya sakit, tapi hatinya juga. Karena Rasyid mengatainya anak haram dan anak sialan.
Laras sudah berhasil berdiri. Kepalanya terasa sangat sakit.
Tapi bagian bawah perutnya terasa lebih sakit. Laras meringis menahan sakit yang luar biasa dari **** *************.
Laras merabanya. Terasa lengket. Laras segera melihat tangannya. Ada darah di tangan Laras.
"Yah....!" Laras yang tidak tahan dengan darah, langsung pingsan.
"Laras....!" Rasyid langsung menangkap tubuh Laras.
"Minggir kamu!" Rasyid mengusir Niken.
Niken bangun dan merasa sangat bersalah, melihat darah mengalir di antara dua paha Laras dan juga Laras yang pingsan.
"Maaf, Yah." Niken membantu Rasyid membaringkan Laras. Dia kembali menangis.
Ayu yang mendengar keributan di kamar kakaknya, berlari mendekat.
"Kak Laras kenapa, Yah?" tanya Ayu. Melihat Laras pingsan, Ayu langsung menjerit dan berlari memeluk Laras. Dipikirnya Laras meninggal.
"Kakak....Kak Laras....! Jangan tinggalin Ayu...! Hwaaa....!" Ayu menangis sekencang-kencangnya.
"Ayu, kak Laras cuma pingsan. Enggak meninggal." Rasyid memberi pengertian pada Ayu.
"Tapi kak Laras enggak bergerak. Matanya juga....merem terus....Hwaaa....!" Ayu terus saja menangis.
"Iya. Kak Laras pingsan. Ayu tenang dulu, ya?" Rasyid malah jadi panik.
Niken semakin tergugu.
"Kak....maafin Niken. Niken salah, Kak...!"
"Ambilkan air hangat sama washlap. Buat membersihkan darah Laras," perintah Rasyid pada Niken. Rasyid pikir paha Laras terluka.
"Iya....Yah...." Niken berlari ke dapur sambil terus menangis. Dia sangat menyesal telah membuat Laras jatuh dan pingsan.
"Ini, Yah." Niken menyerahkan baskom kecil berisi air hangat dan kain washlap.
Perlahan Rasyid membersihkan darah di paha Laras. Tapi darah masih terus mengalir. Rasyid yang curiga, membuka rok Laras.
****** ***** Laras basah oleh darah.
Laras!
Rasyid menghela nafasnya dalam-dalam.
"Kamu ke rumah bu Yanti. Minta pertolongan!" perintah Rasyid pada Niken dengan gugup. Rasyid tak tahu harus berbuat apa. Dia pikir, sebagai sesama wanita, Yanti pasti tahu harus bagaimana.
"Iya, Yah." Niken langsung lari ke rumah Yanti.
Untung saja Beni ada di rumahnya. Dia sedang ngobrol dengan Yanti di ruang tamu.
"Kak Beni. Tolong....! Kak Laras....pingsan! Tadi...jatuh!" ucap Niken terbata-bata.
"Apa...?" Beni langsung berdiri. Niken kembali berlari pulang. Beni dan Yanti mengikuti dari belakang.
Meski seharian ini Yanti marah pada Rasyid, tapi dia tak bisa tinggal diam.
"Ya ampun! Ben...bawa Laras ke rumah sakit!" seru Yanti.
Kepalanya langsung pusing membaui darah yang menyengat. Yanti menyandar di pintu.
Beni langsung memesan taksi online buat membawa Laras ke rumah sakit.
"Kok bisa jatuh?" tanya Yanti setelah rasa pusingnya berkurang.
Rasyid menunjuk Niken dengan dagunya. Niken hanya bisa menunduk. Menyesali perbuatannya.
__ADS_1