
"Kok kamu pulang sama si Beni?" tanya Rasyid begitu Laras sudah masuk rumah.
Degh! Waduh, ayah melihat Beni. Gawat. Batin Laras.
"Ng....Anu, Yah. Ta....tadi pulangnya ketemu Beni. Karena Laras lama dapet angkotnya, Beni menawari mengantar," jawab Laras gelagapan.
"Oh, baguslah. Jangan terlalu tertutup pada lelaki lain. Mumpung Tomi belum melamarmu."
Laras tercengang dengan jawaban Rasyid. Dia pikir ayahnya akan marah karena melihatnya berboncengan dengan lelaki lain.
"I...Iya, Yah," sahut Laras.
Rasyid mengusak rambut Laras.
"Ayah pergi dulu. Ada urusan penting. Sekalian nanti jemput Ayu." Rasyid beranjak pergi.
"Iya, Yah. Hati-hati." Laras pun segera masuk ke kamarnya. Perasaanya lega.
Aku mau telpon Tomi, ah. Biar dia tahu kalau aku sudah membeli bedak dan tak menanyakannya lagi.
Laras yang tak biasa membohongi Tomi, malah merasa bersalah.
Telpon Laras tak diangkat oleh Tomi. Bahkan nomor Tomi non aktif. Akhirnya Laras hanya meninggalkan pesan saja. Dia berfikir Tomi sedang sibuk.
Begitulah Laras, dia sangat percaya pada Tomi. Dia tak pernah berfikiran negatif pada kekasihnya itu.
Sementara Tomi yang masih di rumah Yoga, mengaktifkan kembali hapenya. Lalu dia membaca pesan dari Laras.
Tomi hanya membalas iya, dan mengatakan kalau dia sedang sibuk. Lalu Tomi berusaha menghubungi nomor Cyntia.
Berkali-kali Tomi menghubungi, tapi nomor Cyntia tidak aktif. Akhirnya Tomi pun meninggalkan pesan.
"Kenapa kamu kok kelihatan bete banget, Tom?" tanya Yoga melihat wajah Tomi yang suntuk.
"Enggak apa-apa. Biasalah, ada urusan yang enggak beres," jawab Tomi.
Yoga pun hanya manggut-manggut tanpa mau bertanya lagi. Dia memang bukan type sahabat yang kepo, meski mereka sangat akrab.
Iseng-iseng Tomi mengomentari status whatsapp Maya. Tak disangkanya, Maya membalas komentar Tomi. Dan mereka ngobrol via chat.
Dan ujung-ujungnya, Maya mengajak ketemuan dengan Tomi nanti malam.
Dengan penuh semangat Tomi mengiyakan. Dia lalu pamit pulang pada Yoga. Dia akan mempersiapkan diri dan berganti pakaian.
"Seneng banget? Tadi aja, bete," komentar Yoga.
__ADS_1
"Hehehe. Aku pulang dulu, Ga," pamit Tomi.
"Ya. Eh, Tom, nanti malam kamu nginep di sini ya? Nemenin aku. Udah lama kan, kamu enggak nginep di sini lagi," pinta Yoga.
Tomi menatap Yoga sejenak.
"Oke. Tapi lihat nanti ya, Ga. Paling kalau bisa juga, tengah malam aku baru sampai di sini," sahut Tomi.
"Gak masalah. Aku juga mau lembur, bikin skripsi."
Tomi mengangguk dan segera meluncur pulang ke rumah orang tuanya.
"Kok jam segini udah pulang, Tom?" tanya Lastri, setelah Tomi sampai di rumah.
"Iya, Bu. Nanti pergi lagi. Ada kerjaan lain," jawab Tomi. Lalu dia segera masuk ke kamarnya. Dia akan tidur dulu sebentar, biar nanti malam bisa on fire.
"Kak, bagi uang dong. Buat jajan," pinta salah satu adik Tomi yang sudah SMP.
Tomi segera merogoh kantong celananya. Lalu memberikan lembaran dua puluh ribuan. Yang disambut dengan mata berbinar oleh adiknya.
"Makasih ya, Kak." Sandi segera keluar dari kamar Tomi. Dia memang sering tidur di kamar kakaknya ini. Karena di rumah itu hanya ada tiga kamar, jadi mereka tidur berbarengan.
Tomi memang punya kamar sendiri, tapi dia juga tak melarang adik-adiknya tidur bersamanya.
Sore harinya, menjelang maghrib, Tomi sudah bangun karena dia sengaja menyetel alarmnya biar tidak kebablasan.
"Habis mandi, sholat dulu Tom. Jangan langsung pergi. Ibu juga masak semur tahu kesukaanmu," ucap Lastri.
Dia memang sering memasakan makanan kesukaan anak-anaknya. Bergantian biar enggak saling iri.
Karena dari kecil jarang makan ayam atau daging, Tomi jadi penggemar tahu dan tempe.
Setelah mandi, Tomi menuruti ucapan ibunya. Dia sholat maghrib sebentar. Sholat kilat, hanya untuk menyenangkan hati ibunya.
"Mau makan dulu, Tom?" Lastri sudah menyiapkan makanan di meja.
"Enggak, Bu. Tomi buru-buru. Oh iya, Tomi nanti malam nginap di rumah Yoga. Orang tuanya lagi keluar kota," sahut Tomi dan segera memakai sepatu barunya. Sepatu yang dibelikan Sylfie.
"Wah, sepatu Kakak baru ya?" tanya Sandi.
"Iya. Kenapa? Suka?" tanya Tomi.
"Hehehe. Bagus banget, Kak. Pasti mahal," sahut Sandi. Dia ingat sepatu yang dipakai temannya yang anak orang kaya.
"Iya. Nanti kalau Kakak punya uang lagi, Kakak belikan buat kamu," ucap Tomi.
__ADS_1
"Beneran, Kak?" tanya Sandi tak percaya. Yang dia tahu, sepatu seperti itu harganya lebih dari satu juta.
Tomi mengangguk dan mengusak kepala Sandi. Dalam hatinya trenyuh melihat adik-adiknya tak pernah merasakan memakai sepatu mahal.
"Memang berapa harganya?" tanya Lastri yang mendengar pembicaraan kedua anaknya.
"Mahal, Bu. Kata Rendi harganya satu jutaan," jawab Sandi.
Lastri melotot tak percaya. Baginya uang segitu banyak sekali kalau hanya untuk membeli sepatu.
"Jangan aneh-aneh kamu, Sandi. Kasihan kakak kamu," ucap Lastri. Dia tak mau Sandi membebani Tomi dengan keinginannya.
"Enggak apa-apa, Bu. Sekali-kali kan boleh." Tomi menatap Sandi sekilas. Lalu berlalu setelah mencium tangan ibunya.
Sandi tersenyum senang meski baru dijanjikan. Dia sudah membayangkan, teman-temannya bakalan heboh kalau melihatnya memakai sepatu mahal.
"Kamu enggak boleh begitu sama kakak kamu, Sandi. Kakak kamu kan lagi mengumpulkan uang buat pernikahannya," ucap Lastri.
Sandi menundukan kepalanya dengan sedih. Tadinya sudah berangan, malah ibunya melarang.
Lalu Sandi masuk ke kamar Tomi. Dia merebahkan badannya. Matanya menatap langit-langit kamar.
Baru berkhayal saja sudah dilarang. Tak terasa matanya berair. Dia sedih dengan kehidupan orang tuanya yang jauh dari kata mapan.
"Ada apa, Bu?" tanya Hardi. Dia sempat melihat wajah murung Sandi saat mau masuk ke kamar.
"Itu si Sandi. Minta dibelikan sepatu kayak yang dipakai Tomi tadi. Masa sepatu saja harganya sejutaan," sahut Lastri.
"Memangnya Tomi beli sepatu sendiri? Uang dari mana dia?" tanya Hardi. Setahunya gaji Tomi sebagai dept collector yang masih training tak akan cukup untuk membelinya.
"Mana Ibu tau, Pak. Dia kan sekarang kayaknya banyak kerjaan sampingan," jawab Lastri.
"Kerja sampingan apa, itu anak? Sampai bisa beli sepatu mahal," gumam Hardi.
Dia saja yang kerja banting tulang dari pagi sampai malam, hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Itu pun serba pas-pasan.
"Sandi! Makan dulu!" seru Lastri dari ruang makan.
Dengan malas, Sandi keluar dari kamar. Perutnya memang sudah lapar, tapi rasa kecewanya karena ucapan ibunya, membuat Sandi jadi tak berselera makan.
"Kenapa? Masih memimpikan sepatu mahal?" tanya Lastri sambil menyuapi Ryan. Anak bungsunya.
Sandi menggeleng lemah. Lalu memaksa menyuap makanan ke mulutnya sendiri.
Hardi menatap trenyuh pada anak lelakinya yang sudah beranjak remaja. Ada rasa sakit saat berfikir dia tak mampu memenuhi keinginan anaknya ini.
__ADS_1