KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 148 KAKAK YANG DITAKUTI


__ADS_3

Tomi kembali ke rumah sakit menjelang sore. Dia yang berharap bisa dapat job dari Cyntia, ternyata gagal.


Cyntia bilang dia lagi sepi orderan. Padahal Tomi membutuhkan biaya untuk membayar biaya pengobatan Laras.


Untuk pinjam uang pada Cyntia pun, Tomi tak berani. Karena sepertinya Cyntia tak menyukai Laras lagi. Setelah Cyntia tahu kalau Laras adalah anak Rasyid. Lelaki yang pernah mengecewakannya.


Tomi harus memikirkan sendiri semuanya. Karena untuk membebankan pada Rasyid pun jelas tak mungkin. Untuk kehidupan sehari-harinya Rasyid saja senen kamis.


Di kamar Laras, Tomi hanya bisa melamun. Dia setengah mati memikirkan darimana mendapatkan uang untuk membawa pulang Laras besok pagi.


Padahal Tomi juga sudah menjanjikan, akan membawa pergi Laras sementara dari rumah Rasyid.


Sebenarnya Tomi punya uang yang dia titipkan pada ibunya. Tapi untuk memintanya, Tomi tak sampai hati.


Takutnya uang itu kepakai oleh ibunya, dan malah akan jadi pikiran kedua orang tuanya, kalau Tomi minta sekarang.


"Kamu kenapa, Tom? Kok melamun terus?" tanya Laras.


Tomi menggenggam tangan Laras.


"Enggak apa-apa. Aku cuma capek," jawab Tomi berbohong.


"Istirahatlah di ranjang itu, Tom." Laras menunjuk ranjang kosong di sebelah ranjangnya.


"Iya, nanti aja," jawab Tomi. Dia menciumi tangan Laras.


"Atau mau di ranjangku? Aku bisa bergeser." Laras menggeser badannya.


Badan Laras yang kecil, membuat ranjang itu terlihat masih bisa ditempati Tomi. Tapi kalau Tomi tetap nekat naik, pasti bakal sangat penuh.


"Jangan ah, nanti malah kena perutmu. Nanti sakit lagi," tolak Tomi.


"Tom. Besok pagi aku udah boleh pulang, kan?" tanya Laras.


Tomi menghela nafasnya. Lalu mengangguk.


"Kamu....punya uangnya?" tanya Laras ragu-ragu.


"Ada. Kamu tenang aja, ya?"


"Tapi pasti mahal, Tom." Laras merasa tak enak. Belum apa-apa dia sudah merepotkan Tomi.


"Kamu enggak usah mikirin biayanya. Itu tanggung jawabku," sahut Tomi.


"Gara-gara Niken, kita jadi kehilangan calon anak kita, Tom." Mata Laras tiba-tiba berair.


Tomi menghapus dengan jarinya.


"Jangan nangis, Ras. Mungkin sudah takdirnya. Dia belum mau hadir di dunia ini," ucap Tomi sambil terus mengecupi wajah Laras.


Air mata Laras makin deras. Lalu Tomi memeluknya dengan erat.

__ADS_1


Tomi pun merasa sangat sedih. Mestinya dia dan Laras bisa segera hidup bersama, karena ada bayi mereka di perut Laras.


Tomi tak bisa sepenuhnya menyalahkan Niken. Karena tak ada yang tahu tentang kehamilan Laras. Termasuk mereka berdua.


Laras sendiri juga tak pernah memperhatikan siklus menstruasinya. Jadi tak sadar kalau dia sudah terlambat datang bulan beberapa minggu.


Setelah Laras lebih tenang, Tomi melepaskan pelukannya.


"Kamu istirahat ya, Ras. Aku mau keluar sebentar," ucap Tomi.


"Kemana lagi?" tanya Laras. Dia seperti takut ditinggalkan Tomi.


"Cari kopi. Biar ngilangin ngantuk," jawab Tomi.


Tomi juga akan menghubungi beberapa orang yang sekiranya bisa membantu untuk biaya Laras.


"Jangan lama-lama, ya? Aku bosan tiduran terus. Mana sendirian, lagi," pinta Laras.


"Iya. Aku enggak lama, kok. Kamu tidur dulu, ya?"


Laras mengangguk. Lalu menatap punggung Tomi yang berjalan keluar dari kamarnya.


Sampai di area luar rumah sakit, Tomi mendatangi warung kopi yang beberapa kali disinggahinya.


"Kopi hitam satu, Pak. Gulanya sedikit saja," ucap Tomi pada pak tua pemilik warung.


Lalu Tomi menyalakan rokoknya. Otaknya benar-benar lagi sangat buntu. Mencari uang dalam jumlah yang tak sedikit dalam waktu sehari. Bagaimana mungkin?


"Terima kasih, Pak," ucap Tomi saat pak tua itu mengantarkan kopinya.


"Belum, Pak. Besok siang baru bisa pulang," jawab Tomi.


"Ooh. Kalau dulu anak saya masuk rumah sakit ini juga karena keguguran. Tapi karena keterbatasan biaya, saya minta segera dipulangkan aja," cerita pak tua.


"Lho kok, gitu? Memangnya bisa langsung sembuh?" tanya Tomi.


"Yang penting udah dilakukan tindakan. Kalau nunggu sampai benar-benar sembuh mah, bisa lama. Kan nunggunya bisa di rumah aja. Nanti kalau jadwalnya kontrol, baru datang lagi," jawab pak tua.


Tomi manggut-manggut. Dia sendiri tak begitu paham dan khawatir dengan kondisi Laras. Jadi menurut saja apa kata dokter.


"Memangnya biaya di sini mahal ya, Pak?" tanya Tomi.


"Kalau tidak pakai kartu jaminan kesehatan, ya mahal. Istrinya punya kartu jaminan kesehatan?" tanya pak tua.


Tomi menggeleng.


"Segera diurus aja. Nanti kalau sudah jadi, langsung diklaim ke bagian administrasi. Tapi enggak tau, bisa apa tidak kalau dadakan."


"Memangnya bisa dapat pengurangan biaya, kalau pakai kartu jaminan kesehatan?" tanya Tomi. Dia benar-benar buta soal itu.


"Bukan cuma pengurangan. Tapi gratis!"

__ADS_1


"Hah? Gratis?" Tomi tak percaya. Mana ada di dunia ini yang gratis. Apalagi menyangkut kesehatan.


"Kan yang membayar pemerintah," jawab pak tua.


"Tapi pelayanannya?" tanya Tomi lagi. Dia takut kalau nanti Laras diabaikan.


"Pelayanannya sama saja dengan yang umum. Tergantung kamarnya aja. Tiap kelas kan beda-beda kamarnya."


Setelah berkata seperti itu, pak tua disibukan dengan pembeli lainnya.


Tomi berusaha mencari info tentang layanan kesehatan masyarakat itu lewat internet.


Berarti aku harus minta data-data Laras pada om Rasyid. Tapi disini tertulis kalau yang gratis, lama mengurusnya.


Berarti harus pakai yang berbayar. Ini kayak model asuransi kesehatan.Tomi terus mencari info itu sejelas-jelasnya.


Kalau yang berbayar....waduh! Aku harus menanggung bayaran satu kartu keluarganya Laras?


Karena waktunya juga sudah sangat mepet, Tomi merasa tak mungkin untuk mengurusnya.


Tomi tak tahu kalau jaman sekarang ada layanan online, yang bisa langsung diakses lewat ponsel.


Akhirnya Tomi memilih menghubungi Voni. Wanita yang ngakunya kaya raya. Tomi akan meminjam uang padanya.


Karena ini menyangkut uang yang tak sedikit, Tomi tak berani membicarakannya lewat telpon.


Tomi hanya janjian saja untuk menemuinya malam nanti.


Dan untungnya Voni lagi senggang. Dan Voni menyanggupi ketemu Tomi.


Ah, semoga saja Voni mau membantuku. Apapun akan Tomi lakukan asalkan bisa mendapatkan uang untuk memulangkan Laras besok siang.


Tomi kembali ke kamar Laras. Laras masih tertidur pulas.


Tak lama, Rasyid datang bersama Ayu. Ayu masih pakai seragam sekolah. Sepertinya Rasyid baru saja pulang menjemputnya.


"Om. Nanti malam saya ada kerjaan. Ini dadakan sekali. Bisa tidak Om Rasyid nanti malam menunggu Laras di sini," pinta Tomi.


"Bisa aja. Sampai jam berapa kamu?" tanya Rasyid.


"Kalau sudah selesai, saya langsung ke sini lagi," jawab Tomi.


"Ayah. Ayu ikut nungguin kak Laras," pinta Ayu.


"Hey, anak kecil enggak boleh ikut nunggu," tolak Rasyid.


"Tapi Ayu takut di rumah sendirian," rengek Ayu.


"Ada kak Niken di rumah," sahut Rasyid.


Ayu menggeleng.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Rasyid.


"Ayu takut sama kak Niken!"


__ADS_2