KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 47 TERJEPIT RETSLETING


__ADS_3

Tomi menyuruh sopir taksi online berhenti di depan gedung apartemen.


"Sudah berhenti di sini aja, Pak." Lalu Tomi mengajak Laras turun.


"Ayo." Tomi menggandeng tangan Laras menuju warung makan di seberang gedung apartemen.


"Kamu mau makan apa?" tanya Tomi penuh perhatian.


Laras pun memilih menu yang disukainya. Sudah lama sekali dia tak pernah lagi makan di warung makan.


Dia ingat, terakhir masuk rumah makan dan makan bersama saat mamanya masih bersama mereka. Waktu itu mamanya baru saja dapat rejeki.


Laras makan dengan lahap. Sebenarnya dia ingat dengan ayah dan kedua adiknya yang tadi pagi sebelum berangkat sekolah belum makan.


Tapi enggak mungkin juga Laras membungkuskan makanan buat mereka. Karena Tomi juga masih akan mengajaknya ke apartemen.


"Enak?" tanya Tomi.


Laras mengangguk. Pilihan Tomi tidak salah. Masakan yang disajikan di etalase warung itu memang sangat enak.


"Berapa semua, Bu?" tanya Tomi setelah selesai makan.


Si ibu pemilik warung menyebutkan harga yang harus dibayar. Tomi sempat terkejut mendengarnya, karena menurutnya sangat mahal.


Dengan berat hati, Tomi mengambil uang di dompetnya. Mau bagaimana lagi, makanannya sudah terlanjur habis.


"Ayo kita ke dalam." Tomi kembali menggandeng tangan Laras menyeberang jalan.


Dengan bangga keduanya masuk ke area apartemen. Laras sangat bangga mendapatkan lelaki mapan seperti Tomi, yang nantinya pasti akan membahagiakannya.


Tomi pun bangga bisa mengajak Laras ke apartemen. Meski bukan miliknya sendiri.


Tomi membuka pintu apartemen. Dan terlihatlah di depan mata Laras, ruangan apartemen yang sangat modern.


"Wouw. Bagus banget Tom." Laras segera masuk dan dengan sangat antusias menyentuh beberapa barang dan furniture yang ada.


Tomi tersenyum bangga. Dia juga berkhayal, seandainya saja dia bisa benar-benar memiliki apartemen ini. Dia berjalan mendekati Laras.


"Kamu menyukainya, Ras?" tanya Tomi sambil memeluk Laras dari belakang.


"Suka sekali, Tom." Laras menyandarkan kepalanya ke bahu Tomi, hingga Tomi bisa menciumi leher Laras yang jenjang.


"Tom..." panggil Laras.


"Iya, Sayang," sahut Tomi sambil terus mencumbui Laras.


"Boleh aku foto-foto di sini?" Laras ingin memamerkannya di medsos nanti.

__ADS_1


"Boleh, Sayang. Tapi nanti, ya. Aku lagi kepingin nih," sahut Tomi. Dari pagi tadi sebenarnya Tomi sudah sangat ingin bercinta dengan Sylfie. Tapi Sylfie malah tertidur setelah dipijatnya.


"Ih, kamu kok kepinginan banget sih?" tanya Laras dengan suara manja.


"Iya dong. Aku kan kepingin cuma sama kamu. Calon istriku," ucap Tomi.


Lalu dia membalik tubuh Laras. Dan langsung menyerang Laras hingga tanpa ampun.


Dia ingin melakukan seperti yang kemarin dilakukannya dengan Sylfie. Dia akan mengajari Laras, agar ke depannya bisa memuaskannya setiap hari.


"Tomi....!" pekik Laras perlahan saat Tomi berhasil melucuti pakaiannya hingga tak bersisa sehelai pun.


"Kamu seksi banget, Sayang. Aku foto ya?"


Laras terkejut mendengar permintaan Tomi. Tapi sikap Tomi membuatnya mengangguk juga.


Tomi mengambil foto bugil Laras dengan berbagai pose seperti foto-foto bintang panas yang dilihatnya di internet.


Bahkan Tomi pun ikut berpose seolah dia sedang memuaskan Laras. Meski Tomi tak membuka pakaiannya sama sekali. Hanya beberapa kancing kemejanya saja yang dia lepas.


Selesai sesi foto, Laras yang sedang dalam posisi duduk di sofa, diminta Tomi untuk tetap duduk.


Tomi membuka dan menurunkan celana panjangnya. Dan menekan kepala Laras hingga berada persis di depan senjatanya.


Laras menatap senjata Tomi yang sudah berdiri sempurna.


"Masukan ke mulut kamu, Ras. Aku menginginkannya," ucap Tomi sambil menekan kepala Laras agar semakin mendekat.


Tapi posisinya sekarang sudah tak memungkinkannya menghindar. Dia juga tak berani menolak keinginan Tomi. Laras takut Tomi tersinggung lalu meninggalkannya.


Dengan ragu, Laras mulai membuka mulutnya. Matanya terpejam. Dia ingin membayangkan yang masuk ke dalam mulutnya adalah es krim.


"Lebih dalam, Ras." Tomi lebih menekan kepala Laras. Sampai Laras hampir muntah karena senjata Tomi nyaris menyentuh tenggorokannya.


"Kenapa? Punyaku bau, ya?" tanya Tomi mendengar suara Laras yang hampir muntah.


Laras mengeluarkan dulu senjata Tomi.


"Jangan terlalu dalam, Tom. Kena tenggorokanku," ucap Laras.


"Kalau enggak dalam, enggak enak, Ras. Ayolah, ditahan." Tomi kembali menekan kepala Laras sambil memasukan senjatanya ke mulut Laras.


Laras terpaksa membuka kembali mulutnya lebar-lebar. Dan senjata Tomi langsung meluncur ke dalamnya.


Tomi memaju mundurkan pinggulnya, agar senjatanya bisa keluar masuk. Dia tak peduli dengan Laras yang sangat tersiksa. Hingga Laras tak sadar sampai mengeluarkan air matanya.


Tomi mulai menyukai cara ini setelah Sylfie kemarin melakukannya. Bahkan Sylfie mampu membuat senjata Tomi memuntahkan laharnya di dalam mulut Sylfie. Dan Sylfie tanpa merasa jijik, langsung menelannya.

__ADS_1


Tomi ingin Laras bisa melakukannya. Tapi sayangnya Laras tak semahir Sylfie. Bahkan Laras merasa jijik.


Saat ada kesempatan, Laras langsung melepaskan diri. Lalu berlari ke arah wastafel. Dia muntah-muntah di sana.


Tomi berdecak sebal. Dia baru saja hampir keluar, malah Laras melepaskannya.


Tomi berjalan menghampiri Laras. Bagaimana pun dia khawatir karena mendengar suara Laras muntah.


"Kamu kenapa, Ras?" tanya Tomi.


Laras segera menyalakan kran dan membasuh mulutnya. Matanya sudah sangat merah.


"Enggak apa-apa," jawab Laras. Dia tak enak juga karena tak bisa melakukannya untuk Tomi.


"Kamu enggak suka, ya?" tanya Tomi.


"Maaf, Tom. Aku....aku jijik." Laras menundukan wajahnya.


"Jijik? Hey! Ini milikku, Ras. Milik kamu juga. Kenapa jijik?" tanya Tomi tak mengerti. Sedangkan Sylfie saja yang bukan siapa-siapanya, sangat menikmati.


"Bukan begitu, Tom. Kita lakukan yang lain aja, ya," pinta Laras.


"Ah, kamu. Aku saja enggak jijik memakan milik kamu," sahut Tomi dengan kecewa.


Sebenarnya bukan soal jijiknya Laras yang membuat Tomi kecewa, tapi tadi saat dia hampir saja memuntahkan laharnya dan Laras langsung kabur.


"Ya udah kalau kamu enggak jijik dengan milikku. Aku tak akan melakukannya lagi padamu." Tomi langsung berbalik dan meninggalkan Laras.


Laras mengejar Tomi. Lalu meraih tangan Tomi.


"Tom, maafkan aku. Aku akan melakukan apapun keinginan kamu. Tapi tolong jangan yang kayak tadi."


Tomi pura-pura marah dan menepiskan tangan Laras. Dia ingin tahu, seberapa besar usaha Laras untuk menebus kesalahannya tadi.


"Tom!" panggil Laras.


Tomi mengacuhkan dan tetap berjalan menuju sofa.


Laras berjongkok di depan Tomi. Matanya menatap mata Tomi yang sedang berakting marah.


Laras merasa sangat berdosa pada Tomi. Lalu mengangsurkan tangannya ke retsleting celana Tomi.


Tomi membiarkannya dan pura-pura cuek. Laras menarik turun retsleting Tomi.


Laras kurang berhati-hati dan tak memperhatikan senjata Tomi yang sudah nongol dari sarangnya. Hingga...Sreett!


"Auwh!" jerit Tomi.

__ADS_1


Spontan Tomi mendorong tubuh polos Laras hingga terjengkang.


Senjata andalannya terjepit retsleting!


__ADS_2