KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 44 BUKAN SIDE JOB


__ADS_3

Malamnya Rasyid terbangun. Perutnya terasa lapar. Dia keluar dari kamar Ayu. Ayu sendiri sudah meringkuk di sebelahnya.


"Lagi ngapain kamu, jam segini belum tidur?" tanya Rasyid pada Laras. Kalau Niken sudah terlelap.


"Lagi nerusin novel, Yah," jawab Laras sambil asik mengetik dengan hapenya.


"Novel terus. Duitnya aja enggak ada!" ucap Rasyid sambil berjalan ke ruang tamu.


Rasyid balik lagi.


"Ayah bikinin kopi!" seru Rasyid dari pintu kamar Laras.


"Iya bentar, Yah. Lagi nanggung," jawab Laras.


"Kamu itu disuruh orang tua susah amat sih?"


Dengan wajah cemberut, Laras meletakan hapenya di meja. Kalau enggak segera dituruti, bisa ngamuk Rasyid.


"Nih, Yah." Laras meletakan kopi di atas meja dengan sepiring kecil martabak.


"Kamu memang anak yang baik," puji Rasyid.


Laras mendengus kesal. Tadi aja, marah-marah. Laras kembali ke kamarnya dan melanjutkan ketikannya.


Karena tadi terjeda, membuat Laras tidak bisa konsen lagi. Akhirnya Laras menutup aplikasi novel online-nya.


Dia memilih membuka-buka galerinya. Ada foto berdua dengan Tomi saat di taman dekat vila.


Sebenarnya Laras ingin sekali mempostingnya. Tapi takut ketahuan Rasyid. Akhirnya dia hanya bisa memandanginya saja.


Sambil ngopi, Rasyid mulai browsing lagi. Dia akan mencari target baru. Target lamanya tidak menghasilkan banyak keuntungan.


Setelah berjam-jam berkelana di dunia maya, akhirnya ketemu juga yang dimaui Rasyid. Seorang wanita yang masih online sampai dini hari di grup whatsappnya.


Diawali saling sapa di grup. Saling komen, hingga mereka memutuskan pindah ke room pribadi.


Rasyid memancing-mancing agar wanita itu mau menelponnya. Rasyid bukan gengsi untuk menelpon duluan. Tapi dia ingin menguji keberhasilannya.


Kalau wanita itu menelponnya lebih dahulu, berarti pancingannya tepat sasaran. Karena kalau wanita yang masih memiliki pasangan pastinya menolak untuk melanjutkan obrolan di telepon.


Perlahan, untuk memastikan, Rasyid akan memancing lagi agar pindah ke mode video call. Dia tak mau kecolongan lagi, seperti dengan Wulan dan Lili yang ternyata wanita estewe.

__ADS_1


Rasyid harus kembali menelan kekecewaannya. Wanita yang didapatnya kali ini tak lebih menarik dari yang sebelumnya.


Foto profile telah mengecoh Rasyid. Bahkan suara yang tadi saat telepon terdengar merdu, jadi terasa sumbang setelah melihat penampakannya di video call.


Tak apalah. Kelihatannya yang ini tajir. Sayangnya dia tinggal jauh di luar kota. Bakalan sulit untuk bisa bertemu.


Tapi tak masalah. Karena bagi Rasyid bukan soal pertemuannya, tapi transferannya nanti.


Rasyid memuji-muji penampilan Reisya. Walau dia hanya mengenakan daster. Pakaian kebesaran wanita di tengah malam.


Sampai hampir jam tiga dini hari mereka video call-an. Lalu dengan gaya sok religius, Rasyid berpamitan akan menunaikan ibadah paginya.


Padahal sebenarnya mata Rasyid yang sudah tidak kuat melek lagi. Dia akan tidur, bukan menghadap Sang Illahi seperti alasannya tadi.


Di rumahnya, pagi-pagi Tomi sudah mendapat panggilan dari Sylfie. Dia mau Tomi menservisnya jam sembilan pagi.


Tomi galau, karena pagi ini dia harus berangkat kerja. Dan jam segitu dia belum bisa keluar dari kantor. Apalagi kemarin dia sudah ijin.


Tapi kalau menolak panggilan Sylfie, resikonya dia bakaĺan di depak. Dan musnahlah impiannya mendapatkan banyak uang dalam waktu cepat.


Tomi sangat butuh uang, terutama untuk melamar Laras. Kalau hanya mengandalkan dari gajinya, tak akan mungkin bisa.


Sebelum mengambil keputusan, Tomi minta pendapat sahabatnya, Adam. Bagaimana pun Adam sudah khatam untuk urusan seperti ini.


Yang jadi masalah bagi Tomi, dia baru sekali berkencan dengan Sylfie. Belum bisa menilai karakter aslinya. Tomi juga tak mengira kalau Sylfie menginginkannya di jam kerjanya.


Tomi pikir hubungannya dengan Sylfie bisa dijadikan side job. Setelah dia pulang kerja. Karena umumnya orang bercinta itu malam hari. Bukan pagi seperti yang Sylfie maui.


Dreeedt...!


Hape Tomi berbunyi. Panggilan dari Sylfie. Tomi semakin kebingungan.


Akhirnya Tomi masuk lagi ke kamarnya. Dia menerima telepon dari Sylfie.


Sylfie meminta Tomi datang tepat waktu. Karena siangnya dia akan terbang ke kota lain. Dia butuh stamina juga sedikit pijatan di beberapa bagian tubuhnya.


Tomi nekat mengiyakan kemauan Sylfie. Bagaimana pun dia membutuhkan uang Sylfie. Soal nanti dipecat dari pekerjaannya, Tomi berfikir akan mencari pekerjaan lain.


Tomi mengganti pakaiannya dengan yang lebih santai. Karena kalau pakai kemeja menurutnya terlalu kaku.


Setelah mengganti pakaiannya dengan T-shirt, Tomi menutupinya dengan jaket. Agar orang tuanya tidak curiga.

__ADS_1


Tomi juga membalas dulu pesan singkat dari Laras yang selalu setia menyemangatinya setiap pagi.


Tomi bilang pada Laras kalau pagi ini dia ada meeting penting. Maksudnya, biar Laras tidak menghubunginya dulu selama dia nanti menservis Sylfie.


"Pak, Bu. Tomi berangkat dulu." Tomi menyalami tangan keduanya yang sedang duduk di teras rumah.


"Hati-hati, Tom. Kalau bisa nanti siang pulang sebentar. Antar Ibu ke pasar," ucap Lastri.


Mereka hanya memiliki satu buah motor yang sekarang dipakai Tomi untuk bekerja.


"Iya, Bu. Memangnya Ibu mau belanja apa?" tanya Tomi.


"Sembako. Kalau di warung harganya sudah tinggi. Mumpung ada uang dari kamu, Ibu bisa belanja banyak sekalian," jawab Lastri.


Tomi menganggukan kepalanya. Nanti setelah menservis Sylfie, dia akan pulang.


Tomi segera meluncur ke apartemen Sylfie. Dia tak mau terlambat seperti permintaan Sylfie tadi.


"Pagi, Tante," sapa Tomi begitu Sylfie membukakan pintu.


"Hebat kamu Tom, ontime banget." Sylfie mengecup pipi Tomi. Lalu dia masuk lebih dulu.


"Tolong dikunci pintunya." Sylfie sudah mulai memerintah Tomi walau baru sekedar mengunci pintu.


"Siap, Tante." Tanpa menunggu disuruh dua kali, Tomi mengunci pintu.


Sylfie duduk di sofa mewahnya. Pakaiannya masih seperti kemarin. Hot pants dan tanktop tanpa bra. Membuat Tomi belum apa-apa sudah menelan ludahnya.


"Kamu sudah sarapan, Tom?" tanya Sylfie.


"Sudah, Tante. Tante sendiri gimana?" tanya Tomi.


"Aku tak biasa sarapan, Tom. Nanti aja kalau mau pergi."


"Jangan biasakan begitu, Tan. Mengawali hari itu butuh tenaga lho," ucap Tomi, yang membuat Sylfie tertawa.


"Kamu itu kayak orang tua aja. Tom, tolong pijat kakiku ya. Semalam aku berdiri terus. Kaki rasanya kram." Sylfie menyelonjorkan satu kakinya ke pangkuan Tomi.


Cleguks.


Tomi menelan ludahnya lagi. Kaki mulus Sylfie langsung membuatnya greng.

__ADS_1


Tomi memijatnya perlahan. Tomi tak berani memijat terlalu keras seperti dulu dia sering disuruh memijat kaki bapaknya. Dia takut kulit mulus Sylfie memerah karena menahan sakit.


"Enak sekali pijatanmu, Tom. Kamu belajar dari siapa?" Sylfie mencari posisi duduk ternyaman, dan menaikan lagi satu kakinya ke pangkuan Tomi.


__ADS_2