
Rasyid kebingungan mau kemana lagi. Uang sudah tak punya. Bensin pun menipis.
Dia menelpon Lili, berniat meminta bantuan. Untungnya nomor hape Lili aktif.
Lili sendiri kebetulan sedang tak ada kerjaan hari ini. Majikannya baru akan pulang tengah malam nanti. Satpam di rumah majikannya juga sedang off. Begitu juga asistennya dia, Wati ijin ada acara keluarga.
Praktis Lili menunggui rumah sendirian. Lili yang dari semalam sudah sangat merindukan Rasyid, mengijinkannya datang ke rumah.
Dengan semangat Rasyid mendatangi rumah mewah Lili. Tak ada maksud apapun selain minta uang yang pernah dijanjikan Lili.
Sampai di depan gerbang rumah Lili, Rasyid menghentikan motornya. Lili sudah menunggu di pos satpam.
"Masuk, Mas." Lili membukakan pintu gerbang.
Lili menyuruh Rasyid menaruh motornya di tempat yang agak tersembunyi.
Rasyid masuk lewat pintu samping. Lili membawanya masuk ke ruang makan. Dia masih menyimpan makanan sisa acara majikannya kemarin siang. Dan sudah menyiapkannya di meja makan.
"Mas Kahlil belum makan, kan?" tanya Lili.
"Tau aja, kamu. Masak apa kamu, Li?" Rasyid melihat meja makan yang penuh makanan aneka macam.
"Maaf ya, Mas. Lili cuma ada ini."
"Ini sih bukan cuma, Li. Tapi istimewa." Tanpa di suruh lagi, Rasyid langsung menarik kursi dan mencicipi semua makanan yang sangat lezat.
Beberapa masakan yang dibeli majikan Lili di restauran mewah, sebagian lagi hasil masakan Lili yang tak kalah lezatnya.
Dengan lahap, Rasyid memakannya. Lili hanya menemani, dia sudah bosan dengan masakan-masakan enak.
"Kemana suami kamu, Li?" tanya Rasyid. Dia masih ingat ucapan satpam yang mengatakan waktu itu Lili sedang pergi bersama suaminya.
"Suami yang mana, Mas? Lili kan pernah bilang kalau suamiku sudah lama meninggal dunia," sahut Lili.
"Satpam kamu yang bilang," ucap Rasyid.
"Ah, dia memang suka seperti itu. Dia kurang suka kalau melihat ada tamu laki-laki," jawab Lili berbohong.
Rasyid manggut-manggut. Tak penting baginya Lili sudah bersuami lagi atau tidak. Yang penting hari ini dia bisa makan enak dan ketemu Lili.
"Anak-anakmu gimana kabarnya, Mas?" tanya Lili. Lili yang tak pernah punya anak, sangat menginginkan hidup bersama suami dan anak-anak.
"Baik-baik aja. Oh iya, Li. Boleh enggak kalau nanti aku dibungkusin makanan buat anak-anak? Laras lagi ada acara dengan temannya. Jadi tidak ada yang masak di rumah," ujar Rasyid.
"Gampang itu, Mas. Nanti Lili bungkuskan."
__ADS_1
Rasyid tersenyum senang. Dia membayangkan, anak-anaknya pasti senang dibawakan masakan ala restauran mewah.
"Mas. Lili kangen," ucap Lili yang duduk di sebelah Rasyid. Dia meraih tangan Rasyid dan menggenggamnya.
"Iya, Li. Aku juga kangen sama kamu. Semalam kamu bikin aku melayang," ucap Rasyid membalas genggaman tangan Lili.
Lili menarik tangan Rasyid dan nekat membawanya ke kamar. Toh, tidak ada siapa pun di rumah, pikir Lili.
Dia sudah lama sekali tak pernah mendapatkan belaian langsung dari laki-laki. Apa salahnya sekarang mencari kepuasan dengan Rasyid. Laki-laki yang sekarang mengisi hatinya.
"Ini kamar siapa, Li?" tanya Rasyid. Dia khawatir kalau ketahuan sama suami Lili, meski Lili tak mengakui kalau dia sudah bersuami.
"Mm. Ini kamar tamu, Mas. Kalau kamar pribadi Lili di atas. Tapi jangan ke sana, ya? Enak di sini saja," sahut Lili.
Rasyid mengangguk tanpa banyak bertanya lagi. Dia juga ingin segera menuntaskan hasrat yang lama dipendamnya.
Sebenarnya bukan hasrat pada Lili. Tapi hasratnya sebagai laki-laki yang lama hidup sendiri.
Hari itu, Lili masih mengenakan dalaman dan pakaian santai milik Maya. Yang membuat Rasyid tetap berfikir Lili benar-benar orang kaya.
Harum aroma pakaian yang dikenakan Lili pun membuat Rasyid semakin bergairah. Maklum, Maya kalau memakai parfum sampai merata. Hingga tak hilang meski pakaiannya sudah dicuci.
Tanpa menunggu lama, Rasyid melucuti pakaian santai Lili. Dan Rasyid terkesima melihat pakaian dalam Lili yang sangat indah. Meski isinya jauh dari ekspektasi Rasyid.
Lili tersipu malu mendengarnya. Apalagi saat tangan Rasyid dengan lincah menggerayanginya.
"Mas. Pelan-pelan. Nanti dalamanku robek," ucap Lili. Dia tak mau ambil resiko mengganti dalaman Maya yang harganya sangat mahal.
"Iya, Sayang. Kamu saja yang membukanya." Rasyid menciumi leher Lili yang masih beraroma parfum dari pakaian yang dikenakannya.
Lili membuka sendiri ********** hingga tak bersisa satu lembar pun. Dan sempat meletakannya dengan baik.
Rasyid berusaha menutup matanya melihat body Lili yang sudah tak seksi lagi.
Rasyid langsung memepet badan Lili dan mulai mencumbuinya. Rasyid bukan type laki-laki romantis yang suka melakukan foreplay lama.
Dia lebih suka to the point. Karena sadar, senjatanya juga tak bisa bertahan terlalu lama. Dia tak mau kalah dulu sebelum berperang.
Lili mulai mendesah. Suara desahannya membuat Rasyid lupa diri.
Rasyid menarik tubuh Lili dan membaringkannya di atas tempat tidur. Dengan cepat, Rasyid membuka retsleting celananya.
Inginnya Rasyid tak melepas semuanya, tapi badannya yang gempal jadi susah bergerak. Terpaksa Rasyid melepasnya.
Dan terlihatlah dengan nyata di depan Lili, senjata Rasyid yang jauh dari ekspektasi Lili.
__ADS_1
Dia pikir, Rasyid yang berbadan besar dan berwajah mirip orang timur tengah, senjatanya pun besar seperti pemeran di film-film dewasa yang pernah ditontonnya.
Rasyid sudah merasa kalau Lili bakal komplain dengan senjatanya yang tak seberapa besar.
Rasyid langsung saja melesakannya ke liang kenikmatan sebelum Lili menatapnya terlalu lama.
Dengan gerakan yang terbatas, Rasyid mencoba menerobos gua milik Lili. Karena badannya terlalu berat hingga tak bisa bergerak dengan cepat.
Ah, sepertinya aku harus mengurangi berat badanku. Batin Rasyid yang sangat kepayahan.
Lili mulai beraksi meski tak selincah yang Rasyid bayangkan. Pastinya karena faktor usia.
Tapi baru saja beberapa menit, Rasyid sudah memuntahkan cairannya. Senjatanya yang terbiasa bermain dengan sabun mandi, ternyata tak bisa tahan lama.
Lili merasa kecewa karena dia belum tuntas, sementara Rasyid sudah KO.
Rasyid buru-buru memakai celananya. Dia tahu kekecewaan Lili. Dan dia berjanji akan menuntaskannya nanti sore lagi.
"Kok buru-buru sih, Mas?" Lili berharap, bisa menikmati hari ini bersama Rasyid sampai malam nanti.
"Maaf, Li. Aku baru ingat kalau anak-anak belum makan dari pagi. Nanti setelah aku bawakan mereka makan, aku kembali lagi. Kita ulangi lagi," ucap Rasyid mencari alasan untuk menutupi rasa malunya.
Lili segera memakai kembali pakaiannya. Ada perasaan kecewa karena ternyata Rasyid tak perkasa seperti almarhum suaminya dulu.
"Janji ya? Aku kan belum puas, Mas."
"Iya, Li. Aku janji." Rasyid mengecup kening Lili.
Mereka keluar dari kamar dan Lili segera membungkus makanan buat anak-anak Rasyid.
"Li. Kamu ada uang? Bensinku mepet banget," ucap Rasyid tanpa malu.
"Aku tak ada uang cash, Mas," sahut Lili.
Rasyid menelan ludahnya. Bisa dorong motor kalau begini. Batinnya.
Mata Rasyid tiba-tiba melihat selembar uang sepuluh ribuan.
"Uang siapa itu, Li?"
"Oh, itu uang kembalian belanja tadi," jawab Lili.
"Aku bawa dulu, ya. Lumayan dapat bensin satu liter."
Dalam hati Lili ingin ketawa. Ini orang hidupnya susah amat sih.
__ADS_1