
Sesampainya di rumah, Laras turun dari motor Beni. Seperti tadi saat berangkat, mereka lewat jalan kecil. Beni masih tak berani kalau kepergok ibunya.
"Makasih ya, Ben. Kamu mau mampir dulu?"
"Enggak, Ras. Makasih. Udah malam. Aku pulang dulu, ya," sahut Beni.
Laras mengangguk. Tak ada yang berani memulai sentuhan lagi seperti tadi. Bahkan Laras sudah melepaskan pelukannya saat mendekati jalan ke arah rumahnya.
Beni langsung melajukan motornya ke arah rumahnya. Warung ibunya sudah tutup. Biasanya kalau ada Beni, Yanti akan membuka warungnya sampai tengah malam.
"Kamu dari mana aja, Ben?" tanya Yanti yang masih setia menunggu Beni pulang.
"Nonton, Bu," jawab Beni sambil memasukan motornya.
"Sama siapa?" tanya Yanti lagi.
Beni tercekat. Dia tak mengira Yanti akan menanyainya seperti anak kecil.
"Mm....sama teman kerja, Bu," jawab Beni bohong.
Yanti mengangguk percaya.
"Ya sudah. Jangan lupa kunci pintunya." Lalu Yanti segera masuk ke kamarnya.
Beni bernafas lega. Meski harus berbohong pada ibunya. Dan dia pun segera masuk juga ke kamarnya sendiri.
Pikirannya masih melayang pada sikap Laras tadi yang begitu pasrah. Benarkah Laras menginginkannya? Bukan karena sedang ada masalah dengan Tomi?
Kalau iya, berarti aku harus berhati-hati. Jangan sampai Tomi yang makan nangkanya, aku yang dapat getahnya.
Beni jadi berfikir negatif pada Laras. Jangan-jangan....Ah. Apa Laras serendah itu? Beni berusaha menepis pikiran negatif yang lebih jauh lagi tentang Laras.
Sementara Laras, langsung masuk ke kamarnya. Niken sudah tertidur pulas. Dari ruang tamu, hanya terdengar suara musik dari hape Rasyid.
Sepertinya Rasyid sudah tertidur. Laras pun menengok sebentar. Benar saja, Rasyid sudah terkapar di sofa butut.
Laras mengunci pintu samping dan segera kembali masuk ke kamarnya.
Dia membuka hapenya sambil rebahan. Ada pesan dari Tomi. Dia bilang, maaf baru bisa membalas pesan Laras karena sibuk.
Sibuk pacaran? Batin Laras.
Dengan kesal, Laras menelpon Tomi. Tapi tak diangkat. Bahkan malah panggilan ditolak. Berkali-kali sampai Laras semakin kesal saja.
Tomi tak enak mengangkatnya. Berkali-kali juga dia terpaksa menolak panggilan dari Laras.
Lalu Tomi mengirimkan pesan pada Laras, supaya tidak menelponnya dulu. Karena dia sedang ada rapat penting.
__ADS_1
Tomi tak sadar dengan yang diketiknya. Dia tak berfikir sekarang jam berapa.
Rapat penting? Tengah malam begini? Tanya Laras di balasan chatnya.
Tomi terkesiap. Lalu merutuki kebodohannya. Mana ada rapat sampai tengah malam begini.
Rapatnya sudah dari sore tadi, sampai sekarang belum selesai juga. Balas Tomi.
Laras makin kesal lagi. Lalu siapa yang dilihatnya tadi berangkulan dengan wanita cantik?
Kamu punya saudara kembar ya, Tom? Tanya Laras pura-pura bodoh.
Tomi kebingungan dengan pertanyaan Laras. Akhirnya Tomi masuk ke kamar mandi dan menelpon Laras.
"Maksud kamu apa, Ras?" tanya Tomi.
"Tadi aku lihat orang mirip kamu di mall. Dia sedang berangkulan mesra dengan wanita cantik," jawab Laras.
Glek! Tomi menelan ludahnya. Jadi tadi Laras melihatnya jalan dengan Maya? Mati aku!
"Kamu ke mall? Sama siapa?" tanya Tomi. Setahunya Laras tak pernah jalan ke mall tanpa dirinya.
"Jawab dulu pertanyaanku. Benar kan kamu tadi yang jalan di mall?" Laras tak mau kalah.
"Tom...! Tomi...!" panggil Maya dari luar kamar mandi.
"Iya, May," sahut Tomi dan segera membuka pintu.
"Kamu telpon siapa? Kenapa di kamar mandi?" tanya Maya sambil mengerutkan dahinya.
"Mm....telpon... ibuku. Maaf, aku enggak mau mengganggu kamu," jawab Tomi gelagapan.
"Santai aja, Tom. Aku enggak apa-apa, kok," sahut Maya.
Tomi keluar dari kamar mandi dan kembali meraih tubuh Maya yang hanya berbalut selimut.
Dia membawa Maya ke atas tempat tidur dan mencumbuinya lagi. Tomi berusaha mengalihkan perhatian Maya.
Maya yang tak peduli dengan siapa Tomi telepon tadi, langsung menyambut dan membalas cumbuan Tomi.
Pergulatan panjang pun kembali mereka lakukan. Bahkan lebih dahsyat dari pertempuran mereka yang pertama tadi.
Tomi melampiaskan kekesalannya pada Laras yang jalan ke mall tanpa ijin darinya.
Laras hanya bisa menangisi kelakuan Tomi yang menurutnya sudah diluar batas. Tomi telah menghianatinya. Dia berselingkuh dengan wanita lain di depan matanya.
Rasyid terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan. Dia langsung beranjak dan mencari sumber suaranya.
__ADS_1
Sampai di depan kamar Laras, dia mendapati anak perempuannya sedang menangis di atas tempat tidur sambil duduk memeluk lutut.
"Kamu kenapa, Ras?" tanya Rasyid dengan mata masih mengantuk.
Laras menghentikan tangisannya dan menatap wajah Rasyid. Lalu menggeleng dan menghapus air matanya.
Rasyid mendekat.
"Beni menyakiti kamu?" tanya Rasyid. Karena setahunya tadi Laras pergi bersama Beni.
Laras kembali menggeleng.
"Terus kenapa kamu menangis?" tanya Rasyid lagi.
"Enggak apa-apa, Yah," jawab Laras dengan sesenggukan. Dia tak mau mengatakan yang sebenarnya. Takut kalau Rasyid mengamuk dan memutuskan hubungannya dengan Tomi.
Bagaimana pun, Laras masih sangat mencintai Tomi. Dan yang lebih penting, Tomi orang yang telah menodainya.
Laras jadi berfikir sejenak, apa Beni tahu kalau dia telah dinodai oleh Tomi, sampai Beni tak mau melakukannya?
Laras jadi ketakutan sendiri. Bagaimana kalau Tomi sampai meninggalkannya? Apa masih ada lelaki yang mau dengannya? Wanita yang sudah ternoda. Sudah tak perawan lagi.
Laras kembali menangis. Kali ini dia menangis karena ketakutan ditinggal oleh Tomi.
"Bilang sama Ayah, siapa yang sudah membuat kamu nangis?" Rasyid semakin kebingungan menghadapi Laras yang kembali menangis.
"Enggak, Yah. Laras pingin sendiri dulu. Ayah keluar, ya," pinta Laras.
"Iya, Ayah akan keluar. Tapi bilang dulu, siapa yang membuat kamu sedih," sahut Rasyid.
Tapi Laras tetap bungkam. Lalu menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.
Rasyid menghela nafas panjang. Dia tak bisa berbuat apa-apa untuk menolong anaknya ini.
Laras memang memiliki sifat keras kepala. Kalau dia sudah bilang tidak, ya tak akan ada yang bisa merubahnya.
Lalu Rasyid keluar dari kamar Laras. Dia berjalan keluar, melihat dari kejauhan situasi rumah Beni.
Jelas saja sudah terkunci rapat. Sekarang sudah lewat tengah malam. Mana ada orang yang pintu rumahnya masih terbuka.
Semalaman Rasyid gelisah memikirkan Laras. Dia sangat menyayangi anak-anaknya. Dan paling tak bisa terima kalau ada orang yang melukai mereka.
Besok Tomi harus ke sini. Dia mesti cepat-cepat melamar Laras, biar ada yang menjaganya. Jangan sampai dia disakiti laki-laki lain. Batin Rasyid.
Kurang ajar juga si Beni. Sudah dikasih kesempatan jalan sama Laras, malah membuatnya sedih. Besok akan aku beri pelajaran anak itu.
Jangan sampai dia melakukannya lagi. Enak saja menyakiti anakku. Dia pikir siapa, berani menyakiti anakku. Rasyid terus saja merutuk. Dia menuduh Beni yang melakukannya.
__ADS_1