KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 121 PERANG SAUDARA


__ADS_3

Tak lama, Laras, Ayu dan Rasyid pulang.


"Hallo, Tom. Udah dari tadi?" tanya Laras. Lalu duduk di sebelah Tomi.


"Udah. Kamu dari mana aja?" tanya Tomi sambil menutup ponselnya.


"Dari rumah temannya ayah. Males banget aku. Temannya ayah memintaku kerja di sana," jawab Laras.


"Ya udah, kerja aja kalau kamu memang mau. Aku enggak apa-apa, kok," sahut Tomi.


"Nanti aku pikir-pikir lagi deh. Eh, Niken mana?" tanya Laras. Sebab tadi saat masuk rumah, dia tak melihat Niken.


"Mau mandi katanya," jawab Tomi cuek.


"Ooh. Tumben anak itu mau mandi sore. Biasanya kayak kucing. Takut kena air," sahut Laras.


"Enggak boleh begitu. Dia adik kamu lho," ucap Tomi.


"Ya emang gitu. Udah gede malesnya enggak ilang-ilang."


Laras dan Tomi terus saja ngobrol sambil sesekali Laras menyandarkan kepalanya ke bahu Tomi. Dan Laras terus saja menggenggam tangan Tomi.


"Ras, sebentar lagi aku pamit, ya. Ada kerjaan," ucap Tomi. Dia mesti on time. Dan yang pasti, Tomi mau pulang ke rumahnya dulu. Mandi dan ganti pakaian.


"Iih, kan aku masih kangen," sahut Laras dengan manja.


"Besok kan bisa ketemu lagi. Sekarang aku cari duit dulu. Biar bisa segera melamar kamu." Tangan Tomi meraih dagu Laras. Dan seperti biasanya, Tomi mencumbui dulu biar Laras enggak ngambek karena baru ketemu udah ditinggal lagi.


Niken yang sudah selesai mandi, kembali ke ruang tamu. Dia terpaku di tempatnya berdiri. Sambil melihat adegan yang membuat hatinya panas.


Dia melihat Laras begitu panas membalas ciuman Tomi. Bahkan Laras sampai mencondongkan dadanya. Seperti meminta untuk diremas-remas.


Dan Tomi pun sangat mengerti kemauan kekasihnya itu. Satu tangannya meremas salah satu gunung kembar itu.


Dan saat Tomi melepaskan ciuman di bibir Laras, hendak beralih ke bagian dada yang sudah tegak menantang, matanya melihat Niken yang sedang berdiri. Matanya menatap tajam ke arah mereka.


Tomi tahu kalau Niken sedang cemburu. Lalu Tomi urung mencumbu lagi.


"Udah dulu, Ras. Aku udah ditunggu."


Cup.


Tomi mengecup kening Laras. Laras yang melihat mata Tomi menatap terus ke bagian belakangnya pun menoleh.


Laras melihat ada Niken yang berdiri mematung dengan tatapan nyalang.


"Ngapain kamu di situ? Anak kecil, masuk sana!" hardik Laras.


Niken mendengus kesal. Lalu pergi sambil menghentakan kakinya.

__ADS_1


"Jangan dipikirin, Tom. Dia memang suka kepo. Anak kecil, sukanya ngintip-ngintip," ucap Laras dengan kesal.


"Udah ah. Jangan ngomel-ngomel terus. Kayak nenek-nenek aja." Tomi mengacak rambut depan Laras. Lalu berdiri.


"Aku pergi dulu, Ras."


Laras pun ikutan berdiri. Dan berjalan di belakang Tomi. Mereka menuju pintu samping.


Sampai di depan pintu kamar, Tomi melirik Niken sekilas. Wajah Niken sedang butek.


Tomi tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi tadi Laras sudah ngomel tentang Niken..


Niken menatap mereka dengan rasa cemburu. Ingin rasanya berlari dan memeluk Tomi. Calon kakak iparnya yang telah mempesonanya.


"Aku jalan dulu, Ken," ucap Tomi salah sebut nama.


"Kok, Ken sih?"


"Oh iya, maaf. Ras maksudnya." Tomi nyengir salah tingkah.


Laras langsung cemberut.


"Udah dong, jangan cemberut terus," ucap Tomi.


"Abisnya kamu, malah manggil Ken."


"Kan aku udah minta maaf. Cuma salah sebut aja, kok."


Tomi tersenyum. Entah untuk Niken atau Laras. Lalu segera memacu motornya.


Niken buru-buru kabur. Jangan sampai Laras melihatnya lagi ngintip.


Laras masuk ke kamarnya. Niken pura-pura membuka buku pelajarannya.


"Heh! Dengerin ya, jangan suka ngintip kalau aku lagi sama Tomi. Kurang ajar itu namanya!" Laras menoyor kepala Niken.


"Iih, sakit tau!" seru Niken. Ingin sekali Niken membalas, tapi ditahannya. Bukannya takut dengan Laras, toh badan Niken lebih besar. Tapi karena takut dibilang kurang ajar.


"Apaan sih kalian?" tanya Rasyid yang kebetulan lewat.


"Ini, Yah. Kakak menoyor kepalaku!" Niken mengadu.


"Laras enggak boleh begitu dong, sama adiknya," ucap Rasyid menengahi.


"Niken itu yang sukanya ngintipin orang pacaran!" sanggah Laras.


"Niken, enggak boleh suka ngintip. Enggak sopan. Bagaimana kalau Tomi marah? Nanti kakakmu batal dilamar," ucap Rasyid.


Emang itu yang aku harapkan, Yah. Kak Tomi batal melamar Laras. Dan menungguku sampai lulus sekolah, lalu melamarku. Ucap Niken. Tapi hanya di dalam hatinya saja.

__ADS_1


Rasyid lalu berjalan ke ruang tamu. Pusing kepalanya melihat kedua anaknya itu. Semakin besar-besar bukannya saling mengalah, malah sering bertengkar.


Kadang Rasyid bingung mesti membela siapa. Dua-duanya tak ada yang mau mengalah.


Rasyid duduk di sofa. Dia berfikir bagaimana caranya biar Tomi segera melamar Laras. Dan segera membawa Laras pergi.


Bukannya Rasyid tak menginginkan Laras tinggal bersamanya lagi. Tapi semakin anak-anaknya dewasa, kebutuhan mereka semakin banyak.


Sementara Rasyid tak juga punya penghasilan. Jangankan penghasilan, pekerjaan pun dia tak punya. Hanya memodusi wanita-wanita yang dikenalnya di medsos atau kebetulan kenal di dunia nyata.


Apa yang mesti aku lakukan? Apa aku mesti menjebaknya? Tomi sepertinya mengulur-ulur rencana lamarannya.


Atau Laras biar kerja di rumah Dino saja?


Tapi Laras di sana cuma jadi pembantu. Masa sih anakku kerja jadi pembantu. Rasyid makin pusing.


"Niken...!" teriak Rasyid.


"Iya, Yah!" Niken yang sedang bersitegang dengan Laras, merasa ada kesempatan buat kabur.


"Awas, minggir!" Niken mendorong Laras yang menghalangi jalannya. Tubuh Laras yang lebih kecil, tergeser.


"Gila, lu!" teriak Laras. Karena dia hampir jatuh.


Niken lari dan tertawa kegirangan.


Baru disenggol sedikit aja udah mau jatuh. Dasar lemah! Batin Niken.


"Apaan, Yah?" tanya Niken setelah sampai di ruang tamu.


"Ayah bikinin kopi!" jawab Rasyid.


"Kopinya abis. Tadi terakhir buat kak Tomi," jawab Niken.


Rasyid mengeluarkan dompetnya.


"Nih. Beli kopi sama rokok. Sama mie instan juga," perintah Rasyid sambil memberikan uang pada Niken.


Niken berjalan ke pintu samping. Sampai di depan pintu kamarnya, matanya kembali melotot ke arah kakaknya.


Laras pun tak kalah melototnya.


Gara-gara Tomi mereka jadi kayak perang saudara. Memperebutkan satu lelaki.


Semestinya tak perlu terjadi, andai saja pagi itu Tomi tak salah orang. Dan Niken tak pernah merasakan cumbuan Tomi yang membuatnya ketagihan.


Ditambah lagi sikap Tomi yang selalu manis padanya. Walaupun sebenarnya wajar saja. Niken kan calon adik ipar. Jadi wajar kalau Tomi bersikap manis.


Tapi sayangnya Niken salah mengartikannya. Niken merasa Tomi memberi perhatian lebih.

__ADS_1


Dan Niken yang dasarnya punya sifat ingin menang sendiri, tak peduli kalau Tomi adalah calon kakak iparnya.


Dia tetap menginginkan suatu saat nanti bisa memiliki Tomi seutuhnya. Tak harus berbagi dengan Laras.


__ADS_2