KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 22 KOPI DAN ROKOK GRATIS


__ADS_3

"Mestinya kamu juga minta uang. Token habis. Bakal gelap-gelapan kita semalaman," ucap Rasyid sambil keuar dari kamar Ayu.


Laras tak menjawab. Malas meladeni Rasyid yang kadang suka seenaknya saja kalau ngomong.


"Nyalain lilin kek, Ken!" ucap Rasyid pada Niken yang duduk di pintu samping. Karena di dalam rumah gelap.


"Mana ada lilin," jawab Niken sekenanya.


"Hhh! Kalian ini. Bantu Ayah mikir dong!" Rasyid lalu kembali ke ruang tamu. Dia mengambil hapenya.


Ternyata hape Rasyid masih kehabisan daya. Dia tadi memasang chargernya kurang pas.


"Akh! Ini hape kenapa lagi sih!" Rasyid duduk dengan kesal sambil mengutak-atik hapenya di tengah kegelapan.


"Yaelah, masih lowbath." Rasyid menaruh hapenya di atas meja dengan kasar. Lalu menegakan tubuhnya dengan kedua tangan meremas rambutnya yang masih acak-acakan.


"Hidup kenapa gini amat, ya!" Rasyid mengeluh pada dirinya sendiri.


Lalu dia pun kembali merebahkan diri di atas sofa bututnya. Pikirannya melayang ke mana-mana. Sampai akhirnya dia kembali tertidur.


"Kak, masih ada makanan enggak?" tanya Niken yang sudah lapar lagi.


"Tuh, tinggal pisang satu," jawab Laras.


"Kok tinggal ini?" protes Niken.


"Emang maunya apa? Makanan itu kan buat Ayu semua." Padahal sebagian dihabiskan Laras juga. Karena Ayu enggak akan habis makan segitu banyaknya.


"Hhmm!" Niken meruncingkan mulutnya. Tapi diambilnya juga pisang itu.


"Kak. Gelap," ucap Ayu. Hape Laras juga sudah lowbath karena dari tadi dipanjer buat senter.


"Iya. Mau bagaimana lagi, Yu. Kita enggak punya yang lagi buat beli token," sahut Laras.


"Ayah kemana, Kak?" tanya Ayu.


"Kayaknya tidur lagi. Enggak ada suaranya." Laras berjalan perlahan ke ruang tamu.


Rasyid tak menutup tirai jendela juga pintu rumah dibiarkan terbuka. Jadi masih ada cahaya masuk dari lampu penerangan jalan. Selain enggak gerah juga, karena ada angin dari luar.


Laras melihat Rasyid meringkuk di atas sofa butut. Meski kesal dengan sikap Rasyid yang tak mau usaha apapun untuk mencari solusi, tapi Laras tak berani mengusik tidurnya.


Laras kembali ke kamar Ayu. Lalu meringkuk juga di sebelah Ayu. Korden kumal di kamar Ayu juga dia buka lebar-lebar agar dapat cahaya dari rumah tetangga.


Sementara Niken, tidur di lantai di depan pintu samping yang dibiarkannya terbuka.

__ADS_1


Keadaan yang sangat mengenaskan dari sebuah keluarga miskin yang tak punya penghasilan sama sekali.


Rasyid sendiri tak ada niatan untuk mencari pekerjaan seadanya. Dia maunya kerja yang enak dengan penghasilan besar. Sementara dia yang sudah tua hanya memiliki ijasah SMA saja tanpa skill tambahan apapun.


Pada akhirnya dia menghidupi ketiga anaknya dengan hanya mengandalkan belas kasih orang lain. Bahkan tak jarang Rasyid mengobral cinta palsu pada beberapa wanita di medsos.


Dan nantinya Rasyid akan mengumbar cerita menyedihkan tentang anak-anaknya yang kelaparan, untuk mendapat simpati dari mereka. Tak jarang Rasyid juga menampilkan sosok anak-anaknya. Dan mereka disuruh akting sedih agar dikasihani.


Di saat seperti ini, Rasyid masih saja hanya tidur meringkuk. Entah apa yang diharapkannya. Dia tak peduli malam ini ketiga anaknya tidur dalam keadaan gelap gulita. Bahkan Niken tak mengisi perutnya, hingga tengah malam dia terjaga karena mendengar suara berisik dari perutnya sendiri.


Niken berjalan merambat menuju ke dapur. Dia akan mencari air putih karena lapar. Tapi dia tak beruntung. Air di galon isi ulang habis. Tak ada setetespun.


Niken kembali harus menahan rasa haus dan lapar. Tak berani mengganggu Rasyid yang lelap tertidur, Niken kembali meringkuk di lantai.


Hingga pagi hari dan seluruh badan Niken pegal semua karena semalaman tidur di lantai. Dia menggeliatkan badannya.


Niken hari ini masuk sekolah. Dia melihat jam di dinding, menunjukan pukul enam kurang seperempat. Niken ke kamar mandi.


Apapun yang terjadi, Rasyid selalu mengajarkan anak-anaknya untuk tetap ke sekolah.


Selesai mandi, Niken mencari seragam sekolahnya di lemari.


"Kak! Seragamku mana, ya?" tanya Niken pada Laras yang sedang menyapu kamarnya.


"Memangnya sudah kamu cuci?" tanya Laras. Biasanya Niken paling malas kalau disuruh mencuci, meski baju-bajunya sendiri.


Sebuah baju seragam putih kusam yang tak pernah kena panasnya setrikaan. Juga rok abu-abu yang sudah memudar warnanya.


Niken melihat dirinya sendiri di depan kaca cermin. Lalu menyisiri rambutnya yang panjang dan mengepangnya. Rasyid tak pernah membawa anak-anaknya ke salon. Hingga rambut mereka pun ikut kusam sekusam pakaian yang mereka kenakan.


Setelah rapi, Niken berjalan ke ruang tamu. Rasyid juga sudah terbangun dan sedang duduk melamun.


Dia tak berteriak minta kopi, karena tahu di rumah sudah tak ada apapun lagi.


"Yah. Antar Niken ke sekolah," ucap Niken perlahan.


Rasyid bergeming. Dia tetap melamun seperti orang kehilangan ingatan.


"Yah!" Niken memanggilnya.


"Iya, Ayah dengar!"


Niken sampai terjengit. Lalu Rasyid bangkit dan berjalan ke kamar mandi. Dia hanya menggosok gigi dan membasuh mukanya saja dengan air tanpa sabun.


Dengan handuk seadanya, dia keringkan mukanya.

__ADS_1


"Ayo!" Rasyid meraih hape dan chargernya. Dia nanti akan numpang ngecas di pos satpam sekolah Niken.


"Ras! Jaga adikmu. Ayah mau antar Niken ke sekolah!" seru Rasyid.


Niken mengenakan sepatu hitamnya yang sudah jebol bagian ujungnya. Kaos kaki pun sudah berhari-hari tak dicucinya hingga menguarkan aroma khas. Kaos kaki putih yang sudah tak putih lagi. Dia juga mesti menyangganya dengan karet gelang agar tidak melorot.


"Ayo naik!" Rasyid sudah siap di atas motornya.


Mereka melaju melewati jalan-jalan kampung. Rasyid paling tak suka pakai helm. Dia lebih suka mengenakan topi baretnya.


Sampai di sekolah Niken, Rasyid langsung menuju pos satpam. Niken sudah berlari ke dalam gedung sekolahnya, karena hari ini ada upacara bendera.


"Assalamualaikum!" salam Rasyid pada penjaga pos dengan semangat. Agar tak terlihat kalau sebenarnya dia sangat lapar dan juga butuh kopi serta rokok.


"Waalalikumsalam," jawab pak Slamet. Seorang satpam tua di sekolah Niken.


"Pak, saya numpang ngecas ya? Tadi buru-buru, jadi tidak sempat ngecas di rumah." Seperti biasanya, Rasyid paling pandai membuat alasan.


"Oh, silakan. Itu kabelnya," sahut pak Slamet.


"Alhamdulillah. Bagaimana, sehat Pak Slamet?" Rasyid sok akrab. Padahal dia membaca lebih dulu papan nama di baju seragam pak Slamet.


"Alhamdulillah," jawab pak Slamet.


"Bapak usia berapa kalau boleh tau?" tanya Rasyid basa-basi.


"Ah, saya sudah tua. Menjelang enam puluh," jawab pak Slamet lagi.


"Masyaa Allah! Masih terlihat muda sekali. Saya pikir masih usia lima puluhan." Rasyid mulai mencari muka.


"Bisa saja Bapak ini." Pak Slamet tersipu malu.


"Saya Rasyid, Pak. Anak saya sekolah di sini. Kelas dua." Rasyid memperkenalkan diri.


"Kopi, Pak Rasyid." Pak Slamet menawarkan kopi pada Rasyid karena merasa tidak enak kalau ngopi sendirian.


"Kalau tidak merepotkan, Pak." Rasyid tak mau menolak tawaran yang menggiurkan.


"Sebentar saya pesankan." Pak Slamet berjalan ke sebuah warung kopi tak jauh dari pos.


"Ini, Pak Rasyid." Pak Slamet memberikan segelas kopi hitam.


"Alhamdulillah. Semoga Allah membalas kebaikan Pak Slamet." Rasyid terkekeh lalu mulai menyeruput kopinya.


"Rokok, Pak Rasyid." Pak Slamet mengeluarkan rokok dari kantong bajunya.

__ADS_1


"Masyaa Allah. Benar-benar mulia hati Pak Slamet. Tau aja kalau rokok saya ketinggalan." Rasyid segera mengambilnya satu batang dan menyalakannya.


Indah sekali hidup ini. Duduk manis kopi dan rokok gratis. Rasyid tersenyum sendiri.


__ADS_2