
Tomi memutuskan langsung ke rumah Cyntia. Tapi sebelumnya dia mencari makan malam dulu. Khawatir kalau di rumah Cyntia nanti, tak ada makanan.
Tomi berhenti di sebuah warteg. Sedang asik menikmati makan dan alunan musik dangdut dari sebuah sound butut, hape Tomi berdering.
Rupanya Laras yang menelponnya.
"Iya, hallo, Ras. Aku masih di tempat kerja." Tomi melirik penjual warteg yang menatapnya heran.
Mungkin dia heran karena barusan Tomi mengatakan masih di tempat kerja. Padahal lagi makan di warungnya.
"Enggak bisa, Ras. Aku juga jauh. Capek kalau harus bolak balik." Lalu Tomi menutup telponnya.
Laras meminta Tomi datang ke rumahnya. Dia lagi kangen katanya.
Dasar bucin. Baru tadi pagi ketemu dan bercinta, sekarang udah kangen lagi. Batin Tomi.
Tapi sayangnya Tomi yang sudah merasa lelah akibat permainannya dengan Voni, malas kalau harus ke rumah Laras yang jaraknya lumayan jauh dari tempatnya sekarang.
Lebih dekat ke rumah Cyntia. Dan setelah itu, Tomi bisa tidur dengan nyaman. Karena di rumah Cyntia ada beberapa kamar yang cukup nyaman.
Sedangkan kalau di rumah Laras, hanya bisa duduk di sofa butut yang bikin pegal karena beberapa busanya sudah hilang.
Bukannya Tomi membanding-bandingkan. Tapi dia sedang sangat capek.
Selesai makan, Tomi segera membayar dan melaju ke rumah Cyntia.
Sampai di rumah Cyntia, Tomi malah bertemu dengan Tanto. Mereka sama-sama terkejut karena akhirnya ketemu lagi di satu tempat yang sama.
"Hey, Tom. Masuklah. Kamu udah kenal Tanto, kan?" sapa Cyntia dengan ceria. Tak ada lagi tanda-tanda dia sedang dalam masa penyembuhan.
Padahal siang tadi wajahnya masih terlihat sangat pucat. Dan tubuhnya lemas. Mungkin ada obat instant yang membuat Cyntia langsung bergairah lagi.
Tomi mengangguk, lalu menyalami Tanto. Tak lupa dia mengecup pipi Cyntia seperti biasanya.
Tomi duduk di sebelah Cyntia dan berhadap-hadapan dengan Tanto. Beberapa kali mata mereka saling tatap dengan tajam.
Sepertinya diantara mereka ada persaingan. Entah dalam bentuk dan dalam rangka apa.
"Aku senang, ternyata kalian masih setia padaku meski aku dianggap menghilang beberapa hari ini. Meskipun badanku belum pulih seratus persen, tapi aku bakalan mencoba mencarikan klien untuk kalian. Siap, kan?" tanya Cyntia.
"Tentu saja, Madam. Aku selalu siap dengan semua job darimu. Enggak tau kalau Tanto." Tomi menunjuk Tanto dengan dagunya.
"Kamu siap kan, Tanto?" tanya Cyntia pada Tanto.
__ADS_1
Tentu saja mereka selalu siap. Sebab mereka orang-orang yang baru nyemplung di dunia seperti itu.
Bakal kembali ke nol lagi kalau tidak siap. Sebab bukan hal yang mudah mendapatkan klien yang tajir dan mau membayar mereka dengan harga tinggi.
Contohnya saja Tomi. Voni yang dikenalnya di toko sepatu, hanya memakainya gratisan. Karena tak ada perjanjian sebelumnya diantara mereka seperti yang selalu dilakukan Cyntia.
"Siap, Madam." Tanto menjawab dengan lebih sopan. Di hadapan Tomi dia merasa lebih junior, jadi memilih lebih sopan pada keduanya.
"Baguslah. Aku suka dengan semangat kerja kalian."
Cyntia mulai membuka akun medsosnya. Biasanya dia akan dapat pelanggan dari sana. Mereka biasanya mengirimi pesan inbok untuk menanyakan stock yang dimiliki Cyntia.
Dan Cyntia akan mengarahkan mereka untuk chat whatsapp. Sampai ada kesepakatan soal harga, barulah Cyntia memberikan job pada para anak buahnya.
Cyntia spesialis penyedia jasa lelaki panggilan. Orang sering menyebutnya gigolo. Cyntia tak peduli apapun sebutan orang.
Meski dirinya disebut sebagai mucikari atau tante girang sekalipun. Dia merasa enjoy saja.
Baginya yang penting hidup tidak minta makan orang lain. Tidak merepotkan orang lain.
Tak lama, Cyntia tersenyum senang. Lalu meminta Tanto untuk mendatangi sebuah apartemen di kawasan elite.
"Tempat siapa, Madam?" tanya Cyntia.
Tomi terkejut mendengar nama Voni. Apa Voni orang yang sama dengan yang dikenalnya?
Kalau iya, gila banget itu perempuan. Tadi siang dia menghabiskan waktunya dengan bertempur habis-habisan bersamanya.
Dan malam ini, dia minta di service lagi. Maniak juga wanita satu itu. Batin Tomi.
Tapi biarlah. Tomi tak protes meski Voni diserahkan pada Tanto.
Lagipula, badannya sudah terasa remuk setelah pertempuran tadi siang.
"Jam sepuluh dia baru pulang ke apartemennya," ucap Cyntia.
"Sekarang, terserah kamu. Mau menunggu di sini, atau bagaimana," lanjutnya.
Tanto melihat jam tangannya. Masih ada waktu kurang lebih dua jam lagi.
"Aku ke rumah teman dulu, Madam. Aku janji akan datang tepat waktu." Tanto lalu pamit pada Cyntia juga Tomi.
Tomi menyalaminya dengan malas. Entah mengapa, ada rasa kurang suka pada sosok Tanto.
__ADS_1
"Tom, kamu nginap di sini, kan?" tanya Cyntia. Dia terlihat sangat berharap.
"Iya, Madam. Seperti keinginanmu." Tomi memainkan anak rambut Cyntia.
Cyntia yang sudah STW alias setengah tua, masih memiliki rambut yang bagus. Tak kalah dengan gadis-gadis remaja.
"Gimana dengan adikmu, Tom? Kamu sudah membelikannya sepatu, kan?" tanya Cyntia. Dia selalu merespon dengan bagus kalau menyangkut keluarga.
Mungkin karena dia tak memiliki keluarga lagi. Satu kakak dan satu adiknya, benar-benar menjauhinya.
Mereka berpikiran kalau Cyntia penyebab kedua orang tua mereka meninggal. Padahal mereka meninggal setelah Cyntia diusir dan tak pernah kembali.
Bahkan saat kematian mereka pun, Cyntia tak dikabari apapun.
"Sudah tadi. Sudah aku berikan juga," jawab Tomi.
"Baguslah. Pasti dia sangat menyukainya, kan?" tanya Cyntia lagi.
"Sayangnya Ryan masih tidur tadi. Jadi aku enggak bisa melihat responnya." Tomi jadi merasa bersalah tak bisa melihat reaksi gembira dari Ryan.
"Memang kamu kemana lagi?" Kali ini Cyntia merasa kepo pada Tomi.
"Mm...Aku...Aku ada urusan dengan temanku." Tomi terpaksa berbohong. Malu rasanya mengatakan kalau dia tadi bercinta dengan Voni yang nanti malam akan diservice oleh Tanto.
"Oh. Aku pikir kamu pacaran sama...siapa nama pacarmu?" tanya Cyntia dengan wajah berbeda.
"Laras. Enggak, Madam. Aku kan udah bersamanya tadi pagi. Bagi-bagi waktu lah," jawab Tomi.
Cyntia tersenyum. Dia merasa bangga, ternyata dia masih kebagian waktu juga dari Tomi.
"Kapan aku dapat job lagi, Madam?" tanya Tomi. Dia ingin segera punya banyak uang dan mewujudkan impiannya melamar Laras.
"Besok aku carikan. Oh, iya. Gimana kabar Adam? Udah lama dia enggak kesini," tanya Cyntia. Dia paling enggan menghubungi anak buahnya terlebih dahulu.
"Entahlah. Aku juga sudah lama enggak ketemu. Memang dia tak pernah kesini?"
Cyntia mengangguk. Lalu mengajak Tomi ke kamarnya. Malam ini, dia ingin diservice juga oleh Tomi. Meski kondisi kesehatannya belum terlalu baik.
"Memangnya udah kuat?" ledek Tomi.
Tanpa menjawab, Cyntia menyerang Tomi duluan. Malam ini dia sudah tak bisa lagi menahan hasratnya.
Tomi terpaksa meladeninya. Meskipun harus gratisan lagi.
__ADS_1