
Kakak Ratih yang bernama Nina mau menjemput Sinta. Ternyata suaminya, Nano tak mengijinkan, karena sudah malam. Dan jarak rumah mereka cukup jauh.
"Biar aku yang menjemputnya aja. Kamu di rumah jagain anak-anak," ucap Nano.
"Iya, Pa. Makasih, ya," sahut Nina.
Lalu Nano menjemput Sinta dengan naik motor. Meski ada mobil, tapi akan lebih cepat kalau naik motor. Bisa lewat jalan kecil yang lebih dekat.
Sampai di rumah Ratih, Nano melihat ada motor terparkir di halaman depan.
Nano sejenak berpikir, motor siapa itu. Setahunya motor Ratih bukan itu. Apa ada orang lain di dalam rumah Ratih?
Nano melangkah perlahan dan membuka pintu yang ternyata tertutup.
Begitu masuk ke dalam, dilihatnya ada seorang laki-laki tidur di sofa ruang tamu.
Nano berusaha mengenali wajah lelaki yang sedang tidur itu. Tapi dia merasa tak kenal.
Dari dalam kamar Sinta terdengar suara anak kecil asik bermain. Nano yang hafal suara Sinta, segera membuka pintu kamar Sinta.
"Sinta!" panggil Nano.
"Papa Nano...!" Sinta biasa memanggil Nano dengan sebutan papa. Seperti kedua anak Nano.
"Siapa dia?" Nano menunjuk pada Ayu.
Ayu hanya diam saja sambil memegangi boneka milik Sinta.
"Dia Ayu, Pa. Ayu mau menginap di sini," jawab Sinta.
"Lalu itu siapa?" Nano menunjuk lelaki yang sedang meringkuk di sofa.
Sinta keluar sebentar, melihat siapa yang dimaksud oleh Nano.
"Oh. Itu om Rasyid. Ayahnya Ayu," jawab Sinta.
"Dia mau tidur di sini juga?" tanya Nano lagi.
Sinta menggeleng. Karena setahunya, hanya Ayu yang akan menginap.
"Terus, kenapa dia tidur di situ?"
"Mungkin ketiduran, Om. Soalnya mama tadi bilang mau pergi sebentar mengantar barang pesanan," sahut Sinta.
"Sinta. Malam ini mama kamu enggak bisa pulang. Mamamu ada tugas mendadak ke luar kota. Dia minta Papa jemput kamu, tidur sama Rika dan Riki," ucap Nano.
Rika dan Riki adalah anak kembar Nano. Mereka seumuran dengan Sinta.
"Tapi tadi mama bilang cuma mau nganter barang aja, Pa," sahut Sinta.
"Iya. Kan Papa udah bilang, kalau mama kamu ada tugas mendadak dari kantornya." Nano kembali menjelaskan.
"Terus Ayu bagaimana?" tanya Sinta.
Meski Sinta seneng banget kalau menginap di rumah kakak mamanya itu, tapi Sinta sudah terlanjur meminta Ayu tidur bersamanya malam ini.
"Ayu biar pulang sama ayahnya. Kapan-kapan aja tidurnya di sini ya, Ayu?"
__ADS_1
Ayu terpaksa mengangguk. Meskipun dalam hatinya sangat kecewa.
Belum lagi, dia akan dibawa pulang oleh Rasyid dan ditinggal berdua saja dengan Niken.
"Ayu. Kapan-kapan aja menginapnya, ya? Aku mau tidur di rumah papa Nano," ucap Sinta.
Ayu kembali mengangguk, lalu mengemasi barang-barangnya.
Sinta juga menyiapkan kebutuhannya sendiri. Sinta sudah biasa menyiapkan apa-apa sendiri.
Begitu selesai bersiap, Nano mengajak mereka keluar kamar.
"Ayu. Bangunkan ayah kamu," suruh Nano.
Ayu mengangguk. Lalu mengguncang bahu Rasyid.
"Ayah! Bangun, Yah! Kita pulang!"
"Hhm. Iya, nanti," sahut Rasyid masih dengan mata terpejam.
"Ayah ayo cepetan. Sinta mau tidur di rumah saudaranya!" Ayu kembali mengguncang bahu Rasyid.
"Kamu ngapain sih, gangguin Ayah terus!" Rasyid menggeliatkan badan, lalu perlahan membuka matanya.
Mata Rasyid langsung terbelalak begitu melihat Nano.
"Siapa kamu?" tanya Rasyid dengan suara parau.
"Aku kakaknya Ratih. Mau jemput Sinta," jawab Nano.
"Menjemput Sinta? Dimana Ratih?" tanya Rasyid bingung. Karena Rasyid yang sudah tertidur sebelum Ratih pergi.
"Aduh! Gimana sih, ini? Bukannya tadi Ratih ada di sini?" Rasyid masih merasa bingung. Otaknya belum konek.
"Kan aku sudah bilang, Ratih mendadak ke luar kota," jawab Nano.
Rasyid menghela nafas. Berusaha mengumpulkan nyawanya.
Lalu setelah merasa lebih enak, dia berdiri.
"Ya sudah. Aku permisi. Ayu, ayo pulang," ajak Rasyid.
Tak lupa Rasyid meneguk sisa kopinya.
"Tapi, Yah. Ayu enggak mau ditinggal di rumah. Ayu takut sama kak Niken," sahut Ayu.
Tapi Rasyid yang sedang kesal, tak mau mendengar omongan Ayu. Dia tetap melangkah keluar.
Ayu mengikutinya. Lalu naik ke atas motor.
"Yah! Ayu enggak mau tidur di rumah. Ayu takut sama kak Niken!" rengek Ayu lagi.
"Terus kamu mau tidur dimana? Di kolong jembatan?" tanya Rasyid dengan kesal.
Rasyid kesal karena dia selalu gagal mengencani Ratih.
Ratih kemana, lagi. Pergi kok enggak pamit, sih? Tanya Rasyid dalam hati.
__ADS_1
"Ayu, tadi kamu lihat tante Ratih pergi?" tanya Rasyid. Mereka masih di jalan.
"Iya. Katanya mau nganter pesanan barang. Ayah kan tidur," jawab Ayu.
"Ah, iya. Lagian kenapa aku bisa ketiduran sih?" gumam Rasyid. Dia menyalahkan dirinya sendiri.
"Terus kapan orang itu datang?" tanya Rasyid lagi.
"Papanya Sinta?" Ayu balik bertanya.
"Papanya Sinta? Tadi bilang kakaknya Ratih. Gimana sih, kamu?" Rasyid malah menyalahkan Ayu.
Ayu tahunya Sinta memanggil orang tadi dengan sebutan papa. Sementara otak Rasyid belum terlalu konek. Makanya dia hanya makin emosi saja.
"Ayah! Itu tante Ratih!" Ayu menunjuk ke sebuah restauran mewah.
Rasyid menghentikan motornya. Lalu melihat ke arah restauran yang ditunjuk oleh Ayu.
"Ratih? Dan lelaki itu, kan...." Rasyid bergumam sendiri. Dia masih sangat ingat wajah Ricko yang pernah memukulinya.
Ratih masuk ke dalam mobil mewah milik Ricko.
"Oh, jadi dia pergi dengan lelaki itu? Kata kakaknya, dia pergi ke luar kota? Lalu siapa yang bohong?" Rasyid masih saja bergumam sendiri.
Karena ngomong dengan Ayu pun tak akan nyambung.
"Ayu, kamu masih nyimpan masker di tasmu?" tanya Rasyid. Dia akan mengikuti mobil yang dinaiki Ratih bersama Ricko.
Tapi Rasyid akan menutup mukanya dengan masker, biar mereka tak mengenalinya.
"Ada. Tapi bekas dipakai Ayu tadi," jawab Ayu.
"Ya udah. Cepetan diambil!" perintah Rasyid.
"Iya, Yah." Ayu segera mengambil maskernya.
"Nih!" Ayu memberikan masker bekasnya.
Rasyid segera memakainya.
"Howek...! Busyet! Bau amat sih, Ayu! Kamu enggak pernah gosok gigi sih!" Rasyid tak jadi memakainya, karena dia tak betah dengan baunya.
"Pernah, Yah. Tapi tadi pagi lupa. Hehehe," jawab Ayu dengan jujur sambil nyengir.
"Nyengir lagi! Tuh, liat di spion. Gigi kamu kuning banget!" Rasyid menunjuk ke arah spion.
Dasarnya Ayu yang masih terlalu lugu, dia malah ikut melihat ke arah spion.
Rasyid tak tahu kalau ternyata Ayu mau melihat ke spion. Dia menarik gas motornya dengan mendadak.
Dan alhasil, Ayu yang sedang berdiri di belakang Rasyid, terpental jatuh.
"Ayah...!" teriak Ayu.
"Astaga!" Rasyid sangat terkejut saat tau Ayu jatuh.
Rasyid segera menghentikan motornya, lalu menolong Ayu. Beberapa orang yang melihatnya juga ada yang ikut membantu, tapi banyak juga yang menyalahkan Rasyid.
__ADS_1
"Gimana sih? Anaknya lagi berdiri malah langsung tancap gas!"