KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 164 MULAI TERBONGKAR


__ADS_3

Alya tetap keluar. Dia berdiri di pintu.


Tomi melihat Alya yang menatapnya tak suka. Lalu Tomi segera berdiri dan berpamitan. Dia benar-benar merasa tak nyaman dengan sikap jutek Alya.


"Ras. Aku pulang dulu ya. Nanti aku ambilkan tasnya Ayu di rumah sakit," ucap Tomi.


Sengaja Tomi mengatakan itu untuk mengambil hati Alya. Tapi mendengar itu, tak membuat Alya merubah mimik wajahnya. Dia masih saja jutek.


"Iya, Tom. Makasih ya. Jadi merepotkan kamu," sahut Laras.


"Tante, saya permisi dulu," ucap Tomi pada Alya.


Alya hanya menganngguk. Tanpa senyum sedikitpun, meski hanya basa basi.


Laras berdiri dan mengikuti Tomi sampai ke motornya. Lalu kembali ke teras setelah Tomi pergi.


"Ras. Nanti mau ikut kita ke mal, enggak?" tanya Alya.


Meski Alya ingin mengajak Laras, tapi dia tak mau memaksa. Karena kondisi Laras belum sembuh benar.


"Kayaknya enggak deh, Ma. Laras masih capek," jawab Laras. Laras menolaknya, karena dia memang masih capek.


Sejak pulang dari rumah sakit, Laras belum istirahat.


"Ya udah. Kamu istirahat aja. Di kamarnya Aldo sana," sahut Alya.


"Iya, Ma."


Alya mengantar Laras ke kamar Aldo. Dia juga membawakan tas pakaian Laras.


"Biar Laras bawa sendiri aja, Ma." Laras berusaha mengambil tasnya.


"Eeh, biar Mama saja yang bawa," tolak Alya. Dia tetap membawakan tas Laras.


Laras pun tak protes. Dia melangkah perlahan, karena perutnya terasa sakit lagi.


"Kamu istirahat aja. Kalau perlu apa-apa, cari saja sendiri. Jangan sungkan, Ras. Rumah Mama kan rumah kamu juga," ucap Alya.


"Iya, Ma. Makasih," sahut Laras. Lalu dia membaringkan tubuhnya.


Alya keluar dari kamar Aldo, dan menutup pintunya.


Alya mandi dulu sebelum nanti siap-siap pergi ke mal. Alya selalu membiasakan dirinya tampil bersih dan wangi.


Alya tak mau mengecewakan dan membuat malu suaminya dengan penampilan yang seadanya saja. Meskipun Alya bukan termasuk orang yang heboh dalam penampilan. Tapi setidaknya enak dipandang.


Benar saja, selesai Alya bersiap, Aldo terbangun. Dan seperti biasanya, orang pertama yang dicari Aldo adalah Alya.


"Mama...."

__ADS_1


Alya yang sedang berdandan, menoleh. Lalu mengembangkan senyumannya.


"Eeh....Anak Mama udah bangun!" ucap Alya. Lalu mendekat ke tempat tidur.


"Ayo sini." Alya mengulurkan kedua tangannya di atas tubuh Bowo.


Bowo memicingkan matanya. Dia seperti mendengar suara Aldo.


Begitu Aldo sudah siap diangkat oleh Alya, Bowo membuka matanya lebar-lebar.


"Wah, Mama udah rapi. Kok enggak bangunin Papa sih?" tanya Bowo.


"Tadi udah Mama bangunin. Tapi Papanya tidur lagi," jawab Alya.


"Masa? Papa enggak denger, kali," sahut Bowo.


"Iya. Enggak denger, tapi nyaut," ucap Alya.


Alya menggendong Aldo.


"Jadi enggak ke mal-nya, Pa?" tanya Alya.


"Jadilah. Tapi Papa mandi dulu, ya. Biar badan Papa lebih segar," jawab Bowo.


"Iya. Mama juga mau mandiin Aldo. Biar Aldo mandi di kamar mandi luar aja deh. Papa mandi di sini."


Lalu Alya membawa Aldo ke kamar mandi luar. Di sana juga ada perlengkapan mandi milik Aldo.


Selesai memandikan Aldo, Alya membawa ke kamarnya. Karena di kamar Aldo, ada Laras sedang istirahat.


"Lho, Papa cepet amat mandinya?" tanya Alya. Bowo sudah keluar dari kamar mandi. Dia hanya melingkarkan handuk di badannya.


"Ya tadi pagi kan Papa udah mandi. Yang penting kena air aja, biar segar," jawab Bowo.


Alya mengambilkan pakaian Bowo dulu.


"Aldo tunggu di sini dulu. Mama ambilin bajunya Papa," ucap Alya. Aldo mengangguk mengerti.


Meski masih kecil, dan bicaranya belum jelas, tapi Aldo sangat cerdas. Dia paham dengan bahasa Alya.


Alya pun membantu Bowo memakai bajunya. Hal yang paling disukai Bowo.


Hubungan Bowo dengan istri pertamanya kurang baik. Dan istri pertamanya itu, jarang sekali melayani Bowo.


Bowo selalu menyempatkan pulang, hanya demi dua anak perempuannya.


Bowo masih mempertahankan rumah tangganya, demi anak juga. Dia tak mau kedua anaknya itu merasa kehilangan sosok bapak.


Jadi biarlah, Bowo membiarkan saja istrinya sering kelayapan. Yang penting bagi Bowo, dua anaknya itu tumbuh jadi anak-anak yang baik dan penurut.

__ADS_1


"Udah...udah. Mama makein bajunya Aldo aja. Kasihan kan, nanti Aldo kedinginan," ucap Bowo.


Padahal Aldo sendiri asik main jungkir balik dengan bantal-bantal Alya.


Bukan Aldonya yang jungkir balik. Tapi Aldo yang menjungkir balikan bantal-bantal Alya.


"Sebentar, Mama ambilin bajunya Aldo dulu." Alya keluar dari kamarnya. Semua pakaian Aldo, ada di kamarnya sendiri.


Alya membuka pintu kamar Aldo, dilihatnya Laras lagi tidur nyenyak. Sepertinya Laras benar-benar capek.


Pastinya begitu. Apalagi Laras sempat pingsan lama. Pasti badannya masih kurang enak.


Perlahan Alya mengambil pakaian Aldo. Dia memilih pakaian terbaik. Seperti untuk dirinya sendiri, Alya tak mau Bowo malu mengajak jalan Aldo, hanya karena pakaian Aldo tak pantas.


Alya jadi teringat dengan ketiga anaknya dengan Rasyid. Mereka nyaris tak pernah membeli baju baru.


Baju-baju yang mereka pakai, rata-rata pemberian orang. Begitu juga dengan Alya. Bisa dihitung dengan jari, berapa kali Alya membeli baju baru, saat hidup dengan Rasyid.


Sangat berbeda dengan sekarang. Kapan saja Alya bisa beli baju. Bukan cuma baru, tapi juga bermerk. Meski Alya jarang membelinya dengan alasan harganya terlalu mahal.


Padahal Bowo selalu memberi uang, kapanpun Alya membutuhkan.


Tapi Alya, tetaplah Alya yang sederhana. Meski kadang Alya ingin juga terlihat glamour.


Alya kembali ke kamarnya dengan membawa pakaian Aldo.


"Laras udah siap, Ma?" tanya Bowo.


"Laras enggak mau ikut, Pa. Katanya perutnya masih sakit. Dan capek juga," jawab Alya.


Bowo hanya mengangguk. Ternyata kemauannya tak mengajak Laras, terkabul juga. Tanpa harus dia yang melarangnya.


Setelah selesai, mereka pun bergegas pergi. Alya mengunci pintu rumahnya dari luar. Tapi dia meletakan kunci cadangan di meja tamu.


Berjaga-jaga kalau Laras bangun dan ingin keluar. Dari dulu Alya memang selalu memikirkan anak-anaknya.


Sampai di mal, Bowo menggendong Aldo. Dia tak mau membebani Alya dengan menggendong Aldo yang gembul.


Ini boleh dibilang momen pertama mereka jalan-jalan ke mal bersama.


Selama ini Bowo menyembunyikan keberadaan Alya dan Aldo dari siapapun. Bukan karena malu, tapi demi keselamatan dan kenyamanan mereka juga


Bowo membebaskan Alya mau membeli apapun. Bowo sudah menyiapkan dananya.


Bowo ingin Alya membeli tas baru. Tas yang bermerk. Meski semahal apapun, Bowo siap membayarnya.


Alya menyetujuinya. Sudah lama juga Alya menginginkannya. Tapi Alya sungkan mengatakannya pada Bowo.


Saat baru saja masuk ke sebuah toko tas branded, mata Alya menangkap sosok Tomi. Dia sedang menggandeng tangan seorang wanita.

__ADS_1


Alya menatap wajah wanita itu dengan intens. Dan sepertinya Alya pernah melihatnya. Dia berusaha mengingatnya.


"Tasya...!"


__ADS_2