KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 27 AJI MUMPUNG


__ADS_3

Niken pulang ke rumah siang hari. Mestinya dia baru selesai sekolah jam empat sore.


"Kok kamu sudah pulang?" tanya Laras.


"Aku malas ke sekolah lagi!" jawab Niken dengan kesal. Lalu membuang sepatu bututnya ke sembarang arah.


"Eh, jangan sembarangan buangnya. Tuh, tempat sampah di sana!" Laras menunjuk tempat sampah di luar rumah dengan kesal juga.


"Buangin sana! Nih, sekalian!" Niken melemparkan kaos kakinya juga. Aromanya langsung menguar kemana-mana.


"Kamu itu! Ketahuan Ayah baru tau rasa!" ucap Laras. Lalu dengan sapu yang dipegangnya, dia menyingkirkan barang-barang Niken yang semerbak baunya.


"Kakak! Itu kan punyaku!" teriak Niken. Meski butut dan bau, dia tak rela barang-barangnya di buang begitu saja.


"Siapa suruh buangnya sembarangan!" jawab Laras tak peduli. Lalu melemparkan sapunya asal.


"Eh, kepala kamu kenapa, Kak?" Niken baru ngeh, kalau kepala Laras ada perbannya.


"Tadi kakak di dorong Ayah. Terus kena pintu. Terus berdarah." Ayu membantu menjawab.


"Hah...? Memangnya kenapa sampai Ayah mendorongmu, Kak?" tanya Niken.


"Aku tadi disuruh Ayah beli air isi ulang. Tapi aku tak kuat mengangkatnya. Terus jatuh dan galonnya pecah," jawab Laras.


"Terus kamu dihajar Ayah?" tanya Niken. Laras mengangguk.


"Dasar Ayah tak punya perikemanusiaan! Sekarang kemana dia?" tanya Niken.


"Lagi ada urusan bisnis, Kak," jawab Ayu dengan polosnya.


"Alah! Bisnis apaan? Paling juga ngegombalin wanita-wanita bego!" ucap Niken. Dia cukup paham kebiasaan Rasyid. Karena Niken sering diajak saat Rasyid menggombali beberapa teman wanitanya.


"Hush! Jangan kurang ajar, kamu!" hardik Laras.


"Emang bener, kok. Niken kan tau, Kak," sahut Niken.


Laras tak mau melanjutkan omongannya, karena Ayu ikut menyimaknya.


"Kamu kenapa kok pulang cepet? Gurunya rapat?" tanya Laras.


"Enggak! Gurunya mati semua!" umpat Niken.


Laras dan Ayu berpandangan.


"Aku kesal, Kak. Tadi ada teman membully-ku. Dia ngatain sepatuku bau terasi. Lalu aku pukul dia. Eh, malah aku dibawa ke ruang BK terus diomelin. Sebel banget kan?" cerita Niken.


"Lha memang sepatu kamu bau terasi busuk kok. Makanya kalau punya sepatu sama kaos kaki itu dicuci setiap minggu. Dasar pemalas!" Laras malah ikut mengatai Niken.

__ADS_1


"Lupa, Kak!" jawab Niken dengan santai.


"Ya sudah. Itu resiko kamu. Siapa suruh jadi orang pelupa! Terus kamu disuruh pulang sama guru BK?" tanya Laras. Niken mengangguk.


"Besok pagi Ayah disuruh ke sekolah. Ketemu guru Bk!" ucap Niken.


"Memangnya Ayah bakalan mau?" tanya Laras.


"Ya pasti enggak mau lah. Ada ide enggak, Kak, gimana caranya biar Ayah enggak perlu ke sekolah. Dan jangan sampai Ayah tau soal ini?" tanya Niken.


Niken sudah membayangkan, bakalan bonyok dihajar Rasyid kalau sampai dia tahu masalah ini.


"Bilang saja sama guru kamu, kalau ayah lagi bisnis di luar kota," jawab Laras santai. Dia juga selalu beralasan seperti itu kalau nakal di sekolah dan berhadapan dengan guru BK.


"Kalau mereka enggak percaya, terus datang ke sini, gimana?" tanya Niken.


"Kamu ingat enggak waktu dulu daftar sekolah, kamu nulis alamatnya mana?" tanya Laras.


"Alamat kontrakan lama," jawab Niken. Dia masih belum paham kemana arah pembicaraan Laras.


"Ya udah, kasih aja alamat itu lagi kalau mereka nanyain tempat tinggal kita," sahut Laras. Lalu ke dapur mengambil sendok untuk makan nasi padang yang dibelikan Rasyid tadi.


"Ide cemerlang! Memang kakakku satu ini super cerdas!" puji Niken.


"Iyalah. Memangnya kamu, bego!"


"Wauw! Kapan belinya, Kak? Memangnya kamu punya uang?" tanya Niken ikut bergabung duduk di lantai. Ayu sudah duduk duluan.


"Punyalah. Tapi sorry, aku belinya cuma dua. Aku pikir kamu pulangnya sore!"


Ayu tercengang mendengar kebohongan-kebohongan yang begitu mudah diucapkan oleh keluarganya.


"Kenapa kalian sukanya berbohong?" tanya Ayu dengan lugu.


Laras melotot ke arah Ayu. Niken malah mencubit tangan Ayu supaya diam.


"Auwh! Sakit, Kak!" seru Ayu.


"Makanya, anak kecil jangan bawel! Awas ya kalau ngadu ke Ayah soal aku dimarahi guru dan disuruh pulang!" ancam Niken.


"Iya, Kak. Ayu enggak akan ngadu ke Ayah." Ayu menundukan kepalanya. Dia tak berani membantah kedua kakaknya. Apalagi saat tak ada Rasyid. Bisa habis dia dibully.


"Bagus!" Niken menarik nasi padang yang diletakan Laras di depan Ayu. Karena itu memang jatah buat Ayu.


"Ini punya Ayu, Kak." Ayu berusaha menarik lagi nasinya.


"Barengan! Lagian kamu segini juga enggak habis! Ambil piring sana!" perintah Niken. Ayu pun menurut.

__ADS_1


"Ini, Kak." Ayu memberikan piring plastik pada Niken.


Lalu dengan tega, Niken mengambilkan nasi dan lauk untuk Ayu sedikit.


"Nih! Kamu segini aja!" Niken mengembalikan piring plastiknya pada Ayu.


"Kok cuma sedikit, Kak. Ayu kan lapar," sahut Ayu.


"Eh! Anak kecil jangan makan banyak-banyak! Entar perut kamu meledak!"


Laras tak mau tahu perdebatan kedua adiknya. Dia membawa nasinya ke ruang tamu. Biar aman dari sikap usil Niken.


"Tapi, Kak, itukan nasinya Ayu." Ayu tetap ingin mempertahankan haknya.


"Nurut kenapa sih, kamu! Kalau enggak nurut, aku lempar piring kamu ke luar! Biar enggak makan sekalian!" bentak Niken.


Niken yang sering diperlakukan kasar oleh Rasyid, sering ditindas Laras, sering dibully teman-teman sekolahnya dan sering dimarahi guru-gurunya, hanya bisa membalaskan sakit hatinya pada Ayu. Satu-satunya makhluk lemah yang ada di dekatnya.


Ayu pun menurut. Lalu membawa piringnya ke ruang tamu. Dia lebih memilih makan dengan Laras yang tidak setega Niken.


"Nih, Kakak tambahin nasinya. Tapi Kakak ambilin minum dulu," ucap Laras sambil memindahkan sedikit nasinya ke piring Ayu.


"Air galonnya kan habis?" Ayu mengingatkan Laras.


"Oh iya. Ya sudah, kamu rebus air putih dulu sana!" perintah Laras tanpa perasaan.


"Ayu makan dulu, Kak," sahut Ayu.


"Kalau kamu makan dulu, entar abis makan enggak ada minumnya. Udah sana!" Laras mengambil piring Ayu dan menjauhkannya.


Ayu pun terpaksa menuruti perintah Laras. Dia ke dapur dan melewati Niken yang sedang menjilati bekas kuah di kertas bungkus nasi. Sepertinya dia masih kelaparan.


Niken meninggalkan bekas makannya begitu saja di lantai.


"Yu, kalau sudah rebus air, ini diberesin ya!" Niken masuk ke kamarnya.


Ayu menatapnya dengan geram. Mengapa kedua kakaknya suka sekali menyuruh-nyuruhnya? Mereka kan sudah besar, mestinya bisa melakukannya sendiri?


Ayu melakukan juga perintah Niken. Daripada nanti bakal kena omel Niken lagi.


"Mana airnya?" tanya Laras saat Ayu kembali ke ruang tamu.


"Belum mendidih, Kak. Kan baru aja direbus," jawab Ayu.


"Ah, alasan aja kamu! Lagian rebusnya satu panci penuh. Kapan mendidihnya? Dasar bego!" Niken yang keluar lagi dari kamarnya malah memaki Ayu.


Ayu hanya bisa diam. Dalam hatinya sangat sedih. Punya kakak dua, tak ada satupun yang baik kepadanya. Apalagi kalau tidak ada Rasyid. Aji mumpung buat mereka melakukan hal yang semena-mena pada Ayu.

__ADS_1


__ADS_2