KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 166 MENAHAN DIRI


__ADS_3

Tomi kembali memegangi pipinya yang semakin memerah. Bahkan bisa jadi bakalan bengkak. Karena dua orang itu menampar di tempat yang sama.


"Papa...!" ucap Tasya. Dia tak menyangka, suaminya akan melihat dia jalan dengan Tomi.


"Pulang kamu! Bikin malu aja!" bentak Dino.


Tasya melihat ke arah Tomi. Tomi hanya diam saja. Dia lagi menahan sakit di pipinya.


"Sekali lagi berani deketin istriku, abis kamu!" ancam Dino. Lalu dia menyeret tangan Tasya untuk pergi dari tempat itu.


Tomi menoleh ke kanan dan ke kiri. Lalu pergi juga dari mal itu.


Sore ini dia gagal mendapatkan uang tambahan. Malah pipinya bengkak.


Tomi melajukan motornya ke rumah Cyntia. Dia akan mengadukan semuanya dan meminta pertanggung jawaban Cyntia.


Sampai di sana, Cyntia lagi asik merokok sambil minum. Seperti biasanya, saat tak ada kerjaan, Cyntia menghabiskan waktunya dengan minum.


Cyntia punya banyak stock minuman beralkohol dari berbagai merk. Dan Cyntia sering menyuguhkan pada tamu-tamunya.


"Hay, Tom. Kenapa pipi kamu?" tanya Cyntia melihat pipi Tomi merah dan mulai bengkak.


"Kena dua kali gampar!" jawab Tomi. Lalu menuang minuman di gelas kecil dan langsung menenggaknya.


"Dua kali gampar? Bagaimana ceritanya? Dan mestinya kamu kan jalan sama Tasya?" tanya Cyntia.


"Gamparan yang kedua dari suaminya Tasya. Kamu gimana sih, masa orang punya laki dikasihin ke aku?" protes Tomi.


"Lha, biasanya juga enggak masalah kan, Tom?" sahut Cyntia.


"Iya sih. Tapi yang ini, ngeri. Dateng-dateng main gampar. Mana di mal lagi. Malu kan aku?"


"Dino?" tanya Cyntia.


Cyntia mengenal Dino juga Tasya, istrinya. Dan mereka berdua termasuk pelanggan Cyntia.


Cyntia selalu menjaga privacy keduanya. Tak melapor sana sini kalau diam-diam mereka jadi pelanggannya.


"Iya, kali. Aku enggak tau namanya. Orangnya tinggi besar. Ganteng. Tapi songong!" maki Tomi karena kesal.


Cyntia tertawa ngakak.


"Kok malah ketawa?" tanya Tomi.


"Lucu aja, liat kamu marah begitu..Eh, tapi enggak biasanya Dino begitu lho. Tasya biasa ngegandeng brondong. Dino enggak pernah peduli. Kenapa ya?" Cyntia diam sejenak sambil berpikir.


Tomi mengangkat bahunya. Lalu kembali menuang minumannya.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan ada yang lapor ke Dino?" gumam Cyntia.


Tomi cuma diam, tak bisa menjawab. Karena dia tak mengenal mereka sebelumnya.


"Nah, terus gamparan pertama dari siapa?" tanya Cyntia.


"Alya!"


Tomi menyebut nama Alya tanpa embel-embel tante atau apapun. Padahal Alya adalah calon ibu mertuanya.


"Alya?" Cyntia mengerutkan keningnya.


"Iya. Mamanya Laras!" jawab Tomi.


"Kenapa? Kok bisa? Kamu apain lagi si Laras?" tanya Cyntia.


Sejak tahu kalau Laras anaknya Rasyid, Cyntia tak lagi peduli padanya.


"Alya melihatku lagi jalan sama Tasya. Terus tau-tau main gampar aja. Kalau enggak inget dia mamanya Laras, udah aku balas!" ucap Tomi geram.


"Jangan Tom. Bagaimanapun dia wanita. Masa kamu main gampar sama wanita? Kayak banci aja!"


Cyntia paling tak suka pada lelaki yang kasar pada wanita dan suka main tangan.


Tomi mendengus kasar.


Berita yang didengar Cyntia tentang Alya, dia bekerja sebagai ART setelah gagal jadi TKW.


"Entahlah. Dia jalan sama lelaki lain. Mungkin suami barunya."


Tomi mengurungkan niatnya membongkar hubungan Alya dengan Bowo.


Tomi berpikir kalau waktunya belum tepat. Ada saatnya nanti dia bongkar semuanya.


"Ada washlap? Aku mau mengompres pipiku. Gila! Sakit banget!" Tomi memegangi pipinya.


Cyntia jadi tak tega. Dia mencarikan washlap dan air es untuk mengompres.


"Lho, kok air es? Bukannya air hangat?" tanya Tomi.


"Kata dokter, kompres pakai air es, akan mengurangi peradangan. Terus apa lagi ya? Menyumbat aliran darah ke tempat yang cedera, kalau enggak salah. Ah, enggak taulah."


Cyntia mengompres pipi Tomi perlahan. Ini juga salah satu bentuk tanggung jawabnya.


"Auwh!" teriak Tomi pelan. Otot pipinya kaget terkena air es.


"Tenang. Rileks. Jangan tegang. Cuma air es, kok," ucap Cyntia.

__ADS_1


"Nanti aku mintakan ganti rugi ke Tasya. Bagaimana pun ini kan ulah suaminya. Sebenarnya bisa aja aku nodong Dino. Tapi enggak enak juga," ucap Cyntia lagi.


"Memangnya Dino itu enggak bisa memuaskan istrinya, ya? Sampai istrinya nyari-nyari lagi," tanya Tomi.


"Orang hyper mana ada puasnya, Tom. Laki bini sama aja! Sama-sama abnormal!" jawab Cyntia.


"Abnormal? Punya kelainan gitu?" tanya Tomi.


"Iya kali. Aku juga enggak tau persis. Tapi anak buahku yang pernah dipake Tasya, enggak komplain," jawab Cyntia.


"Dia sering pakai orang-orangmu?" tanya Tomi.


"Dulu. Kemarin itu dia menghubungiku lagi. Karena kamu lagi butuh duit, ya udah aku kasih ke kamu," jawab Cyntia.


"Malah apes!" sahut Tomi.


"Ya udahlah. Namanya juga orang nyari duit, enggak selamanya mulus. Makanya besok-besok, enggak usah pakai acara jalan-jalan dulu. Resiko itu!" ucap Cyntia.


"Tasya yang minta aku nemenin beli tas. Masa ya aku tolak?" sahut Tomi.


"Kamu beli tas, di toko langganan Tasya. Terus kamu bilang ketemu Alya di sana. Memangnya suami Alya yang sekarang tajir? Hebat amat! Babu bisa dapet orang kaya!"


Cyntia masih saja menghina Alya. Padahal mestinya Alya yang tak suka pada Cyntia. Bukan sebaliknya.


"Iya, kali. Nasib orang kan enggak ada yang tau, madam!" sahut Tomi. Dia kurang suka dengan hinaan Cyntia yang mengatakan Alya seorang babu. Meskipun Tomi lagi kesal dengan Alya.


"Ya moga-moga aja. Jangan kayak lakinya. Udah kere, belagu lagi!" Cyntia ganti menghina Rasyid.


"Kamu bisa-bisanya dapet anak mereka, Tom." Cyntia malah menyalahkan Tomi.


Tomi mendengus kesal. Baginya Laras sangat berbeda dengan Rasyid. Tapi kalau dengan Alya, Tomi belum tahu. Karena Tomi belum mengenal Alya.


Sementara Bowo dan Alya pulang kembali ke rumah, setelah Alya belanja. Tak banyak yang dibeli Alya. Dia sudah kehilangan moodnya.


Alya jadi beli tas juga karena Bowo memaksanya. Pastinya itu sogokan biar Alya enggak ngambek lagi.


"Ma. Papa nanti keluar sebentar, ya. Ada urusan sedikit. Nanti malam Papa nginep disini lagi, kok," ucap Bowo saat di mobil tadi.


"Papa ada urusan terus? Biasanya kalau lagi sama aku, semua urusan bisa dicancel?" protes Alya. Meskipun dia sudah dapat tambahan waktu bersama Bowo satu malam lagi.


"Sebentar, Ma. Papa janji terus pulang deh," rayu Bowo.


"Beneran, ya?"


Bowo mengangguk. Lalu dia mengantarkan Alya dan Aldo pulang. Dan memastikan mereka masuk ke dalam rumah.


Bowo langsung tancap gas. Dia ingin segera menyelesaikan urusannya. Dia ingin menyudahi hubungannya dengan Cyntia, demi Alya.

__ADS_1


Tapi begitu sampai di rumah Cyntia, Bowo harus menahan dulu keinginannya. Karena ada Tomi yang lagi dikompres oleh Cyntia.


__ADS_2