
Alya pergi ke rumah sakit dengan motornya. Dia belum bisa membawa mobil sendiri. Meskipun Bowo sudah berkali-kali mengajarinya.
Nyalinya ciut kalau bawa mobil sendiri. Dia takut nabrak. Padahal Bowo selalu mengatakannya untuk yakin.
Alya membeli banyak makanan dulu, di jalan. Biar nanti bisa dimakan anak-anaknya.
Dia yakin kalau anak-anaknya pasti jarang makan makanan enak. Karena kata Niken, sampai saat ini Rasyid tetap tak bekerja.
Sampai di depan rumah sakit, Alya menguatkan hatinya. Karena bukan tidak mungkin, dia akan ketemu dengan Rasyid.
Tadi Bowo sudah sangat mengkhawatirkannya. Tapi melihat niat Alya yang menggebu, Bowo akhirnya mengalah.
Dia hanya berpesan pada Alya untuk berhati-hati. Bowo takut Rasyid akan mencelakainya.
Alya bilang, tak mungkin. Paling banter mereka akan berdebat lagi. Dan Alya janji pada Bowo, akan menghindari perdebatan dengan Rasyid.
Karena bukan tidak mungkin, akan berakhir dengan kekerasan lagi.
Alya melangkah dengan yakin sambil membawa banyak tentengan. Dia menuju bagian informasi dulu. Karena semalam Rasyid tak mau mengatakan di kamar mana Laras dirawat.
"Selamat pagi, Suster. Saya mau mencari kamar rawat anak saya. Atas nama Larasati Raya," ucap Alya pada seorang perawat yang berjaga di bagian informasi.
Nama Raya, diambil dari nama Rasyid dan Alya. Ketiga anak Rasyid semuanya punya nama belakang yang sama.
"Sebentar ya, Bu." Perawat itu mencari nama Laras di buku daftar pasien rawat inap.
Alya mengangguk, dan menunggunya sebentar.
"Larasati Raya. Ada di ruangan flamboyan kamar nomor dua, Bu," ucap perawat itu.
"Oh iya. Maaf, kalau boleh tanya, apa hari ini Laras sudah bisa pulang?" tanya Alya.
"Kalau itu saya kurang tau, Bu. Tanyakan saja pada dokter yang menanganinya," jawab perawat itu.
"Kalau boleh tau, dokter siapa ya?" tanya Alya lagi.
"Dokter Fahmi spesialis kandungan."
Degh!
Spesialis kandungan?
Ada apa dengan Laras?
Bukankah dia belum menikah?
"Lho, memangnya anak saya sakit apa, Suster? Maaf, saya baru datang dari luar kota," Alya terpaksa berbohong.
"Di sini tertulis, anak ibu mengalami abortus atau keguguran. Kalau tidak salah, akibat terjatuh. Saya waktu itu ikut menangani."
Alya merasa tubuhnya agak limbung. Laras mengalami keguguran? Hamil? Di luar nikah?
Keringat dingin langsung membasahi tubuh Alya.
"Bu! Apa Ibu baik-baik saja?" tanya perawat itu.
__ADS_1
"I...Iya. Saya...baik-baik saja. Saya permisi. Terima kasih." Alya segera berjalan, mencari ruangan Laras.
Di depan kamar nomor dua, Alya berhenti. Dia menghela nafasnya dulu. Menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Alya membuka pintu kamar. Di sana ada Laras yang sedang duduk di ranjang. Di dekatnya ada seorang lelaki yang tak dikenal oleh Alya.
Laras sudah terlihat rapi dan segar. Sepertinya sudah siap pulang.
Laras dan Tomi menatap ke arah pintu yang terbuka.
Laras seakan tak percaya. Matanya menatap sosok mamanya yang lama tak dilihatnya.
Alya juga menatap anak gadisnya yang semakin terlihat dewasa dan cantik. Sepintas, Alya seperti melihat gambar dirinya semasa muda dulu.
Ya, wajah Laras sangat mirip Alya. Hampir semuanya seperti copy paste Alya.
"Ma...ma...!" ucap Laras terbata.
Hampir tiga tahun, mereka tak pernah ketemu lagi.
"Laras....!" Alya segera mendekati Laras.
Alya menjatuhkan tentengannya di lantai. Lalu dia memeluk Laras dengan erat.
Laras menangis di pelukan Alya. Alya pun tak bisa membendung air matanya.
Tomi hanya terdiam, melihat wanita cantik yang dipanggil mama oleh Laras dan wajahnya sebelas dua belas dengan Laras.
"Mama....Mama tau darimana kalau Laras di sini?" tanya Laras.
Alya melepaskan pelukannya.
"Oh ya? Di mana?" tanya Laras.
"Kelihatannya mereka baru pulang dari sini. Dan Ayu kakinya terluka," jawab Alya. Dia juga mengkhawatirkan kondisi Ayu.
"Iya, Ma. Ayu semalam jatuh dari motor katanya. Apa sudah diobati?" Laras tak tahu, karena Rasyid tak kembali ke kamar Laras setelah pamit ke IGD.
Laras sudah berusaha menelponnya, tapi tak diangkat. Hingga akhirnya Laras tertidur.
"Udah. Lututnya diperban. Kelihatannya parah," jawab Alya.
Tomi terkejut juga mendengar Ayu jatuh. Laras belum menceritakan padanya.
"Oh iya, Ma. Kenalin, ini Tomi. Calon suami Laras." Laras menunjuk ke arah Tomi.
Alya menatap Tomi dengan rasa kurang suka.
Calon suami yang telah membuat Laras hamil? Berarti mereka telah melakukan hubungan di luar nikah?
Alya menghela nafasnya. Dia jadi merasa sangat berdosa. Karena dia pun pernah melakukan hal yang sama dengan Bowo. Hingga akhirnya Alya hamil.
Tomi mengangguk, lalu menyalami Alya.
"Saya Tomi, Tante," ucap Tomi dengan sopan.
__ADS_1
Tomi menangkap rasa tak suka dari Alya, lewat tatapan matanya.
"Saya permisi keluar dulu. Mau menyelesaikan administrasinya," pamit Tomi.
"Iya, Tom," sahut Laras sambil tersenyum.
Alya hanya diam saja.
"Udah lama kalian berpacaran?" tanya Alya.
"Udah, Ma," jawab Laras berbohong. Padahal baru jalan sekitar dua bulanan.
"Ras, Mama boleh nanya?" tanya Alya.
"Boleh, Ma," jawab Laras sambil mengangguk.
"Benar kamu keguguran?" tanya Alya.
Laras terdiam, lalu menundukan kepalanya.
"Iya, Ma. Maafkan Laras," jawab Laras pelan. Dia merasa bersalah karena hamil di luar nikah. Meski pada akhirnya dia harus kehilangan calon anaknya.
"Kenapa kalian tidak menikah saja dulu?" tanya Alya lagi.
Meskipun Alya pernah melakukan hal yang sama, tapi sebagai orang tua, Alya tak ingin anaknya melakukannya juga.
"Rencananya secepatnya, Ma," jawab Laras.
"Ya sudah. Mama sarankan, secepatnya kalian menikah. Tak baik kalau kayak gini terus. Kalau boleh Mama tau, kenapa kamu bisa keguguran?" tanya Alya prihatin.
"Laras jatuh, Ma," jawab Laras pelan.
"Kenapa bisa sampai jatuh, Ras? Harusnya kamu lebih berhati-hati. Orang hamil itu tak seperti orang biasa. Semuanya harus berhati-hati. Terutama hamil muda."
Alya memang selalu cerewet kalau sudah menyangkut keselamatan anak-anaknya.
"Laras....tak sengaja, Ma." Laras berusaha menyembunyikan penyebabnya.
"Jatuh di mana? Pasti jatuhnya sangat keras, sampai kamu keguguran," tanya Alya.
"Di kamar, Ma."
"Jatuh di kamar? Kamu lari-lari?" tanya Alya lagi. Meski dia tahu kalau Laras bukanlah type anak yang pecicilan seperti Niken.
Sejak kecil, Laras cenderung anteng. Beda dengan Niken yang tergolong hyper active.
"Di dorong Niken, Ma." Laras tak bisa lagi merahasiakan. Karena Alya terus saja bertanya. Bahkan seperti akan menyalahkannya yang tak bisa hati-hati.
Walaupun kenyataannya, Laras tak menyadari kalau dirinya sedang hamil. Bahkan sebelumnya, Laras sudah jatuh di mal saat jalan bersama Tomi.
"Di dorong Niken?"
Laras mengangguk.
Alya menghela nafasnya dengan kasar. Niken tak pernah berubah. Dia masih saja pecicilan dan kasar seperti Rasyid.
__ADS_1
Padahal Alya sempat berkeinginan meminta Niken pada Rasyid untuk membantunya menjaga Aldo.
Tidak! Aku tak mau kenapa-napa dengan Aldo!