KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 64 CYNTIA BELUM KEMBALI


__ADS_3

"Bagaimana, mbak Cyntianya bisa dihubungi?" tanya Darto ikut penasaran.


Tomi kembali duduk dan menyalakan rokoknya.


"Enggak bisa, Pak. Saya tanya sama teman, juga bilangnya enggak tahu," jawab Tomi.


Darto manggut-manggut, meski masih merasa penasaran. Bagaimana pun, Cyntia termasuk salah satu pelanggannya.


Bahkan pelanggan terbaik. Kalau beli rokok, kembaliannya enggak pernah diambil. Misal kembaliannya banyak, biasanya dia belanjakan barang lain.


"Saya boleh menunggu di sini dulu kan, Pak? Sampai jam sembilanan. Saya akan tunggu, semoga Cyntia segera keluar," pinta Tomi.


"Boleh, silakan," jawab Darto. Dia juga merasa diuntungkan kalau Tomi lama duduk di warungnya. Paling tidak, Tomi akan pesan kopi lagi. Juga nambah rokok ketengannya.


Sebenarnya alasan Tomi duduk di warung Darto, bukan cuma mau menunggu Cyntia. Tapi karena dia bingung mesti kemana.


Kalau pagi-pagi sudah ke rumah Laras, pasti akan banyak pertanyaan. Belum lagi kalau ketemu Beni. Malu kan kalau ketahuan dia dipecat lalu menganggur.


Tomi hanya bermain game online saja selama menunggu sampai jam sembilan. Pesan dari Laras pun tak dibukanya. Nanti dia akan beralasan kalau sedang sibuk dengan kerjaan.


Sebenarnya ada keinginan Tomi membuka media sosialnya. Dia ingin mencari klien sendiri lewat medsosnya. Tapi kalau ketahuan Laras dia sedang online, lebih ribet lagi urusannya.


Sampai jam sembilan, rumah Cyntia tak ada tanda-tanda apapun. Lampu masih tetap menyala, pintu tetap terkunci rapat.


Tomi berinisiatif mengambil foto kondisi rumah Cyntia. Mungkin nanti bakal berguna. Lalu dia pamit pada Darto setelah membayar kopi dan rokoknya.


"Pak, nanti tolong kalau Cyntia ke sini, bilangin kalau Tomi menunggunya dari pagi, ya," pinta Tomi sebelum pergi.


"Iya, Mas. Nanti saya sampaikan. Hati-hati di jalan," sahut Darto.


Tomi melajukan motornya ke rumah Laras. Tak lupa dia membeli buah tangan.


Tomi hanya membeli buah saja. Seketemunya di jalan. Maklum laki-laki, gak mau terlalu ribet. Meski dalam hati, nanti akan membelikan juga untuk keluarganya.


Sampai di rumah Laras, suasana sepi. Rasyid yang sejak pagi mengantar Niken dan Ayu ke sekolah, belum kembali.


Jelas saja ini jadi kesempatan buat Tomi bermesraan dengan Laras. Mereka tak menyia-nyiakan kesempatan. Meskipun harus siaga kalau tiba-tiba Rasyid pulang.


Tomi hanya mencumbui Laras di ruang tamu. Dia harus bisa menjaga jangan sampai kepergok Rasyid kalau melakukan percintaan dengan Laras.


Karena resikonya dia bakal dituntut menikahi Laras secepatnya. Sedangkan dia sudah punya rencana ingin membahagiakan keluarganya dahulu.


Laras yang dicumbui sudah merem melek ingin sekali Tomi melakukan lebih seperti biasanya.

__ADS_1


"Tom, ayo ke kamarku sebentar," ajak Laras.


"Nanti ketahuan ayah kamu, Sayang." Tomi menolaknya.


"Tapi aku kepingin banget," rengek Laras.


"Jangan sekarang, Ras. Aku takut ketahuan ayah kamu." Tomi tetap saja menolak.


"Enggak, Tom. Ayah pulangnya nanti siang. Atau bahkan sore sekalian jemput adik-adikku." Laras terus saja memaksa.


Sebenarnya Tomi pun sudah sangat kepingin. Apalagi sejak kemarin Sylfie hanya mengajaknya ngobrol dan memijat. Sylfie tak sadar kalau sebagai laki-laki, Tomi sangat terpancing saat menyentuh kulitnya yang sangat halus dan lembut.


"Jangan, Ras. Aku enggak enak kalau ketahuan ayah kamu."


Laras cemberut. Tomi hanya menatapnya dan kembali mencumbuinya.


"Udah ah, Tom. Aku tak tahan kalau kamu beginikan terus." Laras menghentikan jemari Tomi yang menari area intinya.


"Ya sudah. Tapi sebentar aja ya. Yang penting kamu bisa puas." Tomi akhirnya mengalah. Dia tak tega melihat raut wajah Laras yang cemberut.


Laras langsung berbinar. Dia segera bangkit, diikuti oleh Tomi menuju ke kamarnya.


Baru saja mereka melepas pakaian bagian bawahnya, suara motor Rasyid sudah terdengar.


Dan tepat saat Tomi baru saja duduk, Rasyid masuk lewat pintu depan. Biasanya Rasyid lebih suka lewat pintu samping. Tapi karena melihat motor Tomi, dia pun masuk lewat pintu depan.


"Pagi, Om. Dari mana saja?" sapa Tomi dengan sopan.


"Mengantar Niken dan Ayu sekolah. Mampir sebentar tadi di rumah teman. Kamu sudah lama?" tanya Rasyid. Dia ikut duduk di sebelah Tomi.


"Baru saja, Om," jawab Tomi berbohong.


Untuk mengalihkan pembicaraan, Tomi mengeluarkan rokoknya dan menawari Rasyid.


Tanpa basa-basi, Rasyid langsung menyambarnya. Rokoknya sendiri juga sudah menipis. Dia malah berharap Tomi mau meninggalkan rokoknya nanti kalau pulang.


Selesai merapikan diri, Laras langsung ke dapur. Dia buatkan minum dulu untuk Tomi. Dia sudah membelikan kopi susu sachet untuk Tomi dan menyimpannya di kamar. Karena kalau ditaruh di dapur, pasti akan dihabiskan oleh Niken.


"Eh, Ayah." Laras pura-pura terkejut melihat Rasyid.


Rasyid hanya melihatnya sepintas. Lalu kembali ngobrol dengan Tomi.


"Gimana dengan pekerjaan kamu, Tom?" tanya Rasyid. Dia kepingin tahu yang sebenarnya. Sebab kemarin dia ketemu Yanti dan dapat berita kalau Tomi hanya kerja jadi dept collector training yang sekarang sudah dipecat.

__ADS_1


"Baik-baik saja, Om. Ini malah lagi banyak kerjaan. Maklum akhir bulan," jawab Tomi. Meski baru sebulan bekerja, Tomi sudah paham tentang kesibukan managernya kalau akhir bulan.


"Ooh. Kalau banyak kerjaan, kenapa kamu malah main ke sini? Mainnya nanti sore apa malam aja. Biar enggak mengganggu pekerjaan kamu," ucap Rasyid.


Tomi merasa seperti ditonjok. Otaknya langsung berfikir keras untuk mencari alasan.


"Mm....tadi sekalian keluar, mampir sekalian sebentar, Om. Kalau nanti sore atau malam, malah kelihatannya enggak bisa mampir," sahut Tomi.


"Kamu nanti sore sibuk ya, Tom?" tanya Laras.


"Iya. Aku enggak bisa ke sini. Kenapa?" tanya Tomi.


"Aku....aku pingin beli bedak, Tom. Bedakku habis," jawab Laras. Sejak berpacaran dengan Tomi, Laras jadi rajin berdandan meski tak tebal.


"Aduh, nanti saja kalau aku sudah enggak sibuk, ya?"


Laras mengangguk mengerti. Rasyid hanya menyimak pembicaraan anak dan calon mantunya ini.


"Atau kamu mau cari sendiri saja? Nanti aku kasih uangnya," ucap Tomi dengan sombong. Biar Rasyid makin hormat padanya.


Laras menatap Tomi, lalu menatap Rasyid yang langsung mengangguk setuju.


"Oke." Tomi mengambil dompetnya. Masih ada beberapa lembar ratusan ribu. Tomi memberikan dua lembar untuk Laras.


"Cukup?" tanya Tomi.


Laras yang memang bukan type wanita matre dan jarang pegang uang banyak, mengangguk dengan senang.


Lagipula bedak yang akan dibeli harganya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah.


"Nanti Laras pinjam motornya ya, Yah?" pinta Laras pada Rasyid. Tentu saja Rasyid mengiyakan.


Tomi segera menghabiskan kopi susunya, lalu pamit. Dia beralasan harus secepatnya kembali ke kantor.


"Hati-hati ya, Tom."


"Kamu juga hati-hati nanti. Kabari aku kalau sudah sampai di tokonya," sahut Tomi.


"Iya, Tom. Nanti aku kabari." Laras mengantar Tomi sampai ke dekat motornya.


Lalu dengan lembut, Tomi mengecup kening Laras. Rasyid menatapnya dengan senyum mengembang.


Meski bukan laki-laki yang tajir, tapi setidaknya Tomi punya pekerjaan yang bagus. Bukan seperti cerita yang didengarnya dari Yanti.

__ADS_1


Tomi kembali ke rumah Cyntia. Tapi rumah itu masih dengan kondisi yang sama.Tomi menatap sebentar, lalu pergi.


__ADS_2