
Malam itu, terpaksa Tomi menemui Voni. Dia harus menyelesaikan kewajibannya, meski dengan bibir yang masih terasa perih dan pipi bengkak.
Apapun akan dia lakukan demi Laras.
"Hay, Von," sapa Tomi yang sudah sampai di apartemen Voni.
"On time juga kamu. Aku pikir, kamu enggak akan datang. Ini kan udah larut malam," ucap Voni.
"Aku berusaha profesional," sahut Tomi.
"Oke. Aku ingin membuktikan keprofesionalanmu!" tantang Voni.
"Silakan." Tomi menerima tantangan dari Voni.
Voni berdiri. Lalu membuka seluruh pakaiannya. Dia hanya menyisakan bra dan ****** ******** saja.
Tapi dari ****** ***** itu, Tomi melihat ada pembalut wanita di dalamnya.
Gila! Jangan-jangan aku harus menggaulinya juga, meskipun dia sedang datang bulan. Batin Tomi.
"Aku sedang datang bulan. Tapi aku menginginkannya," ucap Voni.
Alamak! Benar-benar wanita gila!
Tomi berusaha mencari cara agar bisa mengelabuhi Voni. Setengah mati Tomi berpikir.
"Von. Aku melihat di dekat pintu masuk gedung, ada tanaman sirih. Kalau kata orang, air rendaman sirih bisa menghilangkan bau anyir," ucap Tomi.
"Oh ya? Dari mana kamu tau?" Voni sudah duduk di pangkuan Tomi.
Tomi yang biasanya bisa langsung greng, kali ini malah merasa jijik.
Tapi Tomi berusaha menahannya. Dia tak mau akal-akalannya ketahuan.
"Ibuku sering memanfaatkannya. Katanya begitu," jawab Tomi.
Voni sudah mulai mencumbuinya.
Dasar wanita gila! Maki Tomi dalam hati.
"Mau kah kamu, kalau aku mengambilkannya untuk kamu?" tanya Tomi.
"Kenapa harus pakai daun sirih? Aku punya ramuan herbal dari daun sirih juga. Dan aku sudah memakainya, Sayang. Jadi jangan khawatir, enggak akan bau," ucap Voni di telinga Tomi.
Hhh! Tomi malah bergidig ngeri. Mau bau apa enggak, tetap aja itu sangat menjijikan.
"Kalau ramuan kayak gitu, prosesnya lama," sahut Tomi asal. Padahal setahunya, banyak orang menyukai ramuan herbal meski harganya sangat mahal.
"Kamu bisa membuktikannya sekarang, Tomi..." bisik Voni. Padahal di apartemennya tak ada orang lain. Tomi malah jadi kesal.
Voni mulai menggesek-gesekan bagian intinya ke bagian inti Tomi.
Jelas saja Voni tak bisa menemukan gundukan itu. Senjata Tomi ngumpet. Seakan tahu mau masuk kemana.
"Sebentar, Von. Aku...kebelet pipis." Tomi mencari alasan untuk menghindari Voni.
__ADS_1
Hhh! Voni mendengus kesal. Dengan malas, dia bangkit dari pangkuan Tomi.
Tomi bergegas lari ke kamar mandi. Dia bertingkah seolah benar-benar sudah tak bisa menahan.
Sampai di kamar mandi, Tomi segera mengunci pintunya. Jangan sampai Voni memaksa masuk dan melakukannya di kamar mandi.
Aduh! Gimana ini?
Tomi kebingungan. Tomi melihat ke sekeliling kamar mandi. Tak ada celah apapun untuknya bisa kabur.
Kamar mandi itu benar-benar sangat rapat. Hanya ada ventilasi kecil yang menghubungkan ke bagian luar.
Andai saja aku bisa berubah bentuk menjadi seekor nyamuk atau lalat. Aku pasti akan keluar lewat lubang angin itu. Tomi mulai berkhayal.
Tapi mana mungkin? Tomi mengacak rambutnya dengan kesal.
"Tom! Tomi!" Voni mengetuk pintu kamar mandi sambil memanggil Tomi.
"Iya, sebentar. Perutku sakit sekali. Kayaknya aku diare!" sahut Tomi.
Diare?
Hiih! Voni bergidig jijik. Dia paling jijik pada bau kotoran manusia.
"Kalau sudah selesai, bersihkan closetnya!" seru Voni dari luar.
"Iya!" sahut Tomi.
Ya pasti aku bersihkan lah. Dia pikir aku orang yang jorok? Gumam Tomi dalam hati.
Tomi belum juga berniat keluar. Dia malah duduk di atas closet. Berharap ada ide cemerlang yang muncul tiba-tiba.
Tomi mengambil ponselnya di kantong celana. Lalu segera menelpon Cyntia.
Cyntia yang baru saja akan merem, membuka ponselnya dengan malas.
"Tomi. Mau apa dia? Bukankah dia lagi bersama Voni?" gumam Cyntia.
"Ya hallo. Ada apa, Tom?" tanya Cyntia.
"Madam. Aku mau minta tolong padamu," jawab Tomi dengan suara pelan. Agar tak terdengar Voni.
"Minta tolong apa? Kamu diapain sama Voni?" tanya Cyntia.
Tomi mengatakan dengan singkat dan pelan.
Cyntia yang mendengarnya malah tertawa ngakak. Tomi mendengus kesal. Dia lagi panik, malah diketawain sama Cyntia.
"Ayolah, Madam. Tolongin aku, please," pinta Tomi.
"Oke. Sekarang kamu keluarlah dari kamar mandi. Jangan lupa cebok! Hahaha." Cyntia kembali meledek Tomi. Lalu mematikan panggilan Tomi.
Aduh! Malah dimatikan. Tomi kembali menghubungi Cyntia. Tapi panggilannya ditolak.
Tomi semakin kesal. Juga panik. Tapi tak mungkin juga Tomi terus mendekam di kamar mandi.
__ADS_1
Dengan terpaksa Tomi keluar dari kamar mandi. Mukanya sudah terlihat pucat. Bukan karena diare. Tapi karena ketakutan.
Tomi melangkah lunglay menghampiri Voni. Voni lagi menerima panggilan dari seseorang.
Voni menoleh ke arah Tomi. Dia lihat wajah Tomi yang pucat.
"Kamu kenapa, Tom?" tanya Voni dengan khawatir.
"Diare!" jawab Tomi dengan malas. Lalu dia duduk di sofa di sebelah Voni.
Tomi pasrah apapun yang akan dilakukan Voni padanya. Otaknya terasa sudah buntu. Cyntia yang sangat diharapkan membantu, malah menolak panggilannya.
"Iya. Oke. Aku akan membawanya ke rumah sakit. Wajahnya juga terlihat pucat," ucap Voni, entah dengan siapa.
Tangannya membelai pipi Tomi yang masih bengkak. Tomi hanya diam.
Voni malah menganggap Tomi lemas karena diarenya.
Lalu Voni mematikan telponnya.
"Kamu kenapa enggak bilang, kalau lagi sakit?" tanya Voni dengan penuh kekhawatiran.
Sakit? Siapa yang sakit? Kamu itu yang sakit. Sakit jiwa! Gumam Tomi dalam hati.
Tomi hanya diam saja.
"Cyntia barusan menelponku. Dia bilang kamu lagi diare parah, dan harus bolak balik ke kamar mandi. Sampai kamu kepleset," ucap Voni.
Tomi terkesiap. Tapi tetap mencoba tenang.
Lalu Voni membelai pipi Tomi dengan lembut. Kelembutan yang dulu pernah membuai Tomi.
"Pipi kamu jadi bengkak begini. Sakit?" Voni menekan pelan pipi Tomi yang sedikit bengkak.
Tomi mengangguk.
Ya. Aku akan ikuti skenario Cyntia. Sepertinya dia mengarang cerita dadakan untuk Voni. Batin Tomi.
"Kamu ke rumah sakit aja, Tom. Aku pesankan taksi online, ya?" Voni tak mau mengantarkan Tomi dengan mobilnya sendiri. Khawatir kotoran Tomi mengenai jok mobilnya.
Voni juga paling tak tahan membaui kotoran manusia, apalagi yang sedang diare.
"Aku bawa motor sendiri, kok," ucap Tomi.
"Jangan naik motor, Tom. Nanti kamu kena angin, malah makin parah," sahut Voni.
Lalu dia membuka aplikasi onlinenya. Dan mulai memesankan taksi buat Tomi.
Tomi meliriknya. Dalam hati Tomi, terserah deh. Mau dipesenin taksi online kek, helikopter kek. Yang penting aku bisa keluar dari sini.
"Udah. Buruan kamu nunggu di luar." Voni membuka tasnya. Dan mengambil beberapa lembar ratusan ribu.
"Nih! Buat bayar biayanya. Taksi online-nya udah aku bayar!" Voni memberikan uang itu pada Tomi.
Tomi memgangguk, masih pura-pura lemas. Padahal dalam hatinya bersorak.
__ADS_1
Hh! Ternyata pura-pura diare bisa melepaskanku dari wanita gila ini!
Tomi melangkah keluar dengan perasaan lega. Dapat duit ekstra juga.