
"Kok diam?" tanya Laras lagi.
"Mm....itu....itu hanya akun abal-abal, Sayang. Cuma buat iseng aja," jawab Tomi gelagapan.
"Itu ada notif, pesan inbox dari Reisya. Coba buka, aku mau baca." Laras memaksa Tomi membuka hapenya.
"I...Iya, Sayang."
Dengan jantung deg-degan, Tomi membuka akun abal-abalnya.
Gawat! Bisa ketahuan Laras kalau aku suka iseng merayu cewek. Chatku di sana belum dihapus semua. Jantung Tomi makin berdegup kencang.
Tangannya langsung terasa tremor. Hingga hapenya jatuh.
Laras langsung mengambilnya. Lalu membuka sendiri akun abal-abal Tomi yang masih pada posisi log-in.
Laras melihat pertemanan Tomi kebanyakan cewek-cewek berpenampilan seksi. Dan banyak akun yang memposting gambar-gambar seronok.
Tomi hanya bisa diam membisu. Dia sudah mati kutu. Apalagi saat Laras membuka chat inbox-nya.
Yang dibuka pertama kali oleh Laras adalah chat dari Reisya. Dia meminta bertemu dengan David sekarang juga.
Lalu Laras membuka chat lain Tomi dengan cewek-cewek yang jelas Laras tidak kenal.
"Udah, Ras. Siniin hapenya. Itu kan cuma iseng-iseng aja," pinta Tomi.
"Iseng apaan? Ini kalian saling memamerkan foto-foto beginian. Gila kamu ya? Ternyata kamu begitu juga sama cewek lain!" seru Laras.
"Enggak, Ras. Itu cuma iseng aja. Aku enggak serius." Tomi berusaha berkelit.
"Apanya yang iseng? Nih, ceweknya ngajak ketemuan. Dan kalian sudah ketemuan, kan?" Laras semakin emosi.
"Ras, itu sudah lama. Lihat tanggalnya! Itu sebelum kita...melakukannya." Tomi mengecilkan suaranya.
Jangan sampai terdengar oleh Rasyid yang sedang emosi. Bisa habis dia jadi sasaran kemarahan Rasyid.
"Aku mau, hapus akun kamu ini! Aku enggak mau kamu iseng-iseng lagi sama cewek manapun!" ucap Laras masih emosi.
"Iya, nanti aku hapus." Tomi berusaha mengambil hapenya.
Dan bertepatan dengan itu, masuklah notifikasi pesan whatsapp dari Sylfie.
Laras menatap Tomi, lalu dengan kesal Laras membuka pesan dari Sylfie. Dia minta Tomi menemuinya satu jam lagi di apartemennya.
__ADS_1
"Siapa Sylfie?" Laras kembali menatap Tomi.
"Mm. Dia...dia orang yang lagi bisnis dengan aku. Orangnya udah tua kok. Lihat aja foto profilnya." Tomi menelan ludahnya.
Jangan sampai urusannya dengan Sylfie gagal. Bisa tak dapat uang lagi dia.
Laras membuka foto profile Sylfie. Dan benar saja. Foto Sylfie sedang berpose dengan latar pemandangan di luar negeri sana, yang Laras tak tahu di mana.
Aman. Batin Tomi. Untungnya Sylfie tak memasang foto norak seperti cewek-cewek di akun abal-abalnya.
Dan untungnya lagi, chat Tomi dengan beberapa wanita di whatsapp-nya tak pernah aneh-aneh. Jadi saat Laras membaca satu persatu, tidak merasa curiga.
Tomi juga beruntung karena Laras melewatkan membaca chatnya dengan manager tempatnya bekerja.
Laras hanya membaca chat-chat Tomi dengan beberapa wanita yang dicurigainya.
Kalau sampai Laras membaca chatnya dengan manager sialan itu, bakal selesai dia. Terbongkar kebohongannya selama ini yang mengaku sebagai manager.
"Nih! Awas ya, kalau macam-macam sama cewek lain!" ancam Laras sambil menyerahkan hape Tomi.
"Iya, enggak, Sayang. Aku macam-macamnya sama kamu saja!" Tomi merayu Laras, lalu mencium pipi Laras sekilas.
"Udah dulu ya. Aku harus nemui bu Sylfie. Dia orangnya on time. Kalau aku terlambat sedikit aja, bisa gagal bisnisnya," ucap Tomi.
"Memangnya bisnis apa?" tanya Laras. Membuat Tomi kembali terdiam. Dia tak mengira Laras akan menanyakannya.
"Mm...dia mau jual apartemennya. Nanti kalau sudah laku, aku bakalan dapat bagian. Kan lumayan, Ras. Bisa buat modal ngelamar kamu," ucap Tomi. Lalu dia buru-buru berdiri. Dia tak mau Laras bertanya lebih banyak lagi. Bisa makin kelabakan dia menjawabnya.
"Aku pergi dulu ya, Sayang. Doakan biar bisa cepet laku. Nanti kalau sempat, pulangnya aku ke sini lagi. Moga-moga selesainya enggak kemalaman." Tomi mengecup kening Laras. Laras mengangguk.
"Kamu minta dibawakan apa, kalau aku bisa mampir?" tanya Tomi.
"Terserah kamu aja, Tom. Kalau kamu capek, jangan memaksakan diri. Besok kan kamu masih bisa ke sini lagi," sahut Laras.
"Iya, Ras. Makasih ya, atas pengertianmu." Tomi mengambil dompetnya. Lalu memberikan dua lembar uang lima puluh ribuan pada Laras.
"Ini buat pegangan kamu."
Laras terkejut. Dia tak menyangka Tomi akan memberinya uang.
Tomi meraih tangan Laras lalu memaksa Laras mengambil uang itu. Laras pun menggenggamnya.
Tomi salut pada Laras yang tak pernah mengeluh soal uang padanya. Meski dia tahu kalau Laras tak pernah pegang uang.
__ADS_1
Laras melambaikan tangannya saat motor Tomi mulai melaju. Lalu mengantongi uangnya.
Laras membereskan meja. Lalu memakan brownies yang menurut Laras sangat enak.
Beruntung sekali Laras memiliki Tomi yang sering membawakan makanan enak untuknya. Laras biasa menikmatinya sendiri dulu. Setelah puas, baru dia sisakan untuk kedua adiknya.
Kalau untuk Rasyid, Laras sudah menyisihkan dulu. Jangan sampai jatah untuk ayahnya dihabiskan kedua adiknya.
Tak lama, Rasyid keluar dari kamar Laras. Wajahnya tampak kuyu.
"Ayah mau brownies?" Laras mengulurkan kotak browniesnya.
Rasyid mengambilnya satu potong. Langsung dilahapnya semua. Lalu mengambil satu potong lagi.
"Laras buatkan kopi ya, Yah?"
Rasyid mengangguk.
Laras ke dapur seķalian membawakan mangkuk untuk makan lontong sayur yang mereka beli tadi.
Laras dan Rasyid menikmati sarapan mereka yang terlambat tanpa sepatah katapun dari Rasyid.
Dia merasa sangat malu pada anaknya ini. Meski Rasyid tak tahu kalau Laras melihat adegannya semalam dengan Reisya.
"Kapan Tomi akan melamar kamu?" tanya Rasyid setelah menghabiskan makanannya.
"Nunggu urusan Tomi selesai, Yah. Kan butuh biaya juga. Tomi lagi cari uang buat acaranya," jawab Laras.
Rasyid merasa sudah saatnya melepas Laras. Biar tanggungannya berkurang. Terus terang Rasyid merasa tak mampu memberi nafkah yang sewajarnya pada anak-anaknya. Meski tak pernah terucap dari mulutnya.
"Ayah ke terminal dulu, ya?" Rasyid beranjak dari duduknya.
"Ayah mau menyusul tante Reisya?" tanya Laras.
"Enggaklah. Ayah mau jual tiket tadi. Lumayan kan, bisa jadi uang," jawab Rasyid.
"Iya, Yah. Hati-hati," sahut Laras lega.
Laras tahu, ayahnya sangat terluka dengan kelakuan Reisya tadi. Dan pastinya sangat malu. Makanya Laras tak membahasnya lagi.
Selepas Rasyid pergi, Laras membereskan kamar Rasyid yang berantakan karena ulah Reisya.
Pintu kamar yang jebol, hanya disingkirkannya saja. Tak mungkin dia membetulkannya sendiri. Biasanya pekerjaan yang berat-berat akan dikerjakan Rasyid dibantu Niken.
__ADS_1
Tenaga Niken lebih kuat daripada Laras. Badannya juga lebih besar Niken. Karena makannya lebih banyak.
Laras juga membersihkan seisi rumah. Dia tak mau saat Rasyid pulang nanti, rumah masih kotor.