KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 49 FIFTY-FIFTY


__ADS_3

Tomi tak bisa mengelak lagi. Cyntia menyerangnya dengan buas.


"Ayo imbangi permainanku. Nanti sambil aku kasih pengarahan lagi. Biar kamu bisa lebih ahli seperti Adam," ucap Cyntia sambil menciumi leher Tomi dengan buas.


Dengan ragu, Tomi mengikuti arahan Cyntia. Dia membalas cumbuan Cyntia.


"Penuh perasaan, Tom. Jangan kaku begitu," ucap Cyntia.


Tomi masih ragu-ragu melakukannya. Selain karena dia tak mengira Cyntia akan melakukan padanya, dia juga menganggap Cyntia seperti orang tuanya. Karena secara usia hampir seumuran ibunya. Meski soal penampilan jelas jauh berbeda.


"Jangan ragu, Tomi. Lakukan saja. Eksplor semua gairahmu. Anggap aku sebagai pelangganmu yang harus kamu puaskan," ucap Cyntia lagi.


Tomi menelan ludahnya. Lalu memberanikan diri memenuhi perintah Cyntia.


Mereka terus bergulat dengan arahan dari Cyntia. Cyntia bermain dengan sangat bergairah, hingga Tomi melupakan rasa perih di senjatanya.


Tomi mendapatkan kepuasan yang jauh lebih banyak daripada saat dia bergulat bersama Sylfie apalagi Laras.


Meski sudah berumur, permainan Cyntia sangat garang. Kelihatannya jam terbangnya sudah sangat tinggi.


Tomi sampai terkapar tak berdaya di atas tempat tidur.


Cyntia malah menertawakan Tomi.


"Hey, Tom. Kamu ini sebagai pemberi jasa, jangan malah kamu yang terkapar. Buat pelanggan kamu puas!" seru Cyntia.


Tomi tak peduli, dia sudah sangat lelah. Tenaganya seperti disedot habis oleh Cyntia.


Cyntia kembali memakai dasternya lalu keluar dari kamar. Dia tinggalkan Tomi yang masih terlentang dengan tubuh polosnya.


Dengan malas dia bangun dan memakai juga pakaiannya. Sebenarnya dia ingin tiduran saja, tapi tidak enak dengan Cyntia.


Tomi melangkah keluar dan kembali ke ruang tamu. Cyntia sedang duduk sambil menonton televisi. Segelas kopi ikut menemaninya.


Tomi duduk di sebelahnya. Dan menyandarkan kepalanya.


"Bagaimana tadi?" tanya Cyntia.


"Sangat memuaskan, Madam. Kamu sangat hebat!" puji Tomi. Dan ini bukan sekedar pujian gombal. Tapi benar-benar jujur dari lubuk hati Tomi.


Cyntia tertawa terbahak.


"Kalimat seperti itu mestinya keluar dari mulut pelanggan kamu, Tom. Biar mereka mau memakaimu lagi," ucap Cyntia.


"Apa itu artinya Sylfie tak puas denganku?" tanya Tomi yang masih penasaran.

__ADS_1


"Mungkin kamu terlalu pasif. Meskipun dia puas, namanya pelanggan pasti maunya di servis dengan istimewa. Bukan malah dia yang menservis kamu, Tomi!" sahut Cyntia.


"Oke. Carikan aku pelanggan lain," pinta Tomi.


"Itu urusan gampang! Tapi kamu belum membagi penghasilan kamu padaku. Kamu harus memberikannya lima puluh persen. Fifty-fifty!"


Tomi terkejut mendengarnya. Dia tak mengira harus menyetorkan uangnya segitu banyak untuk Cyntia.


"Kenapa terkejut? Enggak mau?" tanya Cyntia.


Tomi diam saja. Bukannya keberatan, toh uang haram itu juga secara tidak langsung berasal dari Cyntia.


Tapi masalahnya, Tomi sudah memakai sebagian dari uang itu. Dan yang tersisa di rekeningnya tinggal separuhnya.


Kalau dia berikan pada Cyntia semua,bakal kere lagi dia. Uang yang kemarin dikantonginya hanya tinggal beberapa ribu saja.


Tomi berfikir, seandainya dia berbohong soal jumlah pemberian Sylfie, apa Cyntia akan tahu?


"Kamu punya mobile banking, kan?" Cyntia kelihatan tidak sabar. Dia sudah membayangkan uang yang bakal diterimanya dari Tomi.


Karena Cyntia tahu betul berapa nilai yang diberikan oleh Syntia saat dia memakai orang-orangnya.


"Aku enggak punya mobile banking. Nanti saja kalau aku pulang, aku transfer via ATM," jawab Tomi. Dia berniat memberikan separuhnya saja.


"Oke." Cyntia mengirimkan nomor rekeningnya pada Tomi dan juga jumlah nominal yang harus ditransfer.


"Apa Sylfie mengatakan padamu jumlah yang diberikannya padaku kemarin?" tanya Tomi penasaran.


"Pastilah! Dia kan pelanggan setiaku. Karena aku selalu memberikan barang yang bagus untuknya," jawab Cyntia sambil tertawa.


"Termasuk Adam?" tanya Tomi.


"Adam salah satu produk terbaikku. Dia sangat profesional," jawab Cyntia dengan bangga.


Tomi terdiam. Dia pikir, Adam orang baik-baik yang mencari uang dengan cara baik juga. Ternyata dia sudah lebih dahulu. Pantas saja uangnya banyak meski pekerjaannya enggak jelas. Batin Tomi.


"Kamu mesti banyak belajar dari Adam. Kamu mau juga seperti dia kan? Punya motor bagus, pakaian bagus-bagus. Bisa kost di tempat yang bagus juga," ucap Cyntia menyemangati Tomi.


Tomi mengangguk. Lalu beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Cyntia.


"Cari ATM. Aku mau kamu segera mencarikanku pelanggan baru. Aku butuh uang untuk melamar calon istriku!" sahut Tomi dengan nada keras.


"Apa? Melamar?"

__ADS_1


Tomi mengangguk.


Cyntia tertawa terbahak-bahak.


"Kenapa tertawa?" tanya Tomi tak mengerti.


"Duduklah dulu. Kamu itu lucu, Tomi. Kamu baru saja memulai pekerjaan ini. Tapi kamu malah mau melamar perempuan. Kamu mau dia akan mengetahuinya?" tanya Cyntia.


"Dia tak akan mungkin tau! Aku akan merahasiakannya!" sahut Tomi. Bodoh sekali menurut Tomi kalau Laras sampai tahu pekerjaan barunya ini.


"Oh ya? Lalu bagaimana kalau dia mau tau dimana kamu bekerja? Kamu akan membawanya juga ke sini?" Cyntia kembali tertawa.


"Itu urusanku. Dan yang pasti dia tak akan pernah aku bawa ke sini!" sahut Tomi. Lalu menyalakan rokok kembali.


"Oke. Itu memang urusan kamu. Aku hanya sekedar mengingatkan saja. Aku hanya penjual, ada barang bagus ya aku jual, enggak ada pun, aku masih bisa menjual goyanganku!" sahut Cyntia.


Hape Cyntia bergetar. Sepertinya ada pesan masuk untuknya. Lalu dia asik berbalas pesan.


"Tom! Tegakan badanmu! Aku akan ambil gambarmu!" seru Cyntia.


"Untuk apa?" tanya Tomi.


"Ada pelanggan baru. Teman di medsosku. Ayolah!" Cyntia sudah menyiapkan mode kamera pada hapenya.


Tomi pun menegakan tubuhnya. Dengan sedikit senyuman sesuai perintah Cyntia.


Bahkan Cyntia meminta Tomi berdiri dengan melipatkan kedua tangannya.


"Oke. Sip." Cyntia mengirimkan beberapa foto Tomi.


"Pulanglah. Istirahat. Nanti aku kabari lagi. Atau kamu mau istirahat di sini?"


"Aku pulang saja. Aku mau mandi dan ganti baju. Lengket rasanya bau keringatmu!" ledek Tomi.


Cyntia tergelak.


"Kamu pikir aku kuli bangunan yang keringatnya bau?" Cyntia melemparkan bungkus rokok pada Tomi.


Lumayan juga permainan barang barunya. Bisalah buat variasi setelah jenuh dengan Adam yang sangat dahsyat. Batin Cyntia.


"Eh, Tom. Jangan lupa kamu transfer jatahku. Aku tak akan memberikan job lagi sebelum kamu mentransfernya!" ucap Cyntia.


Kalau urusan keuangan, Cyntia paling tegas. Dia tak mau digampangkan atau dicurangi. Dia sudah cukup malang melintang di dunianya ini, tak mau dia kecolongan.


"Iya. Tenang aja! Aku segera mentransfernya," sahut Tomi, lalu pergi meninggalkan rumah Cyntia.

__ADS_1


Lima puluh persen. Nilai yang tidak sedikit. Tapi Tomi bisa apa tanpa Cyntia.


Dia tak punya channel tante-tante girang. Di medsosnya pun kebanyakan cewek-cewek baru gede yang kadang malah Tomi yang harus keluar uang untuk sekedar mencumbuinya.


__ADS_2