
Tomi dan Laras sampai di rumah Laras. Tak ada orang di sana. Rasyid yang biasanya kembali tidur sebelum menjemput Ayu, tak nampak.
Kunci rumah diletakan di lubang ventilasi seperti biasanya.
"Kemana ayah kamu?" tanya Tomi.
"Enggak tau. Enggak kasih kabar juga. Mungkin ke rumah temannya," jawab Laras. Lalu membuka pintu samping.
Tomi ikut masuk ke dalam. Laras berjalan ke ruang tamu, diikuti Tomi.
"Mau aku buatkan kopi?" tanya Laras.
"Boleh. Gulanya jangan kebanyakan, ya," sahut Tomi. Lalu duduk di sofa yang sudah tidak lagi empuk.
Laras ke dapur dan mulai merebus air. Tapi sayangnya dia tak menemukan kopi juga gula. Sepertinya udah habis.
Laras kembali ke ruang tamu.
"Tom, boleh aku minta uang? Kopi sama gulanya habis," ucap Laras. Sebenarnya dia tak enak hati, tapi uangnya sudah habis diminta Rasyid dan untuk membayar ongkos ojeg tadi pagi.
Tomi yang janji mau mengganti, belum memberikannya.
"Oh. Iya." Tomi mengambil dompetnya. Lalu memberikan dua lembar lima puluh ribuan pada Laras. Kasihan juga melihat Laras tak memiliki uang sama sekali.
"Ini. Beli juga makanan kalau kamu mau. Sisanya simpan aja," ucap Tomi sambil mengulurkan uangnya.
Laras mengambilnya dengan senyum mengembang. Senang sekali hatinya punya pacar seperti Tomi yang tak pernah perhitungan soal uang.
Lalu Laras pergi ke warungnya Yanti. Dia membeli kopi juga gula dan beberapa makanan.
"Hallo, Ras," sapa Beni yang baru saja datang.
Laras yang sudah selesai belanja menatap wajah Beni.
"Hey, Ben. Baru pulang?" tanya Laras. Dia tak lagi judes.
"Iya. Mau makan di rumah. Kamu udah makan?"
"Udah, tadi. Sama Tomi," jawab Laras tanpa perasaan.
Beni yang mendengarnya terlihat kecewa. Sebenarnya dia ingin mengajak Laras makan siang.
Beni melirik ke arah rumah Laras. Dan dia melihat motor butut Tomi ada di sana.
Beni berdecak kesal dan membiarkan Laras pulang. Sampai tak mendengar saat Laras pamit.
"Kenapa, kamu?" tanya Yanti melihat perubahan wajah anaknya.
"Enggak apa-apa, Bu." Beni turun dari motornya dan langsung masuk ke dalam.
Hatinya sangat kesal juga cemburu. Dia membayangkan Tomi dan Laras bermesraan di sana.
__ADS_1
"Jangan mikirin Laras. Dia udah punya calon suami. Cari wanita yang lebih dari Laras," ucap Yanti sambil mengambilkan nasi untuk Beni.
Beni tak menjawab perkataan ibunya. Dia sedang sangat kesal. Bahkan masakan Yanti yang biasanya jadi favoritnya jadi terasa hambar.
"Makan yang banyak, Ben. Nyari pacar kan butuh tenaga," ledek Yanti. Yang diledek makin cemberut saja.
Beni tak membutuhkan wanita lain. Dia membutuhkan Laras.
Beni menyesal karena semalam menolak ajakan Laras melakukannya. Andai saja semalam dia mau, pasti sekarang Laras akan memintanya bertanggung jawab.
Dan mereka akan segera menikah. Dan punya anak. Dan Laras akan jadi miliknya. Selamanya.
Ah, bodoh sekali aku. Beni menyesali kebodohannya. Dia menusuk-nusuk daging ayam yang tak bersalah.
"Kamu kenapa sih, Ben? Kasihan itu daging ayamnya kamu tusuk-tusuk."
Beni tak menghiraukan pertanyaan ibunya. Dia langsung masuk ke kamarnya dan mengunci diri.
Sementara Laras yang sudah selesai membuatkan kopi untuk Tomi, membawakannya ke ruang tamu.
Dilihatnya Tomi sedang asik berkirim pesan chat, entah dengan siapa.
Laras memperhatikannya. Tapi Tomi malah asik sendiri. Dan tak lama, Tomi pamit pergi.
"Ras, maaf. Aku ada kerjaan mendadak. Aku pergi dulu, ya? Nanti malam kalau udah selesai, aku balik lagi ke sini," ucap Tomi.
Dia baru saja di calling Cyntia yang beberapa hari menghilang. Tomi diminta datang ke rumahnya sekarang juga.
"Kopinya?" tanya Laras dengan kecewa.
"Kamu minum aja. Aku buru-buru." Tomi mengecup kening Laras dan segera keluar dari rumah Laras.
Laras menatap kepergian Tomi dengan kecewa. Harapannya bisa bermesraan lagi mumpung ayahnya sedang tak ada di rumah, sirna.
Sejak melakukan pertama kali, Laras jadi kecanduan bercinta. Dan setiap kali bertemu dengan Tomi, hasratnya langsung menggelora.
Menggelegak sampai ke ubun-ubun. Dan Laras tak akan puas kalau hanya sekali dua kali melakukannya. Dia selalu menginginkannya lagi dan lagi sampai tak ada lagi tenaga.
Laras masuk ke dalam kamarnya. Baru saja merebahkan diri, hapenya berbunyi. Ada pesan masuk dari Beni.
Dia menanyakan apa Tomi masih di rumahnya? Laras menjawab dengan jujur. Seperti alasan Tomi tadi.
Dan tak lama, Beni datang ke rumah Laras. Beni mengetuk pintu samping yang tak tertutup.
Laras pun keluar dari kamarnya. Pakaiannya sudah dia ganti dengan tanktop dan celana pendek.
"Hey, Ben. Masuklah." Laras mempersilakan Beni masuk.
"Mau di ruang tamu apa di sini aja. Tapi kalau di sini ya di lantai."
Dan Beni memilih duduk di lantai aja. Ruang tamu rumah Laras terlihat pengap dan pastinya gerah berada di sana berlama-lama.
__ADS_1
Beni yang sudah diberitahu kalau Rasyid sedang pergi, berencana akan lama menemani Laras. Toh, Tomi juga gak bakalan balik lagi.
Mereka pun duduk berdua di lantai depan kamar Ayu. Laras membuatkan minuman untuk Beni. Juga mengeluarkan makanan yang tadi dibelinya.
"Jam berapa ayah kamu pulangnya?" tanya Beni.
"Ayu biasanya pulang jam tiga. Mungkin ayah sekalian menjemputnya. Kenapa?"
"Boleh kan aku nemenin kamu sampai ayah kamu pulang?" tanya Beni lagi.
"Boleh. Tapi apa kamu enggak kerja?"
"Gampang kalau soal itu. Yang penting nanti sore aku balik lagi ke kantor," sahut Beni.
"Oh, gitu ya. Enak banget kerjanya. Ibu kamu tau enggak kamu di sini?" Laras khawatir kalau dia kena marah Yanti yang bawel.
"Enggak. Ibu taunya aku udah berangkat ke kantor lagi," jawab Beni. Dia pun tak ingin kalau Laras jadi sasaran ibunya kalau ketahuan dia main di sini.
"Di minum, Ben." Laras mendekatkan gelas kopi pada Beni.
"Iya, Ras. Makasih, ya." Beni mengambilnya. Lalu menyeruputnya perlahan.
Mata Beni menatap paha mulus Laras yang terpampang di depannya. Beni menelan ludahnya.
Cleguk.
Bodoh sekali aku, menyia-nyiakan kesempatan menikmatinya semalam. Dan pandangan Beni beralih pada tanktop Laras.
Meski dada Laras tak terlalu montok, tapi dua gundukan itu membuat adik Beni di bawah sana menegang.
Dua gundukan yang semalam sempat dirabanya. Rasanya sangat kenyal. Beni masih bisa mengingatnya dengan jelas. Bahkan tangannya sepertinya masih bisa merasakan.
"Kenapa, Ben?" tanya Laras melihat Beni yang menatapnya tanpa berkedip.
Ingin sekali Beni menjawab, apa masih ada kesempatan seperti semalam lagi? Tapi sayangnya Beni tak punya keberanaian untuk menanyakannya.
Beni pun hanya menggeleng. Matanya dia alihkan pada gelas kopi yang rasanya sangat nikmat karena Laras yang membuatkannya.
Dan sekali lagi Beni dikecewakan saat mendengar suara motor Rasyid datang.
"Ayah kamu?" tanya Beni.
"Iya," jawab Laras.
"Eh, Beni. Udah lama?" tanya Rasyid yang baru masuk.
"Barusan, Om. Mampir sebentar. Om dari mana?"
"Dari rumah teman," jawab Rasyid. Lalu mereka terlibat pembicaraan sebentar sebelum akhirnya Beni pamit kembali ke kantornya.
Beni pergi membawa rasa kecewanya. Kecewa karena kebodohannya yang telah menyia-nyiakan kesempatan semalam.
__ADS_1
Dan sepertinya susah sekali mendapatkan kesempatan kedua. Karena Laras tak meresponnya meski tak lagi acuh.