
Hari itu Cyntia meminta Bowo datang ke rumahnya. Dia sudah janji mau membantu Tomi.
"Ada apa?" tanya Bowo. Dia memang sudah memutuskan untuk tidak lagi melanjutkan hubungan. Tapi karena Cyntia bilang ada urusan penting, terpaksa dia datang.
Cyntia sendiri tak tahu kalau Bowo punya niat memutuskan hubungan dengannya.
"Ada yang mau aku sampaikan, Mas," jawab Cyntia.
Ada rasa heran dalam benak Cyntia. Bowo terkesan sangat dingin, tak sehangat biasanya.
"Apa itu? Bilang aja. Aku ada urusan lain," ucap Bowo.
Cyntia menatap wajah Bowo. Lalu menghela nafasnya.
"Soal Tomi. Juga soal Rasyid." Cyntia sekalian ingin memberitahukan soal ancaman Rasyid pada Bowo.
"Apa itu?" Bowo mengernyitkan dahi.
"Oke. Soal Tomi dulu. Kamu masih ingat janjimu mau meminjamkan apartemen pada Tomi?" tanya Cyntia.
"Iya. Dulu. Kenapa?" tanya Bowo.
"Sekarang Tomi lagi butuh tempat tinggal, untuk membawa Laras keluar dari rumah Rasyid. Gimana, apa kamu masih mau meminjamkan padanya?" tanya Cyntia.
Bowo menghela nafasnya. Sejujurnya dia sudah tak berniat lagi. Karena pikir Bowo, urusannya akan semakin rumit.
"Kalau aku menarik janjiku?" tanya Bowo.
"Menariknya? Kenapa?" tanya Cyntia.
Bowo tak menjawab. Dia bingung mau beralasan apa pada Cyntia.
"Apa karena Laras anaknya Alya?" tanya Cyntia.
Bowo menatap wajah Cyntia.
"Tomi yang mengatakannya padamu?" tanya Bowo.
Cyntia menggeleng.
"Rasyid!" jawab Cyntia.
"Rasyid?" Bowo tak percaya.
Cyntia mengangguk.
"Ya, dia datang kesini dan mengatakannya. Bahkan dia berniat memerasmu," sahut Cyntia.
"Memeras gimana?" Bowo mengernyitkan dahinya.
"Dia ingin kamu memberikan uang seratus juta padanya," sahut Cyntia.
"Hah? Seratus juta? Untuk apa?" tanya Bowo tak mengerti.
Bowo memang pernah menghajar Rasyid. Tapi itu karena kesalahan Rasyid. Dan Bowo merasa dia tak punya masalah lagi pada Rasyid.
Dia malah ingin menjauhkan Alya dari Rasyid dalam hal apapun.
__ADS_1
"Dia mengancam akan memberitahukan pada Alya, tentang hubungan kita," jawab Cyntia.
"Gila! Pemerasan itu namanya!" sahut Bowo.
"Kan tadi aku udah bilang," ucap Cyntia.
"Terus apa dia pikir, aku akan memberikannya?" tanya Bowo.
"Sepertinya begitu. Dia begitu yakin. Menurutnya karena kamu begitu sangat menyayangi Alya. Dan kamu enggak akan membuat Alya kecewa," jawab Cyntia.
"Aku punya cara sendiri untuk meyakinkan Alya. Jadi, tak semudah itu dia memerasku," ucap Bowo.
"Oh ya? Apa itu?" tanya Cyntia. Dia berpikir Bowo masih seperti yang dulu. Yang selalu mau bercerita padanya kalau punya masalah.
Bowo hanya menatap wajah Cyntia. Dia tak tega juga mengatakannya pada Cyntia.
"Kamu mau meninggalkan aku?" tanya Cyntia lagi.
Cyntia mencoba bersikap biasa saja. Karena dia sadar, salahnya juga jika Bowo meninggalkannya.
Salahnya yang dulu tak mau dinikahi Bowo. Bisa jadi, keinginan Bowo menikahinya waktu itu, sebelum dia menikahi Alya.
Bowo masih diam.
"Katakan saja. Aku enggak apa-apa, kok. Alya lebih berhak daripada aku. Dia istri sahmu, kan?" tanya Cyntia.
"Kami sudah memiliki seorang anak," ucap Bowo. Bukan sebuah jawaban dari pertanyaan Cyntia.
Cyntia menghela nafasnya.
Cyntia belum pernah menikah. Tapi dia dulu pernah keguguran. Calon anak dari hasil hubungannya dengan kekasihnya, sebelum dia menjalin hubungan dengan Rasyid.
Setelah dia keguguran, kekasihnya itu malah pergi meninggalkannya. Dan sejak saat itu, Cyntia yang kecewa, mensterilkan kandungannya. Hingga dia tak bisa hamil lagi.
Dan dulu, salah satu niatnya menjalin hubungan dengan Rasyid adalah agar dia bisa memiliki anak tanpa perlu mengandung. Dia ingin ikut membesarkan anak-anak Rasyid.
Tapi sepertinya semesta tak mendukung niat baik Cyntia. Hubungan asmaranya dengan Rasyid berakhir tragis.
Dan setelah hubungannya dengan Rasyid kandas, Cyntia membuka ikatan tubektominya. Dia berharap bisa hamil lagi, meski Cyntia tetap tak mau menikah.
Cyntia ingin jadi seorang single parent.
Dan kembali semesta tak mendukungnya. Cyntia tak juga bisa hamil meski dia sudah berhubungan badan dengan banyak lelaki.
Salah satu maksud Cyntia melakukan hubungan badan dengan banyak lelaki adalah agar dia bisa hamil. Tanpa mengandalkan satu lelaki saja.
Cyntia tak akan menuntut siapapun untuk bertanggung jawab. Karena keinginannya hanya memiliki anak. Dan menjadi single parent.
"Kalian sudah punya anak?" tanya Cyntia.
"Ya. Seorang anak lelaki yang sangat aku impikan," jawab Bowo.
Cyntia menundukan wajahnya. Jelas dia tak mungkin mempertahankan Bowo lagi.
Cyntia tak mau menyakiti Alya dan anaknya lagi. Baginya cukup sekali dia bermasalah dengan Alya.
Cyntia pun sadar, kalau Alya akan sangat marah lagi padanya. Karena Alya sudah memiliki anak dari Bowo.
__ADS_1
"Ya udah. Kita akhiri aja hubungan ini. Aku tak mau bermasalah lagi dengan Alya. Dan kamu, tak perlu repot-repot memberikan uang pada Rasyid gila itu," ucap Cyntia.
Bowo malah terkejut mendengarnya. Dia tak mengira, akan semudah ini menyelesaikan urusannya dengan Cyntia.
Bowo tadinya berfikir, Cyntia akan marah padanya. Bahkan bisa jadi akan melakukan hal yang lebih gila dari Rasyid.
"Kamu yakin?" tanya Bowo.
Cyntia mengangguk.
"Ya. Aku yakin. Jangan kamu pikirkan aku. Aku masih bisa hidup bahagia tanpa kamu. Aku masih bisa menjalani hidupku sendiri," jawab Cyntia.
Bowo terdiam.
"Tapi tidak dengan Alya. Dia pasti akan sangat hancur kalau mengetahui hubungan kita. Jadi, lebih baik kita akhiri saja, sebelum Alya mengetahuinya," lanjut Cyntia.
"Kamu tidak akan membenciku?" tanya Bowo. Diapun ingin tetap berhubungan baik dengan Cyntia, meski hanya sebagai teman saja.
Cyntia tersenyum.
"Tidak. Aku tak akan pernah membencimu. Kecuali kalau kamu menyakiti Alya," jawab Cyntia.
Bowo kembali terkejut dengan ucapan Cyntia.
"Kamu memikirkan perasaan Alya?" tanya Bowo tak percaya.
"Setidaknya aku tak ingin dianggap sebagai penghancur hidupnya lagi. Sakit hatiku mendengarnya," sahut Cyntia.
Cyntia menghela nafasnya.
"Dulu, saat aku berhubungan dengan Rasyid, aku tak tau soal Alya. Rasyid mengatakan kalau dia single parent. Dan aku yang memang sangat menginginkan memiliki anak, ingin menyayangi anak-anak Rasyid sebagai anakku sendiri," lanjut Cyntia.
"Kamu ingin memiliki anak?" tanya Bowo.
Selama ini Bowo malah berpikir sebaliknya. Dia pikir Cyntia tak pernah menginginkan memiliki anak sendiri.
Cyntia mengangguk lemah.
Setiap kali berpikir tentang memiliki anak, Cyntia merasa hatinya hancur.
"Kenapa kamu tak pernah mengatakannya?" tanya Bowo.
Cyntia menggeleng.
"Kenapa?" tanya Bowo lagi.
"Karena aku tak pernah bisa mengandung lagi," jawab Cyntia.
"Kenapa? Apa yang terjadi?" Bowo merasa penasaran.
"Ceritanya panjang. Dan biarlah itu jadi cerita kehidupan untukku sendiri," sahut Cyntia.
"Tidak. Kamu harus menceritakannya padaku. Kamu masih menganggapku, kan?" tanya Bowo menuntut.
Cyntia menghela nafasnya. Lalu dia terpaksa menceritakannya pada Bowo.
Karena bagaimanapun, Bowo pernah menjadi bagian dari cerita kehidupannya. Pernah menjadi orang yang dia harapkan bisa memberikannya seorang anak.
__ADS_1