
"Aku cuma mau berduaan sama kamu, Laras. Seperti dulu. Kamu masih ingat, kan?" tanya Tio.
"Tapi, aku..." Laras hendak menyahut tapi mulutnya langsung dibekap Tio.
"Jangan menolakku, Laras. Aku tau, kamu sekarang mungkin sudah punya kekasih. Aku tak akan merebutmu. Aku hanya ingin bersamamu sebentar, ya?" pinta Sulis.
"Tio. Tapi aku tak bisa," sahut Laras.
"Tak bisa apa?" tanya Sulis. Dia sebenarnya tak menginginkan sesuatu yang spesial. Hanya ingin duduk berdua Laras dan mengenang masa-masa indah mereka dulu.
Tapi karena Laras sepertinya mau pergi, Sulis lebih baik mengurung Laras di kamarnya.
Toh, Yati tak akan mengganggunya. Karena keinginan Yati agar Laras jangan sampai pergi.
Sementara Yati, buru-buru keluar rumah. Dia mencari mobil yang sedang menunggu Laras.
Di depan pintu gerbang, Yati menoleh ke kanan dan ke kiri. Hanya ada satu mobil hitam.
Yati mendekatinya. Lalu mengetuk pintu mobil.
"Ada apa?" tanya Tomi. Dia tak mengenal Yati. Hanya melihat barusan Yati keluar dari rumah Dino.
"Kamu yang namanya Tomi?" tanya Yati.
Tomi mengangguk.
Tahu dari mana namaku? Apa Laras yang mengatakannya?
"Maaf, Tom. Laras enggak bisa pergi dulu. Dia ada tugas mendadak dari bu Tasya. Mungkin baru selesai tengah malam nanti," ucap Yati.
"Tugas? Tugas apa?" tanya Tomi tak mengerti.
"Laras kan kerja di sini buat membantu bu Tasya. Dan kebetulan tadi bu Tasyanya telpon. Dia minta Laras membereskan pakaian yang mau dibawanya besok ke luar kota," jawab Yati asal.
"Bukannya Laras kerja di sini sebagai ART?" tanya Tomi, seperti yang dikatakan Laras padanya.
"Ya bukanlah. Masa gadis secantik Laras jadi ART. Kalau aku, iya. Aku ART di sini," jawab Yati jujur.
"Tapi Laras bilang begitu sama aku," ucap Tomi.
"Tadinya iya. Tapi begitu bu Tasya melihat Laras, pikirannya jadi berubah. Dia mau Laras jadi asistennya saja," sahut Yati.
"Terus, sekarang Larasnya dimana?" tanya Tomi.
"Laras lagi di kamarnya bu Tasya. Membereskan perlengkapan bu Tasya yang mau dibawa besok. Kalau enggak percaya, telpon aja," jawab Yati.
Tomi pun menurut. Dia menelpon Laras.
Sekali, hanya berdering. Telpon Tomi tak diangkat. Jelas saja, Laras meninggalkan ponselnya di meja dekat dapur.
Tomi kembali menelpon Laras. Tetap saja tak diangkat.
"Mungkin Laras sedang buru-buru membereskannya. Soalnya sebentar lagi pak Dinonya pulang. Kan enggak enak kalau Laras masih di sana," ucap Yati.
Waduh, gawat!
Kalau Dino keburu datang dan Laras masih ada di kamarnya. Bisa diembat sama buaya darat itu. Batin Tomi.
__ADS_1
"Ya udah. Gini aja, Bik. Tolong bilang ke Larasnya, aku kembali kalau Larasnya udah selesai," ucap Tomi.
"Tapi...Laras selesainya bisa tengah malam," sahut Yati.
"Lho, barusan kamu bilang sebentar lagi pak Dino pulang. Gimana sih?" tanya Tomi bingung.
Ini orang, ngomongnya muter-muter. Jangan-jangan dia bohongi aku.
Tapi kalau dia berbohong, Larasnya kemana? Tanya Tomi dalam hati.
"Itu kan tugas membereskan pakaian bu Tasya. Tugas selanjutnya di ruangan lain. Paling nanti aku yang membantunya. Udah dulu, ya. Enggak enak kalau aku di luar begini. Takut ketahuan pak Dino," pamit Yati.
Tomi hanya mengangguk.
Dan baru saja Yati membalikan badan, mobil Dino datang.
Yati langsung berlari membukakan pintu gerbang.
Dino sendiri menatap sekilas mobil hitam yang baru saja didekati Yati.
Aku kayak kenal mobil itu. Mobil siapa, ya? Batin Dino.
Lalu Dino menatap lagi mobil itu. Tapi karena Yati sudah membuka pintu gerbangnya lebar-lebar, Dino segera masuk.
Setelah mobil Dino masuk, Yati buru-buru menutup kembali pintu gerbangnya.
Tomi tadi membelalakan matanya melihat mobil Dino pulang. Tapi Tomi terus menutupi wajahnya dengan topi. Dia belum berani menghadapi Dino.
Dia masih ingat, bagaimana Dino menghantam mukanya, saat mengetahui dirinya jalan dengan Tasya.
Dino datang. Dan kata pembantu itu, Laras masih ada di kamar Tasya.
Aduh, bisa selesai Laras dimakan Dino. Tomi mulai gusar.
Lalu dia kembali menelpon Laras.
Yati bergegas masuk ke dalam. Dia mau menyuruh keluar dua manusia yang ada di kamar Sulis.
Sampai di dekat dapur, Yati melihat ponsel Laras berdering.
Aduh, bunyi lagi tuh hape. Nyusahin aja. Yati melihat nama pemanggilnya.
Hh! Tomi lagi. Yati segera menolak panggilan Tomi dan mensilent suara ponsel Laras.
Lalu segera lari ke kamar belakang. Kamar Sulis yang buat mengurung Laras.
Baru saja Yati sampai di pintu penghubung dapur dengan ruangan belakang, Dino sudah memanggilnya.
"Bik. Mana Laras? Panggilkan dia. Aku ada perlu. Suruh dia ke ruang tamu," ucap Dino.
"Iya, Pak. Saya panggilkan. Bapak mau teh?" tanya Yati.
"Ya. Sekalian Laras saja yang membawakan ke depan," jawab Dino. Lalu dia berjalan kembali ke ruang tamu.
Yati kembali berlari ke kamar Sulis. Yati mengetuknya pelan.
Tok.
__ADS_1
Tok
Tok.
"Sulis! Buka pintunya! Pak Dino sudah pulang! Laras dipanggil!" ucap Yati pelan. Takut kedengeran Dino.
Sulis yang sedang berusaha merayu Laras, berdecak kesal.
Hhh! Tadi aja nyuruh-nyuruh orang nahan Laras. Belum juga pemanasan, udah di panggil lagi. Nyebelin! Gumam Sulis dalam hati.
Sulis segera bangkit dari posisinya berjongkok, di depan Laras yang duduk di tempat tidurnya.
"Ada apa?" tanya Sulis setelah membuka pintu.
"Buruan keluar. Laras dipanggil pak Dino," jawab Yati.
Laras pun berdiri dan keluar dari kamar Sulis.
"Om Dino udah pulang?" tanya Laras.
"Iya. Dia manggil kamu. Ditunggu di ruang tamu. Tapi dia minta kamu bikinkan teh sekalian," jawab Yati.
Laras mengangguk. Dalam hati kesal juga. Karena ini berarti rencananya dengan Tomi gagal.
Paling tidak, Laras bakal tertahan di sini sampai besok. Sampai Dino pergi ke kantor lagi. Dan Tasya juga pergi.
Laras berjalan ke dapur mengikuti Yati.
Yati menyiapkan cangkir teh kesayangan Dino. Karena Dino tak mau minum teh atau kopi kalau tidak menggunakan cangkir-cangkir kesayangannya.
"Cangkir yang model begini, khusus dipakai sama pak Dino. Jangan buat tamu. Yang buat tamu, model lainnya aja," ucap Yati pada Laras.
Laras mengangguk.
"Ini tehnya. Gulanya sedikit aja. Dia tak suka terlalu manis. Airnya juga jangan terlalu penuh," ucap Yati lagi.
"Apal banget!" komentar Laras.
"Aku juga dikasih tau bu Tasya. Dia wanti-wanti begitu. Jadi aku apalin. Kamu juga mesti ngapalin," ucap Yati.
Laras mengangguk. Lalu segera membuatkan teh.
"Kalau udah jadi, antar ke ruang tamu. Pak Dino nunggu kamu di sana. Taruh dulu tuh, tas kamu. Nanti dicurigai sama pak Dino," ucap Yati kembali.
Laras kembali mengangguk. Lalu melepaskan tasnya dan meletakannya di atas meja. Di sebelah ponselnya.
Setelah Laras tak terlihat lagi, Yati buru-buru membuka tas kecil Laras.
Sambil berkali-kali menoleh, Yati melihat isi tas Laras.
Hmm. Tak ada apa-apa. Cuma bedak dan lipstik biasa. Bukan yang bermerk seperti punya bu Tasya. Batin Yati.
Masih kurang percaya, Yati mengeluarkan semuanya.
"Lagi nyari apa, Bik?"
Mata Yati langsung terbelalak.
__ADS_1