
Sampai di rumahnya, Beni masuk ke kamar. Dia mau menghubungi Laras.
Bagaimanapun, Beni tetap tak tega meninggalkan Ayu dalam keadaan pingsan.
Tapi untuk terus menunggunya juga tidak mungkin. Karena hari sudah semakin malam. Bakal jadi fitnah kalau dia di dalam rumah Rasyid hanya berduaan dengan Niken.
Beni juga takut khilaf, karena dia pernah menyukai Niken. Walau cuma sedikit.
Beni mengirimkan pesan pada Laras.
Ras, kamu di mana? Tanya Beni di pesan chatnya.
Tapi sayangnya nomor Laras non aktif. Ponsel Laras kehabisan daya, karena seharian tadi belum dichas.
Laras sendiri sedang menikmati malam bersama Dino. Majikan barunya.
"Ras. Kamu pernah pacaran enggak?" tanya Dino, saat suasana cafe makin sepi. Dan Dino pun sudah memberi uang tip pada pelayan cafe, agar tak mengganggunya.
Cafe pinggir sawah itu memang terkenal digunakan untuk esek-esek pelanggannya. Asal si pelanggan mau memberikan uang tutup mulut untuk pelayannya.
Bangunan saung yang berdinding setengah badan, dan tempat duduk lesehan, membuat pelanggan bisa berbuat bebas di dalam.
Yang penting enggak tahu malu saja. Karena tak ada pintu di saung itu. Jadi mesti bisa mencari posisi yang sekiranya tak terlihat dari luar.
Suasana malam dengan penerangan yang remang-remang, membuat lebih syahdu.
Siapapun yang membawa pasangannya, pasti bakal terbawa suasana. Dan akhirnya, terjadilah apa yang mestinya tak boleh terjadi.
Seperti yang sekarang dirasakan oleh Dino. Apalagi saat tadi melihat Tasya sedang bercumbu dengan Tomi. Dino jadi ingin segera bisa memakan Laras.
Dalam pikiran Dino, Laras itu masih perawan yang lugu. Makanya Dino berusaha memanjakan Laras, biar Dino tak perlu memaksa. Tapi Laras menyerahkan sendiri miliknya.
Jadi kalau terjadi sesuatu, Dino bisa berkelit. Karena bukan dia yang meminta. Tapi Laras yang menyerahkan diri.
Laras mengangguk.
Jujur Laras hanya pernah berpacaran serius dua kali. Saat SMP dengan Sulis dan setelah lulus SMA dengan Tomi.
Saat SMA tak ada yang mau memacari Laras. Karena rata-rata teman sekolahnya anak orang kaya.
Anak orang kaya, mana mau mendekati Laras yang anak orang tidak punya. Meskipun Laras tergolong gadis yang cantik juga cerdas.
Tapi mereka takut diolok-olok temannya yang lain, kalau punya pacar Laras yang tak berkelas.
"Oh, ya? Berapa kali?" tanya Dino lagi.
Laras terdiam. Haruskah dia bicara jujur pada Dino?
"Dua kali, Om." Akhirnya Laras memilih untuk jujur.
"Owh. Hebat sekali. Dengan teman sekolah atau..." Dino menggantung pertanyaannya.
Laras pun menceritakan semuanya. Tapi tak menyebutkan nama. Laras merasa tidak enak pada Dino kalau bilang Sulis adalah mantan pacar pertamanya.
"Apa sekarang kamu masih sering ketemu mereka?" tanya Dino.
Dino mengira dua lelaki itu sudah jadi mantan semua. Padahal cuma satu saja yang jadi mantan. Satunya masih jalan.
Laras kembali bingung. Karena pastinya dia harus kembali berbohong.
__ADS_1
"Enggak, Om," jawab Laras.
Dalam hati, Laras merasa sangat bersalah pada Tomi.
"Baguslah. Enggak baik juga ketemu-ketemu lagi sama mantan. Apalagi kalau putusnya karena disakiti. Malah akan menambah makin sakit aja," ucap Dino.
Laras menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Kamu nyari apa, Ras?" tanya Dino.
"Nyari colokan listrik, Om. Aku mau ngechas hape," jawab Laras.
"Ooh. Nanti aja di mobil kan bisa," ucap Dino.
Padahal Laras sengaja ingin mengacaukan pikiran Dino. Biar Dino tidak membahas soal mantan-mantan lagi.
Laras tak mau semakin merasa bersalah pada Tomi, dengan berbohong soal dia.
"Di sini enggak ada, ya?" Laras berusaha memaksa Dino mengusahakan.
Dino pun akhirnya membantu mencarinya.
"Oh, ada ini, Ras." Dino menunjuk satu sudut ruangan.
Laras pun mengeluarkan ponsel dan chargernya, yang memang sudah dia bawa di dalam tasnya.
"Besok aku belikan kamu power bank. Biar enggak repot cari colokan," ucap Dino.
"Enggak usah, Om. Itu kan mahal," sahut Laras.
"Enggak apa-apa. Enggak akan aku potong gaji kamu, kok," ucap Dino.
Sebenarnya bukan masalah potong gaji, cuma Laras tak mau dia dianggap seperti Rasyid, yang suka memanfaatkan kebaikan orang.
Kesempatan itu digunakan Dino. Dia mendekati Laras. Karena diposisi Laras, tak terlihat dari luar.
Jantung Laras berdegup kencang. Dino duduk terlalu dekat dengannya.
Laras bergeser sedikit. Tapi malah membuatnya makin tersudut.
Dino pun semakin mendekat.
Lalu Laras pura-pura mengaktifkan ponselnya.
"Belum terisi, Ras. Nanti hape kamu malah rusak," ucap Dino.
"Enggak apa-apa, Om. Siapa tau ada pesan masuk dari ayah," sahut Laras.
Padahal jelas itu akal-akalan Laras saja. Laras malah tak berharap Rasyid menghubunginya.
Dino memegang tangan Laras, dan meletakan ponsel Laras yang sedang dalam proses on.
"Om mau ngapain?" tanya Laras. Tubuhnya sudah panas dingin.
"Cuma mau menghangatkan kamu, Ras." Dino menarik tubuh Laras dan memeluknya erat.
"Lepasin, Om. Enggak enak kalau ada yang lihat." Laras berusaha melepaskan diri.
"Enggak akan ada yang lihat. Mereka jauh," sahut Dino.
__ADS_1
Dino terus memeluk Laras, bahkan mencoba menciumnya.
Laras berusaha menolak dengan memalingkan wajahnya. Dino meraih wajah Laras dan mencengkeramnya dengan kuat.
"Auwh! Sakit, Om!" pekik Laras.
"Sstt. Jangan keras-keras. Nanti dikira aku mau memperkosamu," bisik Dino.
"Iya. Tapi lepasin ini." Laras memegangi tangan Dino yang sedang mencengkeram rahangnya.
"Oke. Tapi jangan menghindar." Dino melepaskan cengkeramannya.
"Aku bisa melakukannya dengan lembut, asal kamu menurut," bisik Dino.
"Jangan, Om. Om kan udah punya istri. Enggak enak kan kalau sampai tante Tasya tau," ucap Laras.
"Dia enggak akan tau, Ras," sahut Dino.
Dalam hati Dino, tahu pun Tasya tak akan peduli. Toh, Tasya juga melakukan hal yang sama.
"Tapi, Om..."
Belum sempat Laras menyelesaikan omongannya, Dino sudah menyambar bibir Laras.
Tapi sedetik kemudian, ponsel Laras berdering. Sebuah panggilan dari Beni.
Rupanya Beni menunggu sampai nomor Laras aktif lagi. Dan begitu ponsel Laras sudah on, dan pesan yang dikirimnya centang dua, Beni langsung menelpon Laras.
Reflek Laras menjauhkan wajahnya dari Dino.
Dino mendengus dengan kesal. Tapi membiarkan Laras mengambil ponselnya.
Sekilas Dino melihat nama pemanggilnya. Dino berusaha mendengarkan meskipun tak jelas.
Beni? Ada apa Beni menelponku? Tanya Laras dalam hati.
"Iya, Ben. Ada apa?" tanya Laras.
"Apa? Terus Ayu di rumah sama siapa?" tanya Laras dengan panik.
"Ah! Pasti ini ulah Niken lagi.....Iya. Aku segera pulang."
Lalu Laras menutup panggilan dari Beni.
"Ada apa? Siapa Beni?" tanya Dino.
"Ayu, adik bungsuku pingsan di rumah. Beni tetanggaku," jawab Laras.
Dada Laras naik turun menahan geram pada Niken.
"Oh. Kan ada ayahmu di rumah," sahut Dino dengan santai.
"Ayah lagi tidak ada di rumah," ucap Laras.
Laras beranjak berdiri.
"Mau kemana kamu?" tanya Dino.
"Pulang, Om. Adikku pingsan!" jawab Laras dengan ketus.
__ADS_1
"Oke. Aku antar kamu pulang. Tapi kamu harus kembali ke rumahku malam ini juga. Aku akan menungguimu!" ucap Dino dengan ketus.
Laras hanya bisa mengangguk pasrah. Apapun itu, telpon dari Beni telah menyelamatkannya dari Dino.