KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 143 BERTEMU MANTAN TERINDAH


__ADS_3

Ike memesan taksi online lewat aplikasinya. Ike yang sudah bekerja dan memiliki uang sendiri, tak mengharapkan Tomi membayar ongkosnya lagi.


Apalagi semalam Tomi sudah membayarinya. Ike bukan type wanita yang suka meminta. Malah kalau bisa dia yang memberi.


Beda sekali dengan Laras. Yang hampir tak pernah punya uang.


Laras pengangguran. Karena Rasyid selalu melarang Laras bekerja. Banyak sekali alasannya.


Maunya Rasyid, Laras yang hanya lulusan SMA, mendapatkan pekerjaan yang enak dan bergaji besar.


Padahal kerja di toko seperti Ike pun, gajinya lumayan untuk ukuran lulusan SMA. Tapi sayangnya Rasyid merasa gengsi kalau anaknya hanya kerja sebagai karyawan toko.


Rasyid lebih suka Laras menjadi penulis. Meski honor yang didapat Laras tak seberapa. Tapi punya kebanggaan tersendiri.


Karena rasa gengsinya, membuat kehidupan mereka selalu kekurangan.


"Udah dapat drivernya?" tanya Tomi.


"Udah. Tapi masih sepuluh menit lagi. Kayaknya yang pesen banyak. Jadi dapat yang posisnya jauh," jawab Ike.


Mereka yang duduk bersebelahan, membuat Tomi mudah meraih wajah Ike. Dan dengan lembut Tomi ******* bibir seksi Ike.


Ike tak menolaknya. Selain mereka masih punya waktu sepuluh menit lagi, Ike pun juga menginginkannya.


Ike membalas ******* Tomi. Dan mereka mulai sibuk saling ******* dan membelit.


Tangan Tomi tak bisa diam, dia mencari celah yang bisa dimasukinya.


"Jangan, Tomi. Kita mau pergi." Ike menahan tangan Tomi.


"Sebentar saja, Ke," sahut Tomi.


"Jangan, Tom. Nanti kebablasan lagi." Ike berusaha berdiri dan menjauh dari Tomi.


Tapi Tomi menariknya, hingga Ike jatuh tepat di pangkuannya.


"Sebentar saja, Ke," pinta Tomi.


Ike menutup mulut Tomi yang siap melahap dua gunung kembarnya.


"Jangan bandel, Tom. Masih banyak waktu buat kita, kan?" ucap Ike.


Tomi malah semakin gemas pada Ike. Tomi melepaskan tangan Ike di mulutnya. Lalu mengecupnya.


"Kamu menggemaskan banget, Ke," ucap Tomi.


Lalu Ike mendekap kelapa Tomi dengan erat. Membiarkan wajah Tomi tenggelam di antara dua gunungnya yang besar dan menghangatkan, meski di luar pakaiannya.


Tak lama, ponsel Ike berdering. Panggilan telpon dari driver taksi online pesanan Ike.

__ADS_1


Ike melepaskan dekapannya.


"Iya. Hallo, Pak. Iya benar. Saya Ike. Oke, saya keluar sekarang." Ike segera menutup ponselnya.


"Ayo, Tom. Mobilnya udah sampai di depan. Tuh." Ike melihat keluar lewat jendela kaca rumahnya yang tertutup korden tipis.


Tomi berdecak dengan kesal. Kesenangannya pagi ini terganggu.


Andai saja Ike seperti Laras, pasti mereka akan melanjutkan ke session berikutnya.


Laras hampir tak pernah menolak keinginan Tomi. Apapun dan kapanpun, Laras akan menurut.


Tapi ya sudahlah. Mereka dua pribadi yang berbeda. Mereka punya karakter sendiri-sendiri. Dan punya kekurangan juga kelebihan yang tak bisa dibanding-bandingkan.


Tomi merasa bersalah sendiri, karena telah membandingkan dua wanita yang luar biasa ini.


Setelah Ike mengunci pintu rumahnya, mereka naik ke mobil dan melaju ke rumah sakit.


Di mobil, tak banyak yang mereka obrolkan. Karena mereka sibuk dengan ponsel masing-masing.


Hingga sampai di rumah sakit dan mereka berpisah di lobby. Karena ruangan tujuan mereka berbeda.


Tomi berjalan menuju bangsal tempat Laras dirawat.


"Hallo, Sayang." Tomi mengecup kening Laras dengan lembut. Wajah Laras sudah nampak lebih segar.


Rasyid keluar dari kamar mandi. Rupanya dia sudah ada di sana dari tadi.


"Tadi, setelah mengantar Ayu ke sekolah," jawab Rasyid.


Rasyid tak mengatakan soal Niken yang menghilang dan belum kembali ke rumah sampai pagi tadi.


Rasyid sadar kesalahan Niken yang mungkin tak mudah mereka maafkan.


Rasyid menyimpannya sendiri. Dan rencananya, siang nanti dia akan mencarinya lagi. Entah kemana.


Rasyid masih galau. Dia bingung kalau harus mencari Niken ke rumah mantan istrinya, Alya.


Semalam Rasyid sudah mencari tahu tempat tinggal Alya sekarang, lewat temannya yang kebetulan juga mengenal Alya dengan baik.


Hal yang sulit bagi Rasyid. Bertemu dengan wanita yang pernah dicintainya, sekaligus paling dibencinya.


Rasyid membenci Alya, karena menganggap Alya telah menghianatinya.


Meski faktanya, Rasyid telah membawa wanita lain ke rumah kontrakan mereka. Dan Rasyid malah menyembunyikan Alya di rumah temannya.


Kesalahan yang fatal. Tapi tak pernah disadari oleh Rasyid. Dia merasa selalu benar. Karena selama ini, wanita itulah yang telah mensubsidi ekonomi keluarganya.


"Ayah kenapa melamun?" tanya Laras.

__ADS_1


"Enggak apa-apa. Cuma masih ngantuk aja," jawab Rasyid berbohong. Menutupi kegalauannya pada Laras dan Tomi.


"Kalau begitu, Om pulang dulu aja. Biar saya yang nungguin Laras," ucap Tomi.


"Tapi aku jangan ditinggal lagi." Laras mulai merajuk.


"Enggak, Sayang. Semalam pekerjaanku banyak banget. Jadi enggak bisa pulang. Bahkan sampai enggak sempat buka hape," sahut Tomi. Yang tentunya juga bohong belaka.


Tomi membelai kepala Laras. Laras pun menyandarkan kepalanya di lengan Tomi dengan manja.


Tomi mengecup puncak kepala Laras dengan lembut. Laras terlihat sangat bahagia. Meski dia akhirnya tahu dari perawat yang berjaga semalam, kalau dia telah kehilangan calon anaknya. Bahkan sebelum Laras menyadari kalau dia hamil.


Hanya satu hal yang belum bisa Laras terima, dia kehilangan calon anaknya akibat ulah Niken.


Laras masih belum bisa memaafkan kesalahan adiknya itu. Bagi Laras, itu adalah kesalahan yang sangat fatal.


"Ya udah. Ayah pulang dulu. Ayah butuh istirahat. Tomi tolong jaga Laras." Rasyid pun pulang. Dia akan mencari alamat rumah Alya.


Tak terlalu sulit buat Rasyid menemukan alamat itu. Meski cukup jauh dari kontrakannya, tapi Rasyid dulu sering main ke daerah itu.


Sampai di alamat yang diberikan temannya, Rasyid mencoba mengumpulkan keberanian.


Bukan karena takut menghadapi Alya, tapi Rasyid takut dia terbawa emosi yang telah dia pendam selama ini.


Rasyid mengetuk pintu rumah kecil yang tertutup rapat. Kebiasaan Alya yang selalu menutup pintu rumahnya setiap hari.


Alya jarang bergaul dengan tetangga. Dia lebih suka menyibukan diri dengan pekerjaan rumah dan mengurus anak.


Ceklek.


Pintu rumah terbuka.


Jantung Rasyid langsung mencelos. Seperti lepas dari tempatnya.


Di depan Rasyid, berdiri seorang wanita dengan penampilan sangat ayu dan anggun. Sangat berbeda dengan penampilan beberapa tahun yang lalu.


Saat dia masih berada di sisi....Rasyid.


Ya! Dia adalah Alya. Mantan istri Rasyid. Ibu dari ketiga anak Rasyid.


Rasyid menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa kering. Ingin rasanya Rasyid memberikan senyumannya buat Alya, tapi bibir Rasyid terasa kelu.


"Mas Rasyid....!"


Ah....suara Alya sangat menusuk hati Rasyid. Suara merdu yang dulu sering menyanyikan lagu-lagu cinta untuknya.


Hampir setiap malam. Sebelum Rasyid tidur. Dan yang pasti sebelum Rasyid meniduri wanita lain.


Karena setelah kejadian itu, yang ada hanya tangisan Alya yang menyayat hati.

__ADS_1


Rasyid tak mampu berkata apa-apa. Suaranya seperti hilang. Dan Rasyid hanya bisa mengangguk dengan lemah.


Ah, inikah rasanya bertemu dengan mantan terindah?


__ADS_2