
Rasyid melajukan motornya menuju kosan Wulan. Wanita yang baru saja dikenalnya lewat medsos. Walaupun sebenarnya mereka sudah lama berteman. Tapi baru tadi Rasyid pedekate.
Alamat yang tidak terlalu sulit dicari. Dan benar saja, tempat kos Wulan sering dilewati Rasyid.
Sebuah kos yang sederhana. Tak ada penjaga kos, jadi Rasyid bisa langsung menuju kamar kos Wulan.
Rasyid mengetuk pintu kamar berwarna coklat tua. Seperti yang dikatakan Wulan di chat messengernya.
Setelah beberapa kali mengetuk, keluarlah seorang wanita yang tampangnya jauh berbeda dengan wajah yang ditampilkan di foto profile akunnya.
Rasyid menelan ludahnya. Ah, dasar kamera jahanam. Bisa saja merubah wajah setengah tua menjadi glowing. Batin Rasyid.
Wulan pun menatap tak percaya. Karena di foto profile yang sudah dieditnya, wajah Rasyid dimirip-miripkan dengan wajah seorang pemain band yang sempat viral.
"Wulan?" sapa Rasyid. Wulan mengangguk.
"Kahlil Gibran?" Rasyid pun mengangguk.
Meski sama-sama merasa kecewa dengan penampakan asli masing-masing, akhirnya mereka bersalaman dan Rasyid pun masuk ke kamar yang tak terlalu besar.
"Kamu tinggal sendirian?" tanya Rasyid memastikan dulu. Jangan sampai lagi asik ngobrol, tiba-tiba muncul orang lain yang mengganggu.
"Sendiri, Bang," jawab Wulan.
"Oh. Kirain ada suami atau pasangan kamu," pancing Rasyid.
"Kalau aku punya pasangan, aku enggak bakalan galau, Bang," sahut Wulan.
"Memangnya galau kenapa?" Rasyid sudah duduk di karpet.
"Ya namanya juga single, pasti galau lah. Memangnya Abang enggak pernah galau?"
Rasyid tertawa. Mana pernah Rasyid galau? Meski single, banyak stock wanitanya di medsos yang siap melayani. Tinggal pilih yang sekiranya bisa dirayu, terus Rasyid melancarkan serangan.
Rasyid seperti punya insting, mana wanita yang bisa dikencaninya, mana yang sulit. Walaupun seringnya begitu ketemu, tampangnya seratus delapan puluh derajat dari foto profilenya.
Kecanggihan kamera hape sering menipu Rasyid. Tapi kalau sudah terlanjur, tetap dihajar juga.
"Enggaklah. Kan ada anak-anak yang selalu menghiburku," jawab Rasyid.
"Abang mau minum apa?" tanya Wulan.
"Kopi aja, kalau ada. Kopi hitam pake gula sedikit."
"Pahit dong, Bang?" tanya Wulan lagi.
__ADS_1
"Kan ada kamu. Pasti kopi Abang berubah jadi manis kalau yang bikin kamu dan minumnya deket kamu." Rasyid mulai menggombal.
"Ih, Abang bisa aja!" Wajah Wulan merona. Lalu Wulan berdiri dan membuatkan kopi.
"Kalau di rumah, siapa yang membuatkan kopi, Bang?" pancing Wulan.
"Anak-anaklah. Mereka kan anak-anak yang baik, penurut dan sangat paham selera ayahnya." Rasyid selalu memuji anak-anaknya di depan orang lain, meski kenyataannya anak-anak Rasyid tersiksa oleh sikap keras dan kasarnya.
"Hebat ya? Anak-anakku malah tak mau lagi ketemu denganku," ucap Wulan, lalu meletakan gelas kopi di depan Rasyid.
"Lho memangnya kenapa? Kamu sepertinya seorang ibu yang baik, penyayang juga," puji Rasyid.
"Mantan suamiku menjauhkan mereka, Bang. Dia selalu saja mempengaruhi anak-anak agar membenciku," tutur Wulan.
"Oh ya? Kok ada ya, orang tua seperti itu?" tanya Rasyid. Dia tak sadar telah melakukan hal yang sama juga pada anak-anaknya. Mereka didikte Rasyid untuk membenci mamanya.
"Entahlah, Bang. Itu yang membuat aku selalu galau. Aku kangen sama anak-anakku," jawab Wulan.
"Main aja ke rumah. Anak-anakku pasti bisa menghibur kamu." Rasyid selalu mengajarkan anak-anaknya untuk bersikap baik pada tamu-tamunya, terutama tamu wanita.
Karena bisa dipastikan, mereka akan dapat angpao yang cukup untuk makan sehari.
"Iya, kapan-kapan aku main ke sana. Anak-anak sukanya apa? Biar aku belikan."
"Ah, gampang. Mereka tidak suka macam-macam kok. Yang penting uang jajan terpenuhi aja." To the point aja, pikir Rasyid.
Wulan juga cerita kalau dia memiliki seorang kakak perempuan yang tinggal tak jauh dari kosannya.
"Kami dua bersaudara. Kakakku juga single. Tapi dia tak memiliki anak. Suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu," cerita Wulan.
"Mau aku kenalkan dengan kakakku? Dia juga sering galau. Maklum single." Wulan tertawa renyah.
"Nah, itu kamu bisa ketawa. Berarti udah enggak galau lagi dong?"
"Iya, Bang. Semua bebanku terasa hilang. Plong," ucap Wulan. Lalu tanpa malu-malu mengecup pipi Rasyid.
Rasyid justru yang terkejut. Dia tak mengira malah didului oleh Wulan.
"Maaf, Bang. Aku bahagia bisa kenal sama kamu." Wulan menundukan wajahnya.
"Enggak apa-apa, Lan." Rasyid mendekap Wulan dengan erat.
Entah kenapa, adik Rasyid yang sedari tadi tidur tiba-tiba menggeliat. Padahal Wulan bukanlah type wanita impiannya.
Mungkin karena dada Wulan yang besar menempel di dada Rasyid.
__ADS_1
Setelah merasa ada geliat di bagian bawahnya, otak Rasyid ikut bereaksi. Rasyid melepaskan dekapannya, dan dengan gerakan kasar, Rasyid langsung menyambar bibir tebal Wulan.
Wulan berusaha memberontak. Tapi tangan Rasyid menekan tengkuknya hingga Wulan pun pasrah.
Dia menikmati sesapan Rasyid yang lama kelamaan membuat bibirnya terasa kebas.
Akhirnya Rasyid pun melepaskan pagutannya. Dia menatap mata Wulan yang sudah terlihat nanar. Lalu pandangannya beralih ke bagian dada Wulan yang menonjol.
"Lan, aku haus," ucap Rasyid.
"Kopinya diminum, Bang." Tangan Wulan akan meraih gelas kopi. Tapi Rasyid menahannya.
"Bukan itu." Mata Rasyid masih menatap barang yang diinginkannya.
"Lalu apa?" tanya Wulan tak mengerti.
"Ini." Rasyid langsung menunjuk dada Wulan yang masih tertutup rapat.
"Ih, Abang. Jangan nakal, ah." Suara Wulan yang manja malah membuat Rasyid semakin mabuk kepayang.
"Lan, kunci pintunya dong. Biar enggak ada yang ganggu."
Bagai kerbau dicucuk hidungnya, Wulan menurut saja. Dia kunci perlahan sebelumnya dia tengok kanan kiri dulu. Jangan sampai mencurigakan tetangga kamar kosnya.
Rasyid sudah siap menunggu Wulan. Kakinya dia selonjorkan di lantai. Posisi adiknya juga dia buat nyaman, agar kalau adiknya semakin meregang, tidak tertekan.
"Duduk sini." Rasyid menunjuk ke pangkuannya. Dengan malu-malu, Wulan duduk di pangkuan Rasyid.
Posisi mereka saling berhadapan. Tak ada jarak lagi diantara mereka. Rasyid yang sudah tak bisa lagi menahan geliat adiknya, langsung mengeksekusi Wulan.
Wulan pun pasrah tanpa penolakan sedikitpun. Bahkan memberikan akses bagi Rasyid untuk mengeksplor bagian atas tubuhnya.
Namun saat tangan Rasyid hendak meraih bagian bawah Wulan, Wulan langsung menahannya.
"Kenapa?" tanya Rasyid dengan suara bergetar.
"Aku lagi dapet, Bang," jawab Wulan pelan.
Rasyid terperanjat, dan spontan menurunkan Wulan dari pangkuannya dengan kasar.
"Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" tanya Rasyid dengan kesal. Dan tanpa diberi aba-aba, adik Rasyid kembali tertidur.
"Aku pikir, Abang....enggak mau begituan. Tadi Abang kan mintanya mimik aja," jawab Wulan.
Rasyid tak mau mendengar alasan Wulan. Dia langsung mengenakan kaosnya dan merapikan penampilannya.
__ADS_1
Dan tanpa permisi Rasyid keluar dari kamar kos Wulan. Dia benar-benar kesal, karena gagal lagi mencarikan sarang yang empuk buat adiknya.