KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS

KARMA : Sang Pemburu Wanita Di MEDSOS
Bab 73 PENOLAKAN BENI


__ADS_3

"Ben..." ucap Laras setelah melepaskan pagutannya.


Mata Beni terasa nanar, dia serasa melayang tak meniginjak bumi. Laras masih dalam dekapannya.


"Iya...." sahut Beni dengan suara serak. Lalu dia mengelap bibir Laras yang belepotan dengan jarinya. Juga bibirnya sendiri.


Laras kembali melahap bibir Beni. Laras benar-benar melampiaskan kekesalannya dengan mencumbui Beni. Dia tak berfikir bahwa yang dilakukannya akan membuat berantakan perasaan Beni kalau dia menjauh lagi.


Kali ini Beni tak hanya diam. Dia mulai membalas cumbuan Laras meski tak seberingas Tomi.


Bahkan tangan Beni mulai meraba benda kenyal milik Laras, meski hanya dari luar pakaian Laras.


Laras menuntun tangan Beni untuk masuk ke dalam blouse-nya. Dengan gemetaran Beni menyentuhnya.


Lalu tangan Beni menggenggam dan meremasnya dengan lembut.


Naluri kelelakian Beni tak bisa menahan lagi tangannya yang hanya meremas. Perlahan jemarinya menelusup dan menyentuh salah satu puncak gunung Laras. Dan memainkannya.


Laras melenguh, lalu melepaskan pegutannya. Dia tatap wajah Beni. Wajah yang selalu memandangnya dengan penuh cinta, tapi selalu diabaikannya.


"Kamu menginginkannya, Ben?" tanya Laras.


"Menginginkan apa?" Beni malah balik bertanya. Dia tak tahu maksud pertanyaan Laras.


"Menginginkan lebih," jawab Laras. Meski dia tak yakin jika harus melakukannya di tempat terbuka seperti ini.


Walaupun sepi dan gelap, bukan tidak mungkin ada orang yang akan melihat mereka.


Beni mulai paham apa yang dimaksud Laras.


"Kamu mau?" tanya Beni sambil menyentuh bibir Laras yang terasa sangat menggodanya.


Laras mengangguk. Dia tak peduli lagi pada Tomi, yang mungkin sekarang juga sedang bercinta dengan wanita cantik yang tadi dirangkulnya.


Laras membuka kancing blousenya sedikit. Lalu tangannya juga membuka pengait bra-nya. Dan tersembulah dua gunung miliknya yang masih begitu ranum.


Namun itu bukan gunung yang masih perawan. Tapi sudah terjamah oleh Tomi.


Beni menatapnya dalam keremangan. Terasa sangat menggoda. Mata Beni sampai tak berkedip.


Ingin rasanya langsung melahapnya. Tapi Beni masih ragu. Benarkah ini Laras yang kemarin-kemarin selalu bersikap angkuh padanya.


"Ras...."


"Lakukanlah, Ben," ucap Laras pasrah. Saat ini justru dia yang sangat menginginkannya.


"Tidak, Ras." Beni menutup blouse Laras dengan tangan bergetar hebat. Dia sedang melawan perasaannya sendiri. Rasa ingin menjamah dan rasa takut kalau kebablasan.


"Kenapa, Ben?" tanya Laras dengan kecewa.


"Aku takut," jawab Beni.

__ADS_1


"Apa yang kamu takutkan?" Laras menatap Beni dengan lekat.


"Takut melampaui batas, Ras." Beni masih memegangi blouse Laras.


"Tapi aku menginginkannya, Ben," pinta Laras dengan mata sangat menginginkan.


"Kamu tidak takut kalau kebablasan?" tanya Beni.


Laras menggeleng. Karena dia sudah sering melakukannya dengan Tomi. Dan Tomi tak pernah menyia-nyiakan kesempatan, langsung melahap tanpa ragu.


Beni mengecup kening Laras dengan lembut dan lama. Hingga Laras merasakan betapa dalam perasaan Beni padanya.


Beni begitu sangat menghargainya. Tidak seperti Tomi yang sudah sangat berani, bahkan sejak saat mereka pertama kali bertemu.


"Ras....Apa kabarnya Tomi?" tanya Beni.


"Kenapa kamu tanyakan dia? Dia mungkin sekarang sedang bercinta dengan wanita itu," jawab Laras dengan hati perih.


"Maksud kamu? Wanita yang mana?" tanya Beni tak mengerti.


"Tadi saat kita beli makanan di depan bioskop, aku melihatnya berangkulan mesra dengan wanita cantik yang usianya jauh lebih tua." Laras mulai terisak mengingat betapa mesranya Tomi pada wanita itu.


"Kamu melihatnya?" tanya Beni.


Laras mengangguk. Air matanya mulai tak bisa dibendungnya.


Sebenarnya Beni juga melihat sepintas. Tapi Beni keburu dipanggil pemilik gerai makanan untuk membayar belanjaannya. Dan saat Beni selesai membayar dan menoleh lagi, Tomi sudah tak terlihat.


"Menangislah, Ras. Kalau memang itu bisa mengurangi rasa sakitmu," ucap Beni. Dia paham sekarang. Laras menginginkannya karena kesal pada Tomi. Dan dirinya hanya sebagai pelampiasan saja.


Sebenarnya Beni tak mau menyia-nyiakan kesempatan bisa bermesraan dengan Laras. Tapi dia tak mengira kalau Laras ingin dia melakukan jauh di luar batas.


Yang ada di pikiran Beni, hanya sekedar berciuman saja. Dan sedikit sentuhan. Bukan melahap semua milik Laras.


Dia sangat menghargai Laras sebagai wanita. Dan dia mau melakukannya nanti, kalau Laras memang sudah sah sebagai istrinya.


Dan bukan di tempat terbuka juga seperti ini. Beni tak bisa membayangkan kalau mereka melepaskan semua pakaiannya di tempat seperti ini.


Selain terbuka, pasir bisa saja masuk ke dalam milik Laras.


Ah, Beni menepis pikiran kotornya. Karena sejenak, Beni membayangkan bentuk **** ********** Laras seperti yang pernah dilihatnya di video kiriman teman-temannya.


Laras melepaskan pelukan Beni setelah puas menangis. Lalu menghapus air matanya. Beni membantunya juga.


"Udah puas nangisnya?" tanya Beni.


Laras mengangguk. Beni merapikan rambut Laras yang berantakan tertiup angin pantai.


"Aku enggak bawa jaket. Kamu pasti kedinginan kan?" tanya Beni.


Laras kembali mengangguk. Tapi baginya mendingan di sini kedinginan bersama Beni, daripada kepanasan saat melihat Tomi bersama wanita lain.

__ADS_1


"Ben..."


"Iya. Kenapa?" sahut Beni.


"Kamu tidak mau menciumku lagi?" tanya Laras tanpa malu-malu.


"Tadi kan udah," jawab Beni. Dia heran dengan Laras, ternyata orangnya sangat agresif. Dia pikir Laras dingin. Ternyata tanpa malu meminta untuk dicumbui.


Beni jadi berfikir, apa Laras dan Tomi telah melakukannya? Karena dia lihat tadi Tomi merangkul wanita lain dengan sangat mesra. Dan wanita itu pun seperti tak memberi jarak pada Tomi.


"Aku mau lagi, boleh?" pinta Laras.


"Udah malam, Ras. Kita pulang yuk," ajak Beni.


Laras menggeleng.


"Kenapa?" tanya Beni tak mengerti.


"Aku enggak akan pulang kalau kamu belum menciumku." Laras merajuk.


Beni tertawa. Lalu tangannya menekan hidung mancung Laras.


"Nakal."


"Biarin," sahut Laras manja.


Beni pun mencium sekilas bibir Laras.


Cup.


"Udah, ayo." Beni bersiap berdiri. Tapi tangan Laras menahannya.


"Apa lagi?" tanya Beni sambil menatap Laras.


Laras langsung meraih lagi tengkuk Beni dan melahap bibir Beni dengan rakus.


Beni ingin melepaskan dan menjauhkan bibirnya. Tapi sesapan dan ******* Laras membuatnya tetap bertahan.


Bahkan Beni sekarang yang memimpin perang lidah. Beni membelit dan mengeksplor seisi mulut Laras, hingga mereka kehabisan nafas dan saling melepaskan.


Beni menatap Laras penuh cinta. Tangannya kembali menutup blouse Laras yang masih belum dikancing.


"Kancingkan dulu bajumu, Ras. Nanti masuk angin," ucap Beni seperti tak berminat melihat isinya.


Laras merasa kecewa karena penolakan Beni. Tapi juga salut, karena Beni tak mau begitu saja memanfaatkan keadaan.


"Kamu tak ingin menciumnya sebentar?" Laras mencoba menawarkan.


Beni menggeleng.


"Enggak, Ras. Seandainya inginpun, tidak di sini tempatnya. Aku tak mau diintip orang. Sayang kamunya. Milikmu dijadikan bahan tontonan orang lain," sahut Beni.

__ADS_1


Laras mengangguk mengerti, dan segera merapikan pakaiannya.


__ADS_2