
Keesokan paginya, Alya menyiapkan makan pagi. Kali ini dia memasak sendiri.
Kalau hari biasanya Alya seringnya beli makanan mateng aja. Karena hanya untuk makan dirinya sendiri. Kecuali makanan buat Aldo, Alya selalu memasak sendiri.
"Masak apa, Sayang?" Bowo yang baru saja bangun, sudah menghampiri Alya di dapur dan mendekap erat pinggang Alya.
"Aku kepingin bikin nasi uduk sendiri, Pa. Mumpung ada Papa, ada yang bantuin ngabisin," jawab Alya.
"Bisa aja, kamu. Memangnya aku tukang ngabis-abisin makanan?" sahut Bowo sambil mengecupi leher Alya.
"Jangan begini, Pa. Aku kan lagi masak. Nanti gosong masakanku," ucap Alya.
"Kenapa? Jadi enggak konsentrasi, ya?" tanya Bowo.
"Nah, itu tau. Papa ke kamar mandi dulu sana!"
"Iya, deh. Papa juga kebelet pipis," sahut Bowo.
"Sekalian mandi aja, Pa!" seru Alya.
"Siap, Tuan Putri!" seru Bowo yang sudah sampai ke depan kamar mandi.
Alya kembali meneruskan masakannya. Dia kembali berpikir, bagaimana caranya bisa membesuk Laras di rumah sakit?
Alya juga kepingin tahu, Laras sakit apa sampai diopname. Karena setahu Alya, anak-anaknya semua sehat meski gizi mereka sejak kecil tidak baik.
Penyakit sepertinya enggan masuk ke tubuh anak-anaknya. Karena tahu bakal dicuekin.
Jangankan untuk berobat, untuk makan sehari-hari aja, senen kamis.
Yang bikin Alya bingung, karena menurut Rasyid tadi malam, hari ini Laras pulang ke rumah. Kalau sudah sampai di rumah, Alya malah jadi tak bisa membesuknya.
Apalagi setelah kejadian tadi malam. Bowo pasti akan melarangnya.
Andai saja Laras masih di rumah sakit sampai besok pagi, Alya tak sebingung ini. Karena Bowo biasanya siang atau sore nanti sudah pergi lagi.
Aldo belum juga bangun. Lelap sekali tidurnya anak itu. Apalagi semalam, setelah berolah raga malam, Bowo memindahkan Aldo ke kamar mereka. Alasannya Bowo ingin tidur bertiga.
Setelah Bowo rapi dan kembali ke dapur, Alya pun sudah menyiapkan makan pagi mereka.
"Wah, udah siap nih, Ma. Papa boleh makan sekarang enggak? Laper banget nih," tanya Bowo.
"Boleh bangetlah. Tapi tumben Papa sarapannya pagi-pagi?" Karena biasanya Bowo akan meminta kopi dulu dan makanan kecil. Makannya agak siangan.
"Tenaga Papa habis, Ma. Semalam Mama luar biasa!" Bowo mengacungkan jempolnya.
"Ah, Papa....bisa aja." Alya tersipu malu.
__ADS_1
Alya jadi ingat waktu masih hidup dengan Rasyid. Mereka hampir tak pernah bisa bebas melakukan hubungan suami istri.
Karena rumah kontrakan mereka yang kecil. Hanya ada satu kamar yang dipakai bareng anak-anak.
Kalau mau berhubungan badan, harus kucing-kucingan sama mereka.
"Pa. Pagi ini Papa mau enggak nganterin Mama ke rumah sakit?" tanya Alya.
"Ke rumah sakit? Mau ngapain?" Bowo mengernyitkan dahinya.
Alya diam sejenak. Dia mengumpulkan lagi keberaniannya.
Alya menyuap makanannya dulu. Berharap setelahnya punya kekuatan untuk bicara pada Bowo.
Bowo pun meneruskan makannya.
"Tapi Papa janji jangan marah, ya?" pinta Alya.
"Kapan Papa marah sama Mama? Lagi pula, Papa belum tahu masalahnya juga. Ada apa?" tanya Bowo.
"Ini soal anak kandungku, Pa." Alya menghela nafasnya dulu.
Bowo menyimak dulu apa yang akan disampaikan Alya.
"Maaf, Pa. Semalam, sebelum peristiwa itu, Ayu mengatakan kalau Laras, dirawat di rumah sakit." Alya kembali menghela nafasnya.
"Dan ayahnya anak-anak, bilang hari ini Laras sudah bisa pulang. Aku ingin membesuknya, sebelum Laras pulang ke rumah mereka." Alya menatap Bowo yang masih asik makan.
Alya tak tahu kalau Bowo sedang berpikir, apa yang harus dilakukannya sekarang?
Kalau dia ikut menjenguk Laras, bakal ketahuan kalau dia punya hubungan dengan Cyntia. Karena Cyntia mengenalkannya sebagai suami.
Belum lagi kalau ketemu Tomi. Bakal terbongkar semuanya.
Tapi kalau mencegah keinginan Alya, rasanya tidak manusiawi. Melarang seorang ibu yang ingin menjenguk anak kandungnya yang lagi sakit.
Dan dia pun tak punya alasan untuk melarangnya, kecuali masalah semalam. Dan kalau itu dijadikan alasan, sangat tidak bijaksana sekali.
"Gimana, Pa?" tanya Alya.
Bowo mengangkat wajahnya, yang dari tadi pura-pura sibuk menatap piring makanannya.
"Memangnya anak kamu sakit apa?" tanya Bowo, pura-pura tidak tahu.
"Aku belum tau, Pa. Ayahnya bilang cuma sakit biasa aja. Tapi setahuku, anak-anakku tak punya penyakit yang membuat mereka harus opname. Meskipun dulu, kami hidup kekurangan," jawab Alya apa adanya. Tanpa bermaksud mengungkit masa lalunya sendiri.
"Hhmm." Hanya itu yang bisa Bowo lakukan. Dia galau.
__ADS_1
Alya menatap wajah Bowo yang terlihat acuh.
"Tapi kalau Papa keberatan, aku juga enggak akan maksa. Karena satu langkahpun seorang istri keluar dari rumah, harus seijin suaminya," ucap Alya dengan sedih.
Alya sedih kalau tak bisa menjenguk Laras. Inilah kesempatannya ketemu dengan Laras, setelah kepergiannya tiga tahun yang lalu.
Bowo pun menghela nafasnya. Lalu memejamkan matanya sejenak. Karena ini seperti pertaruhan nasib pernikahannya dengan Alya.
"Gimana, Pa?" Alya berusaha terus memaksa ijin dari suaminya. Meski tetap dengan cara halus.
"Oke. Papa ijinkan kamu ke sana. Tapi sebentar aja. Dan jangan bawa Aldo. Suasana rumah sakit tak baik untuk anak-anak," jawab Bowo.
Alya menatap Bowo dengan senyum bahagia. Meski sebenarnya Alya ingin mengajak Bowo dan Aldo. Biar Laras mengenal mereka.
Terutama Aldo. Bagaimana pun, Aldo adalah adik Laras juga.
"Terima kasih, Pa. Mama janji, cuma sebentar. Papa bisa jagain Aldo sendirian?" tanya Alya.
Alya berharap Bowo berpikir lagi soal Aldo yang harus ditinggal. Karena pasti akan sangat repot. Bowo jarang, bahkan hampir tak pernah ditinggal berdua saja dengan Aldo.
"Bisa lah, Ma. Tinggal diajak main sama kasih makanan yang banyak, Aldo pasti senang. Tapi, Mama jangan lama-lama juga," jawab Bowo.
"Ya udah, Pa. Mama berangkat nanti kalau Aldo sudah bangun. Aldo biar mandi dulu. Sarapan juga biar enggak rewel."
Baru saja Alya berhenti ngomong, Aldo sudah bangun.
Alya meninggalkan makanannya yang tinggal sedikit, dan berlari menghampiri Aldo.
Alya selalu khawatir Aldo jatuh dari tempat tidur, karena berusaha turun sendiri.
Bowo benar-benar tak bisa melarang Alya. Toh, kenyataannya Alya juga jujur padanya. Tidak pergi diam-diam.
Alya segera memandikan Aldo.
"Ma. Makanmu enggak dihabiskan dulu?" tanya Bowo. Dia lihat, makanan Alya masih separuh.
"Nanti lagi aja, Pa. Sekalian nyuapin Aldo. Hemat waktu," ucap Alya. Dia tak mau kalau Bowo tiba-tiba berubah pikiran.
Bowo kembali hanya pasrah. Alya selalu bisa menyelesaikan masalah rumah tangga. Mungkin karena dia sudah sangat berpengalaman mengurus anak.
Selesai memandikan dan menyuapi Aldo, Alya pun pamit pada Bowo.
"Mama pergi dulu sebentar ya, Pa," pamit Alya.
"Janji cuma sebentar aja ya, Ma?"
Alya mengangguk. Tapi dia merasa ada kekhawatiran dari diri Bowo. Kekhawatiran yang tak seperti biasanya.
__ADS_1
Ya, Bowo khawatir dengan nasib pernikahannya setelah ini. Kalau Alya sampai tau tentang Cyntia.
Ini adalah pertaruhannya.