
Rasyid sendiri dalam hati merutuk. Dipikirnya akan mendapatkan uang yang pernah di janjikan Lili setelah memuaskannya.
Rasyid terpaksa pulang dengan hanya membawa beberapa bungkus lauk dan nasi.
Uang pun hanya sepuluh ribu perak yang dia lihat di dekat dapur.
Dia orang kaya tapi kok kere. Rumahnya aja yang mentereng. Rutuk Rasyid sepanjang jalan, hingga sampai di rumahnya.
"Niken! Ayu! Ini Ayah bawa makan!" seru Rasyid begitu turun dari motor.
Niken langsung berlari keluar menyambut makanan yang dibawa Rasyid.
"Makanan apa, Yah?" tanya Niken bersemangat.
"Nih. Ajak Ayu makan." Rasyid memberikan kantong kresek pada Niken.
"Ayu tidur, Yah," sahut Niken. Harapannya dia bisa menghabiskan sendiri semua.
"Ya dibangunin. Kamu gimana sih?" Rasyid bergegas ke kamar mandi. Dia akan mandi setelah tadi bertempur dengan Lili.
"Ayu! Bangun! Mau makan enggak?" Niken membangunkan Ayu dengan kasar.
Ayu menggeliat. Di alam mimpi, Ayu juga sedang bermimpi makan di restauran dengan menu-menu lezat.
"Ayo bangun! Kalau enggak, aku habiskan semuanya lho!" ancam Niken.
Ayu membuka matanya, lalu langsung bangun.
"Mana?" tanya Ayu.
Niken tak mempedulikan pertanyaan Ayu. Dia keluar dan membuka bawaan Rasyid.
"Wauwh! Enak sekali!" Niken mencicipinya sedikit. Lalu mengambil beberapa piring dan sendok.
Ayu sudah duduk manis di lantai menghadap makanan. Niken menaruh piringnya. Dia membangunkan Laras yang masih anteng tidur.
"Kak Laras! Mau makan enggak?" teriak Niken di depan pintu kamarnya.
"Apaan sih? Berisik banget!" sahut Laras.
"Makan! Mau enggak?" seru Niken.
Rasyid keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk. Entah handuk siapa yang tersampir di paku kamar mandi.
"Bisa enggak sih kamu, enggak teriak-teriak begitu?" bentak Rasyid pada Niken. Niken menunduk.
"Tau tuh, Niken. Berisik aja!" sahut Laras.
"Kamu juga! Dari mana saja kamu, hah?" bentak Rasyid pada Laras.
"Laras kan pergi sama Tomi, Yah," jawab Laras.
"Terus kalau kamu pergi sama Tomi, bisa seenaknya aja pulangnya?"
Laras menunduk. Tak berani lagi menjawab.
"Dari mana kamu?" bentak Rasyid lagi.
"Dari....dari rumah bosnya Tomi, Yah," jawab Laras bohong.
"Ngapain pakai nginep? Memangnya Tomi enggak bisa nganterin pulang?"
__ADS_1
"Mobil Tomi ditinggal di kantor, Yah," jawab Laras masih menunduk.
"Memangnya enggak ada taksi online? Ojek online? Alasan aja kamu! Kapan orang tuanya Tomi ke sini?"
Laras kebingungan menjawabnya. Sebab Tomi enggak kasih kepastian.
"Nanti Laras tanya lagi sama Tomi," jawab Laras.
"Nanti! Nanti! Bilang sama Tomi, jangan banyak alasan!" bentak Rasyid.
"Iya, Yah." Laras hanya bisa menunduk.
"Sudah, sana makan! Selesai makan, telpon Tomi! Ayah mau bicara!"
Laras mengangguk. Lalu keluar dari kamarnya.
Niken sedang membagi-bagikan makanan yang dibawa Rasyid menjadi empat bagian.
Dan kebiasaannya, dia selalu mengambil paling banyak.
"Curang kamu!" bentak Laras.
"Biarin! Kan Ayah ngasihnya ke aku! Weekk!" Niken menjulurkan lidahnya.
"Heh! Kalian ini, kebiasaan. Enggak usah rebutan!" teriak Rasyid dari kamar.
"Ini Yah, Niken curang!" sahut Laras.
Niken yang takut kena tempeleng Rasyid, mengurangi jatah makannya dan di bagikan lagi.
"Bisanya cuma ngadu," ucap Niken pelan.
"Biarin." Laras juga menjulurkan lidahnya.
Rasyid yang sudah berpakaian, keluar dari kamar. Otomatis Laras dan Niken diam.
Lalu Rasyid ikut bergabung makan. Karena dilihatnya masih ada satu piring makanan yang masih utuh.
"Yah. Tadi Ayu mimpi makan di restauran. Makanannya enak-enak banget. Eh, pas bangun, ada makanan enak," cerita Ayu dengan jujur.
"Iya, Sayang. Ayah akan mewujudkan semua mimpi kamu. Doakan Ayah selalu banyak rejeki, ya," ucap Rasyid, lalu menyuap makanannya sendiri.
Ayu hanya mengangguk, karena dia juga masih sibuk menyuap makanannya sendiri.
Seperti biasa, Niken sudah selesai terlebih dahulu. Dia akan bersikap seolah jatah makannya paling sedikit dan masih lapar.
Laras malah menggodanya dengan pura-pura mau menyuapkan makanan ke mulut Niken.
"Aakk...!" Niken membuka mulutnya.
"Eeh, enggak jadi." Laras malah menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.
"Iih...! Nyebelin!" Niken menggerutu, lalu bangkit dan pergi begitu saja.
"Heh! Bawa piringnya. Cuci sekalian!" seru Laras.
"Ogah. Males!" sahut Niken.
"Niken....!" teriak Rasyid.
"Iya, Yah!" Tanpa berani membantah Niken kembali dan mengambil piringnya.
__ADS_1
Laras hanya bisa menahan tawanya. Kalau Rasyid tahu dia menertawai Niken, bisa-bisa malah dia juga kena marah.
"Ras, nih cuci sekalian piring Ayah!" Rasyid memberikan piring bekas makannya.
Laras tak bisa menolak. Begitu juga saat Rasyid menyuruh Laras mencucikan piringnya Ayu.
"Niken! Ayah buatkan kopi!" seru Rasyid.
"Iya, Yah." Dengan malas, Niken kembali ke dapur.
Rasyid berjalan ke ruang tamu, dan merebahkan tubuhnya di sofa buluk. Tak butuh waktu lama, Rasyid sudah mendengkur.
"Iih, malah tidur. Tadi minta kopi," gerutu Niken. Lalu meletakan kopi di atas meja.
"Kak. Pinjem hapenya dong," pinta Niken.
"Jangan! Enak aja!" Laras menyembunyikan hapenya.
"Sebentar. Pelit amat sih?"
"Pinjem hapenya Ayah, sana!"
"Ogah! Bisa dimakan nanti sama Ayah!" sahut Niken.
"Kamu pikir, Ayah macan, hah?" Rasyid membentak Niken.
Niken terkejut dan langsung terdiam. Dia pikir tadi Rasyid benar-benar tidur.
Ternyata Rasyid masuk ke kamar mandi lagi dan tak lama keluar.
"Ayah mau kemana?" tanya Ayu yang melihat Rasyid siap-siap mau pergi.
"Ayah mau cari uang. Ayu di rumah aja, ya?" pamit Rasyid sambil mengacak rambut Ayu.
Ayu mengangguk. Dia kembali sibuk dengan boneka barbie kw-nya.
Rasyid tadi ditelpon Wulan. Katanya dia kangen pada Rasyid.
Rasyid tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Meski dia pernah dikecewakan oleh Wulan.
Kalau soal wanita, apapun kondisinya, tak akan pernah disia-siakan oleh Rasyid. Apalagi ada kemungkinan dia mendapatkan uang atau kepuasan.
Untuk laki-laki single macam Rasyid, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, selain dengan swalayan dibantu sabun mandi, dia juga mencari wanita-wanita kesepian di medsos. Pastinya yang gratisan.
Rasyid langsung meluncur ke kosan Wulan. Bensin lumayan aman. Meski tadi dia hanya membeli satu liter di pom bensin.
"Hallo, Cantik," sapa Rasyid begitu Wulan membukakan pintu kamarnya.
Wulan yang sudah berpakaian seksi, langsung menarik tangan Rasyid dan mengunci pintu.
Dia langsung nyosor bibir tebal Rasyid dan menyerangnya tanpa ampun.
Rasyid pura-pura menolak.
"Kenapa?" tanya Wulan.
"Nanti kamu palang merah lagi?" Rasyid merajuk.
"Ya enggak lah, Bang. Masa palang merah terus. Sekarang sudah lampu hijau." Wulan kembali menyerang Rasyid.
Rasyid bersikap sok pasrah. Dia biarkan Wulan yang menservisnya.
__ADS_1
Rasyid baru ingat, kalau tadi dia baru saja bergulat dengan Lili. Dan sekarang akan bergulat lagi dengan wanita lain. Kayaknya aku laris sekali ya, batin Rasyid.
Laris manis tanjung kimpul. Maunya diservis modalnya dengkul.