
"Menejer?" ucap Dika.
"Dari Bu Rina Pak." ucap sekretaris nya.
"Oohhh." ucap Dika.
"Tumben-tumbenan sekali ada yang memberikan hadiah seperti ini, emang nya hari ini ada acara apa?" tanya Dika. Sekretaris nya menggeleng kan kepala nya.
"Tidak ada apa-apa sih pak, hanya saja kelihatan nya Bu Rina sudah mau jujur kalau dia menyukai Bapak." ucap Sekretaris nya.
Dika tersenyum. "Katakan padanya kalau saya sudah memiliki kekasih, sia-sia kalau dia mengejar saya." ucap Dika.
Sekertaris nya tersenyum. "Baiklah Pak." ucap sekretaris nya. "Tunggu dulu, bawa ini juga. Kalau Anisa melihat ini dia akan marah besar." ucap Dika.
"Ya ampun Bapak ternyata sangat Bucin Kalau sudah benar-benar jatuh cinta." ucap Sekkretaris nya. Dika tersenyum.
"Saling menjaga kepercayaan dan perasaan pasangan itu adalah kunci dari hubungan. Saling mengerti akan membuat hubungan jauh lebih baik." ucap Dika.
Sekertaris nya tersenyum sambil menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak menyangka kalau bapak akan secinta ini kepada Anisa." ucap Sekretaris nya.
Dika tersenyum. "Kalau boleh tau sebenarnya apa sih yang sangat istimewa dari Anisa sampai Bapak sebucin ini?" tanya sekretaris nya.
"Kamu jangan kepo." ucap Dika. sekretaris nya tersenyum.
"Baiklah kalau begitu pak, saya mengembalikan bunga ini dulu." ucap Sekretaris nya.
Tiba di ruangan menejer Rina.
"Kenapa kamu membawa bunga itu kembali ke sini? aku meminta tolong agar memberi kan nya kepada pak Dika." ucap Rina.
"Maaf Bu, Tapi pak Dika menolak nya, saya sudah bilang kan kalau pak Dika tidak mungkin menerima ini, pak Dika sudah sangat mencintai Anisa." ucap Sekretaris.
"Aku tidak mau kalah dari anak SMA itu." ucap Rina.. Sekkretaris menghela nafas panjang.
"Sebaiknya ibu memilih untuk menyerah saja deh, masih banyak pria lain, Lagian ibu juga cantik kok." ucap sekretaris.
"Kamu tau kan kalau saya ke sini karena saya menyukai pak Dika, saya menginginkan pak Dika. Saya tidak akan menyerah begitu saja." ucap Bu Rina.
__ADS_1
"Humm terserah ibu saja, yang penting ibu jangan sampai sakit hati deh." ucap sekretaris setelah itu pamit keluar.
Di penginapan Candra.
"Sayang bantuin aku mengering kan rambut ku." ucap Candra datang membawa pengering rambut.
"Kamu bisa melakukan nya sendiri, kenapa menyuruh ku?" ucap Anisa. "Biasanya kamu senang melakukan ini, kenapa kamu jadi keberatan sih?" tanya Candra.
Anisa meletakkan ponsel nya, baiklah-baiklah." ucap nya mengeringkan rambut Candra.
"Oh iya sayang aku memiliki hadiah untuk kamu." ucap Candra memberikan kotak kepada Anisa.
"Apa ini?" tanya Anisa.
"Ini adalah kotak hadiah untuk kamu, kalau penasaran buka saja." ucap Candra. Anisa penasaran ia membuka nya.
Ternyata isinya adalah sepatu Pink impian Anisa. "Aaaa bagus banget sih sayang." ucap Anisa. Candra tersenyum.
"Dan satu lagi, ini." ucap Candra memberikan kotak kecil.
Anisa melihat kotak cincin. "Kenapa kamu diam? Ambil lah." ucap Candra. Anisa mengambil nya dia membuka nya.
Anisa tersenyum. Candra mengambil tangan Anisa dan memasang kan nya. Dia memerhatikan Candra.
"Kenapa aku merasa perasaan ku sekarang campur aduk. Aku merasakan senang karena Candra sudah kembali, Candra yang aku rindukan dan yang aku sayangi sudah pulang. Namun di sisi lain aku bingung dan juga sedih." ucap Anisa dalam hati.
"Aku bingung harus mengatakan nya kepada kak Dika. Aku tidak ingin hubungan kami selesai begitu saja karena aku sangat nyaman bersama kak Dika." batin Anisa.
"Aku juga tidak ingin kehilangan Candra, aku bersama Candra sudah cukup lama. Tapi aku tidak mungkin memiliki kedua nya." batin Anisa.
"Sayang... Kenapa kamu Diam saja?" tanya Candra. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Gak apa-apa kok." ucap Anisa. Candra menghela nafas panjang.
"Sebenarnya kamu memiliki masalah apa sih? perasaan dari kemarin kamu banyak diam, apa kamu tidak senang aku pulang?" tanya Candra.
"Bukan seperti itu sayang." ucap Anisa.
__ADS_1
"Lalu kenapa? Kamu masih marah sama ku? Aku sudah minta maaf." ucap Candra. Anisa menggeleng kan kepala nya dia menatap wajah Candra.
"Enggak kok." ucap Anisa memeluk Candra. Candra membalas pelukan Anisa.
"Aku sudah sangat lapar, ayo kita mencari makanan." ucap Anisa melepaskan pelukan nya dari Candra.
Candra menganguk. Mereka keluar sama-sama untuk mencari makan siang.
Di tempat lain Dika baru saja selesai Bekerja dia mau menyusul teman-teman nya yang menunggu nya untuk Makan siang bersama.
Tidak beberapa lama akhirnya dia sampai di tempat perjanjian yang sudah di sebut Teman nya.
"Humm akhirnya pak guru datang juga." ucap teman nya. Dika tersenyum.
"Kalau orang tua mu tau kamu menjadi Guru, mereka pasti akan sangat marah." ucap Teman nya lagi.
"Itu sebabnya kalian harus menutup mulut rapat-rapat." ucap Dika. Semua teman-teman nya tertawa.
"Tumben-tumbenan sekali kalian mengajak makan siang bersama seperti ini?" tanya Dika. "Loh kamu gak tau kalau Candra sudah kembali dari luar negeri, rencana nya mau merayakan kepulangan nya eh ternyata dia malah keluar makan siang bersama pacar nya." ucap teman Dika lagi.
"Candra sudah pulang? Sejak kapan? Dan makan siang dengan pacar nya?" ucap Dika.
"Sejak kemarin Dika, masa kamu lupa Siapa pacar nya? Yah Anisa lah, si cantik dan si imut itu." ucap teman nya.
"Maka nya jangan kerja Mulu. Seperti nya kamu kurang Sibuk maka nya menjadi guru." ucap teman nya yang lain.
Seketika Dika terdiam. Dia melihat pesan nya yang dua jam lalu belum di balas oleh Anisa.
"Kalau Anisa tau Candra pulang kenapa dia tidak ngomong? Dan sekarang Anisa bersama Dika, kenapa tidak berbicara kepada ku." batin Dika.
"Halo bro, loe lagi di mana?" tanya Teman nya menelpon Dika tepat di samping Dika.
"Gua lagi Makan siang sama Anisa. Sorry yah semua nya, gua gak bisa ikut gabung, nanti malam saja yah." ucap Candra.
Setelah mendengar suara Anisa Dika langsung Percaya. Karena awalnya dia tidak percaya.
Dika langsung pergi dari sana, tidak ada yang menyadari kepergian nya. Dika duduk sendirian di dalam mobil nya. Dia mengirim kan pesan kepada Anisa namun tidak ada balasan, menelpon nya namun tidak ada yang menjawab.
__ADS_1
"Kenapa aku baru mengingat kalau Candra dengan Anisa belum putus sekarang? sekarang aku takut, aku sangat takut.. Tapi kenapa aku kecewa kepada Anisa tidak jujur sama sekali kepada ku?" ucap Dika.
"Aaargggh!!! Apa yang harus aku lakukan? Aku harus bersikap seperti apa? Aku sangat takut Anisa meninggalkan aku." ucap Dika.