Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 37


__ADS_3

Anisa kaget namun melihat wajah Dika tidur membuat Anisa terkesima.


"Saat Pak Dika tidur kenapa ketampanan nya semakin bertambah Sih?" ucap Anisa dalam hati.. Tiba-tiba handphone yang ada di atas Meja berdering.


"Itu handphone siapa? Perasaan aku sudah membanting handphone ku." batin Anisa. Dia melihat dan ternyata handphone Dika telpon dari orang tua nya.


"Apa aku membangun kan nya saja? kelihatan nya dia sangat nyenyak, aku tidak enak kalau mengganggu nya." ucap Anisa dalam hati.


Dia mematikan handphone Dika dan duduk. Anisa menatap wajah Dika.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Dika.


Seketika Anisa Langsung berbalik dia berdiri.


"Siapa yang melihat bapak? Aku tidak melihat Bapak." ucap Anisa dengan gugup.


Dika tersenyum. Dika Memeriksa handphone nya langsung.


"Sudah jelas kamu tau kalau orang tua yang menelpon, kenapa kamu mematikan nya?" tanya Dika.


"Maksud Ku bukan bermaksud aneh-aneh, hanya saja..."


"Kamu tidak boleh menyamakan orang tua kamu dengan orang tua saya. Lain Kali jangan melakukan ini, kalau kamu tidak mau berisik kamu bisa membangunkan saya." ucap Dika dengan nada yang sangat serius.


Anisa langsung terdiam ketika Dika membawa-bawa orang tua nya.


Dika menelpon orang tua nya lagi, mereka berbicara cukup serius. Tidak beberapa lama telepon siap.


"Orang tua saya memberi tau kalau saudara saya sakit." ucap Dika. Namun Anisa hanya menunduk kan kepala nya.


"Kamu tidak mendengar saya?" tanya Dika..


"Hiks.. Hiks.." Suara isakan Tania yang tiba-tiba terdengar oleh Dika.


"Kamu di nasehati malah menangis. Saya hanya ingin kamu belajar sopan santun tidak bermaksud lain." ucap Dika masih meninggikan nada Suara nya.


"Kamu pikir semua masalah selesai kalau menangis? kamu harus mendengarkan kan nasehat orang lain dan juga ambil jadi pelajaran." ucap Dika.


"Aku tidak membangun kan bapak karena aku takut bapak terganggu, bapak kelihatan sangat lelah dan nyenyak, Ku hanya mematikan suara nya bukan menolak. Apa aku salah?" ucap anisa menatap Dika.


Dika langsung terdiam melihat Anisa menjelaskan nya sambil menangis.


"Orang tua kita memang tidak sama, hanya saja bapak tidak perlu membawa-bawa orang tua ku, aku sangat menyesal curhat sama bapak." ucap Anisa langsung pergi.


Namun tiba-tiba di kejar oleh Dika.


"Saya minta maaf, saya salah sudah berbicara seperti itu." ucap Dika. Anisa menangis. Dika memeluk Anisa.

__ADS_1


"Saya minta maaf.." ucap Dika memeluk Anisa dengan cukup erat sekali..


"Aku mau sendiri, bapak sebaik nya pergi." ucap Anisa, Dika menggeleng kan kepala nya, saya akan menginap di sini, memastikan kamu baik-baik saja." ucap Dika.


Anisa menolak. Namun Dika tetap saja mau menginap di sana.


"Sekarang kamu istirahat, saya akan tidur di ruang tamu." ucap Dika.


Anisa Menghela nafas panjang dan langsung meninggalkan Dika.


Dika melihat Anisa pergi ke kamar nya di lantai atas.


Di kamar Anisa membanting pintu dan juga langsung membaringkan tubuhnya di kasur sambil menangis.


"Kenapa aku tidak bisa melupakan tentang semua ini..." ucap Anisa berteriak. Dia melihat foto nikah dan foto keluarga mereka di saat dia masih SD.


"Ini semua palsu, Keluarga palsu aku tidak memiliki keluarga lagi." ucap Anisa membanting semua foto yang ada di atas meja.


"Kenapa orang tua ku begitu jahat kepada ku? kenapa aku di lahir kan kalau mau seperti ini." ucap Anisa. Dia tidak berhenti menangis karena yang dia rasakan sangat perih sekali.


Keesokan harinya..


Dika bangun lebih pagi. Dia sudah meminta Bibik nya untuk mengirimkan pakaian nya ke rumah Anisa.


Setelah dia selesai dia menunggu Anisa namun tak kunjung turun..


"Seperti nya dia belum bangun, mau tidak mau aku harus membangun kan dia." ucap Dika.


Dika berjalan ke lantai atas, ada tiga kamar dia bingung kamar Anisa yang mana.


Namun melihat surat tangan di depan pintu dia langsung tau itu adalah kamar Anisa, dia mengetuk pintu.


"Anisa apa kamu sudah bangun?" tanya Dika.


"Tok!! Tok!! Tok!!" ketukan pintu.


Namun sudah beberapa kali memanggil tetap saja pintu Tidak ada yang membuka nya.


Dika memutuskan untuk masuk saja. Setelah membuka pintu Dika kaget melihat Anisa sudah tergeletak di lantai berlumuran darah dari pergelangan tangan nya.


"Anisa...."'Dika segera menghubungi ambulans membawa nya ke rumah sakit. Menjelang ke rumah sakit dia menelpon orang tua Anisa karena dia memiliki nomor kedua nya.


Dia menelpon Bu Lala namun tidak di jawab.


akhirnya Dika menelpon Papah nya Anisa.


"Halo ini siapa yah?" tanya wanita yang menjawab.

__ADS_1


"Oohh ini guru les nya Anisa, boleh saya berbicara dengan papah nya Anisa?" tanya Dika.


"Maaf yah pak, pak Fendi nya sedang sibuk." ucap istri Fendi.


"Tapi Bu, ini.. TUT.." panggilan langsung mati.


Dika melihat wajah Anisa.


"Ya Allah Anisa apa yang ada di pikiran kamu? kenapa ku menyiksa diri mu seperti ini?" tanya Dika.


Sesampainya di rumah sakit di langsung di tangani secepatnya.


Dika di luar sudah sangat khawatir, cemas.


"Pak Dika..." Panggil dokter.


"Iyah dok." jawab Dika.


"Pasien sangat kritis, dia kehilangan banyak darah. Kamu membutuhkan beberapa kantong darah. Namun kami tidak memiliki stok darah yang sama seperti pasien." ucap Dokter.


"Kalau boleh tau apa Darah nya Dok?" tanya Dika.


"Ab. Kebetulan lagi kosong." ucap dokter.


"Saya Ab dok, Tolong di periksa." ucap Dika. Setelah di periksa ternyata bisa dan dika juga sehat.


Dia satu ruangan dengan Anisa yang masih koma. "Semoga kamu bisa cepat sembuh, jangan membuat saya khawatir seperti ini." ucap Dika dalam hati.


Setelah selesai pendonoran darah Dika cukup lemas dan pusing, dia di berikan Obat dan setelah itu dia bisa tidur dengan sangat nyenyak Sekali.


Waktu nya dokter menangani Anisa yang semakin kritis. Tidak lama Waktu kritis Anisa ia langsung sadar.


"Saya di Mana ini?" tanya Anisa.


"Tenang dulu ya mbak, tenang, ini ada di rumah sakit, Mbak datang ke sini di bawa ambulans bersama Pria ini." ucap dokter menunjuk ke arah Dika.


Anisa kaget melihat Dika tidur tidak jauh dari dia.


"Mbak koma karena banyak nya darah Keluar dari sayatan di pergelangan tangan jadi kakak ini yang mendonorkan darah nya untuk mbak."' ucap Dokter.


Anisa melihat tangan nya.


"Kenapa tidak membiarkan aku mati saja? Kenapa Masih membiarkan aku hidup ucap Anisa. "Tenang mbak, Jangan banyak bergerak dan memikirkan hal yang membuat mbak pusing." ucap dokter.


Anisa menoleh ke arah Dika.


"Apa yang terjadi kepada nya dok?" tanya Anisa.

__ADS_1


"Beliau hanya lemas. Mbak tidak perlu khawatir karena kami sudah menyuntikkan vitamin." ucap dokter.


__ADS_2