Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 66


__ADS_3

"Pak Dika yang mana Bu?" tanya Anisa.


"Pak Dika yang saya kenal hanya satu. Pak Dika yang mengajar di sekolah Anisa." ucap ibu Yayasan.


"Gak mungkin Bu dia memiliki mobil seperti ini, mungkin pak Dika yang lain." ucap Anisa. Ibu yayasan tersenyum.


"Kenapa kamu tidak percaya, kalau begitu ayo lihat masuk ke dalam." ucap Ibu yayasan.


"Seperti nya itu tidak mungkin." batin Anisa yang sama sekali tidak percaya kalau itu adalah mobil nya pak Dika.


Dia melihat Dika yang sedang mengajari anak-anak.


"Selamat pagi semua nya.. Lihat nih Siapa yang datang." ucap ibu Yayasan.


Dika yang tadi fokus mengajari anak-anak melihat ke arah ibu yayasan. Dia kaget melihat Anisa ada di sana.


"Tante Anisa." ucap anak-anak Langsung menarik tangan Anisa masuk ke dalam.


"Tante ayo ikut belajar bersama kami." ucap anak-anak. Anisa melirik ke arah Dika dan fokus pada anak-anak.


mereka tidak mengatakan apapun.


Tidak beberapa lama pelajaran sudah selesai.


"Dari tadi Tante Tidak melihat Boni, apa dia masih sakit?" tanya Anisa.


"Kamu tau dari mana Boni sakit?" tanya Dika. Anisa melihat ke arah Dika yang tidak jauh dari dia.


"Dua hari yang lalu kan Tante Anisa ke sini." ucap anak-anak. Dika terdiam sejenak.


"Kalau begitu Tante melihat Boni dulu yah." ucap Anisa.


Anisa keluar dari kelas itu..Dika langsung mengikuti nya ke kamar Boni.


"Boni...." panggil Anisa.


"Tante Anisa." ucap Boni langsung memeluk Anisa.


Dika masuk.


"Loh pak Dika juga datang? Horeee..." ucap Boni sangat senang.


Karena tadi Dika belum sempat menjenguk Boni, jadi Boni tau nya Anisa datang bersama Dika.


"Kok kamu belum sehat sih? Kamu sudah janji mau sehat kalau Tante datang." ucap Anisa.


"Aku sudah sehat kok." ucap Boni.. Dika melihat Boni sangat senang dan bersemangat membuat nya tersenyum.

__ADS_1


"Kata nya mau beli sepatu baru. Ayo ikut." ucap Anisa.


"Tapi..."


"Gak apa-apa.. Nanti Bapak yang ijin sama ibu yayasan." ucap Dika.


"Hore..." Boni sangat senang sekali.


Anisa membawa Boni keluar.


"Mana kunci mobil kamu?" tanya Dika setelah sudah di parkiran.


"Bapak mau ngapain?" ucap Anisa. "Saya akan mengantarkan kalian, saya tidak ingin terjadi sesuatu kepada Boni." ucap Dika.


"Bukan nya mobil bapak ada?" ucap Anisa. Dika melihat ke arah mobil nya.


"Bagaimana bisa kamu tau?" tanya Dika.


"Berarti itu benar milik bapak? Dan pakaian mahal ini bapak beli sendiri?" ucap Anisa.


Dika terdiam sejenak.


"Bapak sengaja membohongi aku berpura-pura miskin kan? Bapak mau menguji aku kan?" ucap Anisa Kesal.


Dika menoleh ke arah Boni yang kebingungan.


"Kita bahas ini nanti saja, Boni tidak boleh lama-lama di luar. Ayo masuk ke dalam.". ucap Dika setelah mengambil kunci mobil dari tangan Anisa.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai di toko sepatu.


Anisa memilih kan sepatu untuk Boni.


Setelah sudah dapat Anisa membayar nya.


Dika yang melihat Anisa memperlakukan Boni sangat baik membuat nya Senang.


"Bagaimana kamu suka?" tanya Dika setelah Boni mendekati ruang tunggu.


"Sangat suka sekali pak." ucap Boni..Dika tersenyum.


"Ngomong apa sama Tante Anisa?" ucap Dika.


"Makasih yah Tante cantik." ucap Boni.


"Humm kamu bisa saja deh. Sama-sama." ucap Anisa mencubit pipi Boni.


"Kamu mau mencari yang lain lagi?" ucap Dika kepada Anisa. Anisa menggeleng kan kepala nya..Dika hanya menghela nafas panjang melihat sifat Anisa yang terlihat marah kepada dia.

__ADS_1


Mereka sebelum pulang Makan terlebih dahulu dan membeli banyak makanan.. Tidak lupa juga Dika membawa Boni ke toko baju, membeli kan yang lain.


"Aku senang deh bisa memiliki sepatu baru, baju baru dan banyak jajanan. Terimakasih yah Pak Dika dan juga Tante Anisa." ucap Boni.


Anisa tersenyum.


"Ya Allah kenapa aku sangat Sedih melihat senyuman Boni? Kenapa begitu tega orang tua nya meninggal kan Boni di panti asuhan." ucap Anisa dalam hati.


Tidak beberapa lama akhirnya mereka pulang. Sampai di panti asuhan Anisa langsung meninggalkan Dika yang berbicara dengan ibu-ibu pengurus yayasan.


Dik setelah berbicara dengan ibu yayasan dia mencari Anisa. Melihat di kamar Boni tidak ada. Dia melewati kelas anak perempuan dan ternyata Anisa sedang mendengarkan anak-anak bercerita di teras .


Dika datang. Anak-anak di berikan kode dan pergi. Anisa melihat mereka pergi membuat nya bingung.


"Loh kok pada pergi Sih?" ucap Anisa. Dia melihat Dika. Anisa menghela nafas panjang. Dia juga mau pergi namun di tahan oleh Dika.


"Kamu duduk dulu. Saya mau berbicara dengan kamu." ucap Dika. Anisa tetap mau pergi namun di tahan oleh Dika.


"Mau sampai kapan kita diam-diaman seperti ini?" ucap Dika.


"Bapak yang mendiam kan saya! Bapak sudah memiliki pasangan lain itu sebab nya Bapak mengabaikan bahkan tidak pernah berbicara dengan ku." ucap Anisa.


Dika terdiam.


"Dan maksud semua nya ini apa? Bapak orang kaya kan? Aku sudah tau sebenarnya bapak pengusaha kan?" ucap Anisa setelah bertanya kepada ibu yayasan yang tau pekerjaan Dika.


"Saya mengakuinya kalau saya pengusaha. Tapi saya melakukan itu semua bukan bermaksud untuk membohongi kamu, saya tidak bermaksud untuk menguji kamu." ucap Dika.


"Lalu apa pak?" ucap Anisa dengan nada yang tinggi. Kebetulan ibu yayasan lewat.. Anisa langsung meminta maaf.


Dika menghela nafas panjang dia mengambil tangan Anisa kedua nya dan menggenggam nya.


"Saya minta maaf sudah membuat kamu marah, saya minta maaf sudah membuat kamu merasa seperti itu.. Tapi saya melakukan itu agar kamu mau kepada saya." ucap Dika.


Anisa menaikkan alis nya karena bingung.


"Maksud Bapak?" tanya Anisa.


"Orang tua kamu adalah rekan kerja saya. Saya sudah tau kamu karena dia. Dari awal melihat foto kamu saya tertarik. Saya mencari tau kamu dan akhirnya saya tau." ucap Dika.


"Lalu?" tanya Anisa.


"Saya tertarik dengan kamu. Saya sudah mencoba beberapa kali mendekati kamu, namun sepertinya kamu tidak tau. Jalan satu-satunya adalah saya harus menjadi guru kelas kamu." ucap Dika.


Anisa sangat terkejut. "Awal nya saya sudah ingin menyerah karena kamu mencintai Candra dengan sangat tulus. Namun entah mengapa itu sangat menantang bagi saya." ucap Dika.


"Saya mencintai kamu, rasa ini semakin hari semakin bertambah, saya tidak bisa menghilangkan kamu dari pikiran saya sejenak saja." ucap Dika.

__ADS_1


Anisa masih diam.


"Saya mencintai kamu. Saya merasakan itu di awal saya bertemu kamu." ucap Dika. Anisa mengingat jelas pertemuan mereka adalah di saat dia di restoran.


__ADS_2