
"Bagus deh, kalau begitu dia tidak akan pernah mengganggu kamu lagi." ucap Marsel.
"Dia tidak pernah mengganggu ku kak." ucap Anisa.
"Stop membela dia, kamu selalu mendapat kan pria yang brengsek!" ucap Marsel, Anisa menghela nafas panjang.
"Ya udah deh kak, kalau begitu aku mau ke kamar dulu. Mau istirahat." ucap Anisa.
"Kamu sudah makan? Kakak akan membeli makanan." ucap Marsel.
"Aku sudah makan kak." ucap Anisa.
"Kamu dari mana sudah makan?" tanya kak Marsel.
"Aku singgah untuk makan Kak, aku mau istirahat sekarang." ucap Anisa.
Marsel melihat Anisa masuk ke kamar nya.
Di kamar Anisa langsung menukar baju nya dia duduk di depan meja rias sambil memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk alamat yang di berikan oleh Candra.
"Apa aku harus pergi mencari nya? Tapi kalau kak Marsel tau dia pasti akan sangat marah kepada ku." ucap Anisa.
Dia memberanikan diri untuk membuka handphone nya mencari tau di mana tempat itu berada. Namun baru saja membuka handphone nya dia melihat sangat banyak pesan masuk dari grup sekolah yang semua nya membicarakan dia. Banyak juga guru yang menegur mempertanyakan banyak hal.
Anisa menghela nafas panjang melihat Itu semua. Dia tidak membalas dan memilih untuk mengabaikan nya.
"Aku sama sekali tidak perduli dengan kata-kata orang lain, aku hanya ingin hubungan ku dengan kak Dika menjadi baik." ucap Anisa.
Setelah selesai melihat lokasi itu dia menghela nafas panjang. "Ini sangat jauh, tidak mungkin aku mengendarai mobil sendiri, tidak mungkin juga aku mengajak kak Marsel." batin Anisa.
"Tapi seperti yang di katakan oleh Candra juga, kalau dia di sana aku bernasib baik, namun kalau tidak di sana, aku bingung harus mencari nya kemana lagi." ucap Anisa.
Anisa memegang kepala nya yang terasa sangat pusing sekali.
Tiba-tiba handphone nya berdering telepon dari Papah nya. "Papah? Kenapa dia menelpon ku? Tumben?" ucap nya Heran.
"Halo Pah.." ucap Anisa.
__ADS_1
"Anisa.. Kamu apa kabar nak?" tanya papah nya. Anisa terdiam sejenak.
"Aku baik pah, Papah sendiri bagaimana?" tanya Anisa.
"Baik juga nak, maaf yah papah mengganggu jam istirahat kamu." ucap papah nya.
"Tidak apa-apa pah, apa ada yang sangat perlu sehingga Papah menelpon ku?" tanya Anisa.
"Papah baru melihat berita yang beredar tentang hubungan kamu dengan Guru kamu sendiri, apa itu benar?" tanya Papah nya.
Anisa diam. "Kalau kamu gak mau jawab gak apa-apa kok nak, papah mengerti, tapi kamu jangan ambil hati semua perkataan orang-orang, mereka tidak tau apa-apa." ucap papah nya.
"Iyah pah, aku mengerti kok." ucap Anisa. Papah nya tersenyum.
"Bagus lah kalau seperti itu nak, Papah senang mendengar nya. Sekarang Papah lagi ada di depan rumah kamu." ucap Papah nya.
"Hah? Papah seriusan?" tanya Anisa kaget. "Papah ingin melihat kondisi kamu sekarang. kata kak Marsel keadaan kamu cukup buruk, Papah sangat khawatir." ucap Papah nya.
Anisa berjalan ke arah jendela dan melihat mobil Papah nya di balik gerbang. "Aku akan membuka kan pintu, papah tunggu di sana." ucap Anisa.
"Tidak perlu repot-repot nak, ini sudah malam. Papah juga harus pulang karena adik kamu pasti menunggu di rumah." ucap papah nya.
Anisa yang belum sempat mengucapkan hati-hati, namun telpon sudah mati.
"Papah memiliki keluarga baru, itu arti nya keluarga lama pasti tersingkir kan." ucap Anisa.
Anisa berbaring di kasur sambil memandangi langit-langit Kamar nya.
Sementara di tempat lain Putri baru aja selesai mengerjakan tugas nya dan tugas Anisa yang sengaja dia ambil untuk dia kerjakan Tampa sepengetahuan Anisa.
"Huff akhirnya selesai juga." ucap Putri.
tiba-tiba handphone nya berbunyi tanda notifikasi pesan masuk ke dalam.
"Arya? kenapa dia jam segini mengirimkan pesan kepada ku? Apa dia belum tidur?" ucap Anisa. Dia membuka pesan dari Arya. Ternyata foto jendela kamar nya yang masih terbuka dan lampu masih hidup.
"Ini sudah larut malam, waktu nya tidur, besok harus berangkat lebih awal karena kamu piket." Isi pesan Arya.
__ADS_1
Putri langsung mengintip keluar. Ternyata Arya ada di depan rumah nya. Putri keluar menyusul Arya.
"Aku meminta kamu untuk tidur, kenapa kamu malah keluar?" tanya Arya.
."Kamu ngapain di sini sampai tengah malam?" tanya Putri.
"Tempat kamu ini sangat bagus untuk melihat bulan dan bintang, di tempat ku terlalu banyak Pohon tinggi-tinggi sehingga aku tidak bisa melihat mereka." ucap Arya.
Putri melihat ke langit tidak ada bulan dan bintang. "langit sangat gelap, sudah mau hujan. Kamu sebaik nya pulang sebelum orang tua ku melihat kamu." ucap Putri.
."Baiklah-baiklah, aku hanya ingin melihat wajah kamu saja tadi nya." ucap Arya dan langsung masuk ke dalam mobil nya.
Putri menghela nafas panjang. "Semakin hari tingkah nya semakin aneh, Heran deh!" ucap Putri mendumel.
Tidak beberapa lama akhirnya Arya pergi, Putri masuk ke rumah. "Siapa itu? Seperti nya itu Arya kan?" tanya Ayah nya.
"Iyah pah, sengaja dia, orang nya sangat iseng dan ngeselin!" ucap Putri.
"Kelihatan nya tidak tuh, Arya anak yang baik, tidak boleh ngomong seperti itu." ucap ayah nya.
"Aku mau tidur ayah, sudah ngantuk, aku ke kamar dulu yah, Ayah juga istirahat lah." ucap Putri menyalim tangan ayahnya dan langsung masuk ke kamar nya.
Ayahnya menggeleng kan kepala nya.
Keesokan harinya...
Marsel sudah menunggu Anisa dari tadi di meja makan agar sarapan sama-sama. Namun Anisa tidak kunjung turun.
"Pasti dia belum bangun. sekarang jadi tiba-tiba pemalas." ucap Marsel sambil naik ke lantai atas mau membangun kan Adek nya.
"Tok!! Tok!! Tok!!" Bunyi ketukan pintu.
"Namun anisa tidak kunjung membuka nya.
"Anisa bangun! kamu bisa telat nanti nya, ayo buka Pintu nya! Kalau kamu tidak membuka nya kakak akan masuk loh." ucap Marsel.
Namun tidak ada sautan akhirnya Marsel masuk ke dalam.
__ADS_1
Dia sangat terkejut melihat Anisa sudah tidak ada di kasur, di kamar mandi juga tidak ada, dia melihat kertas yang ada di atas meja.
"Maafin aku yah Kak Marsel, aku gak ijin sama kakak mau pergi. Aku pergi mencari kak Dika, aku butuh penjelasan dia, aku minta maaf yah. Aku mohon jangan mencari ku." isi surat. Marsel menghela nafas panjang.