
"Berikan saya. penyemangat." ucap Dika memegang tangan Anisa. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Saya mohon, saya tidak memiliki tenaga." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang, dia mencium bibir Dika.
"Cupp!! Sudah! Ayo buruan bangun dan siap-siap." ucap Anisa.
"Tolong buatkan saya kopi terlebih dahulu." ucap Dika. Anisa membangun. Dia turun dari kasur keluar membuat kopi untuk Dika.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka selesai mandi. Anisa sudah dari tadi duduk di depan cermin. Sementara Dika baru kembali ke kamar setelah minum kopi.
"Sayang.." ucap Dika memeluk Anisa dari belakang.
"Jangan mengganggu ku dulu kak, aku sedang fokus makeup." ucap Anisa.
Dika mencium pipi Anisa. Anisa menghela nafas panjang.
"Kak aku mohon jangan melakukan itu dulu." ucap Anisa.
Namun Dika tidak mendengar kan nya Anisa sangat kesal sekali. "Bisa diam dulu gak? apa kakak tidak ingin aku cantik? kalau seperti ini aku akan lama dan kita telat berangkat." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "baiklah saya akan diam." ucap Dika Anisa melihat Dika belum berpakaian sama sekali.
"Sebaiknya kakak siap-siap juga." ucap Anisa. Dika mengangguk.
Dia mengambil pakaian yang dari tadi sudah di siapkan oleh Anisa, tidak beberapa lama akhirnya selesai juga.
"Ayo berangkat." ucap Anisa. Dika memasang sepatu nya. "Kenapa kakak berpakaian tidak rapi seperti ini?" tanya Anisa.
Anisa langsung merapikan pakaian Dika.
"Dari tadi kamu tidak memerhatikan saya." ucap Dika.
"Bukan tidak memerhatikan kakak, tapi aku juga sedang sibuk dengan diri ku sendiri." ucap Anisa.
"Sudah rapi dan ganteng kok." ucap Anisa. Dika melihat dirinya di cermin.
"Apa menurut kamu saya harus potong rambut? Saya merasa rambut saya sudah panjang." ucap Dika.
Anisa melihat rambut Dika.
"Humm seperti nya juga begitu, tapi tidak masalah kalau panjang seperti ini. Tampan juga kok." ucap Anisa. Dika menghela nafas panjang.
"Kamu tidak pernah jujur mengatakan nya kepada saya." ucap Dika.
__ADS_1
"Aku sudah jujur." ucap Anisa. Dika mau berbicara namun tiba-tiba handphone Anisa berdering.
"Siapa?" tanya Dika karena Anisa tak kunjung menjawab nya.
"Candra kak." ucap Anisa. "Candra?" ucap Dika. Anisa mengangguk. "Kenapa tidak kamu jawab?" tanya Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"sebaiknya kamu jawab saja, saya akan menunggu di dalam mobil." ucap Dika meninggal kan Anisa.
Di mobil dia melihat Anisa yang menjawab telepon dari Candra.
Tidak beberapa lama akhirnya selesai.
Anisa menatap Dika.
"Kakak tidak ingin bertanya tentang Candra dan aku?" tanya Anisa.
"Kalau kamu ingin bercerita kepada saya, saya akan mendengar kan nya." ucap Dika.
Anisa terdiam sejenak. "Saya tau kalau Candra masih kekasih kamu, saya selingkuhan kamu, rapi saya sangat berharap kamu jujur kepada saya." ucap Dika.
"Saya adalah kekasih kamu, mau bagaimana pun kamu harus jujur kepada saya, karena saya tidak akan marah kepada kamu." ucap Dika.
Anisa menunduk kan kepala nya.
"Tapi saya tidak mempermasalahkan itu lagi, saya hanya ingin bertanya kepada kamu. Kamu menginginkan siapa di hidup kamu, saya atau Candra. Karena tidak mungkin kedua nya." ucap Dika.
Anisa menatap wajah Dika.
"Kamu tidak perlu khawatir dengan saya, semua keputusan kamu akan saya hargai, saya akan menerima semua apa yang kamu pilih kalau itu membuat kamu bahagia." ucap Dika.
Anisa terdiam dia bingung harus menjawab apa, melihat wajah Dika membuat nya sangat merasa bersalah.
"Aku minta maaf dari awal aku tidak jujur kepada kakak tentang kedatangan Candra, dan aku juga bertemu dengan nya Tampa sepengetahuan Kakak." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tidak ingin membahas itu." ucap Dika.
Anisa terdiam. Melihat wajah Dika dia semakin merasa bersalah lagi.
"Apa yang harus aku lakukan?" batin Anisa.
Sepanjang perjalanan tidak ada percakapan apapun di antara mereka berdua.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. Sebelum nya mereka sudah menyiapkan beberapa oleh-oleh mereka.
Setelah di turunkan Anisa melihat tidak ada Dika di sana. "Loh kak Dika kemana?" ucap Anisa.
__ADS_1
"Seperti nya pergi menemui Boni mbak " ucap Ibu yayasan.
"Oohh begitu yah." ucap Anisa.
"Mbak Anisa, mbak sangat cantik sekali. ayo main-main ke sana." ucap Anak-anak perempuan.
"Kalian duluan saja yah, mbak mau mencari om Dika dulu." ucap Anisa.
Akhirnya Anisa mencari Dika ke kamar Boni, namun dia tidak melihat Dika ataupun Boni di kamar nya itu.
"Mbak mau mencari om Dika sama Boni yah?" tanya laki-laki yang di sebelah kamar Boni.
"Iyah dek, apa kamu melihat Boni?" tanya Anisa.
"Aku melihat nya tadi di depan teras masjid Mbak." ucap teman Boni.
"Oohh, ya udah mbak ke sana dulu yah." ucap Anisa. Dia langsung ke arah masjid.
Dari jauh dia melihat Boni dan juga Dika sedang duduk di depan masjid bercerita.
"Kelihatan nya kak Dika dengan Boni sedang sangat asik, aku dengan kak Dika kurang baikan, jadi sebaiknya aku tidak perlu mengganggu nya." ucap Dika dalam hati.
Dia memutuskan untuk pergi dari sana. "Loh itu kan Tante Anisa, kok om bilang Tante Anisa gak ikut?" ucap Boni.
Dika hanya diam.
"Sebentar lagi acara nya mulai, ayo kita bergabung dengan yang lain." ucap Dika mengajar Boni.
Boni mengangguk. Anisa duduk di satu kursi sambil memandangi handphone nya.
"Huff seperti nya mbak Anisa lagi ada masalah, dari tadi saya memerhatikan mbak kebanyakan diam, ada apa?" tanya Ibu yayasan duduk di samping Anisa.
Anisa menoleh ke arah ibu itu. "Enggak kok Bu." ucap Anisa.
"Mata kamu tidak bisa berbohong walaupun kamu tersenyum." ucap Ibu yayasan.
"Saya baik-baik saja Bu, biasa lah hanya masalah biasa." ucap Anisa.
Ibu yayasan. "Tidak biasanya saya melihat kamu seperti ini, terlihat sangat berbeda sekali, apa masalah nya dengan pak Dika?" tanya ibu yayasan.
Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Enggak kok Bu." ucap Anisa. "Ya sudah kalau begitu, Semoga apapun Masalah nya ada jalan keluar nya dan cepat terselesaikan yah, ayo ke depan, acara nya sudah mau di mulai."
Mereka pun berjalan ke depan. Semua nya sudah berkumpul di depan yayasan. Anisa mencari Dika. Dia mendekati Dika yang duduk di kursi tamu undangan.
__ADS_1
Dika tidak menghiraukan dia, dika hanya diam dan fokus pada pembawa acara.
"Apa kak Dika marah kepada ku? Hari ini kak Dika mendiam kan aku." batin Anisa.