Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 162


__ADS_3

Tri menoleh ke arah Marsel. Telpon langsung mati.


"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Marsel. Tri menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.


"Cepat lah masak." ucap Marsel.


"Aku merasa ada yang aneh dengan kak Marsel dan Tri." ucap Anisa. Dia menoleh ke arah Dika yang duduk diam.


"Kakak kenapa diam saja?" tanya Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya. "Kok kakak diam sih? Ada Masalah?" tanya Anisa.


Dika menggeleng kan kepala nya.


"Tentang kak Marsel?" tanya Anisa. Dika langsung mengangguk.


"Seharusnya kamu tidak menunjukkan kamera nya ke arah saya, dia akan ke sini dan siap untuk memarahi saya." ucap Dika.


Anisa tertawa kecil mendengar itu.


"Ternyata kakak memiliki ketakutan juga, aku pikir seorang Dika. Pria yang tangguh tidak memiliki takut sama sekali." ucap Anisa.


Dika menghela nafas panjang.


"Saya manusia biasa." ucap Dika. Anisa menatap wajah Dika.


"Aku mengerti kok, aku senang kalau kamu menyegani kakak laki-laki ku." ucap Anisa. Dika mencium pipi Anisa.


"Saya akan berusaha mendapatkan restu dari beliau dan dari orang tua kamu." ucap Dika.


Di rumah Arya. Orang tua Arya sudah pulang bersama adik-adik Arya.


"Aku pulang dulu yah, orang tua kamu sudah pulang, aku gak enak lama-lama di sini." ucap Putri.


"Kenapa begitu cepat?" tanya Arya.


"Aku di sini sudah dari pagi, kenapa kamu mengatakan nya sangat cepat!" ucap Putri.


"Kalau begitu aku Akan mengantarkan kamu pulang." ucap Arya turun dari kasur.


Putri menggeleng kan kepala nya.


"Kamu masih sakit, sebaiknya kamu istirahat saja." ucap Putri.


"Tapi aku sudah sembuh, aku sudah lebih sehat sekarang." ucap Arya.


"Mau yah, aku mohon, anggap saja sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah mau menemani aku dan merawat aku di sini." ucap Arya.


"Aku tidak suka kamu memaksa seperti ini, aku tidak tertarik." ucap Putri. Arya menahan tangan Putri yang hendak pergi.


Putri berhenti dia menoleh ke arah Arya tiba-tiba Arya memeluk nya.


Putri kaget. "Aku mau nganterin kamu pulang, mau yah." ucap Arya lagi.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, tapi lepas kan aku dulu." ucap Putri.


Arya melepaskan nya. "Maaf." ucap nya.


Setelah itu mereka keluar dari kamar.


"Mah aku nganterin Putri pulang dulu." ucap Arya.


"Kamu yakin?" tanya Mamah nya. Arya menganguk.


Orang tua nya mengerti apa maksud Arya akhirnya dia mengijinkan Lagian juga pakai mobil.


Di dalam mobil Arya menatap putri.


"Kenapa kamu menatap ku seperti itu? Cepat hidup kan mobil nya, aku takut orang tua ku mencari ku." ucap Putri.


Arya menganguk. Tidak beberapa lama Arya menghidupkan mobil nya.


"Seperti nya Besok kamu sudah bisa sekolah." ucap Putri.. Arya menganguk.


Putri Heran melihat wajah Arya gugup, dia jadi lebih banyak diam.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Putri. Arya menganguk.


"Humm aku baik-baik saja kok, kamu tidak perlu khawatir." ucap Arya.


Tidak beberapa lama akhirnya sampai juga di depan rumah Putri. "Terimakasih yah sudah mau nganterin aku pulang, kamu bisa kan pulang sendiri dengan baik?" tanya Putri.


Arya menganguk. "Hati-hati jangan laju-laju." ucap Putri.


"Putri aku mau jujur sama kamu." ucap Arya.


"Mau jujur apa?" tanya Putri Tidak jadi turun dari mobil.


"Aku mau... aku mau..."


"Mau apa?" tanya Putri.


"Kamu gak akan marah kan kalau aku jujur? Kamu janji gak akan menjauhi aku kan?" tanya Arya.. Putri menghela nafas panjang.


"Aneh banget sih." ucap Putri.


"Aku tidak bisa menyimpan ini lebih lama di pikiran dan hati ku, aku ingin kamu tau walaupun aku sudah tau jawaban kamu. Aku menyukai kamu, aku suka sama kamu Putri." ucap Arya langsung menunduk kan kepala nya.


Putri terdiam. Kedua nya sama-sama terdiam.


"Apa yang kamu katakan Arya? Kita hanya sebatas teman saja." ucap Putri.


Arya menganguk. "Iyah aku tau kita hanya sebatas teman, tidak seharusnya aku memiliki perasaan sama kamu. Aku minta maaf." ucap Arya.


"Tapi asal kamu tau perasaan ini timbul sendiri, aku tidak tau kenapa aku sangat mencintai kamu. Aku mau kamu menjadi pacar ku. Kamu mau kan?" tanya Arya.


Putri menatap wajah Arya yang juga menatap nya.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu menjawab nya kok, aku sudah tau kalau ku tidak akan mau. Aku di paksa jujur oleh diri ku sendiri karena menyimpan nya sendiri membuat aku sakit." ucap Arya.


"Kalau begitu aku mau pulang. Selamat malam, bilang sama ayah dan ibu kamu aku tidak bisa singgah buru-buru pulang." ucap Arya.


"Humm, hati-hati lah." ucap Putri.


Dia turun dari dalam mobil membiarkan Arya pergi.


Dia melihat mobil Arya sampai tidak kelihatan.


Di apartemen Tri. "sudah masak pak." ucap Tri memanggil Marsel ke ruang tamu.


Marsel berdiri dia meninggal kan Laptop dan langsung mengikuti Tri ke meja makan.


Mereka makan bersama di meja makan.


Tidak ada percakapan sama sekali, mereka berdua memilih fokus pada makanan agar sama-sama kenyang.


"Setelah semua nya selesai kamu siap-siap lah ke rumah Anisah." ucap Marsel.


"Bapak yakin mau membawa ku?" tanya Tri.


"Apa yang salah!" tanya Marsel. Tri menghela nafas.


"Ya udah deh, aku siap-siap dulu."


Tri sudah siap dia masuk ke dalam mobil Marsel.


Perjalanan ke rumah Anisa dari satu sekitar satu jam.


"Aku dengar dari karyawan kalau biasanya bapak sangat jarang datang ke Toko." ucap Tri.


"Lalu?" tanya Marsel.


"Baru satu Minggu saya bekerja namun bapak sudah datang saja, apa bapak meragukan ku?" tanya Tri.


"Wajar saja jika saya meragukan kamu." ucap Marsel. Tri menghela nafas panjang.


"Kenapa sih bapak cuek banget? Padahal Anisa sangat cerewet dia anak yang ceria dan juga sangat ramah." ucap Tri.


"Lalu kenapa? Apa kamu tidak suka?" tanya Marsel. Tri menganguk.


"Aku tidak suka dengan orang pendiam. Aku lebih suka orang yang ramah." ucap Tri.


"Saya tidak meminta kamu suka kepada saya!" ucap Marsel. Tri menghela nafas panjang.


"Aku rasa Bapak bukan lah kakak dari Anisa. Kalian sangat berbeda." ucap Tri.


"Sebaiknya kamu diam saja!" ucap Marsel. Tri menganguk dan langsung diam.


Tidak beberapa menit kemudian..


"Kalau boleh tau bapak sudah memiliki pacar kah? Aku yakin sih sudah. Walaupun bapak terlihat galak dan juga cuek aku akui kalau bapak memiliki Wajah yang tampan." ucap Tri.

__ADS_1


Mendengar pujian dari Tri membuat Marsel senang.


"Kenapa bapak diam saja sih? bapak sudah punya belum?" tanya Tri.


__ADS_2