
"Tidak perlu mengkhawatirkan saya. Saya akan menunggu hujan sampai reda." jawab Dika benar-benar sangat Cuek Sekali.
"Tapi hujan ini akan sangat lama," ucap Anisa.
Anisa bingung kenapa Dika jadi terlihat sangat kesal seperti itu.
"Bapak boleh ikut dengan saya." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Kenapa Bapak menolak nya? Apa Bapak mau hujan-hujanan pulang?" tanya Anisa.
"Kamu tidak perlu perduli kepada saya!" ucap Dika. Anisa menghela nafas panjang.
"Kalau bapak tidak mau ya sudah, aku juga tidak memaksa." ucap Anisa.
Anisa mau pergi namun ditahan oleh Dika.
"Baiklah kalau kamu memaksa saya." ucap Dika.
"Kenapa jadi aku yang memaksa? Justru tidak apa-apa kalau bapak ingin menunggu sampai hujan reda." ucap Anisa.
Dika mengambil kunci dari tangan Anisa.
Masuk ke dalam mobil dan meninggalkan sekolah tepat jam delapan Malam.
"Kita ngapain berhenti di sini pak? Aku mau pulang." ucap Anisa. "Saya sangat lapar." ucap Dika.
Dika keluar dari mobil.
"Manusia yang benar-benar sangat aneh sekali." ucap Anisa karena wajah Dika terlihat sangat menakutkan.
"Bapak tidak memesan untuk ku?" tanya Anisa, Dika menggeleng kan kepala nya.
Anisa memesan untuk dirinya sendiri.
"Bapak kenapa tiba-tiba jadi diam dan Marah seperti ini kepada saya?" tanya Anisa.
Dika diam. Tidak beberapa lama makanan datang.
Tidak ada percakapan karena Dika hanya diam saja.
"Loh kenapa ke arah rumah? bapak tidak pulang?" tanya Anisa.
"Saya akan mengantarkan kamu terlebih dahulu setelah itu baru saja kembali ke apartemen saya. Tidak baik malam-malam seperti ini wanita menyetir sendiri." ucap Dika.
"Bapak sudah mulai berbicara..Apa Bapak tidak Marah lagi?" tanya Anisa..Dika langsung diam lagi. Anisa Menghela nafas panjang.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai di depan rumah.
"Saya langsung pulang saja." ucap Dika.
"Tunggu dulu Pak." ucap Anisa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Dika menatap Anisa yang masih duduk di samping nya.
"Saya minta maaf kalau kata-kata saya tadi membuat Bapak tersinggung." ucap Anisa.
"Lupakan saja, saya hanya bercanda." ucap Dika.
Anisa keluar dari dalam mobil. Dika membawa mobil Candra pergi.
Dika seketika langsung tersenyum.
"Ternyata dia bisa juga berbicara lembut dan merasa bersalah." ucap Dika.
Anisa baru saja selesai mandi dia berbaring di tempat tidur nya.
"Kenapa dari tadi aku tidak bisa melupakan kata-kata yang keluar dari mulut pak Dika yah? Apa yang dia katakan itu benar? Tapi tidak mungkin." batin Anisa.
"Kalau seperti ini aku harus menjaga jarak dengan Pak Dika." ucap Anisa. "Eh tunggu dulu deh, aku kan emang gak dekat dengan pak Dika." ucap Anisa.
Dia membuka handphone nya yang dari tadi sudah di charger. "Belum ada Notifikasi sama sekali dari Candra. Kemana sih dia?" ucap Anisa.
Karena menunggu kabar dari Candra Anisa malah ketiduran.
"Assalamualaikum Mah."
"Walaikumsalam.. Kamu kenapa ke sini malam-malam nak?" tanya Mamah nya Dika.
"Aku baru saja pulang dari rumah teman ku, aku kemalaman lebih dekat ke sini dari pada ke apartemen mah." ucap Dika.
"Oohh begitu. Ya udah kamu mandi gih." ucap mamah nya. Sebenarnya bukan karena dekat, justru semakin jauh. Dika hanya ingin kembali ke rumah orang tua nya agar dia tidak terlalu memikirkan Anisa yang menolak ciuman nya tadi.
"Apa berpacaran dengan guru sendiri itu aneh? menurut ku tidak lah mungkin." ucap Dika.
"Lagi memikirkan apa sih nak?" tanya Mamah nya yang baru saja masuk ke kamar.
Dika menggeleng kan kepala nya. Dia tiduran di paha mamah nya.
"Bagaimana kabar Melinda?" tanya Mamah nya.
Dika diam.
"Kok kamu Diam? Mamah bertanya." ucap mamah nya kesal.
"Hubungan kami baik-baik saja Mah. Kemarin aku baru saja menghadiri acara pernikahan bersama dia." ucap Dika.
"Bagus deh kalau begitu, Mamah pikir kamu dengan dia sudah tidak ada hubungan karena terlihat jarang bersama." ucap Mamah nya.
"Enggak kok mah, kami baik-baik saja. Dia sekarang sangat sibuk dengan pekerjaan nya begitu juga aku." ucap Dika.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Mamah nya.
"Jangan tanya menikah dulu mah, aku bilang aku belum ingin menikah. usia ku juga masih sangat muda." ucap Dika.
__ADS_1
"Tapi mamah ingin kamu menikah nak, umur kamu sudah Cocok untuk menikah." ucap Mamah nya.
"Nanti setelah aku siap aku akan memberi tau kepada mamah kok." ucap Dika.
"Ya udah gak apa-apa." ucap mamah nya. Setelah berbincang-bincang Lama Dika ketiduran di pangkuan Mamah nya.
"Selamat tidur yah." ucap mamah nya mencium dan mengelus kepala Dika.
Keesokan harinya di sekolah..
"Selamat pagi pak Dika." sapa Rida yang selalu menyambut Dika di depan.
"Pagi juga." jawab Dika sambil tersenyum. Anisa melihat itu langsung memasang wajah sewot.
"Pria mesum ketika perempuan gatal jadi nya yah seperti ini." ucap Anisa melewati mereka begitu saja. Rida yang mendengar itu sekilas Merasa kesal namun dia harus menjaga sifat di depan pak Dika.
"Putri..." panggil Anisa. menyusul Putri yang berkumpul di depan pintu.
"Ada apa Sih?" tanya Anisa.
"Ini loh pintu kelas kita tiba-tiba rusak, seperti ada yang mendobraknya." ucap Putri.
Anisa melihat ke arah pak Dika.
"Jangan sampai ada yang tau kalau aku dengan Pak Dika terkunci tadi malam di sini." batin Anisa.
Setelah pintu Bagus mereka masuk Ke kelas.
Selama pelajaran semua nya berjalan seperti yang di inginkan. Tidak ada kendala.
Di kantor guru-guru lagi berkumpul.
"Sudah beberapa hari ini Anisa masuk selalu tepat waktu. Dan tidak jarang juga dia datang bersama Pak Dika." ucap guru paling muda di sana.
"Justru itu bagus dong Bu, ada kemajuan pada Anisa di saat bersama Pak Dika." ucap guru yang lain nya.
"Iyah benar banget, apa lagi sekarang sudah mau ujian." ucap guru lain nya lagi.
"Tapi nilai Anisa masih tetap saja sama Bu " ucap guru yang paling muda itu lagi.
"Sudah lah biar saja."
Tiba-tiba Pak Dika datang.
"Pada membicarakan tentang apa?" tanya Dika berfikir kalau mereka membicarakan soal ujian.
"Tidak apa-apa kok pak."
"Oh iya bagaimana kemajuan Anisa pak? kami melihat bapak dengan Anisa sudah mulai Akrab, sangat jarang Anisa bisa akrab dengan guru." ucap Pak Guru.
"Yah seperti yang ibu dan bapak lihat sekarang. Saya akan berusaha membuat dia semakin di siplin." ucap Pak Dika.
__ADS_1
"Kami sangat senang bapak bisa membuat Anisa lebih di siplin seperti ini."
Dika tersenyum. "Tapi kenapa akhir-akhir ini bapak lebih sering memakai mobil Anisa dan juga lebih sering datang bersama dia?" tanya guru paling muda.