
"Humm baiklah, dasar pria mesum." ucap Anisa.. Dika menghela nafas panjang. Dia mengelus kepala Anisa dan keluar dari dalam mobil.
Baru saja turun dari mobil dia sudah di sambut oleh semua karyawan yang ada di luar.
"Humm tidak salah juga aku memilih Guru ku menjadi pacar ku, ternyata di Balik ke polosan nya ada hal-hal yang benar-benar luar biasa, termasuk sifat mesum nya yang selalu membuat ku takut." ucap Anisa.
"Ini perusahaan besar banget sih, aku yakin sih orang tua pak Dika pasti sangat bangga punya anak seperti pak Dika." ucap Anisa.
Sudah satu jam Anisa menunggu di dalam mobil..
Dia sudah bosan dengan ponsel nya karena dia bukan orang yang suka main handphone lama-lama.
"Kak Dika seperti nya masih lama." batin Anisa. Namun tiba-tiba handphone nya berdering.
"Kak Marsel." ucap Anisa.
"Iyah halo kak." ucap Anisa.
"Kamu lagi ada di mana Anisa?" tanya Marsel.
"Aku lagi di luar kak, ada apa?" tanya Anisa.
"Oohh lagi di luar. Kakak mau main ke rumah kamu." ucap Marsel.
"Seperti nya sekarang belum bisa kak, aku lagi di luar dan mungkin aku balik ke rumah malam." ucap Anisa.
"Oohh ya udah kalau begitu, besok aja deh kakak ke sana." ucap Marsel.
"Maafin aku yah kak, aku gak tau kalau kakak mau ke rumah." ucap Anisa. "Gak apa-apa." ucap Marsel.
"Oh iya kak kado boneka kemarin makasih yah, aku suka banget." ucap Anisa.
"Kado boneka?" tanya Marsel.
"Iyah kak, kado yang kakak paket kan ke rumah." ucap Anisa.
"Kakak tidak ngirim boneka ke kamu, justru kakak datang nih mau bawa boneka untuk kamu." ucap Marsel.
"Loh itu dari siapa? aku pikir dari kakak." ucap Anisa.
"Mungkin dari gebetan atau Pacar kamu." ucap Marsel.
"Enggak ada kok kak." ucap Anisa. "Lalu dari siapa dong." ucap Marsel.
"Mungkin dari teman aku kak, ya udah kalau gitu telpon nya ku tutup dulu yah." ucap Anisa. Panggilan telepon langsung di tutup oleh Anisa.
"Lalu boneka itu dari siapa?" ucap Anisa, dia kebingungan sendiri.
"Dari kak Dika tidak mungkin deh, dia tidak tau kalau aku suka boneka. Dan tidak mungkin kak Dika memberikan barang-barang yang lebay seperti itu." batin Anisa.
"Selamat Sore pak.." Sapa Staf melihat Dika baru keluar dari ruangan nya.
"Sore." ucap Dika.
__ADS_1
"Bapak mau langsung pulang?" tanya sekretaris Dika.
"Iyah.. Saya di tunggu oleh seseorang di parkiran. Ada perlu apa?" tanya Dika.
"Tidak ada kok pak. Hati-hati di perjalanan pulang." ucap sekretaris nya.
Dika menganguk..
"Aku sudah yakin kalau pak Dika memiliki pasangan lagi." ucap sekretaris nya.
"Kira-kira Siapa yah?" tanya Staf lain nya.
"Gak tau sih, tapi seperti nya ini benar-benar sangat spesial, pak Dika menghabis kan waktu nya untuk bersama perempuan itu." ucap sekretaris.
"bagus deh kalau begitu, jadi kita gak cakep ngitung berapa Mantan Kekasih pak Dika." ucap staf.
"Tiga jam Anisa menunggu di dalam mobil, dia pasti marah." batin Dika. Melihat di luar sudah mulai gelap dia sudah sangat cemas kalau Anisa pergi pulang duluan.
Namun setelah di luar dia melihat mobil Anisa masih di sana.
Dika tersenyum lega.
"Maaf yah sudah membuat kamu menunggumu lama, di dalam banyak pekerjaan yang harus saya periksa." ucap Dika. Dan ternyata Anisa tertidur.
Dika menghela nafas panjang. Dia tersenyum melihat Anisa yang tidur sangat gemes sekali.
"Mamah... Papah.. Aku rindu.." tiba-tiba Anisa mengigau.
"Anisa... Anisa bangun." ucap Dika membangun kan Anisa.
"Kakak bilang hanya sebentar saja, kenapa kakak sangat lama?" ucap Anisa.
Dika mengelus pipi Anisa.
"Maaf yah, saya banyak kerjaan, seharusnya saya tidak membawa kamu, kamu kecapean menunggu saya." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
"Aku lapar." ucap Anisa dengan wajah gemes sambil mengelus perutnya.
"Kalau begitu kita cari tempat makan yah." ucap Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya. "Aku mau makan masakan kakak." ucap Anisa.
"Tapi saya tidak memiliki tenaga lagi untuk memasak, saya sudah sangat Lelah." ucap Dika.
Anisa memasang wajah cemberut.
"Kakak tidak mau memasak kan untuk ku, aku tidak akan makan sampai besok." ucap Anisa. Dik menghela nafas panjang.
"Baiklah-baiklah kalau begitu. Kita kembali ke apartemen saya kalau begitu." ucap Dika. Anisa tersenyumlah.
"Lalu bagaimana dengan jam branded dan juga baju? apa kamu tidak jadi membeli nya?" tanya Dika.
Anisa menggeleng kan kepala nya.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda." ucap Anisa. Dika menoleh ke arah Anisa sekilas.
"Saya ingin membelikan itu untuk kamu." ucap Dika.
"Aku tidak ingin uang kakak habis begitu saja karena aku." ucap Anisa.
Dika Menghela nafas panjang.
"Saya memiliki uang yang banyak. Uang saya tidak akan habis kalau hanya membeli kan aku dan jam untuk kamu." ucap Dika.
"Sombong banget." ucap Anisa.
Dika tersenyum.
Sampai di apartemen Dika langsung memasak.
"Aku bantuin yah." ucap Anisa. Dik menggeleng kan kepala nya.
"Tidak perlu." ucap Dika.
"Huff aku juga ingin pintar masak, kapan kakak akan mengajari aku?" ucap Anisa.
Dika akhirnya mengijinkan Anisa untuk membantu memasak.
Setelah selesai mereka makan bersama.
"Masakan kakak memang paling enak sekali. Aku yakin dulu kakak pasti sering masak bersama orang tua kakak kan?" ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya.
"Masakan kakak dengan mamah kakak hampir sama rasa nya." ucap Anisa.
"Saya pintar Masak karena belajar sendiri, hanya kamu yang merasakan masakan saya, tidak ada orang lain." ucap Dika.
"Humm yakin? Pada waktu itu Putri menginap di rumah, kakak memasak kan nasi goreng untuk nya." ucap Anisa.
"Oohh itu, saya membeli nasi goreng di luar, saya tidak memasak itu sendiri." ucap Dika.
"Hah! Bagaimana bisa?" ucap Anisa. Dika tersenyum.
"Jadi benar hanya aku yang merasakan masakan kakak?" tanya Anisa, Dika menganguk.
"Orang tua kakak?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Kakak saya juga pandai memasak, orang tua saya lebih suka masakan kakak saya." ucap Dika. "Oohhh." ucap Anisa. Dia lanjut makan sampai makanan nya habis.
"Aku sudah kenyang, dan ini sudah jam tujuh. Waktu nya belajar." ucap Anisa. Dika menganguk.
Dika sangat senang sekarang Anisa sangat menghargai waktu belajar nya, waktu belajar juga dia sangat fokus sekali dia mudah memahami pelajaran nya.
Dika sangat salut dengan Anisa yang benar-benar sudah berubah 70% dari yang sebelumnya.
"Sudah selesai, aku pulang dulu yah." ucap Anisa. Dika melihat jam.
__ADS_1
"Ini masih jam sembilan, kenapa kamu begitu cepat pulang?" tanya Dika menahan Anisa.