
Dika mengangguk. "Pasti.. Saya akan kembali kepada kamu." ucap Dika. Anisa tersenyum dia menghapus air mata Dika.
"Aku juga minta maaf sama kakak karena banyak merepotkan kakak, aku juga minta maaf karena belum bisa menyakinkan kakak, membuat kakak nyaman bersama ku." ucap Anisa.
"Ssstt jangan berbicara seperti itu, saya sudah sangat nyaman bersama kamu, saya tidak ingin membuka hati saya untuk orang lain, sudah ada kamu, saya ingin kamu yang terakhir." ucap Dika.
Cukup banyak yang mereka bicarakan, namun tiba-tiba Mamang datang membawa kan baju ganti untuk Anisa.
"Tuan ini ada baju ganti untuk Non Anisa. Seperti nya non Anisa tidak membawa baju ganti." ucap Mamang. Dika melihat Anisa sama sekali tidak membawa barang apapun.
"Aku dari rumah membawa barang-barang, namun semua nya hilang. Aku tidak tau harus bagaimana. Ini perjalanan pertama ku yang sangat jauh dan tidak tentu mau kemana." ucap Anisa.
Dika sangat merasa bersalah mendengar Kata-kata Anisa.
"Ya udah kalau begitu kamu mandi dulu yah." ucap dika. Anisa mengangguk. Dia membawa baju ganti nya ke kamar mandi.
"Tuan Dika. Siapa perempuan itu?" tanya Mamang.
"Dia adalah Anisa, kekasih saya." ucap Dika.
"Hah? Bagaimana bisa tuan? kenapa tuan tidak ngomong?" tanya Mamang.
"Saya tidak ingin menceritakan nya karena Mamang pasti tidak percaya saya memiliki kekasih." ucap Dika.
"Saya sangat merasa bersalah, saya memperlakukan non Anisa seperti orang lain tadi." ucap Mamang.
"Sekarang Mamang sudah tau bukan? dia adalah pacar saya, saya sangat mencintai nya." ucap Dika.
"Saya memiliki banyak pertanyaan kepada Tuan, tapi saya tidak bisa lama-lama karena teman-teman saya sudah menunggu di pinggir pantai." ucap Mamang.
"Ya sudah kalau begitu Mamang pergi lah." ucap Dika. Mamang pun pergi.
Cukup lama Anisa di kamar mandi karena badan nya sangat kotor. Setelah selesai dia keluar sambil melilitkan handuk di kepala nya.
Mencari di ruang tamu tidak ada siapa pun, namun dia mendengar Suara berisik di dapur. Dengan kaki yang sakit dia berjalan ke arah dapur.
"Kak Dika." ucap Anisa. "Kamu sudah selesai mandi? ayo duduk di sini. Saya sedang membuat kan makanan untuk kamu." ucap Dika.
Anisa mengangguk. Dia Duduk di kursi sambil memerhatikan Dika memasak.
"Sudah jadi, kamu makan lah. Saya hanya bisa Memasak ini karena belum belanja." ucap Dika.
"Ini sudah ada aku sangat bersyukur, di sepanjang perjalanan aku tidak tau harus makan apa, setelah bertemu dengan perempuan baik aku baru di kasih makan." Ucap Anisa.
__ADS_1
"Perempuan baik?" tanya Dika. "Iyah, namanya Tri. Dia tidak jauh tinggal dari sini." ucap Anisa.
"Tri?" ucap Dika karena tidak terdengar asing.
"Hanya satu perempuan yang bernama Tri di kampung itu. Dan setau Dika dia tidak lah di kampung.
"Aku sangat berutang kepada nya, aku ingin bertemu dengan nya lagi." ucap Anisa.
"Kita akan mencari nya nanti." ucap Dika. Anisa mengangguk.
Anisa mau makan namun Dika menahan nya. "Kenapa kak? Aku sudah sangat lapar." ucap Anisa merengek.
"Biar saya suapi kamu, tangan kamu terluka seperti itu." ucap Dika.
"Aku bisa kak." ucap Anisa mencoba nya namun tangan nya terasa perih..
"Sangat keras kepala." ucap Dika dia menarik tangan Anisa dengan lembut dan meniup nya.
Dika menyuapi Anisa. "Bagaimana rasanya?" tanya Dika. "Sangat enak sekali. aku sangat merindukan masakan kakak." ucap Anisa.
Dika tersenyum dia membersihkan bibir Anisa yang terkena sambal.
Anisa tersipu malu. "Setelah ini kamu istirahat lah." ucap Dika. "Kakak mau kemana? Aku tidak ingin kakak tinggal." ucap Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya di sini kok." ucap Dika..Anisa mengangguk.
"Kamar ini di desain seperti kamar perempuan." ucap Anisa.
Dika terdiam. "kalau begitu aku numpang istirahat dulu." ucap Anisa. Dika mengangguk. Dia menyelimuti Anisa menghidupkan AC.
"Tidur yang nyenyak yah, saya akan keluar mencari sesuatu untuk di masak." ucap Dika.
Anisa mengangguk. Dika keluar dari kamar itu.
Dia mengambil dompet nya dan berjalan ke pasar terdekat untuk membeli bahan-bahan yang mau di masak. Setelah semua nya dapat dia pulang.
"Tuan Dika! tuan tunggu sebentar." ucap Mamang. Dika menunggu nya. Mamang datang membawa ikan laut di tangan nya.
"Ini ikan paling enak di sini, non Anisa pasti sangat suka." ucap Mamang. "Tapi saya tidak paham memasak nya bagaimana Mang." ucap Dika.
"Tuan Dika tenang saja, setelah selesai bekerja sebentar Lagi, Mamang akan segera pulang." ucap Mamang. Dika mengangguk.
Tidak beberapa lama akhirnya Dika sampai di rumah dia melihat Anisa duduk di ruang tamu sendiri bengong tidak mau melakukan apa.
__ADS_1
"Kakak akhirnya Pulang juga, aku sudah sangat bosan di rumah sendiri." ucap Anisa.
"Kenapa kamu begitu Cepat bangun?" tanya Dika.
"Aku tidak bisa tidur, aku takut, aku tidak terbiasa." ucap Anisa. Dika baru ingat kalau kekasih nya itu sangat lah berbeda.
Akhirnya dia memutuskan untuk menemani Anisa tidur terlebih dahulu.
Namun kedua nya malah ketiduran. Tidak terasa sudah Magrib. Pintu kamar ada yang mengeruk. Dika bergeliat dia melihat Anisa tidur di lengan nya sambil memeluk dia.
Dia bergeser sedikit-sedikit dan pelan agar tidak membangun kan Anisa.
Dika membuka pintu.
"Ada apa mang?" tanya Dika.
"Non Anisa Lagi istirahat yah Tuan?" tanya Mamang. Dika mengangguk.
"Ini sudah magrib, tidak baik tidur di jam-jam seperti ini." ucap Mamang. Dika mengangguk.
"Saya akan membangun kan Anisa dulu Mang, terimakasih sudah membangun kan saya." ucap Dika.
Mamang mengangguk.
"Huff Ternyata aku malah ketiduran, seperti nya aku akan telat memasak untuk Anisa." batin Dika.
Dia melihat Anisa yang tidur begitu nyenyak.
"Anisa... Bangun.." ucap Dika membangun kan nya dengan pelan.
Anisa perlahan membuka mata nya dia melihat ke arah Dika.
"Aku masih sangat mengantuk kak? jangan membangun kan ku." ucap Anisa.
"Ini sudah magrib. Ayo bangun dulu, setelah itu kamu boleh tidur lagi." ucap Dika.
Anisa tetap memeluk bantal nya.
"Sayang..." ucap Dika memanggil nya dengan lembut, Anisa langsung bangun dia menatap Dika sambil tersenyum.
"Baiklah aku bangun." ucap Anisa beranjak dari tempat tidur tampa sadar kaki nya terasa sangat sakit sekali.
"Aaaaa!! Kenapa semakin sakit sih?" ucap Anisa. Dika tertawa kecil.
__ADS_1
"Hati-hati. Sini saya bantu." ucap Dika membawa Anisa keluar.
"Non Anisa masih sakit? Sini duduk dulu." ucap Mamang. Anisa tersenyum. "Loh Mamang memasak ini semua?" tanya Dika. Mamang mengangguk.