
"Ssttt, kamu membicarakan apa sih?" ucap Putri kesal.
Anisa tertawa kecil.
"Ibu dan Bapak berfikir kamu tidak akan mau datang ke sini dan sama sekali tidak mengingat hari ulang tahun Ibu " ucap ibu nya putri.
"Tentu ingat dong Bu, sebelum nya mamah saya Ulang tahun sudah di Masakin kue, dia memberikan ini untuk ibu dan ini dari saya, semoga ibu suka yah." ucap Arya.
"Terimakasih banyak nak," ucap ibu Putri.
Anisa senyum-senyum melihat nya.
"Seandainya saja aku dengan keluarga ku utuh, aku pasti sangat senang melihat Kak Dika di senangi oleh mamah dan papah." batin Anisa.
Dia melihat handphone nya pesan masuk.
"Maaf yah sayang aku tidak pulang hari ini, aku akan menginap di rumah orang tua ku." isi pesan dari Dika.
"Humm mungkin orang tua nya sangat merindukan kak Dika." ucap Anisa.
"Baiklah." balas Anisa singkat.
"Anisa kamu mau pulang dulu atau menunggu di sini?" tanya Putri.
"Aku nungguin saja deh, Lagian aku sangat capek mau pulang ke rumah." ucap Anisa.
"Oohh ya udah deh kalau begitu." ucap Putri.
"Arya kamu nanti malam gak sibuk kan? Tinggal lah di sini untuk makan malam bersama." ucap Anisa.
Arya menoleh ke arah Putri.
"Orang tua ku mau kamu datang. Aku mohon tinggal lah hanya sebentar saja untuk makan malam." ucap Putri.
"Apakah seperti itu cara kamu meminta saya tinggal? Kamu seperti nya tidak ikhlas." ucap Arya.
"Aku memohon sama kamu, ibu ku sudah terlanjur senang sama kamu." ucap Putri.
"Baiklah kalau begitu." ucap Arya sambil tersenyum. Anisa hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat mereka berdua.
Di tempat lain Tri baru saja selesai dari Toko.
"Kamu mau langsung pulang Tri?" tanya kepala toko..
"Iyah Pak. Kenapa?" tanya Tri. "Enggak saya hanya mau memastikan saja." ucap kepala toko.
"Karena pak Marsel yah?" tanya Tri.. Kepala toko mengangguk.
"Sebaiknya kamu segera pergi saja, jangan sampai pak Marsel marah." ucap Kepala toko.
"Huff pak Marsel membuat ku seperti tahanan saja." ucap Tri dengan kesal sambil keluar dari toko.
Setelah keluar dari toko dia melihat mobil Marsel di depan Toko.
__ADS_1
"Akhirnya kamu keluar juga, segera lah masuk ke dalam mobil saya mau mengajak kamu makan di luar." ucap Marsel.
"Makan?" tanya Tri.
"Iyah, semenjak pacaran saya tidak pernah menjemput kamu bekerja dan mengajak makan di luar bukan?" ucap Marsel.
Tiba-tiba Tri menutup mulut Marsel. "Jangan keras-keras dong kak " ucap Tri.
Marsel melepaskan tangan Tri.
"Ayo buruan masuk ke dalam mobil kalau begitu." ucap Marsel. Tri tidak bisa menolak akhirnya dia masuk ke dalam mobil walaupun sedikit jengkel.
"Hari ini toko sangat ramai yah?" tanya Marsel basa-basi kepada Tri yang hanya diam saja.
"Lumayan. Ternyata Toko kue bapak banyak peminatnya, resep-resep kue itu dari mana sih?" ucap Tri.
Marsel terdiam.
"lain kali jangan bekerja terlalu keras, saya sudah meminta kamu untuk berhenti bekerja kenapa kamu tidak mau?" tanya Marsel.
Tri menghela nafas panjang. "Aku akan tetap bekerja." ucap Tri.
"Sebagai sepasang kekasih kita harus memiliki banyak waktu." ucap Marsel.
"Kita bukan kekasih Beneran, hanya bohongan saja." ucap Tri.
Marsel menghela nafas panjang. "Terserah kamu mau mengatakan apa tapi kamu harus tau kalau saya serius kepada kamu." ucap Marsel.
Tri memasang wajah melas.
"Terserah mau percaya atau tidak. Suatu saat nanti kamu akan percaya setelah kamu sudah sadar." ucap Marsel. Tri Diam.
Tidak beberapa lama akhirnya mereka sampai di sebuah restoran yang tidak terlalu ramai.
"Aku pikir bapak akan membawa ku ke restoran yang sangat ramai. Lalu kenapa membawa ku ke tempat seperti ini?" ucap Tri.
"Kenapa? apa kamu tidak suka? Saya akan membawa kamu ke restoran yang kamu mau." ucap Marsel.
"Tidak perlu, aku bisa makan di sini, bahkan di pinggir jalan pun bisa." ucap Tri.
"Saya membawa kamu ke sini karena makanan di sini sangat enak. Kamu harus masuk dan mencoba nya." ucap Marsel.
Tri tidak mengatakan apapun dia turun dari mobil dan mengikuti Marsel ke dalam.
Masuk ke dalam Marsel di sambut dengan sangat ramah sekali.
"Ini menu nya, kamu pesan lah apa yang kamu mau." ucap Marsel.
Tri melihat menu nya. Dia memesan apa yang dia suka kebetulan semua makanan di sana favorit nya.
"Kenapa bapak tidak memilih?" tanya Tri.
"Bapak mau pesan apa?" tanya Pelayan.
__ADS_1
"Saya makan apa yang dia pesan saja, tolong di buat porsi yang lebih banyak." ucap Marsel.
"Aku pikir bapak memiliki uang yang banyak untuk membayar makan di restoran." ucap Tri. Marsel tersenyum.
"Bukan kah makan seporsi berdua terlihat sangat romantis? Saya akan mengajarkan kamu hal yang romantis." ucap Marsel.
Tri menghela nafas panjang. "Sudah lah tidak perlu membahas itu, aku tidak mau mendengar nya." ucap Tri.
Marsel tertawa kecil.
Mereka makan berdua setelah makan datang.
Tri tidak menghiraukan Tri Marsel yang penting dia makan terlebih dahulu.
Setelah masak mereka kembali ke rumah.
"Kamu mau apa lagi? Apa kamu tidak mau yang lain lagi?" tanya Marsel.
"Sebaik nya kita langsung pulang saja." ucap Tri.
"Aku melihat tidak ada satu pun bahan yang mau di masak di dapur kita." ucap Marsel.
"Kita?" tanya Tri kaget.
"Kamu lupa kalau yang tinggal di apartemen itu sekarang bukan hanya kamu sendiri." ucap Marsel.
"Tapi..."
"Dan saya mau kamu memasak kepada saya setiap hari sebelum berangkat bekerja dan juga sepulang bekerja." ucap Marsel.
Tri Menatap Marsel.
"Itu bukan lah pekerjaan ku." ucap Tri.
"Kamu tidak bisa menolak nya." ucap Marsel.
Tri menghela nafas panjang.
"Jadi kita singgah ke supermarket terlebih dahulu untuk membeli keperluan kita." ucap Marsel.
Tri tidak lagi mengatakan apapun dia hanya mengiyakan saja apa yang di katakan oleh Marsel dari pada mereka berdua harus ribut.
Tidak beberapa lama akhirnya Mereka sampai di supermarket.
"Bapak tunggu di sini saja." ucap Tri.
"Sebagai kekasih yang baik saya harus menemani kamu belanja." ucap Marsel.
"Aku sudah terbiasa sendiri, aku tidak perlu bantuan dari bapak." ucap Tri. Marsel langsung turun dari mobil.
"Ayo buruan turun! Ini sudah malam jangan membuang-buang waktu." ucap Marsel membuka pintu dan langsung menarik tangan Tri keluar dari mobil itu.
Tri hanya bisa pasrah dia mengikuti Marsel keluar dari dalam mobil.
__ADS_1
Marsel menarik troli. sebenarnya Tri tidak enak dan tidak nyaman, namun Marsel sama sekali tidak mempermasalahkan itu.