
"Walaupun pak Marsel sudah bisa di bilang tua, dia masih ganteng saja." ucap Tri dalam hati.
"Huff seandainya saja sifat pak Marsel tidak buruk seperti ini, aku akan bersenang hati mau menjadi pacar nya, tidak perlu di bayar." ucap Tri dalam hati.
"Apa yang kamu pikirkan? Menyingkir lah dari say!" ucap Marsel. Tri langsung duduk.
"Maaf-maaf." ucap Tri. "Tidak ada penolakan lagi, mulai dari sekarang kamu sudah harus menjadi pacar saya!" ucap Marsel.
"Bapak benar kan akan membayar gaji saya lima kali lipat?" tanya Tri. "Tiga! Saya mengatakan nya tiga bukan lima." ucap Marsel.
"Huff iya deh, dari pada tidak sama sekali." ucap Tri. Marsel kelihatan sangat senang sekali.
"Ini sudah jam sebelas. Sebaiknya kamu siap-siap ." ucap Marsel.
"Nanti saja, aku masih mau bermain." ucap Tri.
"Kamu sangat lama siap-siap segera lah pergi." ucap Marsel. Tri menggeleng kan kepala nya. Toba Marsel mengambil Remote dari tangan Tri.
Tri menatap Marsel. "Pergi mandi saya bilang!" ucap Marsel.
"Kembali in, aku belum terima aku kalah, aku bisa membuktikan kalau aku pasti bisa menang." ucap Tri.
"Saya percaya kamu pintar, tapi sekarang pergi lah siap-siap." ucap Marsel.
"Ada apa ini kak? kenapa kok ribut?" tanya Anisa baru turun.
"Ini loh pak Marsel bermain curang sampai aku kalah, aku tidak terima." ucap Tri.
"Bermain apa?" tanya Anisa.. Melihat game yang di layar PS membuat Anisa tersenyum.
"Kamu melawan kak Marsel main permainan ini? Wajar saja jika kamu kalah, siapapun akan kalah karena kak Marsel sudah menguasai permainan ini dari kecil dulu." ucap Anisa.
Tri seketika terdiam.
"Ini sudah hampir jam dua belas sebaiknya kamu siap-siap gih." ucap Anisa.
"Loh kamu abis ngapain? Kok kamu belum siap-siap?" tanya Tri.
"Oohh aku abis..." dia terdiam sejenak.
"Tidak mungkin aku bilang habis memijit badan kak Dika." ucap Anisa dalam hati.
"Aku gak ngapa-ngapain kok, nih mau nyimpan piring dan gelas setelah itu aku mau siap-siap. Kamu datang lah ke kamar ku." ucap Anisa.
Tri menganguk. Anisa naik ke atas lagi. Tri menoleh ke arah Marsel.
"Nyebelin!" ucap Tri langsung pergi. Marsel tersenyum.
"Sangat lucu sekali." batin Marsel.
__ADS_1
Dika baru saja bangun dia tidak melihat Anisa di sana dia mencari nya ke kamar Anisa.
"Sayang.... Apa yang kamu lakukan?" tanya Dika masuk ke kamar Anisa. Anisa kaget karena Dika tiba-tiba masuk, sementara dia sudah tidak memakai pakaian hanya menggunakan handuk.
"Apa yang kakak lakukan di sini? aku mau mandi, pergi lah keluar." ucap Anisa.
Dika melihat Anisa dia tersenyum. "Dasar mesum pergi keluar!" Anisa mendorong Dika.
Tiba-tiba Tri datang. Dia Heran melihat Anisa kesal dan menutup pintu.
"Kamu dan Tuan Dika kenapa?" tanya Tri.
"Huff terkadang aku kesal sama kak Dika yang tidak tau kondisi untuk masuk ke sini." ucap Anisa.
Tri tersenyum. "Humm wajar saja lah tuan Dika seperti itu. Dia sudah seorang duda." ucap Tri.
"Maksud kamu apaan?" tanya Anisa.
"Yahh kalau terkadang tuan Dika nafsuan itu hal wajar, itu adalah Resiko kamu berpacaran dengan seorang duda." ucap Tri.
"Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu katakan." ucap Anisa.
"Hah? Seriusan kamu tidak mengerti apa yang aku katakan? kamu dengan tuan Dika sudah ngapain saja?" tanya Tri.
"Hanya pacaran seperti biasa." ucap Anisa dengan sangat polos.
"Apa tuan Dika tidak ada meminta hal yang aneh-aneh kepada kamu?" tanya Tri.
Tri tersenyum. "Bagus deh kalau begitu." ucap Tri.
"Lagian kalau kak Dika serius kepada ku dia akan menjaga ku dengan baik." ucap Anisa.
"Tapi kalau sesekali tuan Dika aneh kamu harap maklum yah." ucap Tri. Anisa mengganguk.
"Aku juga mengerti kok. Sebagai duda pasti dia di uji oleh nafsunya sendiri." ucap Anisa. Tri tersenyum.
"Oh iya besok aku dan kak Dika mau menemui anak kak Dika di panti asuhan." ucap Anisa.
"Kamu sudah tau?" tanya Tri..Anisa menganguk.
"Kamu tidak apa-apa dengan hal itu kan?" tanya Tri..Anisa tersenyum.
"Aku harus dewasa, itu sudah resiko ku mencintai kak Dika." ucap Anisa.
"Aku tidak tau banyak tentang masa lalu tuan Dika. Mereka bercerai karena tidak saling mencintai lagi..Kamu tidak perlu terlalu memikirkan itu, kamu hanya fokus saja kepada hubungan kalian." ucap Tri.
Anisa menganguk.
Mereka segera mandi bergantian dan setelah itu berdandan cantik.
__ADS_1
"Tri kali ini kita akan double date, kamu harus tampil cantik." ucap Anisa.
"Maksud kamu?" tanya Tri.
"Eh bukan double date tapi triple date." ucap Anisa.
"Karena Putri dan Arya ikut juga." ucap Anisa.
"Ini pertama kali nya kita sama-sama seperti ini, aku yakin ini pasti momen yang sangat tidak bisa di lupain." ucap Anisa.
"Aku dengan pak Marsel tidak pacaran." ucap Tri.
"Jangan berbohong kamu! Aku tau kok kalau sebenarnya kak Marsel membayar kamu menjadi pacar bohongan nya." ucap Anisa.
"Dari mana kamu tau?" tanya Tri kaget.
"Kak Marsel sangat terbuka kepada ku." ucap Anisa. Tri menghela nafas panjang.
"Kapan dia memberi tahu kamu?" tanya Tri.
"Kamu tidak perlu tau, aku hanya mau kamu menerima permintaan kak Marsel, dia tidak akan aneh-aneh kok, lagian kamu hanya perlu mengaku-ngaku menjadi pacar kak Marsel di depan keluarga nya." ucap Anisa.
Tri menganguk. "Aku sudah kalah dalam permainan yang syarat nya aku harus mau." ucap Tri.
Anisa tersenyum.
Mereka berdua sudah siap.
"Kak aku sudah siap, ayo berangkat." ucap Anisa. Dika dan Marsel menoleh ke arah Anisa dan Tri yang turun.
Mereka sama-sama memakai dress putih.
"Tri sangat cantik sekali, berbeda sekali dari sebelumnya." batin Marsel sehingga dia tidak bisa memalingkan pandangannya.
"Aku ikut dengan kamu saja yah" ucap Tri kepada Anisa setelah sudah di depan.
"Tapi..."
"Gak apa-apa, naik saja." ucap Dika.
"Kamu ikut dengan saya! Kamu datang ke sini bersama saya jadi kamu harus ikut dengan saya, lagian saya tidak betah menyetir sendiri." ucap Marsel.
"kamu temanin kak Marsel saja Tri." ucap Dika.
Tri tidak bisa menolak kalau sudah di suruh Dika, akhirnya dia masuk ke dalam mobil Marsel.
"Kamu tidak membawa pakaian seperti ini tadi, kamu memakai milik siapa?" tanya Marsel.
"Milik Anisa." ucap Tri.
__ADS_1
Di dalam mobil Dika.
"Kenapa kakak menatap ku seperti itu?" tanya Anisa.