
Dika tersenyum dia mengelus kepala Anisa.
"Sudah-sudah jangan di ingat masa lalu yang jelek." ucap Dika.
Anisa menatap Dika dengan mata yang malu. "Kamu jangan memasang wajah seperti itu dan bersifat manja, karena saya takut saya tidak bisa mengontrol diri." ucap Dika.
"Huff dasar mesum!" ucap Anisa langsung keluar dari dalam mobil.
Mereka memesan makanan dan duduk di meja pilihan Anisa.
Karena restoran itu tempat yang terbuka jadi angin masuk. Kebetulan angin lagi sangat kencang. Dika memerhatikan rambut Anisa yang di urai di terbangkan oleh Angin.
Anisa melihat Dika pergi tanpa ijin dari bangku nya. Anisa bodo amat dia kembali fokus kepada handphone nya menunggu pesanan mereka datang.
Tidak beberapa lama Dika kembali dia mengikat rambut Anisa. "Apa yang kakak lakukan?" tanya Anisa langsung menjauh dari Dika.
Dika Menatap nya dengan heran.
"Rambut kamu terbang mengganggu pemandangan kamu." ucap Dika.
"Aku bisa mengikat nya sendiri." ucap Anisa mengambil karet gelang dari Dika mengikat dengan acak.
"Apa kakak tidak melihat dari tadi semua orang melihat ke arah kita? Sebagian dari mereka adalah teman ku." ucap Anisa. Dika melihat ke sekitar.
Mereka semua langsung menyapa Dika. Dika tersenyum.
Selama mereka makan tidak ada percakapan apapun. Bahkan Anisa menolak semua perlakuan perhatian Dika kepada nya.
Sampai Dika merasa Anisa malu makan bersama dia.
Setelah beberapa lama akhirnya sampai di apartemen Dika.
"Kak! Kak!" panggil Anisa mengejar Dika keluar dari dalam mobil.
Dika tidak menghiraukan Anisa dia terus berjalan masuk ke apartemen nya.
"Tunggu dulu, kenapa kakak berjalan begitu cepat sekali?" ucap Anisa mengejar Dika masuk ke dalam apartemen nya.
"Den Dika, non Anisa." ucap Bibik.
"Bibik di sini?" ucap Dika.
"Saya berfikir den Dika Akan sampai tadi malam, jadi saya menunggu den Dika di sini, ternyata den tidak pulang jadi Bibik ketiduran di sini." ucap Bibik.
"Maafin saya bik sudah membuat Bibik lama menunggu." ucap Dika.
"Den Dika kenapa bisa datang bersama non Anisa?" tanya Bibik
"Humm ini karena.."'
"Karena tadi malam saya langsung ke rumah Anisa Bik, saya tidur di sana." ucap Dika.
"Oohhh begitu." ucap Bibik. Dika menganguk.
"Kalau begitu Den Dika mandi dulu, saya akan menyiapkan baju untuk den." ucap Bibik.
"Gak apa-apa bik, biar aku saja." ucap Anisa. Dia mengikuti Dika ke kamar nya. Bibik yang melihat itu hanya bisa terdiam.
__ADS_1
"Bibik sudah tau hubungan kita?" tanya Anisa kepada Dika. Dika menggeleng kan kepala nya.
"Mungkin dia tidak tau dari kita langsung, tapi dia tau dari kedekatan kita." ucap Dika.
Anisa duduk di pinggir kasur sambil termenung memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" tanya Dika. Anisa menggeleng kan kepala nya.
"Kalau begitu kakak mandi, setelah itu aku akan mengoleskan salep ke badan kakak." ucap Anisa.
Dika menganguk.
Anisa membuka lemari baju Dika yang begitu besar.
"Wahhh Wangi sekali." batin Anisa. Anisa memilih salah satu kaus putih dan juga celana panjang biasa.
"Kak Dika memakai pakaian seperti ini kelihatan seperti umur 20, sebaiknya aku memilih ini saja." ucap Anisa.
Cukup lama Dika di kamar mandi dia keluar mengunakan handuk.
"loh kamu sudah mandi?" tanya Dika kaget melihat Anisa sudah merias diri di depan cermin Dika.
"Humm baru saja selesai." ucap Anisa. Dika memakai celana nya.
"Sini aku bantu oleskan." Anisa mengoleskan salep ke setiap merah-merah di badan Dika.
"Sudah mulai sembuh, lain Kali jangan Makan sembarangan. Aku hanya bercanda memaksa untuk memakan hal yang membuat alergi." ucap Anisa.
Dika tersenyum.
"Baiklah Mah." ucap Dika.
Anisa menatap Dika.
Dika tersenyum.
"Kamu mengingat kan saya kepada Mamah saya." ucap Dika.
"Maksud nya? Apa aku sudah terlihat lebih tua?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya sambil tersenyum.
"Bukan seperti itu.." ucap Dika.
"Kamu cerewet sama seperti mamah. Saya berfikir dulu dia marah, dia cerewet dan melarang saya melakukan ini itu karena tidak sayang." ucap Dika.
Anisa menatap Dika.
"Humm kok kakak berbicara seperti itu? Bukan nya Mamah kakak masih hidup?" tanya Anisa.
Dika terdiam sejenak. "Sudah lupakan saja." ucap Dika.
Anisa menatap nya dengan bingung.
"Humm." ucap Anisa.
Mereka keluar dari kamar Dika. Anisa mengambil buku yang ada di dalam tasnya dan duduk di samping Dika.
Dika menoleh ke arah Anisa.
__ADS_1
"Anisa.." panggil Dika.
"Hummm?" jawab Anisa.
"Saya...." Dika seperti ragu untuk berbicara.
"Ada apa?" tanya Anisa.
Dika tiba-tiba mencium bibir Anisa. Anisa terdiam karena terkejut.
Dika langsung melepaskan nya.
"Saya minta maaf.." ucap Dika. Anisa tiba-tiba mencium bibir Dika cukup lama, Dika langsung membalas ciuman Anisa.
"Bibir kamu sangat lembut." ucap Dika. Anisa tersenyum.
"Sudah ah, aku mau lanjut belajar." ucap Anisa. Dika tersenyum.
Anisa berbaring dan membantal kan paha Dika.
Dika menceritakan banyak hal, dia juga menjelaskan pelajaran sampai Anisa tertidur di pangkuan nya.
Dika tersenyum melihat Anisa tertidur begitu lelap sekali.
"Hubungan seperti ini memang sangat sulit namun apapun itu saya tidak akan menyia-nyiakan kamu."ucap Dika.
Keesokan harinya... Anisa dan Putri berangkat bersama ke sekolah.
Pada sore hari nya kemarin Anisa pulang setelah keliling dengan Dika.
"Selamat pagi semua nya..." Ucap Dika masuk ke kelas.
"Pagi pak... Akhirnya bapak masuk lagi, kami semua sudah sangat merindukan bapak." ucap Rida.
"Saya sangat Sibuk akhir-akhir ini, saya minta maaf karena saya kalian jadi ketinggalan pelajaran." ucap Dika.
"Tidak apa-apa kok pak, oh iya ini untuk Bapak." ucap Rida memberikan Paper bag.
"Apa ini?" tanya Dika.
"nanti saja buka nya Pak." ucap Rida. Anisa yang melihat itu memasang wajah cemburu. Putri memerhatikan Anisa yang meremas bukunya.
"Anisa apa yang kamu lama? Buku mu rusak." ucap Putri.. Anisa langsung sadar.
Setelah selesai belajar di jam pertama Anisa menyusul Dika ke ruangan nya.
"Anisa apa yang kamu lakukan?" tanya Dika kaget karena Anisa langsung masuk begitu saja dan mengunci pintu.
Anisa menatap Dika.
"Ada apa Anisa?" tanya Dika karena melihat wajah Anisa memerah, menatap Dika dengan tatapan tajam.
"Aku gak suka Bapak dekat-dekat dengan Rida, tidak suka juga bapak mengambil barang-barang apapun dari Rida." ucap Anisa.
Dika masih diam.
"Kamu berbicara apa? Sebelum nya Rida sudah sering memberikan hal-hal seperti ini." ucap Dika.
__ADS_1
"Aku bisa melihat bapak seperti nya tertarik kepada Rida kan? Dia cantik, pintar, bisa masak, dan sangat suka memberikan Bapak kejutan..Selain itu dia juga menyukai bapak." ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Kenapa kakak malah tersenyum?" ucap Anisa mendorong Dika ke tembok dan menahan dengan kedua tangan nya walaupun sedikit jinjit.