Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 170


__ADS_3

"Saya sangat mencintai kamu Anisa, saya tidak bisa melihat kamu menangis, kamu sedih dan saya tidak ingin kamu marah kepada saya." ucap Dika.


"Kalau begitu kakak harus menghadapi masalah. Temukan jalan keluar nya. Percuma kakak seperti ini terus tidak akan ada jalan keluar nya." ucap Anisa.


"Saya butuh waktu Anisa, saya sedang memikirkan itu, saya butuh Persiapan." ucap Dika.


"Kalau kakak sayang sama aku, serius dengan ku kakak harus berani menentang orang tua kakak." ucap Anisa.


"Anisa tidak semudah itu, mereka adalah orang tua saya, tidak seperti kamu tidak bisa mengatakan apapun kepada orang tua kamu tampa memikirkan perasaan mereka seperti apa." ucap Dika.


Anisa kaget Dika berbicara seperti itu dan membahas masa lalu nya.


"Kenapa kakak berbicara seperti itu? Keadaan kakak dengan keadaan ku sangat berbeda. Pada saat itu aku belum bisa berfikir dengan baik." ucap Anisa.


"Saya tidak bermaksud seperti ini, hanya saja dengan hal seperti ini tidak bisa begitu gampang. Saya tidak ingin kehilangan kamu." ucap Dika.


"Kalau begitu tidak perlu, sebaiknya kita putus saja." ucap Anisa langsung keluar dari dalam mobil. Dika kaget dia mengejar Anisa namun Anisa sudah terlanjur keluar dari dalam mobil terlebih dahulu.


"Anisa! Anisa!" panggil Dika.


Dia mengikuti mobil Anisa namun tidak tau kemana perginya.


"Kenapa aku berbicara seperti itu kepada Anisa? Seharusnya aku tidak boleh berbicara seperti itu!" ucap Dika.


Anisa di dalam Taksi.


"Aku harus memberikan dia Pelajaran sesekali. Aku tidak mungkin harus mengerti dia terus menerus." ucap Anisa.


Marsel dan Juga Tri baru saja sampai di apartemen.


"Kita sudah sampai." ucap Marsel kepada Tri, namun ternyata Tri tidur.


Marsel menggeleng kan kepala nya.


"Kalau tidak tidur di dalam mobil mungkin dia bisa sakit, kebiasaan sekali!" ucap Marsel dengan kesal.


"Hey! Hey!" Marsel menggoyang kan lengan Tri namun tidak bangun.


Marsel menghela nafas panjang. "Pok!! Pok!!" Dia menepuk-nepuk pipi Tri Agar dia bangun.


"Sakit! Kenapa bapak memukul wajah ku?" tanya Tri.


"Kita sudah sampai!" ucap Marsel. Tri melihat ke sekeliling nya.

__ADS_1


"Kalau sudah sampai tinggal bangunin saja, jangan sampai memukul wajah ku." ucap Tri.


Marsel menghela nafas panjang dia harus diam menghadapi Tri.


"Loh bapak ngapain ikut?" tanya Tri.


"Saya akan lebih sering tidur di apartemen ini dalam satu bulan ini. Saya akan mengajarkan kamu banyak hal agar tidak membuat saya malu ketika saya membawa kamu ke rumah keluarga saya." ucap Marsel.


Tri menghela nafas panjang. Dia menggeleng kan kepala nya.


"Tidak mungkin bapak tidur satu apartemen dengan ku, apa kata orang nanti?" ucap Tri.


"Ini apartemen pribadi saya, tidak perduli dengan apa kata orang. Saya tidak merugikan mereka dan mereka juga pasti tidak akan perduli dengan kita." ucap Marsel.


Tri menggeleng kan kepala nya. "Anisa dengan Dika sudah terbiasa dengan hal itu. Mereka sudah konsisten dan juga Tuan Dika orang yang baik sehingga bisa di percaya namun bersama Bapak aku tidak mau." ucap Tri.


"Apa saya kelihatan orang jahat?" tanya Marsel. Tri mengangguk.


"Mau bagaimana pun aku harus menjaga diri ku seperti nasehat orang tua ku. Aku tidak ingin hidup ku hancur." ucap Tri.


Marsel mendekati Tri. "Bukan nya kalau anak rantau seperti kamu ini hidup bersama pria?" ucap Marsel.


"Plak!!!" Tamparan keras di pipi Marsel.


Marsel memegang pipi nya.


"Saya salah apa kepada kamu? kenapa kamu menampar saya?" tanya Marsel.


"Menyesal aku mau bekerja dengan bapak di sini." ucap Tri dia mendorong Marsel lebih jauh dari nya.


"Saya sudah memutuskan sebaik nya saya Berhenti saja, saya akan kembali ke Kota saya. Saya tidak butuh uang bapak dari pada saya harus ketakutan dan harus waspada setiap hari. Hidup saya sama sekali tidak pernah tenang." ucap Tri.


Dia langsung berlari ke lantai atas mengumpulkan semua pakaian nya. Marsel langsung mengikuti ke apartemen.


Marsel mengunci pintu. "Kamu sudah masuk ke hidup saya, untuk keluar tidak lah semudah apa yang kamu pikirkan." ucap Marsel.


Tri berbalik dia menatap Marsel. "Apa sih yang bapak mau dari aku? Apa?" tanya Tri.


Marsel diam.


"Aku akan pergi aku tidak betah di sini." ucap Tri.


"Kamu tidak boleh keluar dari hidup saya begitu mudah." ucap Marsel lagi.

__ADS_1


"Karena apa? Aku memiliki utang kepada bapak? Aku merasa tidak memiliki hutang." ucap Tri marah.


Marsel mendekati Tri.


"Karena saya sudah mencintai kamu, saya jatuh cinta kepada kamu di saat pertama kali melihat kamu." ucap Marsel.


Tri terkejut dia langsung menghindar. Namun Marsel mendekati nya terus menerus sampai ke dinding.


"Kamu sangat mirip kepada ibu kandung saya, kamu benar-benar sangat mirip dengan dia, itu adalah alasan saya mencintai kamu..Saya tidak ingin kamu pergi saya ingin menikahi kamu." ucap Marsel.


Tri menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau, aku tidak mau." ucap Tri.


"Kamu tidak bisa menolak, karena semua apa yang saya inginkan pasti terjadi." ucap Marsel. Tri menggeleng kan kepala nya.


Dia berteriak sekuat mungkin mendorong Marsel dan masuk ke kamar.


Marsel kesakitan karena di tendang oleh Tri.


"Dua hari lagi saya akan membawa kamu ke keluarga saya, kalau mereka setuju saya menikah dengan kamu saya akan segera menikahi kamu!" ucap Marsel.


"Aku tidak mau, aku tidak akan mau mempunyai suami seperti iblis ." ucap Tri. Marsel tertawa.


"Kamu tidak bisa menolak Tri. Kamu sekarang adalah milik saya." ucap Marsel.


"Aku akan memberi tau kepada Anisa." ucap Tri. Marsel tertawa.


"Bagaimana cara kamu memberi tau dia? Handphone kamu ada pada saya." ucap Marsel. Karena sedang tidur tadi Marsel mengambil nya.


Tri merasa sangat jengkel sekali.


"Buka pintu nya! Mari kita bicara kan baik-baik!" ucap Marsel.


Tri tetap tidak mau dia sudah ketakutan.


Tidak terasa sudah malam.. Anisa dan Dika sudah di rumah.


Dika berdiri di pojokan rumah itu sambil memasang wajah bersalah.. Anisa di dapur memasak tidak perduli kepada Dika.


"Anisa... Sampai kapan kamu meminta saya berdiri di sini? Saya sangat lelah, saya juga mau ke kamar mandi." ucap Dika.


"Aku ingin kakak di situ sampai kakak Sada apa yang kakak katakan pada ku siang tadi." ucap Anisa.


"Saya minta maaf, saya terpancing emosi karena saya sangat pusing..Saya mohon jangan marah dan mengatakan putus." ucap Dika.

__ADS_1


__ADS_2