
"Kenapa kamu bisa luka seperti ini? apa yang terjadi?" tanya Dika.
"Aku mengalami banyak masalah perjalanan ke sini, aku salah turun bus, aku juga di tipu, di rampok." ucap Anisa.
Dika menatap Anisa.
"Maafkan saya, saya minta maaf. Kamu kenapa melakukan ini? Kamu tidak perlu datang jauh-jauh ke sini." ucap Dika.
"Bagaimana bisa kakak mengatakan itu setelah aku di sini? aku datang ke sini karena aku merindukan kakak, aku mencari di mana kakak, sementara kakak sama sekali tidak memikirkan aku di sana seperti apa." ucap Anisa.
Dika menundukkan kepalanya.
"Kenapa Kakak tega meninggalkan aku begitu saja? Apa salah ku?" tanya Anisa.
Dika menggeleng kan kepala nya. "Kamu tidak salah, saya yang salah. Saya minta maaf. Saya merasa bersalah saya tidak pantas untuk kamu." ucap Dika.
Anisa meminta Dika menatap nya.
"Tatap aku! Tatap aku kak. Aku ingin penjelasan kakak sekarang." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya tau kamu pasti sangat membenci saya." ucap Dika.
"Aku tidak pernah membenci kakak, aku selalu mencintai Kakak, kalau aku membenci kakak mana mungkin aku sampai di sini untuk sekarang ini." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang. "Baiklah saya akan menceritakan semua nya apa yang sudah terjadi.. Setelah ini kalau kamu mau pergi saya tidak akan menahan nya lagi." ucap Dika.
Anisa diam. "Sebenernya Saya sudah menikah di usia 19 tahun." ucap Dika.
Anisa tetap diam mendengarkan kan Dika menjelaskan nya.
"Awalnya kami tidak saling mencintai karena Perjodohan orang tua saya, namun orang tua saya memaksa untuk menikahi dia, namun setelah menikah sangat banyak masalah yang datang. Pada saat itu dia muak dengan saya karena tidak bisa mengerti dia, dan akhirnya dia selingkuh." ucap Dika.
"Lalu?" tanya Anisa.
"Setelah dia ketahuan selingkuh ternyata dia mengandung anak saya yang sudah lima bulan." ucap Dika.
"Namun setelah dia melahirkan dia kabur membawa anak kita. saya mencari nya sampai dapat dan ternyata dia sudah menikah dengan Pria lain dan meninggalkan Anak kita di panti asuhan." ucap Dika.
__ADS_1
"Jadi benar kalau Boni itu adalah anak kakak?" tanya Anisa. Dika mengangguk.
"Tidak ada satu pun yang tau kalau Boni adalah anak saya selain Candra. Hanya Candra yang tau jalan kehidupan saya." ucap Dika.
Anisa terdiam. "Saya sangat merasa bersalah sudah menghancurkan persahabatan dengan cara jatuh cinta kepada kekasih nya." ucap Dika.
"Kakak menyesal bersama ku?" tanya Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya. "Saya membuat semua nya berantakan, saya kehilangan sahabat saya, saya juga kehilangan kamu." ucap Dika.
"Kakak tidak kehilangan aku, aku di sini ada untuk Kakak." ucap Anisa.
Dika langsung memeluk Anisa.
"Apapun cerita di masa lalu kakak itu adalah masa Lalu, semua itu bukan lah keinginan kakak, aku tau kok." ucap Anisa. Dika menangis dia mendengar kata-kata Anisa.
"Saya sangat merasa sedih melihat Boni di buang di panti asuhan oleh ibu nya, saya ingin mengambil nya namun saya tidak bisa berbuat apa-apa." ucap Dika.
"Kakak tunggu saja ada masa nya kok, kakak tidak perlu khawatir." ucap Anisa.
Dika menatap Anisa. "Kenapa kamu masih ada di sini? Saya sudah membuat kamu kecewa, saya sudah membohongi kamu." ucap Dika.
"Kamu tidak marah kepada saya?" tanya Dika.
"Rasa marah, kesal, kecewa pasti ada, tapi tidak ada gunanya. Aku hanya ingin Kakak jujur kepada ku, aku butuh penjelasan kakak." ucap Anisa.
"Ternyata aku sudah salah berfikir tentang Anisa. Aku berfikir setelah dia mendengar itu dia akan membenci dan menjauhi ku." batin Dika.
"Kakak tidak boleh berfikir yang aneh-aneh tentang ku, aku tau kakak pasti meragukan aku, tapi aku berusaha untuk dewasa. Mempertahankan hubungan itu lebih baik dari pada harus mencari yang lain." ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Kamu sudah sangat dewasa dari pada saya." ucap Dika.
"Nah gitu dong kan semakin tampan kalau senyum." ucap Anisa. Dika tidak berhenti tersenyum dan malu-malu melihat Anisa.
"Saya sangat mencintai kamu. Saya takut kehilangan kamu, saya setiap hari tidak bisa berhenti berfikir tenang, di bayangan saya hanya bisa melihat kamu marah kepada saya." ucap Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Aku pasti akan marah kalau kakak melakukan kesalahan." ucap Anisa.
"Saya minta maaf." ucap Dika. Anisa mengangguk. "Aku sudah memaafkan kakak, berhenti lah meminta maaf." ucap Anisa.
Dika berdiri dari duduknya.
"Kamu bisa melakukan apapun untuk menghukum saya karena sudah membiarkan kamu datang ke sini sendiri dan membuat kamu sengsara, membuat kamu menderita." ucap Dika.
"Kakak yakin? aku akan melakukan hal yang sadis." ucap Anisa. "Saya rela, asal kan kamu mau memaafkan saya." ucap Dika. Anisa mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, aku akan memberikan hukuman kepada kakak." ucap Anisa berdiri.
Dia mengangkat tangan nya, Dika langsung menutup matanya berfikir kalau Anisa akan menampar nya namun ternyata mencium bibir nya.
Dika terdiam sejenak dia langsung membuka mata nya. Anisa melepaskan bibirnya dan tersenyum. "Aku rasa itu sudah cukup menghukum kakak." ucap Anisa.
Dika memegang bibir nya. Anisa tersenyum.
"Anisa..." ucap Dika dengan nada lembut. "Humm?" Jawab Anisa.
"Saya sangat merindukan kamu, saya mencintai kamu, saya tidak bisa Tampa kamu, jangan pergi, saya mohon selalu lah bersama saya." ucap Dika.
"Justru kakak yang pergi meninggalkan aku, bukan aku yang pergi." ucap Anisa.
Dika malu. "Saya..."
"Sudah tidak perlu di jelaskan, aku sudah tau kok.. Setiap orang itu pasti ada waktu nya sendiri untuk menenangkan diri. Aku mengerti karena sebelumnya aku juga sudah mengalami masalah yang sulit." ucap Anisa.
Dika tersenyum. "Tapi lain kali kalau kakak memiliki masalah jangan pergi jauh sehingga membuat ku khawatir, datang lah pada ku, anggap aku sebagai rumah kakak sebagaimana aku menganggap kakak. Aku yakin bersama ku jauh lebih nyaman dari pada kembali ke rumah ini." ucap Anisa.
Dika mengangguk. "Pasti.. Saya akan kembali kepada kamu." ucap Dika. Anisa tersenyum dia menghapus air mata Dika.
"Aku juga minta maaf sama kakak karena banyak merepotkan kakak, aku juga minta maaf karena belum bisa menyakinkan kakak, membuat kakak nyaman bersama ku." ucap Anisa.
"Ssstt jangan berbicara seperti itu, saya sudah sangat nyaman bersama kamu, saya tidak ingin membuka hati saya untuk orang lain, sudah ada kamu, saya ingin kamu yang terakhir." ucap Dika.
__ADS_1