
"Seperti yang kamu lihat saya baik-baik saja, kamu sendiri bagaimana?" tanya Dika. "Baik juga pak, bapak semakin ganteng saja." ucap Rida.
"Kamu bisa saja. Saya tetap lah seperti ini." ucap Dika. Anisa dan putri hanya bisa memasang wajah tidak suka melihat Rida yang modusin pak Dika.
"Caper banget sih tu si Rida." ucap Putri.
"Hayyy Anisa.. Putri..." Arya baru saja datang.
"Hay juga Arya, kamu apa kabar?" tanya Anisa.
"Baik aku baru saja pulang dari kampung orang tua ku, nih oleh-oleh untuk kalian berdua." ucap Arya memberikan kepada Anisa dan juga Putri.
"Loh kok untuk Putri dua sih? Aku kok satu? Kamu gak adil banget sih?" ucap Anisa.
"Oohh ini titipan Putri satu nya." ucap Arya. "Oohh ya udah deh terimakasih yah, aku ke kelas duluan yah." ucap Anisa.
Arya mengangguk. "Aku tidak menitip apapun sama kamu, ambil saja ini." ucap Putri mengembalikan Paper bag satu kepada Arya.
"Ini adalah Tas main, aku melihat nya sangat cantik, aku pikir ini sangat cocok untuk kamu yang sangat feminim." ucap Arya.
Putri menggeleng kan kepala nya. "Aku tidak mau." ucap Putri. "Huff bisa tidak kalau kamu jangan menolak pemberian ku?" tanya Arya.
"sejak kapan sih kamu jadi baik seperti ini sama aku? perasaan sebelum nya kamu judes dan tidak perduli kepada ku." ucap Putri.
"Yah karena kamu baik kepada ku, itung-itung ini tanda terima kasih karena sudah membantu ku move on dari om Anisa." ucap Arya. "Perasaan aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya mengatakan Anisa sudah dengan pak Dika." ucap Putri.
"Nah itu dia, karena itu aku bisa move on, aku sadar diri dan perlahan mundur." ucap Arya. "Hufff terserah kamu saja deh, aku mau masuk ke kelas dulu." ucap Putri.
"Tunggu aku dulu, kamu kenapa malah main tinggal kan sih?" ucap Arya mengejar Putri ke dalam kelas.
Anisa melihat Arya dan Putri. "Ternyata Mereka sudah sangat akrab, bagus deh. Aku akan jauh lebih sibuk dengan kak Dika, jadi Putri memiliki teman sama seperti Arya, dia memiliki teman." ucap Anisa.
Hari ini tidak lah belajar, hanya membahas jadwal, pengaturan ketua kelas dan yang lainnya nya juga.
Tidak beberapa lama akhirnya Pulang sekolah.
"Aku anterin pulang yah." ucap Arya kepada Putri. Putri menggeleng kan kepala nya. "Ayah ku Akan datang menjemput." ucap Putri.
"Hari Senin seperti ini mana mungkin ayah mu datang menjemput, sebaik nya kamu ikut saja dengan Arya." ucap Anisa.
__ADS_1
Putri menghela nafas panjang.
"Ya udah deh, Kalau begitu aku pulang dulu yah." ucap Putri melambai kan tangan nya dan pergi.
"Kamu selalu jual mahal." ucap Arya kepada Putri.
"Kamu sadar gak sih yang kamu lakukan terlalu berlebihan, aku tidak ingin orang-orang berfikir kalau kita memiliki hubungan." ucap Putri.
Arya tertawa. "Biarkan saja orang mau berkata apa, kenapa kamu terlalu perduli dengan omongan mereka? Aku saja tidak memperdulikan itu!" ucap Arya.
Putri menghela nafas panjang.
Tidak beberapa lama akhirnya sampai. "Kamu langsung Pulang saja." ucap Putri kepada Arya.
"Saya sudah sering mengantar kamu pulang, namun saya tidak pernah kamu ajak ke rumah kamu bertemu dengan keluarga kamu." ucap Arya.
"Ayah dan ibu ku Akan marah besar kalau tau aku berteman dengan laki-laki, sebaik nya kamu pulang saja." ucap Putri.
Arya menggeleng kan kepala nya. "Putri.. Kamu sudah pulang? Maafin ayah tidak bisa menjemput kamu, ini ayah baru istirahat bekerja." ucap ayah nya.
"Pulang saja sana! Pulang!" ucap Putri kepada Arya, namun Arya malah menyapa orang tua putri.
"Baik, kamu yang mengantarkan putri di pulang?" tanya Ayah nya putri.
"Iyah om, sebenarnya bukan hanya sekali ini, namun saya tidak pernah di ijinkan Putri turun menemui om." ucap Arya. Putri hanya bisa menghela nafas panjang memasang wajah kesal kepada Arya.
"Kalau begitu ayo masuk dulu, kebetulan mau makan siang, ayo sama-sama." ucap Ayah nya Putri.
Sementara di depan sekolah Anisa setia menunggu Dika di depan gerbang, namun tiba-tiba mobil Candra berhenti di depan nya.
"Kamu menunggu siapa? Kenapa kamu tidak pulang?" tanya Candra.
"A-aku."
"Oh iya aku lupa, kan kamu datang bersama Dika ke sini." ucap Candra.
"Aku anterin pulang yah. Kebetulan aku lagi di sini." ucap Candra.
"Kamu ngapain ke sini? Kok kamu tau aku bersama pak Dika ke sini?" tanya Anisa.
__ADS_1
"Aku melihat nya pagi tadi. aku juga sudah tau dia bekerja di sini menjadi guru, aku mau menemui nya." ucap Candra.
Anisa terdiam sejenak.
"Aku anterin pulang yah." ucap Candra. Anisa tidak bisa menolak.
Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun, kedua nya jadi sama-sama canggung. Begitu juga dengan Candra jadi bingung harus bersikap bagaimana. Anisa sudah ingin putus dengan nya.
Sesampainya di rumah Anisa mengucapkan terimakasih dan langsung masuk ke rumah.. Candra menyusul Dika di sekolah.
Cukup banyak yang di tanyakan dan di ceritakan oleh Candra kepada nya.
Dika tidak bisa mengatakan apapun selain hanya bisa mengiyakan saja kata-kata Candra.
"Saya pamit pulang dulu yah Om, Bu, terimakasih makan siangnya." ucap Arya kepada orang tua putri.
"Sama-sama nak Arya. Hati-hati di jalan." ucap orang tua putri. Putri mengantarkan nya ke depan.
"Bisa gak gak usah sok dekat gitu sama orang tua ku?" ucap Putri.
"Kamu kenapa sih? Kamu bilang ke semua orang kalau orang tua kamu galak, namun ternyata mereka sangat baik." ucap Arya.
"Kamu tidak akan mengerti, kamu pulang saja." ucap Putri. "Awas kualat loh." ucap Arya.
"Buruan pulang sana! Aku tidak mau melihat kamu lama-lama, semakin lama semakin Aneh." ucap Putri.
"Baiklah, sampai jumpa besok." ucap Arya. Putri hanya diam, setelah tidak me of ih Arya dia masuk lagi ke rumah.
"Tidak biasa nya Putri dekat sama cowok, apa jangan-jangan itu adalah Pacar kamu?" tanya ibu nya.
"Ih kok ibu Ngomong gitu sih? Aku tidak mau pacaran lagi. Hanya ayah laki-laki yang aku bisa di percaya." ucap Putri.
Di malam hari nya Dika dan Anisa makan berdua di luar. Sudah lama mereka tidak dinner berdua.
"Silahkan duduk." ucap Dika menarik kursi untuk Anisa. Anisa terdiam dia melihat ke seluruh Restoran itu.
"Kok kamu hanya diam saja sih? Kamu gak suka yah?" tanya Dika.
"Bukan.. Aku hanya kurang nyaman saja di sini, ternyata sangat ramai sekali." ucap Anisa.
__ADS_1