
Tri merasa sangat jengkel sekali.
"Buka pintu nya! Mari kita bicara kan baik-baik!" ucap Marsel.
Tri tetap tidak mau dia sudah ketakutan.
Tidak terasa sudah malam.. Anisa dan Dika sudah di rumah.
Dika berdiri di pojokan rumah itu sambil memasang wajah bersalah.. Anisa di dapur memasak tidak perduli kepada Dika.
"Anisa... Sampai kapan kamu meminta saya berdiri di sini? Saya sangat lelah, saya juga mau ke kamar mandi." ucap Dika.
"Aku ingin kakak di situ sampai kakak Sada apa yang kakak katakan pada ku siang tadi." ucap Anisa.
"Saya minta maaf, saya terpancing emosi karena saya sangat pusing..Saya mohon jangan marah dan mengatakan putus." ucap Dika.
Anisa duduk di sofa ruang tamu sambil memakan buah yang ada di mangkuk nya. Dia melihat Dika.
"Saya minta maaf. Apa yang harus saya lakukan agar kamu mau memaafkan saya?" tanya Dika.
Anisa menghela nafas panjang.
"Aku ingin kakak sadar Apa artinya memperjuangkan seseorang. Apa artinya mencintai seseorang. Dan aku tidak suka kakak mengungkit masa lalu ku karena aku sama sekali tidak pernah mempermasalahkan masa lalu kakak bahkan sampai mengungkit nya." ucap Anisa.
Lagi-lagi Dika tertunduk malu dia bingung harus mengatakan apa karena dia sudah sangat malu kepada Anisa dia juga takut kalau Anisa semakin marah.
"Anisa..." Dika mau mendekati Anisa namun Anisa langsung menahan nya.
"Aku belum meminta kakak berpindah, aku mau kakak di sana berdiri sambil merenung kan semua nya." ucap Anisa.
Dika menghela nafas panjang.
Anisa beranjak dari tempat duduknya naik ke lantai atas dan masuk ke kamar nya.
Dika bersandar ke dinding sambil memegang kepala nya.
"Huff kalau orang rumah sudah marah resiko nya yah seperti ini. Aku tidak bisa melakukan apa-apa lagi." ucap Dika.
Anisa melihat sudah jam delapan malam.
"Aku tidak boleh keterlaluan kepada kak Dika, sebaik nya hukuman nya sudah saja." ucap Anisa.
Dia turun ke bawah dia melihat Dika..Dika melihat Anisa dia langsung berdiri dengan benar.
__ADS_1
"Kakak sudah boleh Berpindah dan pergi lah istirahat." ucap Anisa.
"Apa kamu sudah memaafkan saya?" tanya Dika.
"Aku meminta kakak istirahat bukan berarti aku memaafkan kakak." ucap Anisa. "Kalau kamu belum memaafkan saya, saya akan terus berdiri di sini sampai besok." ucap Dika.
"Terserah saja." ucap Anisa langsung pergi begitu saja meninggalkan Dika.
Dika menghela nafas panjang. "Huff ternyata Anisa kalau sudah marah seperti ini, aku sampai bingung harus melakukan apa." ucap Dika.
Dia masuk ke kamar nya dia mandi terlebih dahulu.
Anisa sudah tidur tiba-tiba dia merasa ada yang naik ke kasur nya dan memeluk nya dari belakang.
Anisa bergeliat dia mencium aroma Dika dan Dika yang mencium kepala nya.
"Apa yang kakak lakukan di sini?" tanya Anisa. Dika terdiam.
"Keluar lah dari sini, aku tidak ingin di ganggu." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya dia meletakkan kepalanya di dada Anisa.
"Saya mohon maaf kan saya, saya mohon jangan katakan Kata putus saya tidak mau putus dengan kamu." ucap Dika.
Anisa terdiam. "Saya sangat mencintai kamu." ucap Dika. Anisa merasa bersalah juga.. Sebenarnya dia tidak boleh mengatakan hal seperti itu.
"Kalau begitu saya juga minta maaf." ucap Dika. Anisa tidak tega melihat Dika yang sudah sangat sedih seharian, merasa bersalah dia akhirnya memaafkan Dika.
Dika mendekati bibir Anisa dia ******* nya dengan sangat lembut.
Anisa membalas nya dengan baik agar Dika bisa lebih rileks karena seharian dia khawatir dengan hubungan mereka berdua.
Dika melepaskan bibir Anisa.
"Waktu nya tidur, sebaiknya kakak tidur." ucap Anisa..Dika tidur di dada Anisa.
"Saya ingin tidur di sini, saya mohon jangan usir dan marah kepada saya. Saya takut." ucap Dika.
Anisa mengelus kepada Dika.."Baiklah-baiklah, kakak seperti anak kecil saja." ucap Anisa.
Akhirnya Dika tidur bersama Anisa.
Sementara di apartemen Tri.
Di dalam kamar Tri mondar-mandir dia sangat lapar sehingga tidak bisa tidur. Di kamar tidak ada yang bisa di makan sementara kalau dia keluar hidup nya tidak akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Seperti nya pak Marsel sudah tidur aku keluar saja." ucap Tri dia membuka pintu perlahan.
Sebelum keluar dia memastikan situasi aman terlebih dahulu.
Setelah merasa aman akhirnya dia keluar dari kamar. Dan benar saja kalau Marsel sudah tidak ada di sana. Seperti nya sudah masuk ke kamar yang ada di sebelah kamar Tri.
Tri cepat-cepat mengambil Air minum dan juga makanan nya. "Siapa yang masak?" ucap Tri melihat makanan di atas meja. Namun tidak lah mau tau siapa yang masak Sekarang dia hanya ingin makan karena sangat lapar.
"Ekhem-ekhem!!" Ternyata Marsel baru saja selesai mandi. Tri melihat ke arah Marsel dia sangat kaget.
"Saya sudah menduga kamu akan lapar itu sebabnya saya memesan makanan dari luar." ucap Marsel.
Tri diam. Marsel mendekati Tri.
Tri gugup dan takut dia melihat Marsel tidak memakai pakaian hanya anduk di pinggang.
"Apa yang Bapak lakukan? Menjauh ke lah dari ku!" ucap Tri.
"Kenapa? Kamu tidak tahan melihat badan saya yang begitu bagus? kamu ingin menyentuh perut saya?" ucap Marsel.
Tri diam. Marsel menarik tangan kiri Tri dan langsung meletakkan di perut nya yang begitu sixpack. Namun Tri tidak lama mau tangan nya di perut Marsel dia langsung menarik tangan nya. Tapi tidak sengaja dia menyenggol selipan handuk Marsel dan handuk Marsel terjatuh.
"Aaaaaaaaa!!!!!" Dia berteriak dan menutup mata nya segera membelakangi Marsel.
Marsel tersenyum dia tidak tahan melihat ekspresi terkejut Tri.
"Segera tutup pak, pakai lah baju!" ucap Tri.
Marsel mengikat handuk nya lagi.
"Kamu sengaja menggoda saya yah?" tanya Marsel. Tri berbalik dia menatap Marsel.
"Menggoda bapak? aku sama sekali tidak kefikiran ke sana!" ucap Tri. Dia tidak berselera makan dia mencuci tangan nya ke dapur.
Setelah selesai dia terkejut melihat di belakang nya sudah ada Marsel.
"Aaaa!!" Dia kaget karena Marsel menaik kan tubuh nya ke wastafel.
"Apa yang bapak lakukan? Lepaskan aku!" ucap Tri. Marsel tersenyum dia mengelus wajah Tri.
"Saya hanya memiliki cara ini agar kamu mau bersama saya." ucap Marsel.
"Apa maksud bapak? Jangan berfikir yang aneh-aneh yah Pak!" ucap Tri. Marsel tersenyum.
__ADS_1