Kisah Anisa Di Sekolah

Kisah Anisa Di Sekolah
Episode 143


__ADS_3

"Ini adalah hukuman karena kakak sudah membuat ku cemberut dari sore tadi." ucap Anisa. Dika tersenyum.


"Lalu hadiah untuk saya yang mau pulang apa?" ucap Dika. Anisa mencium bibir Dika.


Lalu dia tersenyum, begitu juga dengan Dika. Mereka sama-sama tersenyum.


Dika melanjutkan mencium Anisa. Dan kedua nya Hanyut di belaian halus, pelukan manja. Tidak lagi memikirkan ada Mamang atau apapun. Mereka hanya ingin melepaskan kerinduan nya.


Dika memeluk Anisa mencium kening nya.


"Saya sangat mencintai kamu." ucap Dika. Anisa tersenyum menatap wajah Dika.


Kedua nya saling bercanda di tempat tidur sampai akhir nya Anisa ketiduran di pelukan Dika.


Dika belum bisa tidur. Beberapa kali dia menghela nafas panjang ketika memerhatikan wajah Anisa.


"Huff ini tidak bisa! Tidak bisa! Sadar Dika." ucap nya langsung menepis pikiran kotor nya.


Dia melihat dada Anisa yang terlihat sedikit. Dia langsung mengambil selimut menutup nya.


"Aku harus keluar, aku tidak bisa lama-lama di sini." ucap Dika. Dia bergerak menarik tangan nya sedikit demi sedikit namun Anisa tiba-tiba terbangun.


"Kakak mau kemana? Aku mau tidur sama kakak, jangan pergi aku mohon." ucap Anisa memeluk nya. Dika menghela nafas panjang dia sudah sangat sesak nafas.


Dia tidak bisa tidur sama sekali dia gelisah.


"Anisa lepas kan saya, saya harus pergi saya tidak bisa di sini." ucap Dika kepada Anisa.


"Kenapa kak? Tidur saja seperti biasa. Aku takut tidur sendiri." ucap Anisa.


"Saya sedang naik, saya tidak bisa mengendalikan diri saya." ucap Dika. Anisa tidak mengerti. "Itu karena kecapean, Kakak tidur lah." ucap Anisa.


Anisa malah mencium bibir Dika dengan singkat dan mengucapkan selamat malam.


"Anisa...." Dika tetap mau pergi namun Anisa tidak mengijinkan nya.


Dika menyentuh bibir Anisa yang sangat merah merona. Tidak bisa menahan lagi dia mencium bibir Anisa.


"Kak aku sangat mengantuk jangan melakukan itu, bibir ku sudah terasa bengkak. Dari tadi kakak tidak berhenti mencium ku, sekarang waktunya tidur." ucap Anisa.


Dika tidak mau berhenti dia menggigit bibir Anisa agar membuka mulutnya.


Dika menindih Anisa membuka Anisa bangun.


"Kak ini sudah malam." ucap Anisa. "Tapi saya sudah bangun. Saya tidak akan bisa tidur." ucap Dika.


"Maksud kakak apa? Kakak dari tadi tidak lah tidur." ucap Anisa.

__ADS_1


"Adik saya yang bangun." ucap Dika. Anisa langsung menoleh ke arah bawah Dika.


Anisa mendorong Dika dari atas nya.


dia beranjak dari tempat tidur.


"Kakak jangan berfikir aneh-aneh. Aku tidak ingin melakukan nya." ucap Anisa.


Dika menghela nafas panjang. "Saya akan keluar." ucap Anisa. Anisa membuka pintu dan membiarkan Dika keluar.


Anisa langsung menutup pintu lagi.


"Huff hampir saja." ucap Anisa. Dika langsung ke kamar mandi.


Keesokan harinya..


"Selamat pagi sayang..." Ucap Anisa datang ke dapur dan memeluk Dika dari belakang. Dika tersenyum.


"Pagi..." ucap Dika.


"Mamang Udah pergi kerja yah?" tanya Anisa. Dika mengangguk.


"Oohh " ucap Anisa.


"Kakak lagi ngapain?" tanya Anisa.


"Wahh aku suka banget sup ikan, aku bantuin yah." ucap Anisa, Dika menggeleng kan kepala nya.


"Kalau kakak tidak mengijinkan aku membantu, aku akan mengganggu kakak." ucap Anisa berdiri di depan Dika yang sedang mengiris bawang.


Dika menghela nafas panjang. "Kamu pasti sangat lapar kan? Jangan mengganggu saya agar kita bisa sarapan dengan cepat." ucap Dika.


Anisa menggeleng kan kepala nya dia tersenyum menatap wajah Dika.


Dika mencium pipi Anisa. "Minggir lah dari hadapan saya." ucap Dika.


Anisa tetap gak mau. Akhirnya tidak ada pilihan Dika memberi tau apa saja yang bisa di bantu Anisa.


Mereka memasak sambil bergurau sehingga Memasak terasa sangat menyenangkan sekali.


Tidak beberapa lama akhirnya selesai. Anisa menata nya di atas meja. "Upss..." Dika dengan sengaja mencium bibir Anisa ketika mengambil sendok dari belakang Anisa.


Anisa tersenyum. "Sungguh pria modus." ucap Anisa..


"Ayo makan. Setelah ini kamu harus menemani saya keluar sebentar untuk menemui klien saya yang ada di sini." ucap Dika.


"Huff aku pikir kakak sudah pergi sejauh ini tidak Akan Bekerja, namun tetap saja Bekerja." ucap Anisa.

__ADS_1


"Kalau saya tidak bekerja. Kamu tidak akan bisa membeli apapun yang kamu mau." ucap Dika. Anisa tersenyum.


"Kalau begitu aku akan membantu." ucap Anisa. Dika menggeleng kan kepala nya.


"Tugas kamu hanya mengurus saya dan menemani saya, selebihnya kamu hanya duduk santai dan menerima semua nya dengan bersih." ucap Dika.


Anisa tertawa. "Baiklah." ucap Anisa.


mereka makan sambil suap menyuap. Lalat yang melihat itu pun pasti cemburu karena sangat romantis sekali.


"Bagaimana?" tanya Anisa tidak beberapa lama dia keluar dari kamar sudah berdandan cantik.


Dika melihat Anisa yang sudah sangat anggun sekali.


"Kenapa kamu sengaja memamerkan Punggung mu?" tanya Dika. Anisa menatap Dika dengan tatapan kesal.


"Yang membeli baju ini adalah kakak, jadi ini sudah pilihan kakak. Lagian cantik kok di aku." ucap Anisa.


"Udah ah, ayo kita berangkat." ucap Anisa. Dika mengikuti Anisa keluar dari rumah itu.


"Tempat di sini sangat bagus yah, kelihatan nya tenang, ramai dan penduduk nya juga lumayan ramai. Tempat wisata sangat banyak.. Cocok banget untuk tempat Healing." ucap Anisa.


Dika tersenyum. Tidak beberapa lama akhirnya mereka sudah sampai di tempat tujuan.


"Loh tempat ini kan tidak jauh dari rumah perempuan itu." ucap Anisa. '"Kenapa kamu bengong? Ayo turun." ucap Dika membuka pintu untuk Anisa.


Dia menjulurkan tangannya untuk membantu Anisa turun.


Mereka bergandengan masuk ke dalam Restoran itu.


"Selamat Siang Pak Wiliam, apa kabar?" ucap Dika. Mereka bersalaman.


"Baik, kamu sendiri bagaimana?" tanya Pak Wiliam. Pria paruh baya.


"Baik juga, kenalin ini Anisa kekasih saya." ucap Dika. Anisa kaget karena Dika jujur langsung.


"Oohh ternyata ini kekasih kamu sekarang, cantik juga." ucap Pak Wiliam.


"Oh iya kenalin ini anak saya Heri, dia akan menjadi penerus saya. Saya sengaja mengajak bertemu karena ingin anak saya mengenal kamu dan dia tau selanjutnya bagaimana untuk menggantikan saya." ucap Pak Wiliam.


Dika Memerhatikan Heri yang mencuri-curi pandang kepada Anisa. Namun dia berusaha untuk biasa saja walaupun dalam hati nya ingin menendang Wiliam yang menatap Anisa dengan tatapan Sangat tertarik.


"Senang bertemu dengan kamu, setelah Papah mu pensiun, saya harap kamu bisa meneruskan jejak nya dengan baik dan membuat perusahaan semakin berkembang." ucap Dika.


"Tentu! Saya lulusan luar negeri, tentu saya bisa. Tidak perlu bekerja sama dengan Bapak, saya akan bisa membuat perusahaan jauh lebih baik." ucap Heri.


"Heri! Jaga Mulut mu! kamu tidak pernah papah ajar kan berbicara seperti itu!" ucap pak Wiliam sangat malu sekali.

__ADS_1


__ADS_2